0

Dengarkanlah ungkapan dari lisan seorang sahabat bernama Abu Dhamdham radhiallahu anhu. “Ya Allah, aku tidak punya harta lagi untuk aku sedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Karenanya, sudah aku sedekahkan kehormatanku untuk mereka. Siapa saja yang menghinaku, atau mencaciku, itu adalah halal untukku.”



Hampir tidak ada, orang yang keinginannya untuk memberi kepada orang lain lebih besar daripada keinginannya untuk diri sendiri. Seperti sahabat Abu Dhamdam radhiallahu anhu dan juga para sahabat lainnya. Karenanya, kita pasti aneh mendengarkan ucapan itu. Ternyata ada seseorang yang sangat ingin menghibahkan apa yang menjadi miliknya untuk orang lain. Ternyata ada hati seseorang yang begitu lapang, yang tak mengisi jiwanya untuk kepentingan dirinya, kecuali untuk kepentingan orang lain yang membutuhkannya. Sampai tatkala tak ada lagi yang layak diberikan kepada orang lain, ia menghadirkan kehormatan, kemuliaan, harga dirinya, untuk diberikan kepada orang lain. Lalu, semua caci maki, umpatan, hinaan, akan dijadikan sedekah dari dirinya untuk orang yang mencaci, mengumpat dan menghinanya. Subhanallah.



Abu Dhamdham pasti mempunyai logika keimanannya sendiri untuk memiliki sikap seperti itu. Sebab semua orang lazimnya mempunyai keinginan diri, menyimpan obsesinya untuk diri sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari ungkapan Abu Dhamdham ra ini. Katanya, ”Kedermawanan Abu Dhamdham ini mencerminkan kelapangan hati, ketenangan jiwa, dan kebersihannya dari rasa memusuhi orang lain.” (Tahdzib Madarij As Saalikin, 407). Hati yang lapang, jiwa yang tenang dan tak menyimpan masalah dalam hati. Ketiganya saling bertautan. Hati yang sempit, menandakan jiwa yang selalu resah, dan keadaan itu umumnya dipicu oleh suasana tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Dan ketiga hal itulah yang bisa diatasi oleh Abu Dhamdham hingga ia sangat ingin memberi, melebihi keinginannya untuk dirinya sendiri






Saudaraku,



Membersihkan hati dari rasa tidak enak dengan saudara sesama Muslim, tidak mudah dan bahkan membutuhkan kesabaran berlipat. Melapangkan dada, setelah melihat prilaku saudara yang mungkin membuat luka, membikin kecewa, memunculkan amarah, seiring sejalan dengan kemampuan seseorang melatih diri untuk mengendalikan diri saat marah. Dan itu tidak gampang. Karena itulah, sikap tidak menyimpan luka, sikap lapang dada, sikap lapang jiwa yang tidak menyimpan sedikitpun rasa yang mengganggu persaudaraan, adalah sifat-sifat yang menjamin seseorang masuk surga.






Saudaraku,



Masalah ini yang ingin disampaikan Rasulullah saw, saat ia tiga kali memuji seorang pemuda yang datang ke majlisnya, bahwa pemuda yang datang itu adalah penghuni surga. Di tengah nasihat dan arahannya di dalammasjid , Rasulullah saw tiba-tiba mengatakan, ”Akan datang pada kalian sekarang seorang yang menjadi ahli surga.” Tak lama setelah itu, datanglah seorang pemuda Anshar yang bersih janggutnya karena wudhu. Sedangkan tangannya yang kiri menenteng dua sandalnya. Peristiwa serupa ini terjadi lagi keesokan harinya, hingga tiga kali berulang. Abdullah bin Umar radhiallahu anhu tersentak rasa keingintahuannya, dan berniat untuk bermalam di rumah pemuda itu, sampai ia tahu apa rahasianya, hingga mendapat sebutan ahli surga oleh Rasulullah saw, sebanyak tiga kali. Setelah tiga hari bermalam di rumah pemuda itu,Abdullah bin Umar ra merasa tak ada bagian hidupnya yang istimewa. Ia pun bertanya, dan menjelaskan maksud sebenarnya ia bermalam bersama pemuda itu. Pemuda itu menjawab, ”Saya tidak lebih seperti apa yang engkau lihat. Tapi, dalam jiwa saya tak sedikitpun ganjalan perasaan, dan saya tidak hasad sedikitpun atas kebaikan yang mereka terima.” Lalu, Abdullah bin Umar ra pun mengatakan, ”Inilah yang meninggikan kedudukanmu, yang kami tidak sanggup melakukannya.”






Saudaraku,



Hati yang lapang, hati yang tak mempunyai dendam, hati yang tak memiliki rasa kesal, dengan saudara sesama Muslim, adalah surga dunia. Itu kesimpulan dari hadits panjang tentang Abdulah bin Umar dan pemuda Anshar tersebut.Abdullah bin Umar radhiallahu anhu yang terkenal zuhud dan ahli ibadah bahkan mengakui, bila dirinya tidak mampu memiliki kebersihan hati, kelapangan dada, seperti pemuda itu.






Saudaraku,



Setidaknya kita harus berusaha mengusir rasa benci, atau sekedar meminimalisir suasana yang tidak bersih dengan orang lain. Sebab bila rasa dengki, hasad, ganjalan yang ada tak kunjung mampu kita redam, ada bahaya besar yang akan menimpa kita. Hasad, dengki, memang pasti punya logikanya sendiri, dalam arti pasti memiliki alasan untuk bisa dibenarkan. Tapi juga bisa menjadi alasan untuk disalahkan. Alasan yang membenarkan itu sendiri, belum tentu asli kebenarannya karena sangat mungkin ada dalam buaian dan bisikan syetan yang membenarkan sesuatu yang keliru. Dan itu semua berakibat pada perpecahan, perkubuan, bisa merebak, bahkan melebar tak melibatkan satu atau dua orang tertentu melainkan satu kelompok orang. Sampai kita benar-benar menjadi lemah dan berada dalam kondisi seperti yang tegas dilarang Allah swt dalam surat Al Anfal ayat 46, ”... Dan janganlah kalian bertikai, lalu kalian menjadi gagal dan kekuatan kalian hilang.... ”






Saudaraku,



Camkan dalam-dalam bagaimana persaudaraan yang dihidupkan oleh Rasulullah saw di zaman kenabian, dan hidup bergerak dalam dunia para sahabat dan orang-orang shalih. Mereka bukan tak pernah mengalami masalah, merasa terluka, kecewa, dalam interaksi sesamanya. Mereka orang-orang yang hatinya lapang, jiwanya bersih lalu paras mukanya menjadi bercahaya. Mereka berhasil mengatasi permasalahan dalam hubungan mereka dengan sangat baik.



Dengar bagaimana perkataan Abu Dujjanah radhiallahu anhu saat sakit. Ketika itu, para sahabatnya terkejut melihat wajah Abu Dujjanah berseri dan bercahaya, padahal mereka tahu Abu Dujjanah dalam kondisi sakit parah yang mengantarkan ajalnya. Merekapun bertanya kepada Abu Dujjanah, dan ia menjawab, ”Tak ada suatu amalanpun yang paling aku pegang teguh kecuali dua hal. Pertama, aku tidak mau bicara yang tidak bermanfaat. Kedua, hatiku bersih dari perasaan yang mengganjal dengan kaum muslimin.”





M. Lili Nur Aulia



Tarbawi Islamic Magazine

http://aulia70.multiply.com/journal/item/19/Ini_Rahasianya_Mengapa_Muka_Abu_Dujjanah_Tetap_Cerah_dan_Berseri



Dikirim pada 09 Desember 2010 di Gambleh

Mundur beberapa langkah untuk melompat dan berlari, jauh lebih baik dibandingkan dengan maju beberapa langkah tergesa-gesa, tapi kemudian berhenti. ===



Itulah --salah satu-- pesan yang dapat kita ambil dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw. bersama para sahabatnya. Hijrah bukan lari dari perjuangan. Hijrah bukan berarti kalah. Hijrah bukan takut. Tapi... hijrah adalah strategi untuk merebut taqdir kemenangan. Lewat pintu hijrah itulah, as-sabiqunal awwalun (generasi pertama) dapat merebut piala kemenangan yang kita kenal dengan istilah Futuh Makkah.



Dan sebuah strategi, jelas membutuhkan sebuah manajemen. Lantas, manajemen seperti apakah yang nabi Muhammad Saw. lakukan saat hijrah?



Mari kita tela’ah kembali sirah nabawiyah!



Waktu itu, hari Kamis tanggal 26 Shafar --tahun ke-14 kenabian-- bertepatan tanggal 12 September 622 Masehi, sebelas anggota parlemen Quraisy mengadakan rapat mendadak dan tertutup. Dalam gedung Dar An-Nadwah itu, terjadi perdebatan alot untuk menghentikan gerakan dakwah Nabi Muhammad Saw.. Ada yang mengusulkan untuk mendeportasi rasulullah Saw.. Ada pula yang menyarankan beliau dipenjara. Dan ternyata, usulan dari paman Nabi yang mereka terima.



"Menurutku", ujar Abu Lahab dengan lantang penuh kesombongan, "sebaiknya kita kirim para pendekar muda utusan dari setiap partai kita. Kita bekali mereka dengan pedang tajam. Suruh mereka membunuhnya. Lalu, darahnya kita bagikan kepada setiap partai dan nanti masing-masing membayar tebusannya!"



"Setujuuu!!!" sambut sepuluh utusan dari berbagai partai bangsa Arab itu.



Setepat keputusan itu dipukul palu, malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad Saw. dan berkata, "Malam nanti, Anda jangan bermalam di tempat tidurmu!"



Rasulullah Saw. memahami sandi dari Allah itu, bahwa beliau diizinkan-Nya untuk melakukan hijrah. Apa yang beliau lakukan kemudian?



Pertama, beliau menentukan target, yaitu kota Madinah --tempat para murid beliau yang belajar sekaligus berbai’at akan mendukung perjuangan beliau (bai’at aqabah I dan II) saat dua musim haji sebelumnya-- sebagai tujuan.



Kedua, beliau membuat team work untuk menyukseskan aksi hijrah, diantaranya Abu Bakar Ra, Ali bin Abi Thalib ra, Abdullah bin Abu Bakar ra, Asma binti Abu Bakar ra, Amir bin Furairah, dan Abdullah bin Urayqith.



Ketiga, menjelaskan peran dan jobdes (job description) kepada enam anggota team work tersebut sebagai berikut:



1. Abu Bakar ra sebagai patner beliau untuk membantu segala kebutuhan beliau selama perjalanan menuju Madinah; 2. Ali bin Abi Thalib ra sebagai pengganti beliau tidur di kasur untuk mengecohkan para pendekar muda sehingga mereka menunggu Ali tidur sampai dini hari sedangkan dalam waktu yang sama beliau, Abu Bakar ra, Abdullah bin Abu Bakar ra, dan Abdullah bin Urayqith berangkat menuju Gua Tsur; 3. Abdullah bin Abu Bakar sebagai detektif; informan (kurir) untuk menyadap berita dari luar ke gua Tsur; siang hari beliau bergaul dengan kaum Quraisy dan malam ikut tidur ke Gua Tsur sekaligus melaporkan hasil penyelidikannya; 4. Asma binti Abu Bakar sebagai seksi konsumsi untuk mengantarkan makanan selama tiga hari ke Gua Tsur; 5. Amir bin Furairah --pembantu Abu Bakar yang biasa mengembalakan kambing siang hari di sekitar pegunungan-- sebagai tim logistik untuk memberikan susu kepada Nabi Muhammad Saw dan Abu bakar sekaligus sebagai penghilang jejak untuk menghilangkan jejak --menyamarkan bekas telapak kaki di pasir dengan kaki domba-- Nabi dan Abu Bakar ketika pertama kali ke Gua Tsur, dan menghilangkan jejak setiap kali Abdullah bin Abu Bakar akan menyampaikan berita dan Asma bin Abu Bakar dalam mengantarkan makanan; 6. Abdullah bin Urayqith --musyrik Quraisy, namun ahli dalam melakukan perjalanan panjang, sebab suka melancong-- sebagai guide atau navigator yang disewa nabi Muhammad Saw. untuk menemani dan menunjukan jalan hingga sampai ke Madinah.



Keempat, nabi melakukan aksi berikut ini:



1. Keluar siang hari, sebab waktu itu, di kota Makah jarang orang yang berkeliaran pada siang hari dan biasanya mereka pergunakan untuk tidur; 2. Keluar dari pintu belakang untuk menghindari pengamatan dari inteligen Quraisy; 3. Arah hijrah bukan ke utara --tempat kota Madinah-- melainkan ke arah selatan, tempat gua Tsur, ini untuk mengelabui pengejaran para pendekar muda Quraisy; 4. Bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk menunggu perkembangan para pengejar sekaligus memikirkan langkah apa saja yang akan beliau lakukan selama di Madinah nanti; 5. Mengambil jalan yang berbeda dari rute Mekah-Madinah yang selama ini dilalui banyak orang. Beliau mengambil jalan ke arah selatan menuju Yaman --berlawanan dengan arah jalan ke Madinah-- kemudian mengarah ke sekitar pantai Laut Merah, dan ketika menemukan jalur setapak tidak dikenal, maka mereka berbalik ke arah utara.



Alhamdulillah, lewat empat hal itu, hijrah nabi dari Mekah ke Madinah berjalan sukses. Selama 10 tahun kemudian beliau dapat membungkam kesombongan orang-orang yang dulu menyakiti, menghalangi dan mengusir beliau dari Makah.



Nah, manakala kita ingin menjadikan tahun baru hijriyah 1431 ini sebagai momentum untuk melakukan hijrah (perubahan) --diri, keluarga, organisasi, dan masyarakat, sudahkah kita mengatur dan mengelolanya dengan baik?



Wallahu a’lam bish shawab. Oleh: Udo Yamin Majdi





sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=235659372929



Dikirim pada 07 Desember 2010 di Gambleh

Ada yang membekas di otak dan fikiranku tentang kisah haji sahabatku yang kebetulan tahun lalu dipanggil Allah untuk melaksanakan ibadah haji. Aku mengenal mereka dengan teramat dekat, bahkan dekat sekali. Mudah-mudahan kisah ini bisa bermanfaat bagi banyak orang.



***



Dengan ijin Allah, bersama istri tercintanya melalui embarkasi Solo mereka menunaikan rukun Islam yang kelima.



Aku yakin, mereka berangkat dengan modal keagamaan yang pas-pasan. Bahkan latar belakang keduanya pun bukan dari sekolah agama, apalagi pesantren. Namun kekuatan dan keyakinannya terhadap Allah lah yang membuat mereka begitu bersemangat untuk memenuhi panggilan Allah tersebut.



Mereka masuk dalam gelombang pertama perjalanan haji yang dimulai dari Madinah. Begitu mendarat di bandara King Abdul Aziz, doa pertama yang mereka ucapkan adalah, ’’Ya Allah, hamba dan istri hamba ke sini untuk memenuhi panggilan-Mu, hamba ke sini adalah tamu-Mu, mustahil Engkau akan menelantarkan tamu-Mu. Jadikanlah aku dan istriku tamu yang baik bagi-Mu dan mudahkanlah segala urusanku .”



Turun dari pesawat Garuda, satu per satu penumpang kloter 36 dari Embarkasi Solo itu harus melalui pemeriksaan pasport dalam waktu yang cukup lama. Maklum, untuk jamaah yang menurut mereka masih muda disamping pemeriksaan pasport masih harus di foto dulu. Selesai pemeriksaan dan mengambil koper jamaah melakukan shalat jama’sebelum memulai perjalanan dari Mekkah ke Madinah yang jaraknya lebih dari 450 KM.



Baru mendengar jaraknya saja pikiranku sudah jauh menerawang menembus lorong waktu, membayangkan betapa beratnya perjalanan Rasulullah waktu hijrah kala itu. Hanya dengan kendaraan onta, dan sebagian lagi berjalan kaki, di tengah teriknya matahari dan luasnya gurun pasir ditambah lagi kejaran orang-orang kafir yang hendak membunuh Nabi dan pengikutnya. Tidak tahu lagi, berapa waktu yang diperlukan untuk itu. Beda jauh jauh dengan saat ini, di mana perjalanan bisa dilakukan dengan bus yang berAC selama 7-8 jam dan kereta hanya 30 menit. Sungguh, perintis jalan akan selalu lebih berat ujiannya dibanding kita yang di belakngnya.



Setelah sampai pondokan yang jaraknya sekitar 1.5 KM dari masjid Nabawi hari pertama di Madinah itu dilaluinya dengan berjalan kaki bersama teman satu kloter untuk memulai shalat Arbain. Shalat 40 waktu dimasjid Nabawi yang pahalanya 1000 kali lebih besar dari pada shalat di masjid yang lain kecuali masjidil Haram, yang justru pahalanya dilipatgandakan sampai 100.000 kali.



Masjid ini sangat indah dan modern. Jamaah laki – laki dan perempun di pisah-- sementara kapasitasnya mencapai 500.000 jamaah lebih. Setelah shalat Subuh dan ziarah ke makam Rasullah dan 2 sahabat terdekatnya (Abubakar dan Umar). Ia bersama istrinya, berjalan mengelilingimasjid yang luas dan indah itu. Dan justru disitulah kisah indahnya di mulai.



Kemuliaan Membantu



Setelah sampai ke titik awal yaitu halaman depan masjid dilihatnya seorang ibu dengan wajah khas Indonesia (logat Sumatra yang kental) mencoba memanggil setiap jamaah Indonesia yang kebetulan lewat. Beberapa orang yang ditanya kelihatan selintas saja berhenti kemudian meninggalkan ibu tersebut. Setelah beberapa kali seperti itu ibu itu terduduk sambil menangis. Karena penasaran, sahabatku dan istrinya mendatanginya. Setelah menjawab salam sambil masih menangis ibu tersebut cerita bahwa mulai masukmasjid tengah malam tadi sampai jam 9.00 pagi itu dia terpisah dengan anak perempuannya yang mendampinginginya dan tidak tahu jalan pulang ke pemondokan. Beberapa orang Indonesia yang kebetulan lewat sudah berusaha di tanyai. Tapi karena mereka kebetulan juga baru datang dan belum faham lokasi akhirnya tidak bisa banyak membantu.



Sahabatku kemudian meminta istrinya mengeluarkan sebotol air zam-zam yang selalu dibawanya setelah hendak pulang meninggalkan masjid. Ia mempersilahkan si ibu meminumnya, ibu itu kelihatan haus sekali, karena memang ternyata mulai tengah malam itu sang ibu belum makan dan minum karena memang tidak membawa bekal.



Setelah kelihatan mulai tenang, sahabatku mengajak ibu itu untuk istighfar, baru kemudian mulai di tanya: “Ibu, kita istighfar dulu, baru nanti mohon kepada Allah agar di beri jalan.”



Si Ibu itu mengangguk tanda setuju. Setelah istighfar, ia mulai panjang lebar bercerita. Katanya, ketika masuk masjid, banyaknya jamaah membuatnya terpisah dengan anaknya. Tepatnya setelah shalat dicarinya anaknya dengan hampir mengelilingi masjid tetap juga tidak ketemu. Nomor Handphone nyapun tidak bisa dihubungi, termasuk nomor teman – teman yang satu regu dengannya. Padahal dicoba untuk menghubungi keluarga di tanah air normal saja.



Tanda keagungan dan kebesarana Allah sebagai pengatur seluruh alam pun muncul. Sahabatku mencoba menghubungi nomor handphone anaknya. Alhamdulillah ternyata nyambung. Dari seberang, anak perempuannya menyahut, ’’Wa alaikum salam, dari siapa ya ?’’ tanyanya. Sahabatku akhirnya menjelaskan jika ia bertama ibundanya yang tak paham arah.



Singkat cerita, mereka akhirnya janji bertemu tepat di dekat pintu masuk khsusus perempuan. Ibu itu mulai kelihatan ceria setelah anaknya bisa di hubungi dan akan segera menyusul di tempatnya berada.



Benar saja.Tangis meledak dari keduanya ketika bertemu di depan masjid Nabawi yang indah itu. Alhamdullah, bahkan saking senangnya ditengah tangisnya sang ibu sempat bertanya: “Nak saya harus membayar berapa, barangkali untuk pulsanya?“

’’Ibu tak usah membayar, saya ini saudara ibu, saudara Muslim ibu, bukan siapa- siapa. Bisa membantu ibu saja, rasanya saya sudah bersyukur dan Alhamdulillah Allah memudahkan jalan ini,” begitu jawabnya sambil memohon pamit kepada ibu dan anaknya tersebut.



Rupanya, dalam waktu delapan hari di Madinah tersebut rasanya hampir tiap hari Allah memberi kesempatan sahabatku dan istrinya untuk bisa membantu jama’ah yang lain. Kadang ada yang minta ditunjukkan makam Rasulullah, ada yang minta diantar ke Raudhah, salah satu tempat yang mustajabah karena merupakan taman syurga. Atau jamaah yang bingung mencari tempat sandal ketika mau pulang karena memang semua pintu masjid bentuknya persis sama demikian juga tempat menyimpan sandal.



Sebenarnya ada nomor pintu dan nama pintu yang bisa diingat-ingat, demikian juga tempat menyimpan sandal. Tapi karena jumlah jama’ah yang sangat besar itu kadang membuat banyak orang jadi bingung, apalagi yang sudah sepuh (tua).



Dijalaninya semua itu dengan senang, maklum, di tanah air, temanku adalah Tim SAR.



Suatu hari, saat menjelang magrib dalam sebuah shaf sholat dan dalam keadaan sedang membaca al-Qur’an, ia tiba – tiba diangkat seorang Arab yang berpostur tinggi besar dan di pindahkan ke shaf belakangnya, dikumpulkan dengan jamaah dari berbagai negara.



Seketika air matapun meleleh. Dalam kepasarahannya sahabatku berdo’a, ’’Ya Allah ampuni hamba-Mu kalau ini terjadi karena kesalahan hamba, rasanya hamba belum pernah sekalipun memindahkan atau mengganggu shaf seseorang bahkan anak kecil sekalipun, ampuniya Allah,” begitu permohonannya.



Masih dalam kebingungannya tiba – tiba di depan nya dihamparkan oleh beberapa anak kecil semacam plastik kecil memanjang seperti kain putih panjang yang biasa di gelar di masjid-masjid tanah air untuk tempat sujud .



Masih dalam istighfar-nya sahabatku semakin bingung ketika selanjutnya anak-anak itu dengan terampilnya menyiapkan gelas -gelas kecil dan piring plastik kemudian diisinya dengan buah korma yang belum diolah maupun yang sudah dibuat seperti dodol tapi tidak ditumbuk sampai halus. Gelas – gelas kecil itupun diisi semacam bandrek (minuman untuk daerah dingin). Ada juga semacam sambal tapi tidak terlalu pedas. Tepat saat Adzan Magrib dikumandangkan oleh muadzin dengan irama khas Madinah, sahabatku ditepuk oleh orang Arab yang mengangkatnya tadi untuk berbuka. Padahal saat itu dia sedang tidak berpuasa. Bahkan ia dilayani bak tamu, dia disuruh mencoba semua yang dihidangkan termasuk buah anggur hijau yang masih sangat segar. Walaupun dengan bahasa yang kurang nyambung karena yang di shaf itu terdiri dari berbagai bangsa, kehangatan dan keceriaan mereka sangat terasa. Sebelum iqomah, tempat berbuka puasa tadi sudah dibersihkan oleh anak–anak yang sepertinya sudah terbiasa dengan kegiatan seperti itu. Selesai jamaah Magrib dalam sujud terakhirnya sahabatku berdo’a, ’’Ya Allah, Alhamdulillah, kini aku mengerti maksud-Mu .”



Rupanya, kejadian seperti itu berulang ketika hari Kamis sore menjelang Magrib. Kalau pada Seninnya sahabatku mengambil shaf di belakang makam Rasulullah, kali ini sebelah kanan tetapi agak jauh dengan makam Rasulullah. Pada saat Magrib tiba, sahabatku ditepuk pundaknya oleh seseorang yang ternyata mengantar satu piring ta’jil lengkap dengan minumnya. Dalam bahasa Arab yang sebagian dia mengerti sahabatku dipersilahkan untuk berbuka puasa.Sekali lagi saat itu dia sedang tidak berpuasa.Subhanallah...



Selesai Arbain di Madinah, rombongan menuju ke Mekkah untuk melaksanakan umroh wajib.Rombongan bus behenti di Azziziah Janubiah 2, yang jaraknya sekitar 7-8 km dari Masjidil Haram. Kebetulan pemondokan sahabatku bersebelahan dengan Saudi Post, jadi agak mudah menandainya atau sebagai patokan kalau harus pulang naiktaksi.



Pembagian kamar pun dimulai sesuai regu masing-masing. Setelah pembagian kamar selesai, tiba- tiba kamar sahabatku diketuk pintunya oleh pak Dwi (Ketua rombongan klotern 36 Blora) beserta 1 orang dokter dan 2 perawatnya. Menurut mereka kamar tersebut cocok untuk kamar team kesehatan karena letaknya strategis dan dekat dengan lift. Kembali sahabatku tersenyum ketika kamar itu diminta untuk team kesehatan dan perawatan jamaah yang sakit. Tapi, sekali lagi Allah Maha Pemurah, ketika bersama istirinya dan regu yang diminta pindah itu menuruni lantai 3, tiba – tiba ada yang menawari kamar kosong di lantai 2, bersebelahan dengan jama’ah haji dari kabupaten Tegal.



Pada malam menjelang wukuf di Arofah kebetulan saat itu hujan besar sehingga tenda dan alasnya semua basah. Beberapa jama’ah kebingungan mencari tempat tidur yang tidak terlalu basah untuk bisa sekedar istirahat karena besuk paginya harus mengikuti wukuf. Saat itu sahabatku kebetulan membawa tikar yang ukurannya tidak terlalu besar 2 x 4 m. Begitu digelar beberapa jama’ah yang sudah sepuh mendaftar untuk tidur di tikar itu, sehingga langsung penuh, bahkan sahabatku justru tidak kebagian.



’’Ya Allah, mereka jauh lebih membutuhkan dari pada aku. Sedang aku telah Engkau beri kesempatan untuk berlatih di medan yang lebih berat dari ini di tanah air, maka tambahkanlah kesyukurankuya Allah.”



Akhirnya semalam dia tidur di tikar yang basah dengan baju ihromnya dan alhamdulillah, sewaktu Subuh yang ditempati tidur itupun jadi kering.



Tikar favorit



Khotbah wukuf hari itu banjir air mata. Semua dosa-dosa seperti di depan mata, sementara amal-amal kebaikan semakin tak nampak. Apalagi pada saat do’a wukuf yang kebetulan dipimpin oleh KH.Jufri dan bergiliran dengan 3 ustadz lainnya tangis jamaah semakin menjadi. Teringat kerdilnya kita di hadapan sang Maha Agung, sang Raja diraja, membayangkan pengadilan di padang Ma’hyar kelak. Selesai wukuf sahabatku berdzikir dan membaca al-Qur’an di depan tenda. Tanpa terasa dia melihat seseorang yang sudah lebih dari 3 kali melintas di depannya dengan membawa handuk dan peralatan mandi. Karena penasaran ditanyailah orang tersebut. Ternyata selesai mandi, jama’ah asal Jakarta tersebut tidak menemukan tendanya, walaupun di atas tenda rombongan biasanya dipasang tanda daerah. Sudah cukup lama dia berkeliling, tetapi tetap tidak ketemu juga. Sahabat saya mengajak orang tersebut istighfar kemudian bersama-sama mencari tendanya.



Alhamdulillah, tak lama kemudian nampak lokasi tenda Jakarta ia disambut rekan-rekannya juga sudah berusaha mencari karena cukup lama tidak kembali ke tenda. Setelah bertemu teman satu rombongannya bapak tersebut mencoba melihat tempat mandinya yang ternyata sangat dekat dengan tenda. Masya Allah.



Perjalanan berlanjut ke Mina. Setelah pembagian tenda di maktab 31, sekali lagi tenda yang ditempati sahabatku diminta lagi untuk kesehatan karena kebetulan letaknya pas di persimpangan dan kebetulan semua tenda penuh sesak. Sahabatku hanya titip istrinya untuk tetap di tenda itu sekaligus bisa membantu team kesehatan bila diperlukan. Berbekal tikar sahabatku tidur di luar tenda yang jutru sangat indah bisa menikmati indahnya malam di Mina. Namun baru digelar beberapa menit tikar kecil itupun segera penuh. Bahkan pak Dwi, Ketua rombongan dan Ust Salim, seorang hafidz lulusan Mesir itupun bergabung. Kemudian beberapa jama’ah dari kloter lain juga bergabung dengan membawa tikar masing-masing. Dalam waktu sekejap area itu berubah menjadi area favorit jama’ah.



Ada yang sekedar numpang tidur, ada juga yang sekedar bersilaturahim. Hari kedua di Mina setelah melempar jumrah aqobah ada jama’ah yang sudah umur tidak menemukan tendanya. Melihat tanda pengenal yang dia pakai orang tersebut berasal dari Pakistan. Sayang beliau tidak bisa bahasa Ingris ataupun bahasa Arab dan hanya berbahasa daerah. Walaupun tidak bisa berbahasa Arab, sahabatku berusaha menolong orang ini. Setelah diskusi dengan ketua rombongan yang kebetulan disitu, Allah kembali memberi jalan. Sahabatku ingat pada saat mau masuk ke Maktab sempat melewati maktab lain yang salah satu pengelola cateringnya sepertinya orangPakistan. Setelah dicari beberapa saat ketemu dengan maktab 27, di situ nampak 3 orang yang sedang menyiapkan makan untuk jamaah.



Dengan keberanian sahabatku bertanya kepada salah seorangnya, ’’Anta Pakistan ?” Rupanya yang ditanya juga faham bahasa Arab yang sepotong itu. ’’Na’am, “ jawabnya singkat. Langsung saja pak tua itu ditemukan dengan orang yang sebahasa. Alhamdulillah, komunikasinya jadi nyambung.



Karena ikut nafar awal, sahabatku meninggalkan Mina pada 12 Dhulhijah untuk kembali ke pemondokan di Aziziah Janubiah, setelah melakukan thawaf ifadhoh dan melempar jumrah ula, wustho dan aqobah. Sambil menunggu jadwal kembali ke tanah air sisa waktu biasanya digunakan jamaah untuk untuk shalat di Masjidil Haram atau sebagian lagi mengerjakan umroh sunnah.



Sekitar jam 10 pagi itu sahabatku sedang menunggu jamaah yang lain di depan pemondokan untuk bersama-sama berangkat ke Masjidil Haram. Belum lama berselang, dilihatnya seorang dengan pakain ihrom yang bertanya kepada petugas hotel. Pembicaraanpun tidak nyambung, karena penjaga hotel/pemondokan berasal dari Yaman dengan bahasa Arabnya sedangkan bapak yang datang tidak ngerti juga bahasa Arab maupun Ingris. Menurut teman – teman jamaah yang sudah duluan duduk di lobby pemondokan orang tersebut sudah berkali-kali masuk ke hotel tersebut kemudian pergi jalan lagi dan masuk ke situ lagi. Sahabatku berfikir pasti ini orang tersesat untuk kembali ke pemondokannya setelah pulang dariMasjidil Haram . Cuman yang jadi masalah adalah faktor bahasa. Rupanya Allah tetaplah Maha Pemurah dan Maha mengatur segala urusan. Setelah berfikir keras sahabatku melirik ke identitas yang dipakai oleh orang tersebut. Tak tahu dengan bahasa apa, tetapi ada tertulis Ubejkistan dan beberapa digit angka di bawahnya. Iseng – iseng dicatatnya angka tersebut barangkali nomor telepon.



Beberapa saat kemudian ada petugas kesehatan dari Kabupaten Tegal terlihat keluar dari pintu lift. Karena kebetulan sahabatku tidak membawa HP, sahabatku mendekati petugas kesehatan tersebut.



’’Assalamu alaikum, mbak saya kebetulan tidak membawa HP, bapak ini tersesat sejak pagi, tidak bisa bahasa Ingris maupun Arab. Saya mencatat angka ini dari identitasnya, mudah-mudahan ini nomor telepon perwakilan negaranya, karena hanya ini yang bisa kami baca sebab tulisan yang lain saya nggak ngerti.”



Petugas kesehatan tadi mencoba mendial nomor tersebut dari HP nya. Alhamdulillah diangkat dan benar itu nomor telepon. Masalah kedua muncul karena yang di seberang tidak mengerti bahasa Ingris sedang petugas kesehatan tadi juga tidak bisa bahasa Arab. Cepat – cepat sahabatku memintaHP nya untuk mempersilahkan bapak tadi agar ngomong langsung. Setelah beberapa saat ngomong bapak tadi mulai kelihatan ceria. A lhamdulillah akhirnya di jemput dari perwakilan negaranya dengan tidak lupa sempat menaruh tangan kanannya di dada kiri sebagai tanda terimakasih.



Malamnya setelah pulang dari Masjidil Haram beberapa jamaah kloter 36 pada ngobrol, termasuk pak Dwi. Mereka sepakat setiap ada orang hilang atau kesasar diarahkan ke sahabatku. Bahkan setiap kegiatan yang melibatkan banyak jamaah selalu saja sahabatku ini yang dijadikan team penyapu bersama istrinya. Mereka merasa nyaman setiap ada sahabatku di deretan paling belakang. Dan bagi sahabatku, ini adalah kemurahan Allah yang memberikan jalan kebaikan dengan apa yang selama ini ditekuninya, dunia Search and Rescue. Sungguh Allah telah membuka pintu kebaikan untuk dia dan istrinya. Apalagi disamping kemurahan Allah selama pelaksanaan haji dengan tidak pernah kekurangan makanan atau yang lain.



Allah masih memanjakannya pada hari terakhir setelah thawaf wada atau thawaf perpisahan. Sebuah hari yang sangat berat untuk dilewati, karena harus pamit meninggalkan Ka’bah,Masjidil Haram maupun masjid Nabawi. Setelah rombongan sampai di bandara King Abdul Aziz dan semua jamaah antri untuk check in dan check barang bawaan jamaah, sahabatku harus melalui pintu pemeriksaan bawaan termasuk air zam-zam. Saat itu sahabatku membawa 2 jerigen kecil 2 liter yang ditaruh di jaket gunung yang biasa dia pakai.



Beberapa jamaah yang membawa bawaan diluar koper yang disediakan semua disita termasuk botol – botol yang berisi air zam-zam.



’’ Ya Allah , hamba-Mu akan pamit dari tanah Haram ini, maka jadikanlah air zam-zam yang kubawa ini oleh-oleh untuk keluargaku, biar mereka juga merasakan besarnya nikmat dan kemurahan-Mu. “



Alhamdulillah, do’anya dikabulkan. Oleh penjaga pintu scan justru dirangkulnya sahabatku sembari hanya menyuruh melepas jaket dan langsung diminta masuk tanpa pemeriksaan yang ketat seperti jamaah yang lain. Bahkan diminta membuka sepatu atau dompetpun tidak. Dan air zam-zam pun boleh dibawa. Subhanallah! Begitu juga istrinya di pintu yang lain, merasakan hal yang sama. 2 botol kecil air zam-zam yang dibawanya pun di izinkan untuk dibawa .



Begitu sampai di pesawat sambil menunggu seluruh jamaah selesai pemeriksaaan dan memasuki pesawat sahabatku memanfaatkan waktu untuk memberi kabar ke tanah air . Berbekal pulsa isi ulang senilai 10 Riyal atau setara Rp 25.000 yang dibelinya sebelum berangkat ke bandara, dia mulai menghubungi ibunya. Tentu saja dalam waktu sekitar 4 menit pulsa habis. Tapi, rupanya, Allah menunjukkan kemurahan-Nya. Begitu di tutup, tiba-tiba muncul SMS yang memberikan bonus pulsa senilai 17 Riyal. Kesempatan itupun digunakan untuk menghubungi ibu mertuanya sampai habis. Muncul lagi SMS bonus pulsa senilai 23 riyal. Akhirnya, gantian istrinya yang menelpon ibu dan ibu mertuanya di Cepu dan Blora.



Selesai menelpon datang lagi SMS bonus pulsa senilai 19 Riyal . Digunakan lagi menghubungi bapak dan bapak mertua. Begitu selesai tenyata masih dapat lagi 12 Riyal dan kembali digunakan untuk menghubungi adik – adiknya. Setelah semua dihubungi barulah sahabatku sadar bahwa Allah sedang memberi satu lagi ’’tanda mata“ kepada dia dan istrinya.



Padahal sangat banyak nikmat yang diberikan-Nya selama haji itu. Salah satunya dalam kloter 36 tersebut dia berangkat bersama salah satu guru TK nya, bu Ninik guru SD nya, masih lagi 4 orang guru SMA nya. Ada pak Harto guru Fisika, pak Kardi wakil Kepsek waktu itu, pak Giyono guru bahasa Indonesia dan pak Sukawi yang sering mengajak bernostalgia waktu sahabatku sekolah di SMA 1 Blora, serta teman sekelasnya dulu mas Heru Marthono yang selalu diingatnya karena kesabarannya yang luar biasa mendampingi ibunya yang sudah sepuh dan dalam kondisi sakit. Mudah–mudahan semuanya mabrur. Belum lagi di kloter tersebut terdapat 4 pembimbing yang rata-rata pengasuh pondok pesantren salaf sehingga baginya selalu ada tempat bertanya kalau ada sesuatu masalah yang berkaitan dengan hukum syariat.



Begitu murahnya Allah pada dia dan istrinya dengan membentangkan jalan kebaikan baginya. Dan jalan itupun telah dihamparkan oleh Allah untuk kita semua, dengan beribu atau bahkan berjuta jalan kebaikan. Tinggal kita memilih yangmana …....[dikirim Masjono/hidayatullah.com]



http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/14405-dimudahkan-allah-dari-manfaat-sar

Dikirim pada 07 Desember 2010 di Gambleh
Awal « 1 » Akhir


connect with ABATASA