0



Sikap manusia dalam menghadapi musibah ada beberapa tingkat.

Tingkat pertama adalah marah.

Hal ini pun ada beberapa macam.

1. Marah dengan hati.

Ia seolah-olah marah kepada Tuhannya dan berang terhadap takdir yang ditetapkan Allah.

Bersikap seperti ini haram karena dapat menyebabkan kekafiran.

Allah berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةَ

“Di antara manusia ada yang menyembah Allah menurut seleranya.
Apabila ia mendapatkan kebaikan, hatinya merasa tenang.
Akan tetapi, apabila ia mendapat cobaan buruk, ia memalingkan wajahnya.
Rugilah dunia dan akhiratnya.” (Qs. al-Hajj: 11).

--

2. Marah dengan lisan,

seperti menyerukan kata-kata:
“alangkah celakanya,”

“duhai binasanya,”

dan kata-kata lain yang serupa.

Bersikap seperti ini adalah haram.

--

3. Marah dengan tindakan,
seperti menampar muka, merobek-robek baju, menjambak rambut sendiri, dan lain-lain.

Bersikap seperti ini haram karena menyalahi sikap wajib bersabar.
--

Tingkat kedua adalah sabar, seperti yang dikatakan penyair,

“Sabar, seperti namanya, adalah sesuatu yang pahit dirasakan, tetapi hasilnya lebih manis daripada madu.”

Seseorang menganggap sesuatu itu berat bagi dirinya, tetapi ia tetap menerimanya,

ia tidak suka yang berat itu terjadi pada dirinya, namun ia menjauhkan diri dari sikap marah demi menjaga imannya.

Demikianlah, karena terjadinya atau tidak terjadinya sesuatu tidaklah sama baginya.

Bersikap seperti ini wajib karena Allah telah memerintahkan untuk berlaku sabar, sebagaimana firman-Nya,

وَاصْبِرُوْا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ

“Bersabarlah kalian. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(Qs. al-Anfal: 46).

--

Tingkat ketiga adalah ridha, yaitu seseorang ridha terhadap musibah yang menimpanya bagaimana pun keadaannya.

Ia tidak merasa berat atas adanya musibah dan tidak menerimanya sebagai sesuatu yang berat.
Menurut pendapat yang kuat, bersikap seperti ini hukumnya boleh, tidak wajib.

Sangat jelas perbedaan tingkat ketiga dengan tingkat sebelumnya
karena pada tingkat ini ada atau tidak adanya musibah diterimanya dengan ridha.
Adapun pada tingkat sebelumnya, musibah itu dianggapnya sebagai sesuatu yang berat, namun ia menghadapi dengan sikap sabar.

--

Tingkat keempat, adalah syukur.

Inilah tingkatan tertinggi.
Ia bersyukur kepada Allah dalam menghadapi musibah karena ia menyadari bahwa musibah yang menimpanya menjadi sebab terhapusnya dosa-dosanya dan barangkali dapat memperbanyak pahalanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Apa pun bentuk musibah yang menimpa seorang muslim,

niscaya akan Allah menjadikannya sebagai penghapus dosa dari dirinya,

sekalipun sebatang duri yang menancap pada dirinya.”

(Syaikh Ibnu Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Rasail, juz 2, hal. 109-111)

Dikirim pada 18 April 2013 di Gambleh


Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang lagi bekerja dibawah.. Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaanya dan bisingnya alat bangunan.. Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh keatas, di lemparnya uang. 1.000-an rupiah yang jatuh tepat di sebelah si pekerja..Si pekerja hanya memungut uang Rp 1.000 dan melanjutkan pekerjaanya..

Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas.. Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan uang Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.. Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja.. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor.....

Cerita tersebut diatas sama dengan kehidupan kita,ALLAH selalu ingin menyapa kita,akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita. Kita di beri rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur.. !!!!!Bahkan lebih sering kita tidak mau tau dari mana rejeki itu datangnya····

Bahkan kita selalu bilang····· kita lagi "HOKI!"Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik ALLAH .

Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yang kita sebut musibah! agar kita mau menoleh kepada ALLAH.

Dikirim pada 18 April 2013 di Gambleh


Suatu hari Imam Al Auza`i melintasi seorang pedagang bawang di kota Bairut.

Betapa terkejutnya beliau ketika mendengar promosi pedagang bawang tersebut.

Pedagang itu menawarkan bawangnya dengan berkata:

"Aduhai bawang yang lebih manis dibanding madu."

Spontan Imam Al Auzai mengomentari promosi tersebut dengan berkata:

"Subhanallah, apakah pedagang itu mengira bahwaada dusta yang dibenarkan?"

nampaknya pedagang itu merasa tidak bermasalah bila dirinya berdusta.

(al bidayah wa an nihayah oleh Ibnu Katsir 10/126)

Dikirim pada 18 April 2013 di Gambleh


Ketika kepala anda pusing seakan berputar tujuh keliling.

Ketika badan anda terasa sakit, seakan ditusuk tusuk duri.

Di saat anda berhadapan dengan masalah dalam rumah tangga.

Sewaktu anda menghadapi kesulitan dalam pekerjaan.

Apakah hal pertama yg anda lakukan?

Mencai obat,
Pergi ke dokter,
konsultan,
saudara
untuk berkeluh kesah,

atau
segera menengadahkan kedua tangan anda memohon kepada Allah?

Sejatinya manakah sumber solusi yang senantiasa anda prioritaskan?

Obat atau Allah?

Konsultan atau Allah?

Saudara atau Allah?

Namun mengapa betapa seringnya Allah menjadi tempat pengaduan terakhir anda?

Simaklah janji Allah berikut:

ﻭﻗﺎﻝ ﺭﺑﻜﻢ ﺍﺩﻋﻮﻧﻲ ﺃﺳﺘﺠﺐ ﻟﻜﻢ ﺇﻥ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺴﺘﻜﺒﺮﻭﻥ ﻋﻦ
ﻋﺒﺎﺩﺗﻲ ﺳﻴﺪﺧﻠﻮﻥ ﺟﻬﻨﻢ ﺩﺍﺧﺮﻳﻦ

Dan Tuhan kalian berfirman: berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkan permintaanmu.
sejatinya orang2 yg merasa enggan untuk beribadah( berdoa) kepada-Ku niscaya akan masuk neraka dalam kondisi terhinakan.

(Ghafir 60)

--

Selama ini solusi doa, baru menjadi solusi
"COBA COBA (kali aja bisa)",

"SIAPA TAHU (aja berhasil)",

"BARANGKALI (bisa keluar dari masalah ini)",

"DARI PADA TIDAK (pernah berdoa sama sekali, ya berdoa aja kepada Alloh)...."

Ya Allah limpahkanlah keimanan kepada kami semua.

-Ditulis ulang dari nasehat
ust. Dr Muhammad Arifin Badri -

Dikirim pada 18 April 2013 di Gambleh
Awal « 1 2 3 4 » Akhir


connect with ABATASA