0



Sikap manusia dalam menghadapi musibah ada beberapa tingkat.

Tingkat pertama adalah marah.

Hal ini pun ada beberapa macam.

1. Marah dengan hati.

Ia seolah-olah marah kepada Tuhannya dan berang terhadap takdir yang ditetapkan Allah.

Bersikap seperti ini haram karena dapat menyebabkan kekafiran.

Allah berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةَ

“Di antara manusia ada yang menyembah Allah menurut seleranya.
Apabila ia mendapatkan kebaikan, hatinya merasa tenang.
Akan tetapi, apabila ia mendapat cobaan buruk, ia memalingkan wajahnya.
Rugilah dunia dan akhiratnya.” (Qs. al-Hajj: 11).

--

2. Marah dengan lisan,

seperti menyerukan kata-kata:
“alangkah celakanya,”

“duhai binasanya,”

dan kata-kata lain yang serupa.

Bersikap seperti ini adalah haram.

--

3. Marah dengan tindakan,
seperti menampar muka, merobek-robek baju, menjambak rambut sendiri, dan lain-lain.

Bersikap seperti ini haram karena menyalahi sikap wajib bersabar.
--

Tingkat kedua adalah sabar, seperti yang dikatakan penyair,

“Sabar, seperti namanya, adalah sesuatu yang pahit dirasakan, tetapi hasilnya lebih manis daripada madu.”

Seseorang menganggap sesuatu itu berat bagi dirinya, tetapi ia tetap menerimanya,

ia tidak suka yang berat itu terjadi pada dirinya, namun ia menjauhkan diri dari sikap marah demi menjaga imannya.

Demikianlah, karena terjadinya atau tidak terjadinya sesuatu tidaklah sama baginya.

Bersikap seperti ini wajib karena Allah telah memerintahkan untuk berlaku sabar, sebagaimana firman-Nya,

وَاصْبِرُوْا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ

“Bersabarlah kalian. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(Qs. al-Anfal: 46).

--

Tingkat ketiga adalah ridha, yaitu seseorang ridha terhadap musibah yang menimpanya bagaimana pun keadaannya.

Ia tidak merasa berat atas adanya musibah dan tidak menerimanya sebagai sesuatu yang berat.
Menurut pendapat yang kuat, bersikap seperti ini hukumnya boleh, tidak wajib.

Sangat jelas perbedaan tingkat ketiga dengan tingkat sebelumnya
karena pada tingkat ini ada atau tidak adanya musibah diterimanya dengan ridha.
Adapun pada tingkat sebelumnya, musibah itu dianggapnya sebagai sesuatu yang berat, namun ia menghadapi dengan sikap sabar.

--

Tingkat keempat, adalah syukur.


Inilah tingkatan tertinggi.
Ia bersyukur kepada Allah dalam menghadapi musibah karena ia menyadari bahwa musibah yang menimpanya menjadi sebab terhapusnya dosa-dosanya dan barangkali dapat memperbanyak pahalanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Apa pun bentuk musibah yang menimpa seorang muslim,

niscaya akan Allah menjadikannya sebagai penghapus dosa dari dirinya,

sekalipun sebatang duri yang menancap pada dirinya.”

(Syaikh Ibnu Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Rasail, juz 2, hal. 109-111)

Dikirim pada 18 April 2013 di Gambleh


Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang lagi bekerja dibawah.. Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaanya dan bisingnya alat bangunan.. Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh keatas, di lemparnya uang. 1.000-an rupiah yang jatuh tepat di sebelah si pekerja..Si pekerja hanya memungut uang Rp 1.000 dan melanjutkan pekerjaanya..

Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas.. Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan uang Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.. Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja.. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor.....

Cerita tersebut diatas sama dengan kehidupan kita,ALLAH selalu ingin menyapa kita,akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita. Kita di beri rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur.. !!!!!Bahkan lebih sering kita tidak mau tau dari mana rejeki itu datangnya····

Bahkan kita selalu bilang····· kita lagi "HOKI!"Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik ALLAH .

Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yang kita sebut musibah! agar kita mau menoleh kepada ALLAH.

Dikirim pada 18 April 2013 di Gambleh


Suatu hari Imam Al Auza`i melintasi seorang pedagang bawang di kota Bairut.

Betapa terkejutnya beliau ketika mendengar promosi pedagang bawang tersebut.

Pedagang itu menawarkan bawangnya dengan berkata:

"Aduhai bawang yang lebih manis dibanding madu."

Spontan Imam Al Auzai mengomentari promosi tersebut dengan berkata:

"Subhanallah, apakah pedagang itu mengira bahwaada dusta yang dibenarkan?"

nampaknya pedagang itu merasa tidak bermasalah bila dirinya berdusta.

(al bidayah wa an nihayah oleh Ibnu Katsir 10/126)

Dikirim pada 18 April 2013 di Gambleh


Ketika kepala anda pusing seakan berputar tujuh keliling.

Ketika badan anda terasa sakit, seakan ditusuk tusuk duri.

Di saat anda berhadapan dengan masalah dalam rumah tangga.

Sewaktu anda menghadapi kesulitan dalam pekerjaan.

Apakah hal pertama yg anda lakukan?

Mencai obat,
Pergi ke dokter,
konsultan,
saudara
untuk berkeluh kesah,

atau
segera menengadahkan kedua tangan anda memohon kepada Allah?

Sejatinya manakah sumber solusi yang senantiasa anda prioritaskan?

Obat atau Allah?

Konsultan atau Allah?

Saudara atau Allah?

Namun mengapa betapa seringnya Allah menjadi tempat pengaduan terakhir anda?

Simaklah janji Allah berikut:

ﻭﻗﺎﻝ ﺭﺑﻜﻢ ﺍﺩﻋﻮﻧﻲ ﺃﺳﺘﺠﺐ ﻟﻜﻢ ﺇﻥ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺴﺘﻜﺒﺮﻭﻥ ﻋﻦ
ﻋﺒﺎﺩﺗﻲ ﺳﻴﺪﺧﻠﻮﻥ ﺟﻬﻨﻢ ﺩﺍﺧﺮﻳﻦ

Dan Tuhan kalian berfirman: berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkan permintaanmu.
sejatinya orang2 yg merasa enggan untuk beribadah( berdoa) kepada-Ku niscaya akan masuk neraka dalam kondisi terhinakan.

(Ghafir 60)

--

Selama ini solusi doa, baru menjadi solusi

"COBA COBA (kali aja bisa)",

"SIAPA TAHU (aja berhasil)",

"BARANGKALI (bisa keluar dari masalah ini)",

"DARI PADA TIDAK (pernah berdoa sama sekali, ya berdoa aja kepada Alloh)...."

Ya Allah limpahkanlah keimanan kepada kami semua.

-Ditulis ulang dari nasehat
ust. Dr Muhammad Arifin Badri -

Dikirim pada 18 April 2013 di Gambleh


Seseorang bertanya kepada al-Hasan albashri:

“Mengapa orang-orang yang shalat tahajjud memiliki wajah paling cerah di antara
manusia lainnya?’,

ia menjawab:‘Karena mereka menyendiri dengan sang Maha Pengasih, lantas
Dia mengenakan kpd mereka cahaya dari cahaya-Nya’.”

Dan ia juga berkata:
“Sesungguhnya seorang laki-laki telah berbuat dosa sehingga dg itu benar-benar ia tidak mampu untuk shalat tahajud.”

--

Ada seorang laki-laki berkata kepada seseorang yg shalih:
“Aku tidak bisa bangun untuk shalat tahajud, bagaimana cara mengatasinya?’

ia menjawab:
‘Janganlah engkau bermaksiat kepada-Nya pada waktu siang, niscaya Dia akan menghadapkanmu di hadapan-Nya waktu malam.”

--

Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri bahwasanya beliau berkata:
“Aku tidak bisa shalat tahajjud selama lima bulan sebab sebuah dosa
yang telah aku lakukan.”

--

Ibnul Mubarak menuturkan sebuah syairnya:

Tatkala malam telah gelap, mereka berusaha menahan kantuk tanpa belas..
Mereka tampak bersinar sedangkan manusia lain tetap tidur pulas..

Perasaan takut mengibaskan rasa kantuk sehingga mereka pun bangun tanpa malas..

Disaat yg sama banyak manusia lain yang merasa aman sehingga tetap tidur pulas..

--

Abu Sulaiman berkata:

“Orang-orang yang bangun malam terasa lebih nikmat daripada kondisi orang-orang lain saat dalam kelalaian mereka, kalaulah bukan karena malam, niscaya aku tidak ingin hidup didunia.”

--

Semoga nasehat nasehat ulama` diatas dapat menjadi pembuka mata kita disaat lengket untuk dibuka diheningnya malam, disaat seorang hamba diberi kesempatan istimewa untuk bermunajatt dg penciptanya..

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

Dikirim pada 18 April 2013 di Gambleh


"Tradisi Yahudi & Nasrani Dalam Pemakaian Kerudung" by @Irena_Handono

Menarik sekali jawaban Menteri Dalam Negeri Italia, Giulliano Amato, menjawab tuntutan dari kelompok ekstrim sekuler di Italia, 2010 lalu.


Kelompok ekstrim sekuler tersebut menginginkan agar dikeluarkannya larangan berkerudung bagi Muslimah di Italia.

Giulliano Amato: "Ketika Bunda Maria senantiasa memakai kerudung, lalu bagaimana bisa kalian berharap dari saya .......

.......... untuk menentang kerudung kaum Muslimah? Bunda Maria adalah ibu dari nabi kita Isa al-Masih dan senantiasa memakai kerudung ....

...... Bila demikian kenyataannya, bagaimana mungkin saya menyetujui pelarangan kerudung di negara ini....?"

Wanita,berbusana longgar panjang dari leher hingga kaki&kerudung penutup kepala adalah suatu keumuman dari zaman ke zaman sebelum Rasulullah

Ini terbukti dalam Bibel pun ada anjuran tegas mengenai kerudung.

Dan kali ini kita akan bahas satu-persatu bagaimana pandangan Yahudi & Kristen dalam memandang kerudung (penutup kepala).

Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature,

menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala bahkan harus menutup hampir seluruh muka,

dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Dalam bukunya tersebut ia mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno ,

Kata pendeta Yahudi kuno: "Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala"

dan "Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut istrinya terlihat,"

dan "Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan."

Hukum Yahudi melarang seorang Rabbi untuk memberikan berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya.

Mengapa dilarang? karena rambut yang tidak tertutup dianggap “telanjang".

Dr Brayer juga mengatakan"Selama masa Tannaitic,wanita Yahudi yg tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya.

Dr.Brayer melanjutkan, "Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut."

Kerudung juga menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya.

Kerudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi.

Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya.

Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (dimuat dalam tulisan S. W. Schneider, 1984, hal 237).

Wanita-wanita Yahudi di Eropa menggunakan kerudung sampai abad ke 19 hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler.

Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang shalih tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi).

Content from Twitter

Nah, kemudian, kerudung dalam Tradisi Kristen.

Hingga saat ini para Biarawati Katolik menutup kepalanya secara keseluruhan. Di Indonesia, sebelum 80-an, pakaian biarawati adalah jilbab,

pakaian panjang longgar dari leher hingga menutup kaki serta berkerudung yang menutup leher dan dada (masih ingat telenovela Dulcemaria?).

Namun era 80-an ke atas, jubah biarawati berubah menjadi pakaian panjang hanya sampai betis.

Kerudung panjang pada biarawati yang menutup dada, kemudian berubah menjadi kerudung sbg penutup rambut dan leher terbuka.

Padahal menutup kepala atau berkerudung, adalah sebuah tuntunan dalam Bibel yang sudah ada sejak zaman sebelum Nabi Muhammad SAW.

I Korintus 11:5 "Tetapi tiap-tiap perem-puan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya .......

...... sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya."

I Korintus 11:13 "Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?"

St Tertulian di dalam risalahnya "On The Veiling Of Virgins" menulis:"Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan,

.... demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing .......

..... dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu."

Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja.

Maka, silakan, apa penyimpulan ananda mengenai #kerudung ? Masihkah ananda belum mau mengenakannya, padahal Yahudi saja mengharuskannya?

Kita, umat Islam, yg dianugerahi Al-Qur`anul Karim & sunnah Rasulullah SAW, lebih mengatur hukum tentang berhijab. Mari berhijab scr kaffah.

Mudah-mudahan sedikit yang disampaikan pagi ini, mampu membuka mata batin ananda yang belum berhijab, untuk segera berhijab.

Ummat yang memegang risalah yang sempurna, hendaknya melaksanakannya dengan sepenuh hati pula.

Dikirim pada 05 Maret 2013 di Gambleh


Ketika anda akan menikah dgn seseorang , ataupun saat ini anda sdh terikat dalam sebuah pernikahan.
Tentunya pernikahan itu melewati proses AKAD-NIKAH bukan?
Yang intinya berbunyi ;
``Aku terima nikahnya si dia binti ayah si dia dengan Mas Kawinnya ,,,,,,,``

Singkat, padat dan jelas. Tapi tahukan makna `perjanjian/ikrar`` tersebut ?
Ini diaa -->

``Maka aku tanggung dosa2nya si dia dari ayah dan ibunya, dosa apa saja yg telah dia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yg berhubungan dgn si dia, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yg menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak2ku``.

Jika aku GAGAL?
``maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka, aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku``.
(Hadist Riwayat Muslim)

Duhai para istri,,
Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu, karena saat Ijab terucap, Arti_nya berguncang karena beratnya perjanjian yg di buat oleh manusia di depan RABB nya, dgn di saksikan para malaikat dan manusia, maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu.

Kita semua tau betapa besarnya pengorbanan dan tanggung jawab/beban sang ayah, atau laki-laki !!

Jangan baring ketika azan, nanti jenazah kita berat. Dan, jangan bercakap ketika azan, nanti kita tak dapat mengucap ketika hendak meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda "Sebarkan walaupun sepotong daripada ayatku"



Dikirim pada 25 Februari 2013 di Gambleh


Assalamu`alaykum...

Seorang ibu dari jemaah-ku bertanya ...

Jemaah :" Kang, bagaimanan kalau seorang anak"ingkar" ?,
padahal bapaknya seorang kiyai..."
Kang Dwin:" Jangankan kiyai..anak Nabi Nuh saja ingkar..."
"Nabi Luth... anak istrinya ingkar kepada ALLAH..."
"Nabi Ibrahim.....ayahnya yang ingkar kepada ALLAH.."
Jemaah :"....."
Kang Dwin:" apalagi hanya seorang kiyai..."

Setiap orang memiliki ujian masing-masing dari ALLAH...

...ada orang yang diuji dengan KEKURANGAN HARTA...
.....ada yang diuji dengan KELEBIHAN HARTA...
.......ada yang diuji dengan JABATANYANYA..
.........ada yang diuji dengan ISTRINYA...
...........ada yang diuji dengan ANAKNYA...
..............ada yang diuji TIDAK PUNYA ANAK...

Kita hanya manusia biasa dan bisa khilaf...
Bahkan Nabi Adam, bapak dari seluruh manusia yang ada di bumi dan pernah tinggal di syurga saja....bisa khilaf, apalagi kita...?

ISLAM sudah mengajarkan...
Walaupun seorang tokoh khilaf...
Kita tidak boleh membela hanya karena satu golongan...

Walaupun anak seorang pejabat yang khilaf...
Hukum harus ditegakkan sama seperti kepada rakyat biasa...

Sebagaimana ...
Rasulullah mengatakan " kalau saja putriku didapati mencuri, maka aku yang akan melakukan hukuman baginya..."

Begitupun...
Saat Presiden Umar bin Khatab diuji karena putera tercintanya melanggar hukum sehingga harus dilakukan hukum cambuk 100x....
Ayahnyalah yang melaksanakan hukum cambuk kepada sang buah hati....hingga puteranya wafat karena kehabisan darah...
Dan...
Sebelum Sang Presiden Umar wafat, beliau berucap...
"...maafkan ayah Nak...hal ini sangat berat untukmu dan untukku, tapi ini yang terbaik untukmu dan untuku dihadapan ALLAH kelak..."

Saudaraku...
Jangankan Kiyai...orang yang lebih mulia saja diuji dgn anaknya...
Bahkan keadilan harus tetap ditegakkan dengan tangannya sendiri...walaupun terhadap puteranya tercinta...

...Bagaimanakah dengan pejabat negri ini...?


Semoga bermanfaat.

Wassalamu`alaykum...
Kang Dwin
http://www.facebook.com/kang.dwin

Dikirim pada 25 Februari 2013 di Gambleh


Menjelang hari raya, seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung. "Untuk apa ?" tanya sang ayah. "Untuk kado, mau kasih hadiah." jawab si kecil. "Jangan dibuang-buang ya." pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.
Persis pada hari raya, pagi-pagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya, "Pa, Pa ada hadiah untuk Papa." Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun belum melek, menjawab, "Sudahlah nanti saja." Tetapi si kecil pantang menyerah, "Pa, Pa, bangun Pa, sudah siang." "Ah, kamu gimana sih, pagi-pagi sudah bangunin Papa."
Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya. "Hadiah apa nih?" "Hadiah hari raya untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang."
Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu. Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apa pun juga. "Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya koq kosong. Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal ?" Si kecil menjawab, "Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuk Papa."
Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya. "Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan boks ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong diisi lagi ya !"
~~~
Perspektif
Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Apa yang terjadi ? Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong. Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain.
Kosong dan penuh - dua-duanya merupakan produk dari "pikiran" anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup demikianlah kehidupan anda.
Hidup menjadi berarti, bermakna, karena anda memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya.
Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong...........

Penulis: Sandman

Selamat bekerja ..............................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Tetap Semangat .................................!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Dikirim pada 22 Februari 2013 di Gambleh


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh,

Saudaraku,

Ada banyak kearifan filosofi cara-cara sikap hidup positip dan Atitude yang baik yang dapat kita serap dari semua sisi :

Jika telur pecah oleh kekuatan luar. . Kehidupan-pun segera berakhir.
Jika telur pecah dari dalam. Maka kehidupan segera dimulai.
Hal-hal besar selalu dimulai dari dalam.

Ketika Anda mempercayai seseorang percayai dia sepenuhnya tanpa keraguan. . Pada akhirnya Anda akan mendapatkan salah satu dari dua hal berikut : Entah pelajaran berharga bagi hidup Anda atau Anda akan segera mendapatkan seseorang yang sangat baik . .

Prajurit: "Pak, kita dikelilingi oleh musuh dari semua sisi . . !!"
Komandan: "Excellen t!! Kita dapat segera menyerang mereka dari segala arah . . !!"

Saya mendengar dan saya lupa.
Saya melihat dan saya ingat.
Saya lakukan dan saya Memahami.

Semoga bermanfaat . .

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh,

Amriwansyah Kumara

Dikirim pada 21 Februari 2013 di Milis Pengusaha Muslim


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh,

Saudaraku,

Arthur Ashe adalah salah seorang pemain tenis legendaris kejuaraan Wimbledon yang sedang sekarat karena mengidap penyakit KANKER ganas.

Dari seluruh dunia, ia menerima surat-surat ucapan simpati dan ikut prihatin terhadap penderitaan yang dideritanya yang ditulis oleh para penggemarnya ......

Dari salah satu surat yang disampaikan, isinya menulis: "Mengapa Tuhan harus memilih Anda untuk suatu penyakit yang buruk?".

Untuk merespon kiriman surat ini Arthur Ashe membalas dan menjawab ...

"Di dunia ini lebih dari 50 juta anak telah mulai bermain tennis, 5 juta orang belajar bermain tenis, 500 ribu orang belajar tenis profesional, 50 ribu orang datang ikut berkompetisi ke sirkuit, 5000 mencapai grand slam, 50 mencapai Wimbledon, 4 pemain unggulan sampai ke semi final, 2 pemain akan terpilih ke final.

Ketika saya dengan penuh kebanggaan memegang dan mengangkat piala kemenangan saya, saya tentunya tidak pernah akan bertanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala dengan pertanyaan konyol "Mengapa saya?".

Dan hari ini aku sedang sakit parah karena kanker dan tentunya aku juga tidak pantas harus bertanya kepada Allah Azza Wa Jalla dengan pertanyaan "Mengapa saya?"

Semoga bermanfaat . .

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh,

Amriwansyah Kumara

Dikirim pada 21 Februari 2013 di Milis Pengusaha Muslim


Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh,
Pebisnis Pengusaha Muslim yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta` ala,

Selama 2 hari kemarin (Hari Senin - Selasa di Hotel Grand Menteng - Matraman dan Wisata Matahari - Puncak) sebagai pelaku bisnis dan pengelola Cafe & Resto dan Restoran yang berdomisili di jakarta Timur saya dan seorang karyawan mendapatkan undangan untuk mengikuti sesi tatap muka dan pembekalan pengetahuan dari Sudin Pariwisata Jakarta Timur seputar dunia kepariwisataan.

Banyak informasi penting yang kami dapatkan selama pertemuan dan training tersebut (izin untuk sedikit "share" di milis ini ya . .), di antaranya terungkap bahwa berdasarkan data yang ada di sudin pariwisata dinyatakan bahwa ternyata industri yang kami geluti selama ini telah berkontribusi menyumbangkan pajak pendapatan yang lumayan besar bagi Jakarta Raya ini, yakni pada tahun 2011 lalu sumbangsih pendapatan pajaknya mencapai 2,5 Trilyun lebih.

Alhamdulillah walaupun bisnis yang saya geluti dan kelola ini masih kecil-kecilan ternyata ada "sedikit" sumbangsih peran kami melalui pajak yang kami setor untuk pembangunan Jakarta Raya ini.

Pada sesi acara tersebut, saya memperoleh tambahan pembekalan pengetahuan tentang :

1. Wonderful Indonesia (Wonderful Nature, Wonderful Culture, Wonderful People, Wonderful Food, Wonderful Value for Money)

2. Sapta Pesona (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, Kenangan)

3. "Key success factors" untuk mencapai kepuasan Pelanggan / Pengunjung di bisnis kami : "From Service excellence to Care Excellence" : sebagai pelaku bisnis, kita harus terus mengedepankan pelayanan terbaik untuk pelanggan sehingga hal tersebut akan menjadi standard prosedur yang dijalankan setiap harinya di bisnis ini.

4. Tehnik dan cara branding berpromosi untuk industri Cafe & Resto dan Rumah Makan

5. Pengenalan dan penanganan cara & tehnik "Higiene & Sanitation" pada industri yang berbasis makanan terutama untuk operasional dapur / kitchen (Food Hazards , Personal Hygiene, Food Storage, Cleaning & Sanitizing Equipment, HACCP System)

Semoga dapat bermanfaat ya . .

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh,
Amriwansyah Kumara

Dikirim pada 21 Februari 2013 di Milis Pengusaha Muslim


Assalamualailum Warohmatulahi Wabarakatuh,
Dear Friends,
Apakah Anda tahu bahwa secara naluriah Burung Elang itu memiliki intuisi yang sangat tajam untuk mengetahui kapan badai akan datang mendekat ke wiayah di mana keberadaannya jauh-jauh hari sebelum peristiwa dahsyat itu terjadi?
Burung Elang akan terbang ke tempat yang lebih tinggi dan menunggu angin badai yang akan datang menerpa. Ketika badai menghantam wilayah itu ia akan segera mengepakkan sayapnya mengikuti aliran gelombang mengalir se-arah pergerakan "pusingan dan pelintiran" badai sehingga angin akan mendorong dan mengangkat tubuhnya melambung di atas wilayah zona pusaran badai tersebut.
Sementara badai sedang mengamuk di bawah, burung elang ini melonjak dan melayang-layang berselancar di atasnya.
Burung Elang tersebut tentunya juga tidak luput "terlibat" masuk ke dalam pusaran badai yang datang, tetapi bedanya dengan yang lain adalah bahwa burung elang Ini menggunakan "hiruk-pikuk" dahsyatnya hantaman badai ini untuk mengangkatnya lebih tinggi dan terus melambung lebih tinggi lagi, naik dan mengalir mengikuti lenggak-lenggok gerakan angin yang membawa badai itu.
Ketika badai kehidupan datang kepada kita - dan kita semua akan dan pasti pernah mengalami hal itu - kita dapat naik di atas mereka dengan menetapkan dan memantapkan pikiran serta keyakinan kita terhadap Zat maha sempurna penentu dan pemutus segala urusan.
Badai tidak harus mengalahkan kita. Kita bisa membiarkan pertolongan Sang Khalik untuk mengangkat kita di atas segala persoalan masalah rumit dan pelik itu.
Energi ini memungkinkan kita untuk naik di atas angin badai yang membawa penyakit, tragedi, kegagalan dan kekecewaan dalam hidup. Kita bisa melambung di atas badai.
Yang perlu diingat, bukan beban hidup yang berat itu yang membuat langkah maju kita menjadi terseok-seok, akan tetapi adalah bagaimana cara kita bersikap dan mengantisipasi setiap lini kemungkinan dalam kita MENANGANI mereka.
Setiap orang itu UNIK dalam cara2 mereka BERPIKIR, pada kemampuan BERKREATIVITAS mereka, dan cara masing-masing meng-handle apapun permasalahan yang sedang dihadapinya.
IDENTIFIKASI kekuatan Anda sendiri, dan akan tahu bahwa Insyaa Allah Anda sesungguhnya memiliki potensi "dahsyat" di dalam diri yang tersembunyi dan menunggu untuk segera anda munculkan.
Jangan biarkan kelemahan Anda menghambat SEJATI nya diri dan potensi Anda.
Apakah ANDA adalah seorang profesional, pebisnis, orang tua, atau pelajar sekalipun maka tidak akan pernah terlalu terlambat untuk menemukan dan mengembangkan kekuatan dan potensi terbaik yang berada di dalam diri Anda sendiri.
Semoga bermanfaat,
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh,
With Warmest Regards,
Amriwansyah Kumara



Dikirim pada 21 Februari 2013 di Milis Pengusaha Muslim


Assalamualaikum warohmatullahi Wabarakatuh,

Dear Fellow Friends,

Beberapa waktu yang lalu, pernah beberapa kali saya mencoba mengulas di milis ini mengenai karya fenomenal Stephen R Covey (misal, ulasan saya ditautan berikut : http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/46716), yang mana tulisan Covey ini sangat meng-inspirasi operasional manajemen kinerja bagi jutaan profesional dan pebisnis di seluruh dunia.

Melalui tulisannya "Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Paling Efektif" ini Covey telah mentransfer pengetahuan mengenai efektivitas terbaik pengelolaan "Time Management", "Performance Management", dan "Result Orientation Management".

Yuk, kita intip dan ikut pahami deskripsi pengertian-pengertian dasar dari isi tulisan di buku beliau ya . .

Menumbuhkan Kebiasaan :
Kebiasaan adalah perpaduan antara PENGETAHUAN, KETRAMPILAN, dan KEINGINAN. Pengetahuan berarti memahami apa yang harus diperbuat dan mengapa, dan Ketrampilan berarti mengerti bagaimana melakukannya, sedangkan Keinginan adalah motivasi atau hasrat untuk melakukan.
==>> Untuk membentuk kebiasaan, kita perlu mengembangkan ketiga unsur ini !!

Karakter dan Kepribadian :
Hubungan antara karakter dengan kepribadian dapat digambarkan sebagai gunung es. Puncak gunung es (kepribadian) adalah apa yang pertama kali dilihat orang. Meskipun citra, teknik, dan ketrampilan bergaul dapat mempengaruhi keberhasilan penampilan anda, bobot dari efektivitas yang sesungguhnya terletak pada karakter yang baik.

Karakter dan kecakapan :
Karakter-->> Orang dengan karakter atau watak yang kuat menunjukkan integritas, kematangan, dan mentalitas kelimpahan.
Kecakapan -->> Orang dengan kecakapan yang tinggi memiliki pengetahuan dan kemampuan di bidang tertentu.

Jadi perlu Anda sadari bahwa Untuk menjadi benar-benar efektif di bidang apapun, seseorang harus punya keseimbangan antara karakter yang kuat dan kecakapan tinggi. Apabila kedua unsur ini seimbang dimiliki, ia menumbuhkan sifat layak-dipercaya serta saling percaya terhadap orang lain.

Coba kita simak rangkuman sederhana dari "Tujuh Kebiasaan Manusia yang paling efektif" (7 habits of highly effective people by Steven Covey) ini :

Kebiasaan 1. Jadilah Proaktif (Be Proactive):
• Mengambil inisiatif (Taking initiative)
• Menjaga komitmen (Keeping commitments)
• Mengambil tanggung-jawab (Taking responsibility)
• Bersedia memikul Per-tanggung-jawaban terhadap hasil (Holding oneself accountable for results)
• Mengarahkan pengaruh positip terhadap hasil (Exerting a positive influence on results)

Kebiasaan 2. Mulai dengan tujuan akhir (Begin with the End in Mind)
• Mengembangkan Visi (Developing vision)
• Membangun / meng-klarifikasi pernyataan misi (Establishing/clarifying mission)
• Men-setting Tujuan / goals pribadi / tim (Setting team/personal goals)
• Mengkoneksi antara tujuan / goals terhadap prioritas misi yang kritikal (Aligning goals to mission-critical priorities)
• Berfokus pada hasil (Focusing on outcomes)

Kebiasaan 3. Dahulukan yang utama (Put First Things First)
• Meng-eksekusi strategi (Executing strategy)
• Ber-fokus pada hal-hal yang lebih penting dibandingkan hanya pada prioritas-prioritas yang mendesak (Focusing on important rather than merely urgent priorities)
• Mendefinisikan tugas-tugas untuk mencapai tujuan-tujuan kunci (Defining tasks to achieve key goals (Mendefinisikan tugas-tugas untuk mencapai tujuan-tujuan kunci)
• Meng-eliminir prioritas-prioritas lemah (Eliminating low priorities)
• Memprioritaskan tugas-tugas (Prioritizing tasks)
• Menggunakan alat-alat / Tools perencanaan untuk mencapai hasil terbaik (Using planning tools (Menggunakan alat-alat / Tools perencanaan untuk mencapai hasil terbaik)

Kebiasaan 4. Berpikir Menang-Menang (Think Win-Win)
• Peningkatan hubungan-hubungan bisnis (Improving business relationships)
• Efektivitas kolaborasi (Collaborating effectively)
• Bernegosiasi dalam kerangka semangat model menang-menang (Negotiating in a Win-Win mode)
• Menyelesaikan konflik (Resolving conflicts)
• Membuat perjanjian kinerja berbingkai menang-menang (Making Win-Win performance agreements)

Kebiasaan 5. Berusaha mengerti lebih dahulu, baru dimengerti (Seek First to Understand, Then to Be Understood)
• Berkomunikasi persuasif (Communicating persuasively)
• Meredakan situasi dengan tegangan tinggi (Defusing high-tension situations)
• Mendengarkan secara efektif (Listening effectively)
• Memberikan masukan yang produktif beserta umpan balik terbaik (Providing productive input and feedback)

Kebiasaan 6. Wujudkan sinergi (Synergize)
• Memanfaatkan keragaman (Leveraging diversity)
• Membuat keputusan / pemecahan masalah secara kolaboratif (Making decisions/solving problems collaboratively)
• Menilai perbedaan-perbedaan (Valuing differences)
• Kolaborasi kreatif (Collaborating creatively)
• Mengembangkan solusi inovatif (Developing innovative solutions)

Kebiasaan 7. Asahlah gergaji (Sharpen the Saw)
• Mencapai keseimbangan hidup (Achieving life balance)
• Melatih perbaikan di segala lini secara terus menerus (Practicing continuous improvement)
• Berlatih Pembaruan diri (Practicing self-renewal)

Semoga bermanfaat . .

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh,

With My Best Regards,

Amriwansyah Kumara

Dikirim pada 21 Februari 2013 di Milis Pengusaha Muslim


Assalamu`alaykum...


Doeloe... orangtua kita berangkat bekerja setelah matahari terbit dan sudah kembali ke rumah sebelum matahari terbenam.
Walaupun memiliki anak yang banyak.....rumah dan halaman pun tetap luas, bahkan tidak sedikit ada yang memiliki kebun...dan semua anak-anaknya bersekolah....

Sekarang....banyak yang berangkat kerja subuh dan sampai rumah setelah isya, tapi kerja keras yang dijalaninya dan melebihi jam kerja orang tua kita.....rumah dan tanah yang dimiliki tidak seluas rumah orang tua kita, dan bahkan banyak yang takut memiliki anak banyak karena takut kekurangan....

"Dan sungguh akan ALLAH berikan cobaan kepada manusia dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta...."
(Al Baqarah (2) AYAT 155)

Ada yang salah dengan cara hidup orang modern....

Orangtua kita hidup tanpa banyak alat bantu....tapi tenang menjalani hidunya...
Sementara kita yang dilengkapi dengan pampers, mesin cuci, kompor gas, HP, kendaraan, email, FB...yang seharusnya sangat mempermudah hidup ini....tapi tetap saja kita kerepotan dengan hidup ini....
Sampai-sampai...tidak sempat kita menikmati hidup karena semuanya dilakukan terburu-buru...

...berangkat kerja, TERBURU-BURU....
.....pulang kerja, juga TERBURU-BURU....
........makan siang, TERBURU-BURU....
..........dilampu merah, TERBURU-BURU....
.............berdo`a pun, TERBURU-BURU....
.............bahkan sholatpun, TERBURU-BURU....

sifat diatas bukti dari Qur`an surat Al Isra` (17) ayat 11
" Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa"

Hanya mati........yang tidak seorangpun mau TERBURU-BURU....

Saking takutnya akan kurangnya harta untuk keluarga sampai-sampai kita HITUNGAN dalam BERSEDEKAH, sementara ALLAH tidak pernah hitungan dalam memberi rizki kepada kita.

"Setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh berbuat kikir...."
(Al Baqarah (2) AYAT 268)

Bahkan saking lebih takutnya kita kehilangan pekerjaan hingga berani melewatkan sholat subuh ...

Nampaknya....banyak orang modern yang lebih memilih kehilangan ALLAH karena mencintai sesuatu daripada kehilangan sesuatu karena mencintai ALLAH.....

Hitung saja dalam 24 jam.....
...berapa jam kita ingat ALLAH..?
.....dan berapa jam kita ingat UANG..?

Kalau SHOLAT saja kita lakukan terburu-buru...?
.....bagaimana mungkin hidup kita akan TENANG....

Saudaraku....
.... hanya dengan banyak mengingat ALLAH sajalah, maka hati ini akan tenang.... (Qur`an Ar Rad (13) ayat 28)

Semoga bermanfaat,

Wassalamu`alaykum...
Kang Dwin

Dikirim pada 21 Februari 2013 di Gambleh


Oleh: Widiwahyu (Pemerhati SDM)

Masih ingat artikel saya tentang agent AF yang beroperasi ke PKS? Berikut Tulisannya

Dikirim pada 20 Februari 2013 di Gambleh


Oleh : Ceppy Indra Bestari - PusatHalal.com



Banyak Muslim Indonesia belum menyadari bahwa sehari-hari kita dikelilingi oleh bahan pangan haram maupun subhat. Bahkan mungkin tanpa disadari, tubuh kita dan keluarga kita telah terkontaminasi oleh bahan pangan haram. Padahal cukup jelas peringatan dari Rasulullah: “Daging mana saja yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih pantas untuknya” (HR Tirmidzi).

Ketidaktahuan dan ketidak pedulian dari konsumen Muslim saat ini makin menumbuh suburkan maraknya produksi dan perdagangan pangan haram. Pada artikel ini PusatHalal.com ingin sedikit berbagi tentang realita di sekitar kita yang perlu diketahui, diwaspadai dan di siasati agar kita tidak terjebak untuk menggunakan atau mengkonsumsi bahan pangan haram dan subhat.

Setidaknya ada empat aspek yang perlu kita ketahui yang berperan besar dalam menghasilkan dan menyuburkan peredaran produk-produk haram dan subhat di sekitar kita yaitu :



1.Dampak Perkembangan Teknologi Pangan

Perkembangan teknologi pangan, selain berdampak positif bagi manusia, disisi lain perlu dicermati pula dampak negatifnya. Salah satu dampaknya adalah makin kompleksnya proses pengolahan dan distribusi bahan pangan, sehingga berpotensi terjadinya penggunaan atau pencampuran bahan haram. Hal ini mempersulit penentuan halal dan haramnya suatu produk pangan oleh kalangan awam karena perlu pengetahuan yang memadai untuk mengetahui apakah produk yang diproduksi halal atau tidak. Cara paling aman, masyarakat Muslim cukup mempercayakan kepada lembaga terkait yang berkompetensi untuk melakukannya. Namun mengingat produk-produk yang bersertifikat halal resmi masih relatif sedikit, karena terdesak kebutuhan dan ketidaktahuan seringkali masyarakat dengan mudah menganggap “halal” suatu produk yang belum bersertifikat halal hanya berdasarkan “asumsi” semata.

Satu contoh yang mudah saja, ketika memilih air mineral dalam kemasan, masyarakat dengan mudah “ber-asumsi” bahwa produk ini halal karena hanya air saja. Padahal kalau dicermati proses penyaringan air mineral, banyak pabrik menggunakan arang sebagai penyaring. Sedangkan arang ini banyak yang berasal dari tulang hewan yang di bakar. Jika arang ini diimpor dari Negara non-muslim, sangat besar kemungkinan berasal dari tulang babi (karena paling banyak dikonsumsi dan harganya jauh lebih murah). Dr Anton Apriyantono dalam beberapa tulisannya mengungkapkan kaidah fikih: jika bahan yang haram (walau sedikit) bercampur dengan yang halal, maka status dari bahan tersebut adalah haram. Jadi jangan heran atau dianggap berlebihan ketika membeli air mineral-pun kita perlu melihat logo halalnya. Walaupun yang tidak berlogo halal belum tentu juga haram, namun karena kemajuan teknologi ini, menurut hemat kami statusnya menjadi subhat, kecuali kita mengethui persis proses produksinya.

Artikel ini tidak akan membahas secara detail berkaitan teknologi pangan ini, namun hanya gambaran umumnya saja agar kita waspada dan “lebih memilih produk yang sudah berlabel halal resmi” dibanding yang tidak ada labelnya. Jangan sampai kita terjebak mengkonsumsi produk-produk haram gara-gara “asumsi” yang “asal” seperti diatas.

Dalam konteks makanan, Dr Anton Apriyantono mendefinisikan makanan halal sebagai berikut:

Tidak mengandung babi dan bahan yang berasal dari babi.
Tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan seperti : bahan-bahan yang berasal dari organ manusia, darah, kotoran-kotoran dan lain sebagainya.
Semua bahan yang berasal dari hewan halal yang disembelih menurut tata cara syari`at Islam.
Semua tempat penyimpanan, tempat penjualan, pengolahan, tempat pengelolaan dan transportasinya tidak boleh digunakan untuk babi. Jika pernah digunakan untuk babi atau barang yang tidak halal lainnya terlebih dulu harus dibersihkan dengan tata cara syari`at Islam
Semua makanan dan minuman yang tidak mengandung khamar.
Dewasa ini konteks halal telah meluas tidak hanya untuk makanan dan minuman saja, namun juga obat-obatan, vitamin, supllemen, vaksin dan kosmetika. Karena tak jarang produk-produk tersebut menggunakan bahan haram dan najis.

Dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh MUI yang diikuti team PusatHalal beberapa waktu lalu, saat membahas tentang teknologi pangan, kami ditunjukan dua buah peta berkaitan penggunaan dan distribusi bahan haram. Dua peta ini membuka mata kami tentang begitu kompleksnya penggunaan dan peredaran bahan haram dalam teknologi pangan. (lihat gambar 1 dan gambar 2 dibawah ini)

Gambar 1 adalah peta secara umum bahan-bahan haram yang sering digunakan dalam produksi produk pangan, obat dan kosmetika. Gambar 2 menggambarkan lebih detail salah satu bahan haram yang sering dipakai yaitu “babi”. Perhatikan bahwa hampir semua anggota tubuh babi digunakan dalam teknologi dan pembuatan produk pangan, kosmetik dan obat-obatan.

Kalau kita perhatikan dengan seksama peta-peta dibawah, bisa diambil kesimpulan bahwa banyak produk yang mungkin sekilas tidak mengandung bahan haram ternyata berpotensi mengandung bahan haram. Kemungkinan makin besar jika produknya atau bahan-bahanya di datangkan dari negeri non-muslim. Khusus babi, penggunaannya begitu luas mengingat kemudahan berkembang biak, pemeliharaan yang mudah dan harganya yang murah. Dijelaskan disini babi sekali beranak bisa mencapai 14 ekor (bandingkan dengan sapi dan kambing yang hanya 1-2 ekor). Makanannya pun mudah, karena babi memakan apa saja, termasuk (maaf) kotorannya sendiri.

Belum lagi kalau kita telisik tentang proses dan peralatan yang digunakan dalam produksi dan distribusi. Walau komposisi produk semuanya halal, namun jika peralatan yang dipakai dalam produksi dan distribusi digunakan juga untuk produk yang mengandung bahan haram, maka potensi pencampuran atau kontaminasi dari peralatan akan tetap ada.



Gambar 1 : Peta Bahan Pangan Haram (sumber LP-POM MUI)



Gambar 2 : Peta Babi (Sumber : LP-POM MUI)

Menurut Ust Nanung Danar Dono, dosen dan peneliti dari UGM penggunaan bagian-bagian tubuh babi sudah begitu meluas di dunia industri, diantaranya:

Lemak

•Lemak & gliserin : softdrink, bahan kosmetik (facial, hand & body lotion), sabun,bahan roti, eskrim, dll.

•Emulsifier : Lesitin, E471-E476, dll (tapi ingat tidak semua kode E merujuk ke Babi).

•Lard (lemak babi) : coklat, pengempuk / pelezat rerotian, masakan, dll.

•Minyak : penyedap masakan

•Bahan starter Vetsin (kasus Ajinomoto)

Daging

•Sumber protein hewani yang murah: ham, pork, sausage (sosis), dendeng

•Daging babi empuk, serat halus, dan rasanya lezat.

•Dapat dipakai sebagai campuran bakso, siomay, bakmi goreng, dll.

Tulang

•Industri pariwisata : patung, dll.

•Industri makanan/minuman : arang tulang sebagai filter penyaring air mineral.

•Industri obat : gelatin sebagai bahan soft capsule dan soft candy (permen), penghilang keruh fruit juice.

•Industri pertukangan : bahan lem, dll

Bulu

•Bahan kuas (BRISTLE): kuas roti, kuas cat tembok, kuas lukis.

•Laporan Badan Pusat Statistik (2002) : Periode Januari – Juni 2001, Indonesia mengimpor boar bristle & pig/boar hair se-jumlah 282,983 ton (senilai 1.713.309 US $)

Organ Dalam

•Transplantasi : ginjal, hati, jantung

•Plasenta : kosmetika (facial, hand & body lotion), sabun, dll.

•Usus : sosis, benang jahit luka, dll.

•Enzim pencernaan : amilase, lipase, tripsin, pankreatin, pepsin, dll.

Kotoran

• Pupuk tanaman apel di Jepang

• Pupuk sayuran (Baturraden,, Temanggung, Wonosobo, dll.)

• Darah babi untuk Black Pudding.

Kulit

Industri kulit (leather handicrafts): tas, sepatu, dompet, dll.
Jika sudah seperti ini, sekali lagi cara yang paling aman adalah memilih hanya produk yang sudah ada lebel halal resmi. Karena untuk mendapatkan label ini dilakukan audit yang sistematis dan menyeluruh mulai dari bahan baku/ingredient, proses produksi, peralatan produksi, kemasan, bahkan sampai ke komitmen dari manajemennya.

1.Dampak Derasnya Barang Impor dari Negeri Non Muslim.

Walaupun import bahan makanan dari luar negeri telah diatur sedemikian rupa, namun masih banyak impor yang dilakukan secara illegal. Sebutlah kasus masuknya paha ayam dari Amerika beberapa tahun silam atau masuknya hati sapi illegal yang lebih murah daripada lokal. Keduanya kemungkinan besar berstatus haram karena tidak disembelih secara Islami.

Belum lagi penggunaan produk impor yang tidak sesuai peruntukannya. Contohnya saja ada indikasi kulit babi yang diimpor untuk produk sandang, oleh oknum tertentu sisa-sisa potongannya dimanfaatkan juga untuk dijadikan krupuk kulit yang sekilas mirip dengan krupuk kulit dari sapi.

Untuk produk-produk dalam kemasan, masyarakat yang tidak hati-hati dan awam sering terkecoh membeli produk hasil impor yang belum jelas kehalanannya. Contoh saja coklat, keju, susu, biscuit dan sebagainya. Sepertinya “asumsi” yang salah seperti dibahas di atas ditambah tidak jelasnya keterangan ingredient yang dicantumkan dalam kemasan, (karena menggunakan bahasa dan istilah asing) memungkinkan terkonsumsinya produk haram ini oleh orang Muslim.

Selain produk pangan, perlu juga diwaspadai produk lainnya seperti kosmetik, obat-obatan, sabun mandi, pembersih wajah, bahkan bahan jaket, dompet, sandal, kuas bulu dan lainya yang kemungkinan berasal dari bahan haram.

Jangan sampai niat kita memebersihkan atau mensucikan tubuh malah menghasilkan hal sebaliknya. Contohnya saja mandi menggunakan sabun yang mengandung lemak babi, keramas dengan menggunakan shampoo yang mengandung tulang babi (untuk menimbuklan efek kilau seperti mutiara), atau mencuci muka dengan menggunakan pembersih muka yang mengandung karbon aktif yang berasal dari arang tulang babi.

Jangan pula sampai ibadah kita yang hanya bisa sah dilakukan setelah kita membersihkan diri dari najis justru di cemari najis. Ini bisa saja terjadi jika sehabis wudhu kita menggunakan sandal dari kulit babi, atau saat sholat di kantong kita ada dompet dari kulit babi. Walau ditinjau dari sudut pandang fikih masih ada perbedaan pendapat tentang haram dan tidaaknya penggunaan kulit babi ini, namun selayaknyalah kita berhati-hati dari kemungkinan tidak diterimanya ibadah kita.

2.Kecurangan dan pengelabuan oleh produsen dan pedagang

Persaingan yang ketat dalam dunia dagang, ditambah keinginan untuk mendapatkan keuntungan berlipat, tidak jarang membutakan mata hati para oknum pedagang untuk mengelabui pembelinya dengan barang-barang haram.

Kejadian yang sering terjadi adalah pencampuran daging haram seperti babi, daging bangkai (mati sebelum disembelih), daging tikus, anjing dan atau daging halal kadaluarsa yang di rekondisikan. Untuk daging segar mungkin sebagian masyarakat bisa membedakannya, namun untuk daging yang telah diolah menjadi masakan atau produk olehan seperti bakso, nugget dan lainnya cukup sulit untuk mendeteksinya.

Masalah lainnya adalah berkaitan dengan label halal yang “self claim”, dimana label tersebut di buat sendiri tanpa adanya pengujian oleh badan yang berkompeten. Ironisnya masyarakat Muslim banyak yang belum faham dan mudah percaya jika pada suatu produk, rumah makan, atau catering dicantumkan label halal. Mereka belum bisa membedakan label mana yang dikeluarkan oleh LP-POM MUI dan mana yang merupakan “self claim”.

3.Lemahnya regulasi dalam perlindungan konsumen Muslim

Sertifikasi Halal di Indonesia “tidaklah diwajibkan” namun bersifat sukarela. Hanya produsen yang “mau” mensertifikasi produknya dengan label halal yang terkena syarat sertifikasi halal. Ini menjadi ironi bagi negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini.

Disisi lain, implementasi dan pengawasan terhadap di patuhinya undang-undang ini juga dirasakan masih sangat lemah. Contoh kasus yang telah kita bahas diatas adalah masalah penggunaan label halal self claim. Padahal peraturannya, barangsiapa ingin mencantumkan label halal pada produknya maka dikenakan kewajiban untuk melalui proses dan persyaratan yang telah ditetapkan. Namun pelanggaran akan hal ini masih marak terjadi. (Lihat artikel “Mewaspadai Label Halal” untuk lebih jelasnya).

Contoh kasus lainnya adalah maraknya kecurangan dalam perdagangan seperti dibahas di muka, menunjukan betapa lemahnya pengawasan dan perlindungan terhadap masyarakat Muslim.

Apa yang harus Kita lakukan?

Mensikapi masalah-masalah yang diuraikan di atas, adalah menjadi urgent bagi kita seorang Muslim untuk mensiasati agar tidak menjadi korban dari kondisi ini. Yang paling utama untuk dilakukan adalah membekali diri dengan pengetahuan yang memadai dan kesadaran akan kewajiban menjaga diri dan keluarga dari barang haram.

Namun tentu saja ini tidak cukup. Sebagai bagian dari ibadah dan kewajiban kita bersama, adalah mewujudkan apa yang di perintahkan Allah SWT dalam diri, keluarga dan masyarakat kita, termasuk dalam masalah halalan toyyiban. Tidak bisa dikatakan Muslim sejati jika kita berdiam diri tidak melakukan apa-apa untuk merubah keadaan. Rasullullah bersabda : barangsiapa tidak peduli dengan urusan umatku, maka dia tidak termasuk golonganku. Maka sampaikanlah artikel sederhana ini ke saudara dan teman-teman Anda.

Pada artikel selanjutnya berjudul “Urgensi masyarakat Sadar Halal” akan dibahas lebih detail realita kesadaran masyarakat muslim, pentingnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dan bagaimana mewujudkannya.

Dikirim pada 20 Februari 2013 di Gambleh


Assalamu`alaykum...


Saat pertemuan disebuah Restauran tradisional besar...
Dan sang pelayan menawarkan jasa menu...aku tanya pelayan dengan suara pelan...

Kang Dwin : " Mas...masakannya tanpa Ang Ciu?
Pelayan : "....ehhh..."
Kang Dwin : "kalau tidak tahu, coba deh tanya koki atau manager.."
Pelayan : (datang kembali) "halal pak, tidak pake ang ciu.."
Kang Dwi :"kalau minumanya gimana..?"
Pelayan :" ini restauran tradisional & semua minuman HALAL..."
Kang Dwin :"...bener ?"
Pelayan :" iya..!, semuanya Pak"
Kang Dwin :"kalau ini apa..?"
(sambil menunjuk ke buku menu yang bertuliskan: Bir)
Pelayan :"................"

Banyak orang muslim maupun non muslim HANYA tahu bahwa yang dilarang/HARAM bagi muslim adalah daging babi saja...
Padahal...
Daging sapi bisa haram...bila disembelih tanpa BISMILAH...itulah mengapa sekarang aku sudah terlatih menyembelih SAPI dan DOMBA....

Kalau saja kita mau belajar...bahwa seorang muslim sejati dilarang/diharamkan memakan :
1. Daging babi
2. Darah
3. Bangkai
4. Hewan yang disembelih tanpa BISMILLAH
5. Minuman keras (bir, ang ciu, whisky, vodka, rum, tuak, anggur)

Sesuai dengan aturan ALLAH dalam Qur`an surat Al Maidah [5] ayat 3 dan 90.

Kalau saja kita mau sedikit belajar aturan bagi muslim dan sedikit saja buka sebuah kotak yang namanya Qur`an, tentunya kita akan semakin tahu makna hidup ini...
......tapi kebanyakan setelah sholat, kita lebih mendahulukan membuka HP daripada Qur`an...
.........bahkan nampaknya lebih sholeh HP daripada pemiliknya, karena HP nya berbunyi ayat suci tapi pemiliknya tidak bertambah hafalan Qur`annya....
..........jangan-jangan HP kita lebih layak masuk syurga daripada sang pemiliknya.... :)

Saudaraku...
...beri waktu untuk hati ini agar paham arti hidup...
......dengan membaca, sehingga ilmu bertambah...
........ukankah wahyu pertama yg diterima Rasulullah adalah perintah "MEMBACA" ?...
Kalau sudah TAHU.....mengapa kita MALAS MEMBACA....? :)

Semoga bermanfaat.

Wassalamu`alaykum
Kang Dwin
http://www.facebook.com/kang.dwin


Dikirim pada 20 Februari 2013 di Gambleh
20 Feb


Ada kisah haru dibalik ujian ini, simak ya:
Cerita dari Staff Dpw Jateng, yg jaga sore kmrn (6/2/2013) Facebook kabar berita dipost oleh: (cerita nyata)

Abu Haydar menulis:

siang tadi, sekitar jam 2, telepon berdering
saya : "assalamu`alaikum..."
mr. x : salam sejahtera, ini kantor PKS?
saya : "iya, ada yang bisa saya bantu pak..?"
mr. x : "oh tidak pak, saya hanya ingin menyampaikan dukungan saya kepada PKS, O iya, kenalkan, nama saya Pak Subono, tinggal di jl. Kuala Mas I No.550, Tanah Mas.. (daerah mayoritas penduduknya warga keturunan)
meski kami non muslim, warga keturunan, kami sekeluarga sangat suka dengan PKS, awalnya seneng saja kalo liat mereka demo bisa sopan rapi, wajahnya cerah-cerah.... (hmmmm...... masih nyimak)
beberapa waktu yang lalu mobil kami mogok di banjiran di genuk, kemudian didorong orang2 pake kaos PKS, sampe ditempat yang aman, saya kasih duit gak mau, tak tawari rokok gak mau....
saya (agak menyela) ; itukah yang bapak suka dari kami?
Pak Subono (karena dah mengenalkan diri) : "awalnya mas, setelah ada musibah yang menimpa presiden PKS, feeling kami mengatakan itu rekayasa, penuh trik politik.. (nih engkong nada bicarane dah serius...) Esoknya mas, kami nonton tipi, orasi politik Anis Matta, saya nangis mas, sumpah.... hati ini miris... kami semakin cinta sama PKS, ada pimpinan yang bisa membakar semangat kadernya pada saat terpuruk, yang rela melepas jabatan DPR RI.. DPR RI lho mas, wakil ketua... yang dipartai laen direbut, dikejar pake segala cara...... malam itu juga mas, sekeluarga saya sarankan untuk terus dukung PKS, mbok besok nek ada kampanye PKS saya diajak ya mas....
Saya ( sambil terharu) : "Siap Pak, nanti saya hubungi....*



email

Dikirim pada 20 Februari 2013 di Gambleh


Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
Menyusuri di Yogya, diperkampungan2, maka usaha rumahan semakin tangguh, bahkan jika refresh
Banyak usaha bakpia Pathuk adalah usaha rumahan
Gudeg Yu Jum, juga dari konsep rumahan
Beberapa usaha hosting di Yogya saya kenal betul diawali dari rumah, kontrakan dan kos
Bengkel2 awalnya dari usaha rumahan
Sablon Kaos usaha rumahan
Usaha dari kamar kos
Para Publisher dari Google Adsense yg bisa puluhan juta/bulan juga dari kamar kos
Para Publisher dari Chithika, TLA, Clikbank, Amazon juga dari kos
Sehingga bersyukurlah ketika Anda bisa menempati rumah, walau sederhana, karena
Tidak harus tergesa2 pinjam bank untuk menyewa RUKO, bisa diawali di rumah
jangan berpikir tanpa RUKO Anda tidak bisa sukses
banyak yang tidak percaya diri dari usaha rumahan? Itu soal MINDSET bukan rumahnya.
Anda mahasiswa di KOS?
Puluhan mahasiswa di Yogya sedang asyik di KOS membangun usaha online, kenapa ANda tidak?
Mulailah dari sekarang membangunnya, terlepas Anda mahasiswa, pegawai, guru, pencari kerja.
MUSLIM HARUS TANGGUH dari awal.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
Bisa menyewa kamar kos adalah Rahmat yg harus disyukuri, pergunakan untuk yang baik
Siapkan Pola Pikir, kamar kos tetap menjadi tempat belajar, bukan tempat tidur dan nonton TV saja
Matikan TV dan semua gangguan, fokuskan kepada LAPTOP ANDA
Susun marketing Plan, mau usaha TOKO ONLINE, ADSENSE, AMAZON, SABLON KAOS ONLINE, DESAINER ONLINE
Jangan berpikir di online orang akan nanya gelar ANda, maka sebelum lulus sekolah/kuliah kuatkan tekat
Kamar kos bareng2 rekan2 akan banyak godaan untuk buang2 waktu, hindari itu
Modal Anda Adalah WAKTU, karena banyak orang sibuk yang tidak punya waktu yg baik sebagai modal
jangan banyak berdebat di media online, fokus kepada kekuatan Anda, tidak perlu dicoba dahulu dalan perang idealisme, tapi langsung ke praktek
Dan yang terpenting : jagalah kesederhaan diri, jangan terburu2 puas dari proses bisnis online dan membeli semua keinginan
Catat ini :
Setiap calon pengusaha muda lebih cenderung menggunakan uang untuk perangkat yang produktif, daripada konsumtif dan mengejar status/prestise
Selama kebutuhan HP masih yang itu, jangan tergoda gonta ganti SMARTPHONE dll itu bisa menjebak kepada pola KONSUMTIF, walau awalnya untuk niatan aktifitas PRODUKTIF
Sebelum lulus, sebelum menikah, sebaiknya Anda punya penghasilan setidaknya skill yang diandalkan, sehingga sebagai MUSLIM Anda bukan menjadi beban negara karena mengganggur tapi menyumbang DEVISA dari bisnis online.
Jaga kualitas hubungan dengan Allah.
(Dulu saya juga anak kos, 6 tahunan, yang juga nyambi2 kemana2)
Semangat, usaha tidak menunggu ANda harus Sarjana dulu
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
-------- Ipan Pranashakti -------

Dikirim pada 20 Februari 2013 di Gambleh

Assalamualaykum...
Kita selalu berharap...anak-anaklah yang akan meneruskan negri ini menjadi lebih baik karena usia kita terbatas dan harus mau bila saatnya tiba menyerahkan amanah kepada sang penerus...
Tapi...ternaya banyak anak-anak kita lebih mencintai perselisihan daripada persaudaraan...
Perselisihan antar suku...lembaga....ormas...partai.....bahkan sekolah...
jadi mau diapakan negri ini...?
Padahal sehebat-hebatnya kedudukan dan kekuasaan kita...
...sehebat-hebatnya kita menang dalam perdebatan...
.....tetap saja akan mati...
........dan saat seorang manusia mati....tidak nampak satupun kegagahan dari pangkat dan hartanya....
Itulah yang kulihat saat memandikan jenazah.....tidak ada lagi yang hebat pada dirinya...
Sepertinya....dijajah 350 tahun dengan dipecah belah dalam "devide et impera" tidak menjadikan kita sadar bahwa perselisihan itu menghancurkan...
...anehnya...acara TV pun bangga mengajak para orang tua yang sudah beruban untuk BERDEBAT...
...dan para simpatisan akan BERTEPUK TANGAN saat keduanya berdebat bersamaan..
Kalau kedua orang bicara bersamaan.... siapa yang mau mendengar....?
Padahal...
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)..." (Quran Al Hujurat [49] ayat 11)
Ternyata saat ditanya mengapa anak-anak sekolah senang tawuran yang merusak..?
..jawabannya anak-anak kita adalah...
......"kami mencontoh para orang tua kami di TV yang mencontohkan berselisih..."
Saudaraku...
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat."(Quran Al Hujurat [49] ayat 10)
Semoga bermanfaat.
Wassalamualaykum...
Kang Dwin

Dikirim pada 19 Februari 2013 di Gambleh


Assalamu`alaykum...


Seorang sobat pengusaha dengan proyeknya mencapai milyaran....jatuh sakit.
Dan dokter pun tidak sanggup mengobati kecuali meminta mematikan HP sementara hingga sembuh...
Beberapa hari sembuh tanpa obat....ternyata sakitnya hanya karena terlalu sering memikirkan proyek milyaran...

Lucunya manusia...sebagian orang mengatakan akan BAHAGIA kalau uangnya banyak, dan yang sudah memiliki banyak malah SENGSARA dengan uangnya.... :)

Saat berbincang diwaktu luangnya, ternyata kehebatannya yang banyak diinginkan orang luar...malah berisi keluh kesah.

Beberapa rekan pengusaha yang bertemu ternyata banyak yang sengsara ...

Kang Dwin : "...bagaimana kabarnya Pak ?"
Pengusaha : "...beginilah Kang, saya belum bayar pajak semua mobil yang saya punya, belum mendapat bayaran proyek, belum lunasin pinjaman dan bunganya, belum ada waktu buat keluarga, belum dapat proyek baru...."

...Dan yang lebih memprihatinkan..
......belum bisa sholat berjamaah di masjid...
.........dan belum terfikir tunaikan ibadah haji walaupun sudah jutaan Rp didapatkan setiap bulan...

Kalau ingin tahu kehidupan orang kaya, minta izinlah tinggal 3 hari di rumahnya...maka kita akan lebih tahu akan keadaan sebenarnya....

Banyak orang hidupnya stress walaupun mengendarai mobil mewah dan nyaman...
Karena...
AC mobil tidak dapat mendinginkan hatinya...
.....Sebab BUNGA pinjaman/RIBA memburu setiap harinya hingga harus kerja sampai larut malam ...tapi RIBA tidak pernah lepas juga...

Dekati ALLAH maka dunia akan melayani kita..
...karena seorang muslim yang baik adalah yang mencari AKHIRAT tapi tidak melupakan DUNIA...

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan ALLAH kebahagiaan akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagian kebahagianmu di dunia.
Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana ALLAH telah berbuat baik kepadamu..."
(Qur`an Surat Al Qashash [28] ayat 77)

Saudaraku....
...memang kita memerlukan UANG, tapi jangan jadikan uang sebagai pengganti ALLAH...

Semoga bermanfaat,

Wassalamu`alaykum...
Kang Dwin

Dikirim pada 19 Februari 2013 di Gambleh


Yaa Robb...
Yang menguasai hati manusia...
Yang maha pemilik cinta...
Hanya kepada-Mu cinta ini bersumber...
Yaa Robb...
Jika aku jatuh cinta...
Cintailah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu
Jika aku jatuh hati...
Izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya terpaut pada-Mu
Agar hatiku selalu mengingat-Mu
Jika aku rindu...
Rindikanlah aku pada seseorang yang selalu mencari Ridho-Mu
Agar aku selalu rindu akan surga-Mu
Yaa Robb...
Jika aku ingin berbagi kehidupan...
Izinkan aku untuk menyatukan hati pada seseorang yang tulus ikhlas melaksanakan syariat-Mu
dan mengikuti sunnah Rosul-Mu
Agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah

oleh: Abu Muthi`ah

Dikirim pada 19 Februari 2013 di Gambleh


Di Afrika, teknik / cara berburu monyet begitu unik. memungkinkan sipemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.



Cara menangkapnya sederhana saja - pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang & sempit. Toples itu diisi kacang yg telah diberi aroma.



Tujuannya untuk mengundang monyet-monyet dtg. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dgn menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.



Para pemburu melakukannya disore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yg tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.



Kok, bisa ?



Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yg keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yg ada di dalam.



Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.



Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat.



Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!



Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.



Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sdg menertawakan diri sendiri.



Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.



Kita mengenggam erat setiap permasalahan yg kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.



Kita sering menyimpan dendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah mengampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada.



Kita tak pernah bisa melepasnya.?



Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa "toples-toples" itu ke mana pun kita pergi.



Dgn beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.



Tanpa sadar, kita sebenarya sdg terperangkap penyakit kepahitan yg parah.?



Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya & KITA pun akan SELAMAT dari SAKIT HATI jika sebelum matahari terbenam kita mau meLEPAS semua perasaan NEGATIF terhadap siapapun.



Selamat memBUKA genggaman tangan ...! •̃⌣•̃Good•̃⌣•̃ LUCK ..



Dikirim pada 19 Februari 2013 di Gambleh


Beberapa hari lalu, tidak sengaja saya menyaksikan program pelatihan motivasi Tung Desem Waringin (TDW) di TVRI. Pak TDW ini merupakan trainer, motivator dan pembicara publik yang cukup terkenal.



Di tayangan yang kemarin saya saksikan tersebut, pak TDW menjelaskan teknik-teknik menghilangkan trauma. Dijelaskanlah beberapa teknik, diantaranya adalah dengan membayangkan situasi yang menyenangkan saat bayangan trauma muncul di fikiran.



Dalam sesi demonstrasi, ditawarkanlah kepada penonton yang pernah mengalami trauma untuk dihilangkan kenangan buruknya.



Seorang lelaki muda mengangkat tangan. Dia bercerita, kalau selama ini ia trauma naik mobil yang ber-ac. Setiap kali naik mobil, ia mual dan muntah-muntah.



Pak TDW pun meminta ia menutup mata dan membayangkan situasi apa yang paling menyenangkan bagi dirinya.



Sejenak, pemuda itu menutup mata, lalu ia pun tersenyum.



Pak TDW bertanya, "Apa yang Anda bayangkan saat ini .. ?"



Pemuda itu menjawab, "Saya membayangkan sedang sujud dalam sholat .."



Deg. Sejenak studio hening.



Pak TDW terdiam. Mulutnya yang sebelumnya lancar mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba terlihat gugup. Nampak sekali ia kebingungan. Mungkin ia sulit membayangkan bagaimana suasana hati seseorang ketika sujud dalam sholat.



Andai Pak TDW tahu perasaan itu, niscaya ia tidak akan loncat-loncat setiap mengawali sesi pelatihannya, hanya sekedar untuk menghibur suasana hatinya.



Andai pak TDW merasakan nikmatnya sujud ketika sholat, pastilah ia tidak akan memaksa menarik garis wajahnya agar terlihat tenang dan menyenangkan ..



Andaikan kita tidak melewati detik-detik berharga dalam sujud sholat, dengan meresapinya sepenuh hati, pastilah kita akan merasakan ketenangan yang tak terkira.



Ketenangan yang unik.



Tak terucap dengan kata.



~Ust Muhammad Setiawan~

Dikirim pada 19 Februari 2013 di Gambleh


HATI - HATI dengan nama-nama PEMUDA dibawah ini , krn mereka akan membuat kita malu..siapa mereka..??!



1. Ibnu Sina dokter muda Islam yg telah mmbuka praktek & mnjadi dokter Pribadi khalifah diusia 17th.



2. Usamah bin zaid menjadi panglima perang yg memimpin ribuan pasukan pada usia 20tahun.



3. THoriq bin ziyad kurang dr 30th pemuda yg mnjadi komandan perang yg menaklukan spanyol



4. Muhammad al fatih sultan turki penakluk imperium Paling berkuasa romawi timur saat usia 21th...



5. Tau FACEBOOK ..? Adalah mark zuckerberg pemuda usia 20th yg menciptakanya.



6. Napoleon bonaparte pemuda ahli strategi perang ini pd usia 24 7th diangkat mnjadi seorang jendral dan mnjadi kaisar perancis



7. Thomas Alfa edison menemukan mesin telegraf di usia 23th dan menciptakan Listrik pd usia 32th



8. Siapa kt yg tdk kenal jendral sudirman tlh memimpin perang diusia 27th & mnjadi jendral besar diusia 31thn.



♌Ήм̣̣̥̇̊мм̣̣̥̇̊” lalu pemuda sprti apakah kita..??? Bangsa ini mnunggu karyamu wahai Pemuda..



Warning !!!!



" tidak bergeser kaki anak Adam pd hari kiamat nanti dihadapan RabbNYA sampai ditanya ttg 4 perkara

1. Umurnya utk apa dihabiskan

2. masa MUDA nya u apa digunakan

3. Hartanya dr mana didapat & kmana di belanjakan

4. Sudahkah beramal thd ilmu yg tlh ia ketahui (hr At tarmidzi no 2340 )



Sumpah pemuda sumpah kita semua...



sumber : email

Dikirim pada 19 Februari 2013 di Gambleh


Gila bener bro, kasus LHI membuka mataku kalau PKS ini paling nyeleneh dibandingkan partai-partai lain. Apalagi huru-hara sengkuni “Demokrat” semakin membuktikan PKS paling nyeleneh se Indonesia. Bayangkan aja mas bro…gue menemukan banyak kejanggalan di partai yang katanya partai dakwah ini. Simak dengan hati bukan dengan emosi…sori-sori maaf deh yang kader jangan panas duluan…ini fakta masbro:

Berikut ini ke “nyeleneh”-an PKS..yang gue temukan di lapangan mass media mas bro:













Ini yang membuat gue mengatakan PKS itu partai nyeleneh. Ketika kasus LHI, bagaimana tuh si para pemimpin partai cepet sekali mengambil tindakan. Sistem dan mekanisme apa yang mereka buat tuh. Pergantian presiden bisa secepat kilat, kagak ada rebutan, kagak ada anggota partai yang saling mencela, tidak ada yang berebut. Tidak butuh biaya dan waktu banyak untuk KLB…singkat padat dan jelas dan mengikat…
Pemilihan Anis Matta pasti dipertanyakan oleh kader lain yang mungkin milih HNW karena cenderung bersih, tapi anehnya ketika sudah diputuskan ..bujuk buneng semua tidak ada suara penolakan dari DPD, DPC nggak kayak partai sebelah-sebelah nyang entu…ribut melulu…PDI pernah ribut, Golkar ribut, Nasdem ribut, Demokrat apalagi…sampai DPC Demokrat Blitar berani mati membela bung Monas eh Anas.
Bukan hanya itu, setelah pergantian jabatan ke jabatan baru…rame-rame mengundurkan diri…dimulai dari Anis Matta mengundurkan diri dari Wakil DPR RI, LHI dari presiden partai dan DPR RI….gile nih orang apa nggak mau jabatan dan kekuasaan tho?…Katanya yang penting melayani masyarakat, partai belakangan..liat aja menteri2 dari PKS pasti dah pada mundur ketika menjadi pejabat publik…nggak seperti partai-partai sebelah para presiden negara turun gunung ngurusi partai..menterinya masih jadi pengurus partai..acara kenegaraan pun masih sempat pidato ttg partainya….conflict of interest
Ini nih yang juga membuat gue harus bilang WOW tanpa jungkir balik…masak presiden partainya kena kasus, anggotanya tetep solid. Mereka tiap hari dikasih makan apa? Bahkan beberapa minggu kemarin gue sempet ketemu orang-orang jalan long march pake baju coklat tulisan pandu keadilan…tak tanyain (dng bahasa gaulnya begini) eh loe nggak pengaruh tuh bos loe barusan ketangkep koq masih berani ngadaain beginian…dienya jawab..ah gak pengaruh bang, misbakhun aja dulu jg digituin…korban konspirasi…gile bener nih orang pikirku. Bahkan katanya kunjungan Anis Matta ke daerah daerah selalu penuh sampai meluber….wis gak abis pikir dah..Percaya abis mereka ama pimpinan mereka.
Gue lihat di social media nih, anggota partai ini masif melawan isu konspirasi…entah menggunakan jejaring sosial atau di blog-blog mereka..solid bener mereka…padahal kagak dibayar. Loe tau sendiri kan, beda dengan mass media yang membela siapa yang bayar. Selalu ada hidden agenda. Kalau social media mah buah hati nurani mereka. Gue kira ini buah penanaman ideologi PKS ke anggota tidak secara instan, tapi bertahap, kontinyu, dan sistematis…nggak hanya sembarang orang aja.
Hampir kagak ada anggota PKS yang kutu loncat ke partai lain…nah loh..ada pun sedikit sekali macam syamsul balda. Pilihan anggotanya biasanya ikut berjuang di dalam sistem atau keluar sekalian diluar sistem.
Katanya ketika jadi pemimpin tinggi di partai ini harus hapal berapa juz, pegimane sholat hariannya, dll ..gue juga kagak tau…cuma pernah denger aja.
Banyak dah gue kira ini dah cukup untuk bilang PKS ini partai nyeleneh se Indonesia…karena kenyelenahannya harus dijaga dari kepunahannya…



http://politik.kompasiana.com/2013/02/12/pks-partainya-yang-nyeleneh-527929.html

Dikirim pada 13 Februari 2013 di Gambleh

Seminar dibuka dengan layar presentasi yang menayangkan contoh sms anak sekarang, dengan huruf biasa tapi dibuat secara ALAY, tapi dibuat sedemikian rupa, sehingga kami, seluruh orang tua yang ada di ruangan seminar, tidak ada yang bisa membaca sms apakah itu?Apa maksud sms tsb?



Alaaahh...sms alay kan bisa dibaca. meski bikin mata dan otak kerja keras dulu buat tau maksudnya?



NO! Totally, ga ada satupun yang bisa baca sms tsb.



Dan, Taaaraa.....ternyata selain dengan huruf alay, sms tsb, dibacanya harus dengan posisi HP terbalik (bagian atas HP menjadi bagian bawah)! Can u imagine thattt????



DAN isinya adalah:

" Hi, sayang, aku kangen nih. Udah lama kita GA ML, Yuk, mumpung bonyok lagi pergi, yuk kita ketemuan...dsb ." (sori saya agak lupa persisnya namun isinya kurang lebih spt itu - ML= Making Love=berhub SEX)



Seisi ruangan seminar lgs heboh.



Note dr pembicara: SMS sayang2an anak sekarang udah bukan i love u/I miss u, tapi udah soal LAMA GA ML...



Demmm...Ihikksss dari awal seminar, mata saya udah melotot lebaarr!



2. Anak2 kita hidup di era digital. Banyak media elektronik & cetak yang diakses anak, banyak yang mengandung unsur pornografi: Games, Internet, HP, TV, VCD, Komik, Majalah dll



3. Yang pertama dibahas adalah GAMES. Games diabad 21, berdasar penelitian, gambar lebih realistis, pemain bisa memilih karakter apa saja, yang tidak ada di dunia nyata, ketrampilan lebih kompleks dan kecekatan yg lebih tinggi---> Kepuasan dan kecanduan lebih besar.



4. Jenis Games lebih beraneka macam: Aksi, adventure, strategi, Role playing.



Note dari pembicara:



SUPER HATI2 dengan GAMES anak-anak anda!

a. Ada games yang bergenre awal action, isinya adalah tembak2an dsb, namun ternyata jika, anak kita udah sampai level akhir, bonus di akhir levelnya adalah ML dengan pelacur jalanan...?????

b. Ada games yang berjenis role playing, dan naudzubillahimindzalik, ceritanya adalah tentang bagaimana “memperkosa paling asyik???????



Jadi tinggal pilih cerita yang melatarbelakangi , kemudian tinggal pilih perempuan model apa yg mau “dipilih”, modelnya ga pake baju sama sekali, dan tinggal pilih bagian tubuh mana yang mau dipegang pertama kali dst. Cursor berbentuk tangan, yg digerakkan oleh anak2-anak kitaa....------>Seisi ruangan seminar lgs heboh lagiii....Gumaman Astagfirrullah bertebarann di ruangan....



5. Pikir baik2 jika anda ingin membelikan games atau anak anak anda beli games sendiri/ meminjam games dari teman! Dan hati-hati , jika didepan sekolah anak2 ada warnet! Jenis Games yang ada, murah dan gampang didapat, jenisnya sudah diluar perkiraan kita, orang tua!



Note: suami saya, yg orang IT dan doyan maen games pun, terkejut bukan kepalang, pas tau soal jenis games ini!!



6. Internet. Situs Porno bertebaran di dunia maya. Dan, jangan salah, pembuatnya juga anak-anak kita juga! Bahkann...Untuk mendapatkan uang, mereka menjual video sex mereka sendiri!--> Pas seminar kami ditunjukkan ribuan video sex yg gampang diperoleh lewat internet.



Note dari pembicara:

a. Siapa bilang ML harus telanjang dan harus di tempat tidur/hotel ? -->> kami ditunjukkan sekilas video ABG berseragam SMP, sedang ML ditangga dan berpakaian lengkap!

b. Hamil?siapa takkut!--> Bisa Aborsi !



7. HP.

Hoho...Video2 sex tersebar melalui HP. Kapasitas HP yang besar, memungkinkan sang pemilik memiliki file2 berukuran besar seperti video dan gambar porno. Anak anda CLEAN?-->Bisa jadi dia dapat kiriman gambar/video dari temennya!



Kasus : (yg pernah ditangani Ibu Elly) Ada seorang Ibu, yg datang ke beliau, shock karena menemukan gambar Vagina-seseorang di BBnya, yg ternyata setelah ditelusuri adalah kepunyaan temen sekolah (wanita) anaknya yang lelaki (yang suka minjem BB beliau!)...



8. Televisi. Program TV yang masih pantas diikuti, bisa dihitung dengan 1 tangan. Lainnya adalah program pembodohan, hantu, kekerasan dan pornografi. Sinetron, telenovela, sinetron2 Jepang/korea , film dsb. Jangan salah, Iklan pun juga menyesatkan.Ayoo jangan anggap enteng sinteron/filim2 korea/jepang!Lama2 anak anda terbrainwash, terbiasa dengan kekerasan, sex bebas!



9. KOMIK. Ya, komik memang bergambar kartun. Tapi soal cerita, ga kalah dengan novel porno lainnya. Bahkan lebih mengerikan karena didukung dengan gambar. Gambar sampul depan, mungkin tidak menyiratkan 1 kepornoan pun, tapi didalamnya, kita orang tua harus tau bahwa ceritanya ujung2nya tentang sex bebas.



Notes: Dari, survey yang telah dilakukan pembicara, salah satu judul games, komik, dvd yang masuk dalam kategori “BaHAYA” adalah NAR***...semuanya yg berbau NAR***, hati2!! WATCH OUT!!!!



APA TUJUANNYA? APA YANG MEREKA INGINKAN TERHADAP ANAK-ANAK KITA



1.Yang mereka inginkan, anak dan remaja kita memiliki MENTAL MODEL PORNO = perpustakaan porno, yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja.



2.Kerusakan otak permanen ---> yang hasil akhir yang diinginkan adalah-->INCEST!!!



3.Sasaran tembak utama: Anak2 kita yg belum baligh. Jika sudah mengalami 33-36 ejakulasi--> pecandu pornografi -->PASAR MASA DEPAN!!!



Proses Kecanduan & Akibatnya.



1. Didalam otak ada bagian yang disebut PRE FRONTAL CORTEX (PFC). PFC, tempat dibuatnya moral, nilai2, bertanggung jawab untuk: perencanaan masa depan, organisasi, pengaturan emosi, control diri, konsekuensi, pengambilan keputusan. PFC--> Matang diusia 25 thn.



2. Sekali anak mencoba “kenikmatan” semu-->Dopamin ( ket: suatu hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus) diproduksi --> Anak merasa senang--> Kemudian timbul rasa bersalah.



3. Saat anak merasa senang tsb (kebanjiran Dopamin), maka yang akan terganggu adalah: Analisa, penilaian, pemahaman, pengambilan keputusan, Makna hubungan, Hati Nurani---> Spiritualitas /Iman akan terkikis--> ANAK TUMBANG--> Mental Model Porno--->INCEST!!!!



4. Bagian otak yang rusak karena Narkoba: 3 bagian saja, tapi oleh Pornografi/SEX: 5 bagian otak yang rusak!



5. Industri yang terlibat Pornografi: Entertainment, Pornografi, Perfilman, Majalah Porno, Musik, Jaringan TV Kabel, Pembuat dan pemasar Video Games dll



SIAPKAH KITA SEBAGAI ORTU?



1. Kesalahan Budaya.

Yang mengasuh anak: IBU!! Ayah mencari Nafkah, bila perlu baru lapor Ayah!! SALAH BESAR!---> REVOLUSI PENGASUHAN!! ............ (Nyambung dengan artikel pak Gendi, Where’s All The Father Gone?Kemana

Para Ayah?...Indonesia , A Fatherless Country???) Lihat fenomena Anak2 Jack Mania?--> Kemana AYAHmu nakkk?Kemana ibumu naak????



Note: Bukan main saya bersyukurnya saya, pas bagian ini. Syukur Alhamdullillah, saya berhasil "memaksa" suami saya untuk ikut seminar ini.



2. Kelalaian kita sebagai ortu:



Orang Tua Kurang:



1. Mempunyai waktu dengan anak.



Are u a weekend parent? Anak di ikutkan les sana-sini. Pertanyaan orang tua ke anak hanya tentang les mu gimana nak? Nilaimu berapa nak? Kamu ga bolos kan?Kamu biasa ngerjain ujian kan hari ini?---> Anak2 menjadi anak yg BLASTED (Boring-->Lazzy--> Stress!)



2. Mengajarkan agama & penerapannya?



---> Eksport! Merasa cukup menyekolahkan anak2 di sekolah berbasis agama. Anak disuruh les ngaji/agama. Penerapan? NOL BESAR!!!.... Menyuruh anak sholat tepat waktu, ortu? Bolong2 sholatnya? Ortu berbaju tertutup, anaknya maen ke mall hanya memakai rok mini/tanktop? Anak disuruh les ngaji? Ortunya ngaji aja ga bisa!!!! dsb..dsbb..



3. Target pengasuhan:



UMUM, kurang teguh pada prinsip---> hanyut dalam TREND. Temen anak di sekolah pada punya IPOD, Anak buru2 dibelikan---> malu dibilang ga trendy? Malu anak punyanya HP jadul yg cuma bisa sms/telp?--> dibelikan BB palg mutakhir...



4. Tanggap Teknologi & Gagap Teknologi (Gaptek)

Ortu bisanya memfasilitasi, tapi nol besar dengan pengetahuan mengenai perangkat yg dibelikan buat anak-anaknya. Buktinya: baca sms alay aja ga bisa!...gimana mo ngawasin anak?



Note dr pembicara: Jadi orangtua, harus "GAUL" dan PINTER !!! siapa biang jadi orangtua itu gampang?



5. Memberikan anak perangkat teknologi, tidak tahu akibat negatifnya, tanpa penjelasan dan tanpa persyaratan.



Note dr pembicara:

Orang Tua sekarang adalah Generasi ORTU yang ABAI...Generasi ORTU

PINGSAN!! Yang penting anak sekolah,les, diam di rumah didepan Komputer, Games, HP, Televisi ---> Yakin, Anak anda AMAN????



6. Berkomunikasi yang baik dan benar : tidak memahami perasaan anak & remaja.



TIPS



Membuat Anak Tangguh di Era Digital:



1. Hadirkan Allah/Tuhan didalam diri anak. Ajarkan untuk selalu ingat Allah, taat kepadaNYA dari kecil. Hindari: Jangan sampai kamu hamil ya, Bikin malu keluarga! Bapak / Ibu malu!!!---> Salah Besar. Ajarkan bahwa, dimanapun dia berada, Allah tau apa yang dia perbuat!

2. Perbaiki pola pengasuhan/parenting. Libatkan kedua-belah pihak. Jangan jadi ortu yang abai bin pin

3. Validasi anak : penerimaan, pengakuan dan Pujian Jangan jadikan anak anda, anak yang BLASTED! Boringg --> Lazzy --> Stressed!!

4. Mandiri & Bertanggung jawab kepada ALLAH, diri sendiri, keluarga & masyarakat.

5. Memberikan fasilitas pada anak harus dengan landasan dan persyaratan agama yang jelas

6. Mempunyai MODEL yang baik dan benar



KOMIK



• Cek bacaan anak

• Baca dulu sebelum membeli

• Secara Berkala periksa meja belajar/lemari/kolong tempat tidur . Notes: JANGAN SAMPAI KETAHUAN ANAK!!

• Kenalkan anak pada berbagai jenis bacaan

• Diskusikan bacaan dengan anak



GAMES



• Perhatikan letak computer/media video games di rumah

• Perhatikan jarak antara mata anak/ruang cukup pencahayaan , layar tidak terlalu terang

• Pilihkan meja & kursi yang ergonomis



• Buat kesepakatan dengan anak tentang:

o Berapa dalam seminggu

o Kapan waktu yang tepat

o Games apa yg boleh dimainkan

o Sanksi apa yang diberlakukan , jika melanggar



• Dampingi anak dalam membeli games dan cek selalu rating Games dalam kemasan games.



Banyak video games ber-rating AO (Adult Only) atau M (mature) yang dibajak dengan rating ESRB (Entertainment Software Rating Board, sebuah lembaga pemberi rating untuk games hiburan) diubah menjadi Teen, seperti GTA San Andreas, Mass Effect, Gta IV dsb.



Notes:

Marak video game kekerasan yang menampilkan secara gamblang adegan seksual di tengah-tengah video gamenya seperti GTA: San Andreas dan Mass Effect. GTA: San Andreas mendapatkan kecaman keras dari banyak kalangan dunia seperti Jack Thompson dan Hillary Clinton, sehingga memaksa produsennya mengganti rating ESRBnya menjadi AO (awalnya M (Mature)). Hal ini mengakibatkan profitnya turun hingga $28.8 juta.



Pada tanggal 20 Oktober 2003, Aaron Hamel dan Kimberly Bede menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh 2 remaja, William dan Josh Buckner, karena keduanya terinspirasi setelah memainkan GTA:III. Akibat kejadian tersebut Aaron meninggal dunia, sedangkan Kimberley mengalami luka parah.



TV



• Atur jam menonton TV



o No TV dibawah 2 thun

o 5-7 tahun paling lama menonton TV: 2 jam/hari



• Kenalkan dan diskusikan ttg program TV yang baik dan buruk

• Perhatikan jarak menonton



INTERNET



• Perhatikan letak computer : tidak menghadap dinding

• Lakukan filterisasi terhadap situs porno (pasang alat pemblokir situs porno)

• Buat Kesepakatan tentang waktu bermain internet

• Secara berkala, cek situs apa saja yang telah dibuka anak di computer



IKHTIAR TERAKHIR



1. Perbanyak mendengarkan perasaan. GUNAKAN 2 TELINGA lebih sering daripada satu MULUT

2. Orang tua harus TTS = TEGAS, TEGAR, SABAR

3. Meningkatkan diri dengan berbagai macam pengetahuan (Seminar, pelatihan, buku parenting dan agama)

4. Setelah semua upaya ---> DOA



Jujur, pas pada saat mengikuti seminar tsb, beberapa kali, saya menitik-kan airmata - mbrebes mili. Betapa saya merinding hebat dan pengen segera pulang memeluk anak-anak saya..



Semoga saya bukan salah satu orangtua yg pingsan ituu... Semoga anak2 saya (kita), menjadi anak2 yang sholeh dan selalu dilindungi oleh Yang Maha Kuasa



Amin...aminn..Ya robbal alamin...



Mohon maaf jika kurang berkenan...



Oleh : Nury Nuraini

Dikirim pada 31 Januari 2011 di Gambleh

ya, saudaraku tersayang

di atas sungai barito, empat tahun lalu

hadits itu kukirim padamu

lalu aku telah merasa

bahwa saat itu kita menangis bersama

***

apakah hadits itu menyindir orang sepertiku akh?

engkau bertanya

dan aku bagai ingin membenamkan diri ke arus sungai

dan biarlah ramai pasar terapung menjadi saksi

tidak, hadits itu menamparku

menamparku..

***

hadits itu dibawakan ath thabrani dan al baihaqi

“akan datang di hari kiamat”, kata sang nabi

“satu kaum yang membawa kebaikan seakbar gunung uhud

lalu Allah jadikan semua itu, bagai debu beterbangan”

***

sahabat sang rasul bertanya takjub, “apakah mereka muslim ya rasulallah?”

dan jawaban sang rasul membuat kita harus tertunduk

“mereka muslim.. yang shalat sebagaimana kalian shalat

yang puasa sebagaimana kalian berpuasa

bahkan mereka berdiri di waktu malam menghadap tuhannya..”

***

lalu mengapa?

***

“..namun mereka adalah orang-orang yang

jika bersepi dengan apa yang dilarang Allah

mereka melanggarnya..”

***

empat tahun lalu

dari atas sungai barito

kita bicarakan hadits itu dalam perasaan temaram

dan hati yang berbisik, nurani yang mengusik

***

kini, empat tahun kemudian

kuseru engkau dari tepian sungai yang keruh itu

mari kita baca kembali

agar hati kita makin memantapkan keistiqamahan

dan tiap detik, ada taubat yang kita perbarui

***

-Tepian Barito, 14 Februari 2009-

salim a. fillah

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Gambleh

Umar bin khattab sedang duduk di bawah sebatang pohon kurma. Surbannya di lepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bagian. Di atas kerikil ia duduk, dengan cemeti umatar nya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya para pemuka shahabat bertukar pikiran dan membahas berbagai persoalan. Ada anak muda yang tampak menonjol di situ. Abdullah ibn Abbas. Berulang kali Umar memintanya berbicara.



Jika perbedaan wujud, Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekum menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali bicara berapi-api.



Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. “Wahai Amirul Mukminin,” Ujar salah satu berseru-seru, “Tegakkanlah hukun ALLAH atas pembunuhan ayah kami ini!”



Umar bangkit. “”Takutlah kalian kepada ALLAH!” hardiknya, “Perkara apakah ini?”



kedua pemuda itu menegaskan bahwa pria belia yang mereka bawa ni adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mangaku. Umar bertanya kepada sang tertuduh. “Benarkah yang mereka dakwakan kepadamu ini?”



“Benar wahai Amirul Mukminin!”



“Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!” ujar Umar menyelidik dengan teliti. “Ceritakanlah kejadiannya!”



“Aku datang dari negeri yang jauh” kata belia itu. “Begitu sampai di Kota ini ku tambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebunmilik keluarga mereka. Ku tinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatuhajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.”



“Saat aku kembali,” lanjutnya sembari menghela nafas, “Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas menggenaskan. Melihat kejadian itu, aku di bakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada ALLAH karenanya”



Umar tecenung.



“Wahai Amirul mukminin,” kata salah satu dari kedua kakak beradik itu, “Tegakkanlah hukum ALLAH. Kami meminta qishash atas orang ini. Jiwa dibayar dengan jiwa.”



Umar melihat pada belia tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi.



“Bersediakah kalian,” ucap Umar ke arah dua pemuda penuntut Qishash, “Menerima pembayaran diyat dariku atas nama pemuda ini dan memaafkan nya?”



Kedua pemuda itu saling pandang,”Demi ALLAH, hai Amirul mukminin” jawab mereka, “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. keberadaannya di tengah kami takkan terbayar dan terganti dengan diyat sebesar apapun. Lagipula kami bukanlah orang miskinyang menghajatkan harta. Hati kami baru akan tenteram jika Had di tegakkan!”



Umar terhenyak. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada sang terdakwa.



“Aku ridha hukum ALLAH di tegakkan atasku, wahai Amirul Mukminin” kata si belia dengan yakin. “Namun ada yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. demikian juga keluargaku. aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil Jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku”



Umar terhenyuh. Tak ada jalan lain. hudud harus di tegakkan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus di tunaikan. “Jadi bagaimana?” tanya Umar.



“Jika engkau mengijinkanku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali ke daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi ALLAH, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai putra Al-Khattab”



“Adakah orang yang isa menjaminmu?”



“Aku tidak memiliki seorangpun yang kukenal di kota ini hingga dia bisa kuminta menjadi penjamin ku. Aku tak memiliki seorangpun penjamin kecuali ALLAH yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”



“Tidak! Demi ALLAH, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak bisa mengizinkanmu pergi.”



“Aku bersumpah dengan nama ALLAH yang amat keras azabnya. Aku takkan menyalahi janjiku.”



“Aku percaya, tapi tetap harus ada manusia yang menjaminmu!”



“Aku tak punya!”



“Wahai Amirul Mukminin!” terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah ia menunaikan amanahnya!” inilah dia, Salman Al Farisi yang tampil mengajukan diri.



“Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”



“Benar. Aku bersedia!”



“Kalian berdua kakak beradik yang mengajukan gugatan,”panggil Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Salman demi ALLAH, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat”



Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.



—————————————————————-



Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. Umar gelisah tak karuan. Dia mondar mandir sementara Salman duduk khusu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.



Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul.



Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para shahabat berkumpul mendatangi Umar dan Salman. Demi ALLAH, mereka keberatan jika Salman harus di bunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia di hormati. Dia dicintai.



Satu demi satu, dimulai dari Abi Darda’, beberapa shahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan padanya. Tetapi Salma menolak. Umar juga menggeleng.



Matahari semakin langsir ke Barat. Kekhawatiran Umar makin memuncak. Para shahabat makin kelut dan sedih. Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana.



“Maafkan aku,” ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, urusan dengan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat istirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggal di tengah jalan. aku harus berlari-leri untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat.”



Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan satu sergapan iba. semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan yang mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu.



“Pemuda yang jujur” ujar Umar denganmata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kambali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?”



“Sungguh jangan sampai orang mengatakan,” kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang tepat janji. dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum muslimin”



“Dan kau Salman,” kata Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?”



“Sungguh jangan sampai orang bicara,” ujar Salman dengan wajah teguh, “Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai adayang merasa, tak ada lagi saling percaya di antara orang-orang Muslim.”



“ALLAHU AKBAR!” kata Umar, “Segala puji bagi ALLAH. kalian telah membesarkan hati ummat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!”



Pemuda itu mengangguk Pasrah.



“Kami memutuskan…” Kata kakak beradik penggugat tiba-tiba menyeruak, “Untuk memaafkannya.” mereka tersedu sedan.



“Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepat janji. Demi ALLAH, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada ALLAH atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin”



“Ahamdulillah!, Alhamdulillah!” ujar Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan Asma ALLAH, yang kemudia bahkan diikuti oleh semua hadirin.



“Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Umar pada kadua ahli waris korban.



“Agar jangan sampai ada yang mengatakan,” jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang”



———————————————————————————-



Saudara seiman itu adalah dirimu



hanya saja dia itu orang lain



sebab kalian adalah satu jiwa



hanya saja kini sedang hinggap di jasad yang berbeda



-Al Kindi-



Salim A Fillah_Dalam Dekapan Ukhuwah

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Gambleh

Dalam menjalani hidup yang digariskan Allah Swt mungkin ada getir yang kita rasakan. Seperti hidup yang kadang terasa manis, maka kegetiran menjadi sebuah keniscayaan. Hal yang terbaik adalah senantiasa ridha atas ketetapanNya, dan berbuat yang terbaik untuk mendapatkan keridhaanNya. Bukan mengeluh, sebab hanya mereka yang tak beriman yang senantiasa putus harapan.



Seperti kaum muslimin yang menjalani perang Khandaq dalam ayat 214 surat Al Baqarah di muka. Dalam kondisi paling kritis pun, seorang muslim tidak boleh memiliki prasangka buruk terhadap Allah, apalagi mengeluh terhadap kondisi yang berlaku. Ketahuilah pertolongan Allah sungguh amat dekat!



Sore itu Rabu, tanggal 27 Juni 2007 ada sebuah sms masuk ke hp ustadz Burhan. Sms itu berasal dari Abdul Majid rekannya dan berbunyi: NANTI MALAM SAYA MAU KE RUMAH BADA MAGRIB, BOLEH GA?



Sang ustadz menjawab: BOLEH, TAPI JANGAN BADA MAGRIB. ABIS ISYA AJA YA.... DITUNGGU!



Abdul Majid membalas lagi: JGN DITUNGGU, KARENA MAU "NGEREPOTIN". ANGGAP AJA DATENG MENDADAK!



Ustadz Burhan tidak membalas sms terakhir dan benar saja begitu shalat Isya telah didirikan, Abdul Majid pun datang ke rumah Ustadz.



Abdul Majid datang ke rumah Ustadz Burhan dengan tampang kusut. Sepertinya dia lagi banyak masalah. Biasa orang sekarang, Hidup sarat dengan masalah! Saking pusing dengan masalahnya ia langsung berkata kepada ustadz dan masuk rumahnya tanpa salam:



"Bang Haji, tolongin saya dong pinjemin duit barang tiga juta setengah... Saya lagi pusing nih!"

"Emangnya ada apa Majid?" sang ustadz bertanya balik.



Setahu ustadz Burhan, Abdul Majid adalah anak yang baik. Dia baru berumur 27 tahun dan belum menikah. Meski demikian, Abdul Majid mau memikirkan nasib anak-anak yatim di kampungnya, dan ia pun mendirikan sekolah gratis untuk mereka. Abdul Majid di kampungnya dikenal sebagai tuan guru.



"Begini... saya pernah janji sama anak-anak di sekolah bahwa kalau mereka lulus ujian akhir tahun ini saya mau ajak mereka jalan-jalan ke Jakarta. Semalam saya sudah lihat raport mereka semua. Alhamdulillah mereka lulus! Tapi tiba-tiba saya terbayang janji saya tempo hari. Malam tadi saya kalkulasi, keperluan jalan-jalan adalah tiga setengah juta. Hari Jumat raport dibagiin dan Sabtu saya mau ajak mereka semua jalan-jalan.... Tolong dong bang haji, pinjemin saya duit tiga setengah juta!"



Ustadz Burhan hanya tersenyum mendengar penuturan Abdul Majid. Tulus sekali anak ini, gumamnya. Demi kepentingan anak-anak yatim sampai sedemikian hebatnya ia memikirkan.



Sambil tersenyum dan menghibur Ustadz Burhan bilang kepada Abdul Majid:



"Begini.... urusan tiga setengah juta gampang nyarinya. Asal elo dan gua malam ini dan besok mau ngerjain tiga hal:

1) Tahajud malam ini.

2) Berdoa sungguh-sungguh sama Allah agar Dia mau kasih duit sejumlah itu, dan

3) Punya duit berapa sekarang di kantong?"



Kalimat terakhir Ustadz Burhan mengagetkan Abdul Majid. Dengan keheranan ia bertanya, "Ada sih 250 ribu..!"



"Boleh gak disedekahin 100 ribu?!" ustadz Burhan bertanya.

Sambil keheranan Abdul Majid bertanya, "Disedekahin ke Antum?"



"Nggak.... sedekahin aja kemana ente mau! Insya Allah kalo tiga hal ini elo kerjain, Allah bakal ngedatengin uang yang kita perluin. Asal kita yakin Allah bakal nolong!"



Pembicaraan antara dua hamba Allah pun terus berlangsung. Hingga waktu menunjukkan lebih dari jam 9 malam. Ustadz Burhan pun menyuruh Abdul Majid pulang.



Namun Abdul Majid belum mau berdiri dari kursi. Maka ustadz pun masuk kamar. Sejurus kemudian dia membawa 5 lembar uang limapuluh ribuan. Uang itu diberikan kepada Abdul Majid dan ia pun menghitungnya.



Abdul Majid mengira bahwa keperluannya sebesar tiga juta setengah akan ditutupi oleh ustadz. Matanya berbinar saat melihat ustadz membawa lembaran kertas berwarna biru itu. Kelima lembar uang itu dihitungnya dihadapan ustadz. Usai menghitung Abdul Majid berkata, "Kok Cuma dua ratus lima puluh ribu doang?" Ia bertanya keheranan, mungkin jumlah yang ia dapati jauh dari harapan.



"Iya... itu cuma segitu doang. Mudah-mudahan itu jadi pancingan. Yang penting jangan lupa tiga hal tadi. Insya Allah pasti akan ada pertolongan!" Ustadz Burhan coba menegaskan.



Tapi Abdul Majid masih belum merasa yakin. Meski sudah diantar hingga ke halaman oleh Ustadz Burhan, ia masih bertanya, "Emangnya bener kalo saya kerjain 3 hal tadi, saya bisa dapat duit Jumat pagi?" Terlihat raut kebimbangan pada wajah Abdul Majid.



"Jangankan Jumat pagi, besok pagi pun kalo Allah mau pasti uang itu bisa kite dapetin. Yang penting yakin dan kerjain aja 3 hal itu!" Ustadz Burhan sekali lagi meyakinkan.



Akhirnya Abdul Majid pun pulang bersama sepeda motornya.



Kamis siang pukul 13 tanggal 28 Juni 2007, Abdul Majid mengirim SMS ke nomer ustadz Burhan. Sms itu berbunyi: ASSALAMUALAIKUM. SUDAH SIANG GINI SAYA BELOM DAPET 3,5 JT. PADAHAL SUDAH SHODAQOH. ADA CARA LAIN GA?



Dari sms itu, Ustadz Burhan tahu bahwa Abdul Majid sedang panik. Maka beliau pun membalas: KALO UDAH SEDEKAH, SEKARANG DOA AJA YANG SUNGGUH-SUNGGUH DAN BERTAWAKKAL. PASTI ALLAH TOLONG!



Lama tidak ada balasan sms dari Abdul Majid. Ustadz mengira bahwa Abdul Majid sudah mendapat pertolongan atas masalahnya. Namun pukul 19:56 ada sebuah sms lagi dari Abdul Majid masuk ke hpnya:



ASTAGFIRULLAHALADZIM. KIRA2 SAYA DOSA APA YA? DOA SAYA GAK DI QOBUL.



Menerima sms itu Ustadz Burhan turut merasa panik. Besok pagi padahal sudah hari Jumat. Hal yang membuat panik sang ustadz adalah bahwa dirinya telah menggiring Abdul Majid untuk masuk ke jalan Allah Swt demi menyelesaikan permasalahannya. Ustadz Burhan khawatir, andai saja pertolongan Allah itu tidak datang, pasti keyakinan Abdul Majid kepada Allah Swt akan berkurang. Lama Ustadz Burhan berdoa kepada Allah Swt agar dia berkenan memudahkan urusan Abdul Majid. Usai hatinya tenang, sang ustadz membalas sms dengan menuliskan:



ALLAH GAK BUTA & TULI. DIA NGELIAT DAN NGEDENGER APA YANG KITA PERLUIN. TERUS SAJA BERDOA DAN TAWAKKAL! SAYA JUGA BERDOA SEMOGA URUSAN INI AKAN DPT PERTOLONGAN.



Abdul Majid tidak membalas sms. Ustadz Burhan mengira jangan-jangan dia sudah tidak percaya lagi dengan kekuatan doa. Maka Ustadz Burhan pun terus mendoakan Abdul Majid dan urusannya.



Hingga saatnya kira-kira pukul 9 pagi di hari Jumat. Ustadz Burhan mendengar suara dering masuk di hpnya. Namun karena beliau sedang berada dalam kendaraan umum, maka hp itu tidak diangkatnya.



Tepat beberapa langkah setelah beliau turun dari metro mini yang ditumpanginya, sekali lagi hpnya berdering. Beliau tidak sempat melihat nomer penelpon pada display hp. Belum lagi beliau berucap salam, terdengarlah suara yang begitu riang di seberang:



"Bang haji.... Alhamdulillah, Alhamdulillah! Ini Majid, saya sudah dapat duit tiga setengah juta itu. Bukan pinjem lagi, kebetulan ada orang ngasih... Alhamdulillah!"



Mendengar suara gembira itu, ustadz Burhan turut bersyukur. Beliau pun bertanya, penasaran "Bagaimana ceritanya bisa dapet duit itu?"



"Entar saya datang ke rumah bang haji deh.... Biar bisa cerita selengkapnya. Sekarang saya mau pulang ke kampung dulu, ngejar pembagian raport. Mudah-mudahan besok pagi bisa bawa anak-anak main ke Jakarta!"



Telepon itu pun ditutup dengan diakhiri suara nada riang Abdul Majid. Kini tinggal, ustadz Burhan bertanya-tanya darimana Allah mendatangkan pertolongan itu?



Belakangan beliau tahu dari seseorang bahwa bupati dimana Abdul Majid berada memberikan bantuan kepada sekolahnya persis sebesar uang yang dibutuhkan oleh Abdul Majid.



Sungguh pertolongan Allah akan datang, maka janganlah mengeluh!



Salam

Bobby Herwibowo

Dikirim pada 18 Januari 2011 di Gambleh

Pernah ada seorang ibu yang hidupnya selalu dirundung malapetaka, tiap hari ada saja orang yang datang ke rumahnya bukan untuk bersilaturahmi melainkan untuk menagih hutang. Debt collector datang tidak mengenal pagi, siang, sore, malam, judulnya sama, menagih hutang. Apa nggak pusing kepala ini Mas? tutur si ibu. Setiap hari bisa mencapai lima ratus rupiah uang yang harus dikeluarkan untuk membayar hutang. Sementara usahanya sebagai pedagang tidak pernah bisa dipastikan, banyak pelanggan yang berhutang, otomatis ia tidak bisa membayar hutang akibatnya pinjaman menjadi berlipat lantaran bunga berbunga. Hutangnya bukan malah tambah lunas tetapi malah hutangnya menjerat dileher.



Awalnya ia berpikir mendapatkan pinjaman mudah, tidak bertele-tele, cepat cairnya namun setiap usahanya ramai tiba-tiba ada saja masalah yang membuat usahanya menjadi bangkrut bahkan terjadi berulang-ulang jatuh bangun. Sampai hubungan dengan suami dan anak-anaknya menjadi terganggu, pertengkaran terkadang tidak terhindarkan. Untuk menutup hutang sampai hampir saja menjual rumah yang dimilikinya. Ditengah hatinya yang galau ibu sempat berpikir apa maksud Allah dari semua peristiwa yang dialami. Apakah ini teguran dari Allah bahwa rizkinya tidak berkah? Lantas apa yang harus dilakukan?



Itulah sebabnya dalam kondisi sedang galau, ibu bersama suami dan anak2nya datang ke Rumah Amalia. Ibu itu mengerti setelah mendapatkan penjelasan bahwa keberkahan adalah kebahagiaan yang datangnya dari Allah bukan dari banyak atau sedikitnya rizki yang diterimanya namun kebaikan & manfaat bagi banyak orang dari rizki yang diperolehnya. Tekadnya untuk meninggalkan kebiasaan berhutang & menggantikan dengan bershodaqoh akan membawa keberkahan dalam usahanya. Malam itu kami di Rumah Amalia berdoa bersama agar Allah berkenan melimpahkan keberkahan untuk usaha & keluarganya.



Subhanallah, kebiasaan baru itu mendatangkan keberkahan dalam kehidupannya, usahanya mulai bisa bernapas kembali. Warung sembako bertambah banyak dagangannya. Mesin parut kepala sudah mampu terbeli. Hutang-hutangnya sudah terlunasi. Suami dan anak-anaknya menjadi rajin sholat berjamaah dimasjid. Kebahagiaan itu menjadi terasa nikmat bukan semata-mata materi namun juga keberkahan yang diperolehnya dalam wujud ketenteraman hati pada dirinya dan keluarganya. Anak-anaknya yang dulu susah diatur menjadi lebih penurut & berbakti. Suara teriakan debt colector dipagi hari telah berubah menjadi lantunan ayat suci yang menghiasi rumahnya sehingga membawa kedamaian di dalam keluarga. Alhamdulillah, Allah begitu menyayangi kami sekeluarga sehingga terbebas dari belitan hutang..tutur ibu itu di Rumah Amalia.



Ya Allah curahkanlah keberkahan dari apa-apa yang Engkau berikan rizki kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka. (HR. Ibnu As Sani).



Wassalam,

M. Agus Syafii

Dikirim pada 18 Januari 2011 di Gambleh

Allah SWT berfirman: "Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tua." (Qs. Al Ankabuut [29] : 8)

Siang itu saat Itikaf di sebuah masjid di bilangan Jendral Sudirman Jakarta datang seorang pria bernama Mucthar (bukan nama sebenarnya). Pria ini adalah orang berada, dari paras dan pakaian yang dikenakannya saya dapat menyimpulkan itu.

Kami berbincang usai shalat Zhuhur. Dan kami mencoba merenungi karunia apa yang pernah Allah Swt limpahkan selama hidup.

Satu per satu orang mengutarakan karunia Allah yang ia rasakan. Subhanallah, terkadang dalam duduk sesaat merenungi karunia Allah bersama kumpulan orang-orang yang shalih bisa membuat hidup lebih berarti dan sarat makna.



Maka satu demi satu masing-masing kami merasakan betapa Allah Swt sangat sayang kepada setiap hambaNya. Namun sedikit sekali dari manusia yang pandai bersyukur kepada Allah Swt.

Kini giliran Muchtar untuk bicara. Ia menyatakan bahwa sampai saat ini dia bekerja sebagai konsultan dalam bidang pertambangan.

"Tidak melulu orang yang bekerja di bidang ini selalu berlebih harta" menurutnya. "Namun perkara lapang atau sempit, sebetulnya ada dalam hati masing-masing orang" lanjutnya.

"Saya ingat tahun 90-an, saya punya uang sekitar Rp40 juta. Istri saya berencana menggunakan uang itu untuk membeli sebuah rumah di Serpong, dan memang saat itu kami belum memiliki rumah…. Kemudian saya usul kepada istri bahwa kedua orang tua saya dan kedua orang tuanya belum pernah berhaji. Mumpung mereka masih ada umur dan kita ada kelapangan uang 40 juta ini, kiranya berkenankah istri saya untuk mengikhlaskan uang ini untuk memberangkatkan mereka berempat ke tanah suci?" Muchtar menjelaskan awal masalah kepada kami semua.

Selanjutnya Muchtar mengutarakan bahwa malam itu setelah melewati beberapa pertimbangan akhirnya sang istri menuruti usulnya. Dan proses itu tidak mudah, berkali-kali istrinya berpikiran goyah, sehingga hampir membatalkan niat untuk memberangkatkan haji keempat orang tua mereka.

"Namun saya bilang kepada istri saya, bahwa ini adalah bentuk bakti kita kepada orang tua. Pastilah Allah akan bayar kebaikan ini….! Apalagi sesampainya di sana, orang tua kita akan mendoakan di tempat-tempat mustajab. Aku jamin, Allah pasti akan membalas kebaikan ini!" jelas Muchtar kepada istrinya.



Ketegaran hati pun mengkristal dan niat suci itu pun terlaksanakan. Saat itu ongkos naik haji (ONH) kira-kira Rp7 juta-an. Ditambah biaya bimbingan dan biaya hidup selama di tanah suci maka kira-kira uang Rp 40 juta itu adalah cukup.

Maka berangkatlah keempat orang yang dicintai Muchtar dan istrinya ke tanah suci untuk berhaji.

Tidak ada yang sia-sia saat kita melakukan kebaikan. Energi kebaikan itu akan kembali kepada pemiliknya. Bahkan boleh jadi ia akan kembali menjadi besar hingga menggunung dan mengejutkan pemilik kebaikan itu. Apalagi bila kebaikan itu ditunaikan kepada orang tua yang begitu berjasa atas kehidupan kita? Bukankah Allah akan ridha bila orang tua meridhai kita?!

Hanya 3 bulan berselang dari pendaftaran haji dan penyerahan biaya haji itu. Orang tua pun belum berangkat haji ke tanah suci, namun Muchtar sudah mendapatkan balasan ilahi.

"Saya gak sangka pak, saat itu saya menerima bonus akhir tahun dari perusahaan senilai Rp360 juta…! Saya kaget dan saya teramat bersyukur kepada Allah Swt Yang Maha Pemurah. Sesampainya di rumah saya ceritakan ini kepada istri, dan istri saya pun terperanjat. Akhirnya, kami merasakan betapa Allah Swt menepati janjinya." Jelas Muchtar.

Uang itu ia belikan mobil dan sebuah rumah. Ya sebuah rumah yang dibeli setelah ditangguhkan keinginan memilikinya demi berbakti kepada orang tua. Rumah itu kini lebih besar Allah beri daripada keinginan semula. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan? Ya, karenanya perbanyaklah kebaikan dan berbaktilah kepada orang tua!



Salam,

Bobby Herwibowo



http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150089805790017

Dikirim pada 18 Januari 2011 di Gambleh

Dengarkanlah ungkapan dari lisan seorang sahabat bernama Abu Dhamdham radhiallahu anhu. “Ya Allah, aku tidak punya harta lagi untuk aku sedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Karenanya, sudah aku sedekahkan kehormatanku untuk mereka. Siapa saja yang menghinaku, atau mencaciku, itu adalah halal untukku.”



Hampir tidak ada, orang yang keinginannya untuk memberi kepada orang lain lebih besar daripada keinginannya untuk diri sendiri. Seperti sahabat Abu Dhamdam radhiallahu anhu dan juga para sahabat lainnya. Karenanya, kita pasti aneh mendengarkan ucapan itu. Ternyata ada seseorang yang sangat ingin menghibahkan apa yang menjadi miliknya untuk orang lain. Ternyata ada hati seseorang yang begitu lapang, yang tak mengisi jiwanya untuk kepentingan dirinya, kecuali untuk kepentingan orang lain yang membutuhkannya. Sampai tatkala tak ada lagi yang layak diberikan kepada orang lain, ia menghadirkan kehormatan, kemuliaan, harga dirinya, untuk diberikan kepada orang lain. Lalu, semua caci maki, umpatan, hinaan, akan dijadikan sedekah dari dirinya untuk orang yang mencaci, mengumpat dan menghinanya. Subhanallah.



Abu Dhamdham pasti mempunyai logika keimanannya sendiri untuk memiliki sikap seperti itu. Sebab semua orang lazimnya mempunyai keinginan diri, menyimpan obsesinya untuk diri sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari ungkapan Abu Dhamdham ra ini. Katanya, ”Kedermawanan Abu Dhamdham ini mencerminkan kelapangan hati, ketenangan jiwa, dan kebersihannya dari rasa memusuhi orang lain.” (Tahdzib Madarij As Saalikin, 407). Hati yang lapang, jiwa yang tenang dan tak menyimpan masalah dalam hati. Ketiganya saling bertautan. Hati yang sempit, menandakan jiwa yang selalu resah, dan keadaan itu umumnya dipicu oleh suasana tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Dan ketiga hal itulah yang bisa diatasi oleh Abu Dhamdham hingga ia sangat ingin memberi, melebihi keinginannya untuk dirinya sendiri






Saudaraku,



Membersihkan hati dari rasa tidak enak dengan saudara sesama Muslim, tidak mudah dan bahkan membutuhkan kesabaran berlipat. Melapangkan dada, setelah melihat prilaku saudara yang mungkin membuat luka, membikin kecewa, memunculkan amarah, seiring sejalan dengan kemampuan seseorang melatih diri untuk mengendalikan diri saat marah. Dan itu tidak gampang. Karena itulah, sikap tidak menyimpan luka, sikap lapang dada, sikap lapang jiwa yang tidak menyimpan sedikitpun rasa yang mengganggu persaudaraan, adalah sifat-sifat yang menjamin seseorang masuk surga.






Saudaraku,



Masalah ini yang ingin disampaikan Rasulullah saw, saat ia tiga kali memuji seorang pemuda yang datang ke majlisnya, bahwa pemuda yang datang itu adalah penghuni surga. Di tengah nasihat dan arahannya di dalammasjid , Rasulullah saw tiba-tiba mengatakan, ”Akan datang pada kalian sekarang seorang yang menjadi ahli surga.” Tak lama setelah itu, datanglah seorang pemuda Anshar yang bersih janggutnya karena wudhu. Sedangkan tangannya yang kiri menenteng dua sandalnya. Peristiwa serupa ini terjadi lagi keesokan harinya, hingga tiga kali berulang. Abdullah bin Umar radhiallahu anhu tersentak rasa keingintahuannya, dan berniat untuk bermalam di rumah pemuda itu, sampai ia tahu apa rahasianya, hingga mendapat sebutan ahli surga oleh Rasulullah saw, sebanyak tiga kali. Setelah tiga hari bermalam di rumah pemuda itu,Abdullah bin Umar ra merasa tak ada bagian hidupnya yang istimewa. Ia pun bertanya, dan menjelaskan maksud sebenarnya ia bermalam bersama pemuda itu. Pemuda itu menjawab, ”Saya tidak lebih seperti apa yang engkau lihat. Tapi, dalam jiwa saya tak sedikitpun ganjalan perasaan, dan saya tidak hasad sedikitpun atas kebaikan yang mereka terima.” Lalu, Abdullah bin Umar ra pun mengatakan, ”Inilah yang meninggikan kedudukanmu, yang kami tidak sanggup melakukannya.”






Saudaraku,



Hati yang lapang, hati yang tak mempunyai dendam, hati yang tak memiliki rasa kesal, dengan saudara sesama Muslim, adalah surga dunia. Itu kesimpulan dari hadits panjang tentang Abdulah bin Umar dan pemuda Anshar tersebut.Abdullah bin Umar radhiallahu anhu yang terkenal zuhud dan ahli ibadah bahkan mengakui, bila dirinya tidak mampu memiliki kebersihan hati, kelapangan dada, seperti pemuda itu.






Saudaraku,



Setidaknya kita harus berusaha mengusir rasa benci, atau sekedar meminimalisir suasana yang tidak bersih dengan orang lain. Sebab bila rasa dengki, hasad, ganjalan yang ada tak kunjung mampu kita redam, ada bahaya besar yang akan menimpa kita. Hasad, dengki, memang pasti punya logikanya sendiri, dalam arti pasti memiliki alasan untuk bisa dibenarkan. Tapi juga bisa menjadi alasan untuk disalahkan. Alasan yang membenarkan itu sendiri, belum tentu asli kebenarannya karena sangat mungkin ada dalam buaian dan bisikan syetan yang membenarkan sesuatu yang keliru. Dan itu semua berakibat pada perpecahan, perkubuan, bisa merebak, bahkan melebar tak melibatkan satu atau dua orang tertentu melainkan satu kelompok orang. Sampai kita benar-benar menjadi lemah dan berada dalam kondisi seperti yang tegas dilarang Allah swt dalam surat Al Anfal ayat 46, ”... Dan janganlah kalian bertikai, lalu kalian menjadi gagal dan kekuatan kalian hilang.... ”






Saudaraku,



Camkan dalam-dalam bagaimana persaudaraan yang dihidupkan oleh Rasulullah saw di zaman kenabian, dan hidup bergerak dalam dunia para sahabat dan orang-orang shalih. Mereka bukan tak pernah mengalami masalah, merasa terluka, kecewa, dalam interaksi sesamanya. Mereka orang-orang yang hatinya lapang, jiwanya bersih lalu paras mukanya menjadi bercahaya. Mereka berhasil mengatasi permasalahan dalam hubungan mereka dengan sangat baik.



Dengar bagaimana perkataan Abu Dujjanah radhiallahu anhu saat sakit. Ketika itu, para sahabatnya terkejut melihat wajah Abu Dujjanah berseri dan bercahaya, padahal mereka tahu Abu Dujjanah dalam kondisi sakit parah yang mengantarkan ajalnya. Merekapun bertanya kepada Abu Dujjanah, dan ia menjawab, ”Tak ada suatu amalanpun yang paling aku pegang teguh kecuali dua hal. Pertama, aku tidak mau bicara yang tidak bermanfaat. Kedua, hatiku bersih dari perasaan yang mengganjal dengan kaum muslimin.”





M. Lili Nur Aulia



Tarbawi Islamic Magazine

http://aulia70.multiply.com/journal/item/19/Ini_Rahasianya_Mengapa_Muka_Abu_Dujjanah_Tetap_Cerah_dan_Berseri



Dikirim pada 09 Desember 2010 di Gambleh

Mundur beberapa langkah untuk melompat dan berlari, jauh lebih baik dibandingkan dengan maju beberapa langkah tergesa-gesa, tapi kemudian berhenti. ===



Itulah --salah satu-- pesan yang dapat kita ambil dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw. bersama para sahabatnya. Hijrah bukan lari dari perjuangan. Hijrah bukan berarti kalah. Hijrah bukan takut. Tapi... hijrah adalah strategi untuk merebut taqdir kemenangan. Lewat pintu hijrah itulah, as-sabiqunal awwalun (generasi pertama) dapat merebut piala kemenangan yang kita kenal dengan istilah Futuh Makkah.



Dan sebuah strategi, jelas membutuhkan sebuah manajemen. Lantas, manajemen seperti apakah yang nabi Muhammad Saw. lakukan saat hijrah?



Mari kita telaah kembali sirah nabawiyah!



Waktu itu, hari Kamis tanggal 26 Shafar --tahun ke-14 kenabian-- bertepatan tanggal 12 September 622 Masehi, sebelas anggota parlemen Quraisy mengadakan rapat mendadak dan tertutup. Dalam gedung Dar An-Nadwah itu, terjadi perdebatan alot untuk menghentikan gerakan dakwah Nabi Muhammad Saw.. Ada yang mengusulkan untuk mendeportasi rasulullah Saw.. Ada pula yang menyarankan beliau dipenjara. Dan ternyata, usulan dari paman Nabi yang mereka terima.



"Menurutku", ujar Abu Lahab dengan lantang penuh kesombongan, "sebaiknya kita kirim para pendekar muda utusan dari setiap partai kita. Kita bekali mereka dengan pedang tajam. Suruh mereka membunuhnya. Lalu, darahnya kita bagikan kepada setiap partai dan nanti masing-masing membayar tebusannya!"



"Setujuuu!!!" sambut sepuluh utusan dari berbagai partai bangsa Arab itu.



Setepat keputusan itu dipukul palu, malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad Saw. dan berkata, "Malam nanti, Anda jangan bermalam di tempat tidurmu!"



Rasulullah Saw. memahami sandi dari Allah itu, bahwa beliau diizinkan-Nya untuk melakukan hijrah. Apa yang beliau lakukan kemudian?



Pertama, beliau menentukan target, yaitu kota Madinah --tempat para murid beliau yang belajar sekaligus berbaiat akan mendukung perjuangan beliau (baiat aqabah I dan II) saat dua musim haji sebelumnya-- sebagai tujuan.



Kedua, beliau membuat team work untuk menyukseskan aksi hijrah, diantaranya Abu Bakar Ra, Ali bin Abi Thalib ra, Abdullah bin Abu Bakar ra, Asma binti Abu Bakar ra, Amir bin Furairah, dan Abdullah bin Urayqith.



Ketiga, menjelaskan peran dan jobdes (job description) kepada enam anggota team work tersebut sebagai berikut:



1. Abu Bakar ra sebagai patner beliau untuk membantu segala kebutuhan beliau selama perjalanan menuju Madinah; 2. Ali bin Abi Thalib ra sebagai pengganti beliau tidur di kasur untuk mengecohkan para pendekar muda sehingga mereka menunggu Ali tidur sampai dini hari sedangkan dalam waktu yang sama beliau, Abu Bakar ra, Abdullah bin Abu Bakar ra, dan Abdullah bin Urayqith berangkat menuju Gua Tsur; 3. Abdullah bin Abu Bakar sebagai detektif; informan (kurir) untuk menyadap berita dari luar ke gua Tsur; siang hari beliau bergaul dengan kaum Quraisy dan malam ikut tidur ke Gua Tsur sekaligus melaporkan hasil penyelidikannya; 4. Asma binti Abu Bakar sebagai seksi konsumsi untuk mengantarkan makanan selama tiga hari ke Gua Tsur; 5. Amir bin Furairah --pembantu Abu Bakar yang biasa mengembalakan kambing siang hari di sekitar pegunungan-- sebagai tim logistik untuk memberikan susu kepada Nabi Muhammad Saw dan Abu bakar sekaligus sebagai penghilang jejak untuk menghilangkan jejak --menyamarkan bekas telapak kaki di pasir dengan kaki domba-- Nabi dan Abu Bakar ketika pertama kali ke Gua Tsur, dan menghilangkan jejak setiap kali Abdullah bin Abu Bakar akan menyampaikan berita dan Asma bin Abu Bakar dalam mengantarkan makanan; 6. Abdullah bin Urayqith --musyrik Quraisy, namun ahli dalam melakukan perjalanan panjang, sebab suka melancong-- sebagai guide atau navigator yang disewa nabi Muhammad Saw. untuk menemani dan menunjukan jalan hingga sampai ke Madinah.



Keempat, nabi melakukan aksi berikut ini:



1. Keluar siang hari, sebab waktu itu, di kota Makah jarang orang yang berkeliaran pada siang hari dan biasanya mereka pergunakan untuk tidur; 2. Keluar dari pintu belakang untuk menghindari pengamatan dari inteligen Quraisy; 3. Arah hijrah bukan ke utara --tempat kota Madinah-- melainkan ke arah selatan, tempat gua Tsur, ini untuk mengelabui pengejaran para pendekar muda Quraisy; 4. Bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk menunggu perkembangan para pengejar sekaligus memikirkan langkah apa saja yang akan beliau lakukan selama di Madinah nanti; 5. Mengambil jalan yang berbeda dari rute Mekah-Madinah yang selama ini dilalui banyak orang. Beliau mengambil jalan ke arah selatan menuju Yaman --berlawanan dengan arah jalan ke Madinah-- kemudian mengarah ke sekitar pantai Laut Merah, dan ketika menemukan jalur setapak tidak dikenal, maka mereka berbalik ke arah utara.



Alhamdulillah, lewat empat hal itu, hijrah nabi dari Mekah ke Madinah berjalan sukses. Selama 10 tahun kemudian beliau dapat membungkam kesombongan orang-orang yang dulu menyakiti, menghalangi dan mengusir beliau dari Makah.



Nah, manakala kita ingin menjadikan tahun baru hijriyah 1431 ini sebagai momentum untuk melakukan hijrah (perubahan) --diri, keluarga, organisasi, dan masyarakat, sudahkah kita mengatur dan mengelolanya dengan baik?



Wallahu alam bish shawab. Oleh: Udo Yamin Majdi





sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=235659372929



Dikirim pada 07 Desember 2010 di Gambleh

Ada yang membekas di otak dan fikiranku tentang kisah haji sahabatku yang kebetulan tahun lalu dipanggil Allah untuk melaksanakan ibadah haji. Aku mengenal mereka dengan teramat dekat, bahkan dekat sekali. Mudah-mudahan kisah ini bisa bermanfaat bagi banyak orang.



***



Dengan ijin Allah, bersama istri tercintanya melalui embarkasi Solo mereka menunaikan rukun Islam yang kelima.



Aku yakin, mereka berangkat dengan modal keagamaan yang pas-pasan. Bahkan latar belakang keduanya pun bukan dari sekolah agama, apalagi pesantren. Namun kekuatan dan keyakinannya terhadap Allah lah yang membuat mereka begitu bersemangat untuk memenuhi panggilan Allah tersebut.



Mereka masuk dalam gelombang pertama perjalanan haji yang dimulai dari Madinah. Begitu mendarat di bandara King Abdul Aziz, doa pertama yang mereka ucapkan adalah, Ya Allah, hamba dan istri hamba ke sini untuk memenuhi panggilan-Mu, hamba ke sini adalah tamu-Mu, mustahil Engkau akan menelantarkan tamu-Mu. Jadikanlah aku dan istriku tamu yang baik bagi-Mu dan mudahkanlah segala urusanku .”



Turun dari pesawat Garuda, satu per satu penumpang kloter 36 dari Embarkasi Solo itu harus melalui pemeriksaan pasport dalam waktu yang cukup lama. Maklum, untuk jamaah yang menurut mereka masih muda disamping pemeriksaan pasport masih harus di foto dulu. Selesai pemeriksaan dan mengambil koper jamaah melakukan shalat jama’sebelum memulai perjalanan dari Mekkah ke Madinah yang jaraknya lebih dari 450 KM.



Baru mendengar jaraknya saja pikiranku sudah jauh menerawang menembus lorong waktu, membayangkan betapa beratnya perjalanan Rasulullah waktu hijrah kala itu. Hanya dengan kendaraan onta, dan sebagian lagi berjalan kaki, di tengah teriknya matahari dan luasnya gurun pasir ditambah lagi kejaran orang-orang kafir yang hendak membunuh Nabi dan pengikutnya. Tidak tahu lagi, berapa waktu yang diperlukan untuk itu. Beda jauh jauh dengan saat ini, di mana perjalanan bisa dilakukan dengan bus yang berAC selama 7-8 jam dan kereta hanya 30 menit. Sungguh, perintis jalan akan selalu lebih berat ujiannya dibanding kita yang di belakngnya.



Setelah sampai pondokan yang jaraknya sekitar 1.5 KM dari masjid Nabawi hari pertama di Madinah itu dilaluinya dengan berjalan kaki bersama teman satu kloter untuk memulai shalat Arbain. Shalat 40 waktu dimasjid Nabawi yang pahalanya 1000 kali lebih besar dari pada shalat di masjid yang lain kecuali masjidil Haram, yang justru pahalanya dilipatgandakan sampai 100.000 kali.



Masjid ini sangat indah dan modern. Jamaah laki – laki dan perempun di pisah-- sementara kapasitasnya mencapai 500.000 jamaah lebih. Setelah shalat Subuh dan ziarah ke makam Rasullah dan 2 sahabat terdekatnya (Abubakar dan Umar). Ia bersama istrinya, berjalan mengelilingimasjid yang luas dan indah itu. Dan justru disitulah kisah indahnya di mulai.



Kemuliaan Membantu



Setelah sampai ke titik awal yaitu halaman depan masjid dilihatnya seorang ibu dengan wajah khas Indonesia (logat Sumatra yang kental) mencoba memanggil setiap jamaah Indonesia yang kebetulan lewat. Beberapa orang yang ditanya kelihatan selintas saja berhenti kemudian meninggalkan ibu tersebut. Setelah beberapa kali seperti itu ibu itu terduduk sambil menangis. Karena penasaran, sahabatku dan istrinya mendatanginya. Setelah menjawab salam sambil masih menangis ibu tersebut cerita bahwa mulai masukmasjid tengah malam tadi sampai jam 9.00 pagi itu dia terpisah dengan anak perempuannya yang mendampinginginya dan tidak tahu jalan pulang ke pemondokan. Beberapa orang Indonesia yang kebetulan lewat sudah berusaha di tanyai. Tapi karena mereka kebetulan juga baru datang dan belum faham lokasi akhirnya tidak bisa banyak membantu.



Sahabatku kemudian meminta istrinya mengeluarkan sebotol air zam-zam yang selalu dibawanya setelah hendak pulang meninggalkan masjid. Ia mempersilahkan si ibu meminumnya, ibu itu kelihatan haus sekali, karena memang ternyata mulai tengah malam itu sang ibu belum makan dan minum karena memang tidak membawa bekal.



Setelah kelihatan mulai tenang, sahabatku mengajak ibu itu untuk istighfar, baru kemudian mulai di tanya: “Ibu, kita istighfar dulu, baru nanti mohon kepada Allah agar di beri jalan.”



Si Ibu itu mengangguk tanda setuju. Setelah istighfar, ia mulai panjang lebar bercerita. Katanya, ketika masuk masjid, banyaknya jamaah membuatnya terpisah dengan anaknya. Tepatnya setelah shalat dicarinya anaknya dengan hampir mengelilingi masjid tetap juga tidak ketemu. Nomor Handphone nyapun tidak bisa dihubungi, termasuk nomor teman – teman yang satu regu dengannya. Padahal dicoba untuk menghubungi keluarga di tanah air normal saja.



Tanda keagungan dan kebesarana Allah sebagai pengatur seluruh alam pun muncul. Sahabatku mencoba menghubungi nomor handphone anaknya. Alhamdulillah ternyata nyambung. Dari seberang, anak perempuannya menyahut, Wa alaikum salam, dari siapa ya ? tanyanya. Sahabatku akhirnya menjelaskan jika ia bertama ibundanya yang tak paham arah.



Singkat cerita, mereka akhirnya janji bertemu tepat di dekat pintu masuk khsusus perempuan. Ibu itu mulai kelihatan ceria setelah anaknya bisa di hubungi dan akan segera menyusul di tempatnya berada.



Benar saja.Tangis meledak dari keduanya ketika bertemu di depan masjid Nabawi yang indah itu. Alhamdullah, bahkan saking senangnya ditengah tangisnya sang ibu sempat bertanya: “Nak saya harus membayar berapa, barangkali untuk pulsanya?“

Ibu tak usah membayar, saya ini saudara ibu, saudara Muslim ibu, bukan siapa- siapa. Bisa membantu ibu saja, rasanya saya sudah bersyukur dan Alhamdulillah Allah memudahkan jalan ini,” begitu jawabnya sambil memohon pamit kepada ibu dan anaknya tersebut.



Rupanya, dalam waktu delapan hari di Madinah tersebut rasanya hampir tiap hari Allah memberi kesempatan sahabatku dan istrinya untuk bisa membantu jamaah yang lain. Kadang ada yang minta ditunjukkan makam Rasulullah, ada yang minta diantar ke Raudhah, salah satu tempat yang mustajabah karena merupakan taman syurga. Atau jamaah yang bingung mencari tempat sandal ketika mau pulang karena memang semua pintu masjid bentuknya persis sama demikian juga tempat menyimpan sandal.



Sebenarnya ada nomor pintu dan nama pintu yang bisa diingat-ingat, demikian juga tempat menyimpan sandal. Tapi karena jumlah jamaah yang sangat besar itu kadang membuat banyak orang jadi bingung, apalagi yang sudah sepuh (tua).



Dijalaninya semua itu dengan senang, maklum, di tanah air, temanku adalah Tim SAR.



Suatu hari, saat menjelang magrib dalam sebuah shaf sholat dan dalam keadaan sedang membaca al-Quran, ia tiba – tiba diangkat seorang Arab yang berpostur tinggi besar dan di pindahkan ke shaf belakangnya, dikumpulkan dengan jamaah dari berbagai negara.



Seketika air matapun meleleh. Dalam kepasarahannya sahabatku berdoa, Ya Allah ampuni hamba-Mu kalau ini terjadi karena kesalahan hamba, rasanya hamba belum pernah sekalipun memindahkan atau mengganggu shaf seseorang bahkan anak kecil sekalipun, ampuniya Allah,” begitu permohonannya.



Masih dalam kebingungannya tiba – tiba di depan nya dihamparkan oleh beberapa anak kecil semacam plastik kecil memanjang seperti kain putih panjang yang biasa di gelar di masjid-masjid tanah air untuk tempat sujud .



Masih dalam istighfar-nya sahabatku semakin bingung ketika selanjutnya anak-anak itu dengan terampilnya menyiapkan gelas -gelas kecil dan piring plastik kemudian diisinya dengan buah korma yang belum diolah maupun yang sudah dibuat seperti dodol tapi tidak ditumbuk sampai halus. Gelas – gelas kecil itupun diisi semacam bandrek (minuman untuk daerah dingin). Ada juga semacam sambal tapi tidak terlalu pedas. Tepat saat Adzan Magrib dikumandangkan oleh muadzin dengan irama khas Madinah, sahabatku ditepuk oleh orang Arab yang mengangkatnya tadi untuk berbuka. Padahal saat itu dia sedang tidak berpuasa. Bahkan ia dilayani bak tamu, dia disuruh mencoba semua yang dihidangkan termasuk buah anggur hijau yang masih sangat segar. Walaupun dengan bahasa yang kurang nyambung karena yang di shaf itu terdiri dari berbagai bangsa, kehangatan dan keceriaan mereka sangat terasa. Sebelum iqomah, tempat berbuka puasa tadi sudah dibersihkan oleh anak–anak yang sepertinya sudah terbiasa dengan kegiatan seperti itu. Selesai jamaah Magrib dalam sujud terakhirnya sahabatku berdoa, Ya Allah, Alhamdulillah, kini aku mengerti maksud-Mu .”



Rupanya, kejadian seperti itu berulang ketika hari Kamis sore menjelang Magrib. Kalau pada Seninnya sahabatku mengambil shaf di belakang makam Rasulullah, kali ini sebelah kanan tetapi agak jauh dengan makam Rasulullah. Pada saat Magrib tiba, sahabatku ditepuk pundaknya oleh seseorang yang ternyata mengantar satu piring tajil lengkap dengan minumnya. Dalam bahasa Arab yang sebagian dia mengerti sahabatku dipersilahkan untuk berbuka puasa.Sekali lagi saat itu dia sedang tidak berpuasa.Subhanallah...



Selesai Arbain di Madinah, rombongan menuju ke Mekkah untuk melaksanakan umroh wajib.Rombongan bus behenti di Azziziah Janubiah 2, yang jaraknya sekitar 7-8 km dari Masjidil Haram. Kebetulan pemondokan sahabatku bersebelahan dengan Saudi Post, jadi agak mudah menandainya atau sebagai patokan kalau harus pulang naiktaksi.



Pembagian kamar pun dimulai sesuai regu masing-masing. Setelah pembagian kamar selesai, tiba- tiba kamar sahabatku diketuk pintunya oleh pak Dwi (Ketua rombongan klotern 36 Blora) beserta 1 orang dokter dan 2 perawatnya. Menurut mereka kamar tersebut cocok untuk kamar team kesehatan karena letaknya strategis dan dekat dengan lift. Kembali sahabatku tersenyum ketika kamar itu diminta untuk team kesehatan dan perawatan jamaah yang sakit. Tapi, sekali lagi Allah Maha Pemurah, ketika bersama istirinya dan regu yang diminta pindah itu menuruni lantai 3, tiba – tiba ada yang menawari kamar kosong di lantai 2, bersebelahan dengan jamaah haji dari kabupaten Tegal.



Pada malam menjelang wukuf di Arofah kebetulan saat itu hujan besar sehingga tenda dan alasnya semua basah. Beberapa jamaah kebingungan mencari tempat tidur yang tidak terlalu basah untuk bisa sekedar istirahat karena besuk paginya harus mengikuti wukuf. Saat itu sahabatku kebetulan membawa tikar yang ukurannya tidak terlalu besar 2 x 4 m. Begitu digelar beberapa jamaah yang sudah sepuh mendaftar untuk tidur di tikar itu, sehingga langsung penuh, bahkan sahabatku justru tidak kebagian.



Ya Allah, mereka jauh lebih membutuhkan dari pada aku. Sedang aku telah Engkau beri kesempatan untuk berlatih di medan yang lebih berat dari ini di tanah air, maka tambahkanlah kesyukurankuya Allah.”



Akhirnya semalam dia tidur di tikar yang basah dengan baju ihromnya dan alhamdulillah, sewaktu Subuh yang ditempati tidur itupun jadi kering.



Tikar favorit



Khotbah wukuf hari itu banjir air mata. Semua dosa-dosa seperti di depan mata, sementara amal-amal kebaikan semakin tak nampak. Apalagi pada saat doa wukuf yang kebetulan dipimpin oleh KH.Jufri dan bergiliran dengan 3 ustadz lainnya tangis jamaah semakin menjadi. Teringat kerdilnya kita di hadapan sang Maha Agung, sang Raja diraja, membayangkan pengadilan di padang Mahyar kelak. Selesai wukuf sahabatku berdzikir dan membaca al-Quran di depan tenda. Tanpa terasa dia melihat seseorang yang sudah lebih dari 3 kali melintas di depannya dengan membawa handuk dan peralatan mandi. Karena penasaran ditanyailah orang tersebut. Ternyata selesai mandi, jamaah asal Jakarta tersebut tidak menemukan tendanya, walaupun di atas tenda rombongan biasanya dipasang tanda daerah. Sudah cukup lama dia berkeliling, tetapi tetap tidak ketemu juga. Sahabat saya mengajak orang tersebut istighfar kemudian bersama-sama mencari tendanya.



Alhamdulillah, tak lama kemudian nampak lokasi tenda Jakarta ia disambut rekan-rekannya juga sudah berusaha mencari karena cukup lama tidak kembali ke tenda. Setelah bertemu teman satu rombongannya bapak tersebut mencoba melihat tempat mandinya yang ternyata sangat dekat dengan tenda. Masya Allah.



Perjalanan berlanjut ke Mina. Setelah pembagian tenda di maktab 31, sekali lagi tenda yang ditempati sahabatku diminta lagi untuk kesehatan karena kebetulan letaknya pas di persimpangan dan kebetulan semua tenda penuh sesak. Sahabatku hanya titip istrinya untuk tetap di tenda itu sekaligus bisa membantu team kesehatan bila diperlukan. Berbekal tikar sahabatku tidur di luar tenda yang jutru sangat indah bisa menikmati indahnya malam di Mina. Namun baru digelar beberapa menit tikar kecil itupun segera penuh. Bahkan pak Dwi, Ketua rombongan dan Ust Salim, seorang hafidz lulusan Mesir itupun bergabung. Kemudian beberapa jamaah dari kloter lain juga bergabung dengan membawa tikar masing-masing. Dalam waktu sekejap area itu berubah menjadi area favorit jamaah.



Ada yang sekedar numpang tidur, ada juga yang sekedar bersilaturahim. Hari kedua di Mina setelah melempar jumrah aqobah ada jamaah yang sudah umur tidak menemukan tendanya. Melihat tanda pengenal yang dia pakai orang tersebut berasal dari Pakistan. Sayang beliau tidak bisa bahasa Ingris ataupun bahasa Arab dan hanya berbahasa daerah. Walaupun tidak bisa berbahasa Arab, sahabatku berusaha menolong orang ini. Setelah diskusi dengan ketua rombongan yang kebetulan disitu, Allah kembali memberi jalan. Sahabatku ingat pada saat mau masuk ke Maktab sempat melewati maktab lain yang salah satu pengelola cateringnya sepertinya orangPakistan. Setelah dicari beberapa saat ketemu dengan maktab 27, di situ nampak 3 orang yang sedang menyiapkan makan untuk jamaah.



Dengan keberanian sahabatku bertanya kepada salah seorangnya, Anta Pakistan ?” Rupanya yang ditanya juga faham bahasa Arab yang sepotong itu. Naam, “ jawabnya singkat. Langsung saja pak tua itu ditemukan dengan orang yang sebahasa. Alhamdulillah, komunikasinya jadi nyambung.



Karena ikut nafar awal, sahabatku meninggalkan Mina pada 12 Dhulhijah untuk kembali ke pemondokan di Aziziah Janubiah, setelah melakukan thawaf ifadhoh dan melempar jumrah ula, wustho dan aqobah. Sambil menunggu jadwal kembali ke tanah air sisa waktu biasanya digunakan jamaah untuk untuk shalat di Masjidil Haram atau sebagian lagi mengerjakan umroh sunnah.



Sekitar jam 10 pagi itu sahabatku sedang menunggu jamaah yang lain di depan pemondokan untuk bersama-sama berangkat ke Masjidil Haram. Belum lama berselang, dilihatnya seorang dengan pakain ihrom yang bertanya kepada petugas hotel. Pembicaraanpun tidak nyambung, karena penjaga hotel/pemondokan berasal dari Yaman dengan bahasa Arabnya sedangkan bapak yang datang tidak ngerti juga bahasa Arab maupun Ingris. Menurut teman – teman jamaah yang sudah duluan duduk di lobby pemondokan orang tersebut sudah berkali-kali masuk ke hotel tersebut kemudian pergi jalan lagi dan masuk ke situ lagi. Sahabatku berfikir pasti ini orang tersesat untuk kembali ke pemondokannya setelah pulang dariMasjidil Haram . Cuman yang jadi masalah adalah faktor bahasa. Rupanya Allah tetaplah Maha Pemurah dan Maha mengatur segala urusan. Setelah berfikir keras sahabatku melirik ke identitas yang dipakai oleh orang tersebut. Tak tahu dengan bahasa apa, tetapi ada tertulis Ubejkistan dan beberapa digit angka di bawahnya. Iseng – iseng dicatatnya angka tersebut barangkali nomor telepon.



Beberapa saat kemudian ada petugas kesehatan dari Kabupaten Tegal terlihat keluar dari pintu lift. Karena kebetulan sahabatku tidak membawa HP, sahabatku mendekati petugas kesehatan tersebut.



Assalamu alaikum, mbak saya kebetulan tidak membawa HP, bapak ini tersesat sejak pagi, tidak bisa bahasa Ingris maupun Arab. Saya mencatat angka ini dari identitasnya, mudah-mudahan ini nomor telepon perwakilan negaranya, karena hanya ini yang bisa kami baca sebab tulisan yang lain saya nggak ngerti.”



Petugas kesehatan tadi mencoba mendial nomor tersebut dari HP nya. Alhamdulillah diangkat dan benar itu nomor telepon. Masalah kedua muncul karena yang di seberang tidak mengerti bahasa Ingris sedang petugas kesehatan tadi juga tidak bisa bahasa Arab. Cepat – cepat sahabatku memintaHP nya untuk mempersilahkan bapak tadi agar ngomong langsung. Setelah beberapa saat ngomong bapak tadi mulai kelihatan ceria. A lhamdulillah akhirnya di jemput dari perwakilan negaranya dengan tidak lupa sempat menaruh tangan kanannya di dada kiri sebagai tanda terimakasih.



Malamnya setelah pulang dari Masjidil Haram beberapa jamaah kloter 36 pada ngobrol, termasuk pak Dwi. Mereka sepakat setiap ada orang hilang atau kesasar diarahkan ke sahabatku. Bahkan setiap kegiatan yang melibatkan banyak jamaah selalu saja sahabatku ini yang dijadikan team penyapu bersama istrinya. Mereka merasa nyaman setiap ada sahabatku di deretan paling belakang. Dan bagi sahabatku, ini adalah kemurahan Allah yang memberikan jalan kebaikan dengan apa yang selama ini ditekuninya, dunia Search and Rescue. Sungguh Allah telah membuka pintu kebaikan untuk dia dan istrinya. Apalagi disamping kemurahan Allah selama pelaksanaan haji dengan tidak pernah kekurangan makanan atau yang lain.



Allah masih memanjakannya pada hari terakhir setelah thawaf wada atau thawaf perpisahan. Sebuah hari yang sangat berat untuk dilewati, karena harus pamit meninggalkan Kabah,Masjidil Haram maupun masjid Nabawi. Setelah rombongan sampai di bandara King Abdul Aziz dan semua jamaah antri untuk check in dan check barang bawaan jamaah, sahabatku harus melalui pintu pemeriksaan bawaan termasuk air zam-zam. Saat itu sahabatku membawa 2 jerigen kecil 2 liter yang ditaruh di jaket gunung yang biasa dia pakai.



Beberapa jamaah yang membawa bawaan diluar koper yang disediakan semua disita termasuk botol – botol yang berisi air zam-zam.



Ya Allah , hamba-Mu akan pamit dari tanah Haram ini, maka jadikanlah air zam-zam yang kubawa ini oleh-oleh untuk keluargaku, biar mereka juga merasakan besarnya nikmat dan kemurahan-Mu. “



Alhamdulillah, doanya dikabulkan. Oleh penjaga pintu scan justru dirangkulnya sahabatku sembari hanya menyuruh melepas jaket dan langsung diminta masuk tanpa pemeriksaan yang ketat seperti jamaah yang lain. Bahkan diminta membuka sepatu atau dompetpun tidak. Dan air zam-zam pun boleh dibawa. Subhanallah! Begitu juga istrinya di pintu yang lain, merasakan hal yang sama. 2 botol kecil air zam-zam yang dibawanya pun di izinkan untuk dibawa .



Begitu sampai di pesawat sambil menunggu seluruh jamaah selesai pemeriksaaan dan memasuki pesawat sahabatku memanfaatkan waktu untuk memberi kabar ke tanah air . Berbekal pulsa isi ulang senilai 10 Riyal atau setara Rp 25.000 yang dibelinya sebelum berangkat ke bandara, dia mulai menghubungi ibunya. Tentu saja dalam waktu sekitar 4 menit pulsa habis. Tapi, rupanya, Allah menunjukkan kemurahan-Nya. Begitu di tutup, tiba-tiba muncul SMS yang memberikan bonus pulsa senilai 17 Riyal. Kesempatan itupun digunakan untuk menghubungi ibu mertuanya sampai habis. Muncul lagi SMS bonus pulsa senilai 23 riyal. Akhirnya, gantian istrinya yang menelpon ibu dan ibu mertuanya di Cepu dan Blora.



Selesai menelpon datang lagi SMS bonus pulsa senilai 19 Riyal . Digunakan lagi menghubungi bapak dan bapak mertua. Begitu selesai tenyata masih dapat lagi 12 Riyal dan kembali digunakan untuk menghubungi adik – adiknya. Setelah semua dihubungi barulah sahabatku sadar bahwa Allah sedang memberi satu lagi tanda mata“ kepada dia dan istrinya.



Padahal sangat banyak nikmat yang diberikan-Nya selama haji itu. Salah satunya dalam kloter 36 tersebut dia berangkat bersama salah satu guru TK nya, bu Ninik guru SD nya, masih lagi 4 orang guru SMA nya. Ada pak Harto guru Fisika, pak Kardi wakil Kepsek waktu itu, pak Giyono guru bahasa Indonesia dan pak Sukawi yang sering mengajak bernostalgia waktu sahabatku sekolah di SMA 1 Blora, serta teman sekelasnya dulu mas Heru Marthono yang selalu diingatnya karena kesabarannya yang luar biasa mendampingi ibunya yang sudah sepuh dan dalam kondisi sakit. Mudah–mudahan semuanya mabrur. Belum lagi di kloter tersebut terdapat 4 pembimbing yang rata-rata pengasuh pondok pesantren salaf sehingga baginya selalu ada tempat bertanya kalau ada sesuatu masalah yang berkaitan dengan hukum syariat.



Begitu murahnya Allah pada dia dan istrinya dengan membentangkan jalan kebaikan baginya. Dan jalan itupun telah dihamparkan oleh Allah untuk kita semua, dengan beribu atau bahkan berjuta jalan kebaikan. Tinggal kita memilih yangmana …....[dikirim Masjono/hidayatullah.com]



http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/14405-dimudahkan-allah-dari-manfaat-sar

Dikirim pada 07 Desember 2010 di Gambleh

assalaamu’alaikum wr. wb.



Kejadian ini lebih dari empat puluh tahun yang lalu. Ketika itu, pertentangan antara kubu Islam dan komunis telah hampir mencapai klimaksnya. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang membawa ideologi komunis (sekaligus atheis) bergandengan rapat dengan Presiden Soekarno. Golongan Islam telah benar-benar dipinggirkan. Mohammad Natsir, yang pernah menjadi kartu truf bagi Soekarno dalam menghadapi persoalan-persoalan dalam negeri, telah diasingkan dari panggung politik. Partai Masyumi telah dibubarkan beberapa tahun sebelumnya, bahkan PKI menggunakan nama ”Masyumi” untuk konotasi buruk, sebagaimana media Barat kini mengasosiasikanjihad dengan terorisme. Tuduhan ”ingin menghidupkan kembali Masyumi” pada masa itu dipersepsikan sama buruknya dengan tuduhan ”ingin menghidupkan kembali PKI” di masa kini.

Antara Buya Hamka dan Soekarno telah terjadi benturan yang sangat keras dan nampaknya sudah tak bisa diperbaiki lagi. Buya, yang tadinya memandang Soekarno sebagai anak muda penuh kharisma dan semangat, kini memandangnya telah kebablasan. Pernah suatu ketika Soekarno menyatakan pandangannya dalam sebuah sidang, kemudian ia mengatakan, ”Inilah ash-shiraath al-mustaqiim!” (jalan yang benar). Buya menimpali, ”Bukan, itu adalah ash-shiraat ila al-jahiim!” (jalan menuju Neraka Jahim). Sudah barang tentu, Buya tidak pernah bisa menerima pemikiran Soekarno pada masa itu yang sudah terlalu terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran sekuler dan komunis. Itulah sebabnya Buya marah besar ketika Muhammadiyah menganugerahinya suatu gelar kehormatan yang belum pernah diberikan sebelumnya kepada orang lain.



Pada tahun 1964 itu, sudah beredar kabar bahwa para ulama dan pemuka umat Islam, terutama tokoh-tokoh Masyumi, akan segera ditangkap. BuyaHamka sendiri merasa dirinya bukan tokoh politik, karena memang ia kurang tertarik pada politik. Dalam urusan politik, beliau mempercayakan pandangannya pada sahabatnya, Natsir. Meskipun tidak punya jabatan tinggi di Masyumi, namun beliau dikenal luas sebagai juru kampanye dan orator andalan partai itu. Ketika beredar kabar bahwa tokoh-tokoh eks Masyumi dan para ’penentang pemerintah’ akan ditangkap, sikap Buya relatif tenang, karena tidak merasa sebagai tokoh penting di Masyumi, dan juga tidak merasa sebagai penentang pemerintah.



Yang diisukan itu akhirnya terjadi juga. Pagi itu, Buya Hamka baru saja pulang sehabis mengisi pengajian ibu-ibu. Sesampainya di rumah, beliau beristirahat sejenak, sementara Ummi Siti Raham, istrinya, tidur di kamar karena sedang tidak sehat. Sekonyong-konyong datanglah beberapa orang polisi berpakaian preman yang menunjukkan surat perintah penangkapan terhadap dirinya. ”Jadi saya ditangkap?”, ujar Buya yang masih diliputi keheranan, berkata pelan-pelan agar tidak mengejutkan istrinya. Rusydi, anak beliau, membereskan pakaian secukupnya untuk beliau bawa.



Suara gaduh akhirnya membangunkan sang istri yang juga tidak tahu mesti berkomentar apa menanggapi penangkapan itu. Buya hanya merangkul bahunya, menghiburnya agar tetap tegar. Kepada istri dan anak-anaknya, BuyaHamka berpesan bahwa insya Allah penangkapannya takkan lama, karena ia sendiri merasa tak pernah berbuat salah. Tidak ada informasi ke mana beliau dibawa, hanya ada pesan bahwa keluarganya boleh menghubungi Mabes Polri untuk informasi lebih lanjut. Maka dibawalah Buya ke dalam sebuah mobil yang segera melesat, entah kemana. Setelah mobil menghilang dari pandangan, pingsanlah Ummi Siti Raham.



Selama beberapa waktu lamanya, tidak ada kabar sama sekali tentang Buya. Tidak ada yang tahu di mana beliau ditahan, apa tuduhannya, bahkan masih hidup atau tidaknya pun entah. Sampai akhirnya ada berita bahwa keluarga boleh mengunjunginya di Sukabumi, barulah istri dan kesepuluh anaknya dapat bertemu. Di bawah pengawasan para penjaga yang berwajah sangar, Buya sempat menyelundupkan pesan ke salah satu anak laki-lakinya, ”Para penjaga ini sama denganGestapo Nazi!” Secarik surat juga sempat disisipkan untuk dibaca oleh keluarganya di rumah.



Terkejutlah keluarganya membaca pesan Buya, sebagaimana Buya juga terkejut ketika pertama kali interogatornya memberi tahu tuduhan-tuduhan yang ditimpakan kepada dirinya. Terlibat dalam rapat rahasia menggulingkan Presiden, menerima uang empat juta (tidak jelas mata uangnya) dari Perdana Menteri Malaysia, memberikan kuliah yang bersifat subversif, dan berbagai kejahatan lainnya.



Dalam penahanan, sudah tak ada lagi gelar ulama, bahkan para interogator tidak ada yang memanggilnya Buya, meskipun seluruh warga Indonesia sudah biasa dengan sebutan itu. Dari hari ke hari, beliau diinterogasi dengan kata-kata kasar dan penuh hinaan, hingga suatu hari pernah beliau tergoda untuk melakukan perlawanan, namun dibatalkannya setelah menyadari bahwa hal itu hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk. Tuduhan-tuduhan yang ditimpakan padanya murni dibuat-buat, karena pada tanggal terjadinya rapat gelap tersebut (jika memang rapat itu ada) beliau tengah menghadiri sebuah acara besar yang dihadiri banyak orang, dan beliau pun berbicara pada acara itu, disaksikan semua orang. Dalam kuliah yang diberikannya itu, sama sekali tak ada unsur subversif. Bahkan dalam kuliah ituHamka mengatakan bahwa cara-cara yang telah ditempuh Daud Beureueh telah gagal, karena itu jangan gunakan lagi cara yang sama. Tempuhlah cara-cara damai untuk menyebarkan ajaran Islam di negeri ini. Satu dari mahasiswa yang menghadiri kuliah tersebut ternyata menjadi mata-mata dan melaporkan ucapan Buya dengan tidak utuh.



Para interogator tak mau tahu apa pun alasan yang diberikan, karena tujuan mereka memang untuk membuat Buya mengaku, bukan untuk mengorek kebenaran. Kata mereka, sudah banyak saksi yang mengatakan bahwa Buya memang hadir dalam rapat gelap, diantaranya si fulan dan si fulan. Dalam suatu kesempatan, akhirnya permohonan Buya untuk dipertemukan dengan salah seorang yang bersaksi demikian dikabulkan. Orang itu baru ditemuinya dua kali. Akan tetapi, di hadapan penyidik, ia bilang Hamka memang melakukan ini dan itu. Ketika ditinggal berdua dengannya, tahulah Buya bahwa orang ini hanya mengaku-ngaku saja lantaran tak berani menerima siksaan. Selain dia, sudah ada orang lain yang disiksa karena tak mau mengakui skenario bikinan pemerintah. Siksaan yang diterima Buya rupanya masih jauh dari maksimal, karena yang lain sudah dipukul dan disetrum.



Pada suatu hari, kelelahan Buya telah memuncak. Ketika itu, tim interogator datang seperti biasa, dengan wajah yang sangarnya tidak dibuat-buat. Salah seorang diantaranya membawa sebuah bungkusan yang isinya tak terlihat. Buya, yang sudah terlalu capek, meminta agar para penyidik itu menuliskan saja apa-apa yang telah dituduhkan kepadanya, dan ia akan menandatanganinya, jika memang itu yang mereka inginkan. Para penyidik pun senang, kemudian Buya dapat istirahat beberapa lama sementara mereka menyusun konsep yang akan ditandatanganinya.



Kejadian terjadi susul-menyusul. Terungkaplah nama orang yang telah memfitnah Buya Hamka, dan orang itu pun telah berada di tahanan polisi (dan disiksa juga). Tidak banyak informasi yang bisa didapatkan perihal sebab-musabab dihembuskannya fitnah itu. Yang jelas, sejak itu, sikap para penyidik menjadi lunak. Beberapa yang tadinya kejam dan sangar bahkan mulai memanggilnya Buya, membawakan makanan. Seorang diantaranya, yang pernah membawa bungkusan, meminta diajari doa-doa yang biasa dibaca Buya. Buya pun mengajarinya beberapa doa, sambil berpesan bahwa doa-doa tersebut hanyalah tambahan saja, sedangkan yang paling utama dan tak boleh ditinggalkan adalah shalat lima waktu. Setelah ia pergi, seorang polisi muda datang dan menitikkan air mata di hadapan Buya. Katanya, ia menangis dan berdoa di luar ruangan tempat Buya diinterogasi dahulu, karena penyidik yang tadi baru saja minta diajarkan doa-doa itu sebenarnya membawa alat untuk menyetrum Buya, yang disembunyikannya dalam sebuah bungkusan. Syukur alhamdulillaah, tubuh Buya tak perlu mengalami siksaan itu.



Pada tahun 1966, bersamaan dengan hancurnya kekuasaan PKI dan pemerintahan Soekarno, Buya Hamka dibebaskan. Semua tuduhan pada dirinya dihapuskan. Setelah peristiwa itu, tak pernah terdengar Buya menuntut balas atas kezaliman yang telah dialaminya. Dalam pendahuluannya untuk Tafsir Al-Azhar, Buya mengatakan bahwa kejadian itu sangat besar hikmahnya, karena tafsir yang hanya selesai sedikit setelah dikerjakan bertahun-tahun ternyata bisa tuntas dalam masa dua tahun di penjara. Di penjara itu pula Buya mendapat banyak waktu untuk melahap buku-buku yang ingin dibacanya, dan larut dalam ibadah shalat malam dan tilawah. Buya hidup seperti biasa, tanpa memendam dendam, bahkan sampai membuat anaknya, Rusydi, merasa gemas bukan kepalang ketika beliau menitikkan air mata ketika mendengar Soekarno telah wafat. Banyak orang memintanya agar tidak menshalatkan Soekarno, akan tetapi beliau pergi juga, bahkan menjadi imam shalat jenazahnya. Begitulah Buya Hamka.



Dari masa ke masa, gerakan Islam memang seringkali dipandang sebagai ancaman oleh penguasa. Alasannya adalah tauhid itu sendiri, karena ajaran tauhid menghendaki setiap manusia diberi kemerdekaan dan tidak tunduk pada siapa dan apa pun, kecuali kepada Allah. Sebaliknya, rejim penguasa yang lupa daratan biasanya ingin terus berkuasa secara absolut. Ironisnya, ketika negara dalam keadaan bahaya, misalnya ketika mengusir penjajah, sentimen keislaman itulah yang paling efektif untuk dimanfaatkan. Sebab orang Islam tak perlu diberi alasan panjang lebar untuk membela negeri tumpah darahnya sendiri. Tak perlu diceramahi, tak perlu dipaksa-paksa, bahkan tak diberi senjata pun ia akan melawan, sebab jiwanya telah dimerdekakan oleh tauhid.



Apa yang pernah terjadi pada Buya Hamka perlu menjadi renungan kita bersama. Banyak orang, baik yang sejalan atau berbeda pandangan dengan beliau, yang sangat terkejut mendengar kisah pengalaman beliau di penjara. Betapa ganjilnya tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya, dan betapa tidak pantas siksaan-siksaan yang telah (dan nyaris) dialaminya. Hamka bukan tipe provokator, bahkan beliau tak pernah punya reputasi bertemperamen tinggi sebagaimana ayahnya dulu. Semua orang mengenalnya sebagai pribadi lembut yang tidak suka membesar-besarkan masalah, lebih suka bekerja sama daripada berdebat, dan lebih suka mengalah daripada memperpanjang masalah. Sudah barang tentu semua orang pun paham bahwa tuduhan subversif kepada Hamka adalah dagelan belaka.



Bagaimanapun lembutnya Buya, hal itu terjadi juga padanya. Betapa pun lembutnya ajaran beliau, tetap saja dituduh subversif. Tentu saja ini bukan berarti bahwa kita harus meninggalkan cara-cara kelembutan dengan mengatakan bahwa cara-cara tersebut telah terbukti gagal dalam kasus BuyaHamka . Memang jalan kelembutan itulah yang dikehendaki Islam, dan gerakan Islam harus terus waspada atas fitnah yang dihembuskan orang kepadanya. Jika kepada orang tua seperti BuyaHamka pun mereka tega menyiksa dengan setruman (walaupun tidak jadi dilakukan), bisa dibayangkan hal kejam semacam apa yang bisa mereka lakukan kepada para pemuda.



Sejarah telah membuktikan bahwa seringkali penegak keadilan itulah yang membengkokkan keadilan. Kalau sudah demikian, rumit sekali masalahnya. Kini, reputasi kepolisian sudah semakin memprihatinkan. Ketika orang disuruh menghentikan kendaraannya, misalnya, banyak yang tidak lagi merasa bersalah dan pantas ditilang, melainkan hanya memaklumi bahwa polisi yang menghentikannya sedang mencari tambahan penghasilan. Benar-tidaknya pandangan ini memang kasuistik sifatnya, namun stigma negatif semacam itu memang telah melekat pada kepolisian. Tidak heran jika banyak yang curiga bahwa yang dialami oleh Buya Hamka dulu itulah yang kini sedang dialami oleh sebagian aktifis Muslim yang dituduh teroris. Aksi-aksi terorisme di Indonesia, menurut sebagian rakyat Indonesia, tidak lebih dari rekayasa intelijen. Tidak jauh beda dengan fitnah yang dialami Buya dahulu.



Di sisi lain, sebagian media massa pun telah bertindak tidak adil. Sementara peradilan belum dijalankan, label teroris telah diberikan. Sungguh menarik, betapa cepatnya media percaya pada keterangan polisi (padahal keterangan penyidik bukanlah vonis hukum) dalam kasus-kasus terorisme, sedangkan dalam kasus-kasus lain seperti skandal Bank Century, mereka cenderung berkeyakinan bahwa kepolisian telah bertindak tidak jujur.



Kita, sebagai umat Islam, harus pandai memetik hikmah dari sejarah panjang ini.



http://akmal.multiply.com/journal/item/801

Dikirim pada 25 November 2010 di Gambleh

BERJALAN kaki adalah aktivitas ringan namun penuh dengan manfaat bagi tubuh anda. Berikut adalah sembilan manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas jalan kaki, yang penting untuk anda ketahui.
1. Serangan Jantung.

Pertama-tama tentu menekan risiko serangan jantung. Kita tahu otot jantung membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner yang memberinya makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu, otot jantung membutuhkan aliran darah yang lebih deras dan lancar. Berjalan kaki tergopoh-gopoh memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung. Dengan demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga untuk bisa tetap cukup berdegup.

Bukan hanya itu. Kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih menguncup dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu.

Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih rendah, perlengketan antarsel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah penyumbat pembuluh juga akan berkurang. Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons penyerap kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh. Tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan bergerak badan. Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.

….Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko serangan jantung menjadi tinggal separuhnya….
2. Stroke.

Kendati manfaat berjalan kaki tergopoh-gopoh terhadap stroke pengaruhnya belum senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih banyak melakukan kegiatan berjalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu tidak sebanyak sekarang. Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke menurun duapertiga.
3. Berat badan stabil.

Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme tubuh ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas berjalan kaki, kelebihan kalori yang mungkin ada akan terbakar oleh meningkatnya metabolisme tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak terjadi.
4. Menurunkan berat badan.

Ya, selain berat badan dipertahankan stabil, mereka yang mulai kelebihan berat badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu secara rutin. Kelebihan gajih di bawah kulit akan dibakar bila rajin melakukan kegiatan berjalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.
5. Mencegah kencing manis.

Ya, dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam, waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (National Institute of Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases). Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa perlu minum obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula darah bisa terkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat tidak diperlukan. Itu berarti bahwa berjalan kaki tergopoh-gopoh sama manfaatnya dengan obat antidiabetes.

….dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam, waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes Tipe 2….
6. Mencegah osteoporosis.

Betul. Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukan saja otot-otot badan yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium, bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahaya matahari pagi. Tak cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah atau memperlambat proses osteoporosis. Tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis. Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium, sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan tulang.
7. Meredakan encok lutut.

Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut (osteoarthritis) . Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau memilih berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa mereda. Untuk mereka yang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan berselang-seling, tidak setiap hari. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada sendi untuk memulihkan diri.

Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok tungkai atau kaki: jangan keliru memilih sepatu olahraga. Kita tahu, dengan semakin pertambahnya usia, ruang sendi semakin sempit, lapisan rawan sendi kian menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisi sendi yang sudah seperti itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncangan yang berat oleh beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk. Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat.

Hal ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi. Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisa jadi lantaran keliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek menentukan kualitas bantalannya, selain kesesuaian anatomi kaki. Kebiasaan berjalan kaki tanpa alas kaki, bahkan di dalam rumah sekalipun, bisa memperburuk kondisi sendi-sendi tungkai dan kaki, akibat beban dan goncangan yang harus dipikul oleh sendi.

….Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut. Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau memilih berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa mereda….
8. Depresi.

Ternyata bergerak badan dengan berjalan kaki cepat juga membantu pasien dengan status depresi. Berjalan kaki tergopoh-gopoh bisa menggantikan obat antidepresan yang harus diminum rutin. Studi ihwal terbebas dari depresi dengan berjalan kaki sudah dikerjakan lebih 10 tahun.
9. Kanker

Kanker juga dapat dibatalkan muncul bila kita rajin berjalan kaki, setidaknya jenis kanker usus besar (colorectal carcinoma). Kita tahu, bergerak badan ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga buang air besar lebih tertib. Kanker usus dicetuskan pula oleh tertahannya tinja lebih lama di saluran pencernaan. Studi lain juga menyebutkan peran berjalan kaki terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara. [rps/dtk]
http://www.facebook.com/topic.php?uid=315861744011&topic=15759


Dikirim pada 19 Oktober 2010 di Gambleh

Subhanallah, itulah kata yang tepat ketika bertemu Muin. Bagaimana tidak, di usia yang sudah menginjak 160 tahun, Muin masih piawai membaca ayat suci Al quran tanpa menggunakan kacamata setiap usai menunaikan ibadah salat lima waktu. Bahkan, pria berusia uzur ini juga masih sanggup mencangkul empat jam dalam sehari.

Lelaki kelahiran Rangkasbitung, Banten, tahun 1850 ini, dikenal sebagai sosok yang suka humor. Aki Muin, biasa ia dipanggil, menuturkan bahwa hidup itu indah kalau sehat, kalau sakit jadi tidak indah, namun ada hikmah yang tetap harus disyukuri.

..."Barangkali itu yang membuat mata masih awas untuk membaca Al Quran setelah kegiatan salat wajib," ujarnya...

"Saya makan seperti "kambing" alias makan sayuran dari hasil berkebun saja, tidak pernah membeli. Dan makanan yang berasal dari makhluk hidup seperti daging atau telur saya hindari. Barangkali itu yang membuat mata masih awas untuk membaca Al Quran setelah kegiatan salat wajib," ujarnya, di Blambanganumpu, Waykanan, Lampung, Jumat (8/10/2010).
http://www.facebook.com/topic.php?uid=315861744011&topic=15756
Ia mengatakan, dalam mengolah komoditas perkebunan dan pertanian miliknya seperti kopi, terong, kacang panjang, cabai dan padi, sama sekali dia tidak menggunakan pupuk kimia.

"Saya tidak pernah menggunakan pupuk kimia, memanfaatkan yang alami saja, seperti daun atau jerami padi. Saya biasa mulai ke kebun jam 6 pagi, dan biasa mencangkul sekitar 4 jam dalam sehari, maklum sudah kolot jadi banyak lelahnya," katanya seraya memamerkan giginya yang sudah habis.

Ia juga mengaku, tahun 2008 lalu, dia bahkan masih sanggup memanjat pohon aren setinggi kurang lebih 10 meter yang dimilikinya untuk menyadap nira. "Sebelum jatuh dua tahun lalu, saya masih sanggup memanjat pohon aren, tapi sekarang tidak bisa lagi, punggung saya sudah patah, jadi bengkok seperti ini," katanya.

Terkait sejarah penjajahan Belanda dan Jepang ia mengatakan, hidup di zaman pendudukan negeri Sakura lebih sulit dibandingkan saat tentara Negeri Kincir Angin menguasai Indonesia. "Zaman Jepang pakaian itu susah, saya saja menggunakan kulit dari pohon benda sebagai penutup aurat, seperti sarung atau kebaya, namun lumayan hangat. Tapi saat zaman penjajahan Belanda lumayan mudah, harga rokok 3 sen dapat 20 batang," ujarnya.

Aki Muin ternyata pernah ikut menjadi tentara sukarela dan digaji 25 perak setiap bulan, namun setelah perang kemerdekaan ia memilih menjadi orang biasa karena ingin bebas. (LieM/trb)


Dikirim pada 19 Oktober 2010 di Gambleh

Mengapa mereka menempel di baju penguasa? Mereka memuja-muji panguasa? Tidak ada lagi nahyu munkar yang mereka tegakkan. Mereka menjadi kelompok atau golongan yang menyanyikan : “Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang”.

Mereka memasuki semua relung kehidupan. Tidak ada lagi pembatas (hijab) atas diri mereka. Tidak ada lagi kata, ‘la’ (tidak), dan yang ada hanya ‘nikmati dan boleh’. Sehingga, kehidupan mereka bercampur dengan kebathilan.

Semua dalil mereka gunakan. Tujuannya hanya untuk membenarkan apa yang hendak mereka inginkan. Kata ‘ijtihad’ menjadi resep mujarab, dan semuanya mengangguk. Tidak ada yang menyangkal. Semuanya mengamininya. Tanda setuju dengan segala ‘ijtihad’ yang mereka lakukan. Terkadang saking fanatiknya dengan ‘ijtihad’ yang disuguhkan itu, tentu yang berada dalam barisan kumpulan dan golongan itu, yang sudah tersihir dengan kehidupan dunia, tak bakal menerima pendapat dari yang lainnya.

Al-Qur’an dan As-Sunnah tak lagi menjadi ukuran dan pembeda. Barangkali Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi tak lagi penting bagi kehidupan mereka. Karena tuntutan sekarang berbeda. Harus ada rumus dan ijtihad baru yang lebih sesuai dengan kehidupan dan perkembangan zaman. Tidak harus kaku dan fanatik dengan prinsip-prinsip yang bersumber dari wahyu Ilahi. Semua prinsip dapat ditukar dan diganti, sesuai dengan perkembangan zaman. Semua prinsip dalam Al-Quran dan As-Sunah menjadi mutaghoyyirrot (dapat berubah).

Rumus baru dalam kehidupan modern sekarang, tak lain, sebuah kepentingan. Prinsip-prinsip dapat diubah dan disesuaikan dengan kepentingan. Bila nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bertabrakan dengan kepentingan yang lebih besar, harus dikalahkan nilai-nilai dan prinsip dari Al-Qur’an dan As-Sunnah itu. Tidak perlu takut. Tidak perlu kawatir. Karena yang dikejar adalah sebuah kepentingan yang lebih besar. Kekuasaan. Tidak bisa Al-Qur’an dan As-Sunnah itu dipaksakan. Apalagi dalam sebuah negara yang masyarakatnya majemuk (pluralis), maka harus ada rumus baru, khususnya dalam bermuamalah yang lebih terbuka alias inklusif. Sehingga, golongan diluar Islam dapat menerimanya.

Tidak mungkin menerapkan prinsip sabar. Sabar dalam mengamalkan isi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, terlalu lama dan panjang. Sedangkan umur ini sangatlah terbatas. Target-target dan capaian dunia harus diwujudkan. Diujung perjalanan ini harus ini harus ada, kisah tentang, ‘the success story’, yang akan menjadi ‘ther corner stone’ bagi generasi berikutnya. Kebanggaan sebagai sebuah maha karya, yang dituntaskan seumurnya.

Karena itu, langkah-langkah ekselarasi yang harus dilakukan, betapa itu terasa menjadi naif dan tidak logis. Semuanya harus berjalan, sesuai dengan skenario. Tidak penting banyak yang tidak setuju. Tetapi semuanya harus berjalan, dan yang penting segala target dan keinginan dapat terwujud. Inilah sebuah kenikmatan yang tanpa batas, saat mereka menikmati pujian dan sanjungan yang tak henti-henti dari para pengikutnya dan orang-orang yang terdekatnya.

Kilauan harta, kekuasaan, jabatan, kekuatan, wibawa, dan sanjungan, serta tabiat mereka yang ingin selalu dekat dengan penguasa itu, ternyata sudah menjadi karakter di awalnya.

Itulah mengapa Islam hari ini tidak memiliki izzah (kemuliaan) dihadapan manusia dan Allah Azza Wa Jalla. Karena para du’atnya diantaranya banyak yang tidak lagi komitment terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya. Mereka menjadi hamba-hamba dunia. Mereka menuhankan dan beribadah kepada yang memberi materi, jabatan, kekuasaan, dan bahkan ada diantara mereka yang menukar Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan harga yang murah. Mereka lupa dan melupakan atas arahan dan perintah-Nya.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”, kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah ada pula yang tetap dalam kesesatan”. (QS : An-Nahl : 36)

Karakter seorang du’at, yang digambarkan oleh Al-Qur’an, hanyalah mengajak manusia untuk semata-mata menyembah kepada Allah, dan menjauhkan segala hal yang melampui batas dan dilarang oleh Allah (thogut), dan ini harus menjadi misi kehidupannya.

Tetapi, kenyataannya hari ini, sangatlah berbeda dengan seperti yang diinginkan oleh Allah Ta’ala, yang hakekatnya, ketika mengutus para Rasul, tak lain hanyalah untuk mengajak menyembah kepada Allah Azza Wa Jalla semata, bukan menyekutukan Allah dengan melakukan sesembahan terhadap ‘ilah-ilah’ lainnya. Pembalikan yang sekarang terjadi tak lain, karena mereka sudah kehilangan sikap tsabat (teguh), dan shabar terhadap keyakinan yang mereka miliki.

Shahabat Ali bin Abi Thalib RA, menyatakan sikap shabar itu, seperti pedang yang tidak pernah tumpul, dan seperti cahaya yang tidak pernah redup.

Dengan hilangnya sikap shabar para du’at yang hanya mengejar kehidupan dunia itu, maka mereka menjadi tumpul hati nuraninya, dan wajah mereka tidak lagi memancarkan cahaya iman, karena sudah terbalut dengan hitam pekatnya dunia.

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

".. Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam pertempuran. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa". (QS : Al-Baqarah : 177)

Allah Azza Wa Jalla menuntut para duat untuk tetap bershabar dan membela dan menegakkan agama Allah, dan tidak kemudian menanggalkan keyakinan dan komitmentnya terhadap Al-Quran dan As-Sunnah, dan lari dari komitmentnya terhadap Islam, hanya demi kenikmatan dunia. Wallahu’alam.




Dikirim pada 19 Oktober 2010 di Gambleh


Oleh: Mochamad Bugi



Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah.



Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini.



Tanda-tanda tersebut adalah:



1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan. Ketahuilah, Rasululllah saw. pernah berkata, "Setiap umatku mendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan,sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, Hai fulan, tadimalam aku telah berbuat begini dan begini, padahal sebelum itu Rabb-nyatelah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya." (Bukhari, 10/486)



Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang di saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman." (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor86)



2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampaimenyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan



menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk ke dalam ayat ini, "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (Al-Baqarah:74)



3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Quran. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja.Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, "Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main." (Tirmidzi, hadits nomor 3479)4. Ketika Anda terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jumat dan lebih suka barisan shalat yangpaling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda,"Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka."(Abu Daud, hadits nomor 679)



Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orangmunafik. "Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas."Jadi, hati-hatilah jika Anda merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan.



5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Sukamemperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah



saw. berkata, "Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati."(As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)



6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Quran. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membacaAl-Quran. Jangan sampai Anda membuka mushhaf, tapi di saat yang samamelalaikan isinya. Ketahuilah, Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya),dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (Al-Anfal:2)



7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula Andamenangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, "Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali." (An-Nisa:142)



8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali.Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, "Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliaumengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang



yang menyaksikannya." (Abu Daud, hadits nomor 4345). Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup,maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman." (Bukhari,hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)



9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget! Allah berfirman, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Luqman:18)



Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, "Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya." (Bukhari, haditsnomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321) Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, "Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir." (Bukhari, nomor 6729) "Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hari kiamat, kecuali orang yang adil." (Shahihul Jami, 1420). Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabdaRasulullah saw. yang berbunyi, "Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan Laa ilaahaillallah, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yangmengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan." (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50) "Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?" tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, "Ya." Rasulullah saw. bersabda, "Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong." (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092)



10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw.ini, "Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya." (Shahihul Jami, 2678)



11. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda perbuat. Ingat, Allahswt. benci dengan perbuatan seperti itu. "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat." (Ash-Shaff:2-3)Apakah Anda lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten.



12. Ketika Anda merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Anda merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari Anda dalam beberapa hal. Ingatlah! Kata Rasulullah saw, "Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, iamenghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain." (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352) Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., "Orang Islam yang manakah yang paling baik?" Rasulullah saw. menjawab, "Orang yang muslimin lain



selamat dari lisan dan tangannya." (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim,hadits nomor 57)



13. Ketika Anda menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, Anda akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, "Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya." (Muslim, hadits nomor 1599) Iman Anda pasti dalam keadaan lemah, jika Anda mengatakan, "Gak apa. Inikan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!" Jika sudah seperti ini, suatu ketika Anda pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.



14. Ketika Anda mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., "Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air diembermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya." (Silsilah Shahihah, nomor 1352) Ingatlah, surga bisa Anda dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan darij alan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, danbarangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga." (Bukhari, hadits nomor 593)



15. Ketika Anda tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin



seperti hadits Rasulullah ini, "Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala." (Silsilah Shahihah, nomor 1137)



16. Ketika Anda memutuskan tali persaudaraan dengan saudara Anda. "Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karean Allah Azza waJalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya," begitu sabdaRasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)



17. Ketika Anda tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama.Padahal, Allah swt. berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah." (Ash-Shaff:14)18. Ketika Anda merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu Anda tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Anda kalut. Tubuh Anda gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman Anda sedang diuji Allah. "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji." (Al-Ankabut:2)Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil."Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itumenjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya." (Muslim)



19. Ketika Anda senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal,



perbuatan itu bisa membuat hati Anda keras dan kaku. "Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan."(Shahihul Jami, nomor 5633)



20. Ketika Anda bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi Anda tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, "Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir." (Muslim)



21. Ketika Anda senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan Anda. Bukankah Allah swt. telah berfirman, "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik(benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."(Al-Israa:53)Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya dan mereka berkata: Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil." (Al-Qashash:55) Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam." (Bukhari dan Muslim)



22. Ketika Anda berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling Anda sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup. Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Al-Araf:31). Bahkan, Allah swt.menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karenaitu Allah memerintahkan kita untuk, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan(hartamu) secara boros." (Al-Isra:26) Rasulullah saw. bersabda, "Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah." (Al-SilsilahAl-Shahihah, nomor 353).

http://www.facebook.com/note.php?saved&¬e_id=453399680016

Dikirim pada 13 Oktober 2010 di Gambleh

Guru Tabunganku



Beberapa rekan maupun seseorang yang pernah bercerita kepada saya, tentang bagaimana susahnya untuk menabung dengan penghasilan yang “mepet” setiap bulannya. Saya juga membenarkan persepsi tersebut. Karena apa yang bisa ditabung, jika untuk kebutuhan sehari-hari saja, hampir-hampir tidak cukup.



Tapi…..



Alhamdulillah, persepsi itu sedikit tertepiskan dalam wadah pembenaranku selama ini, tentang bagaimana konsep menabung yang kita pahami. Menabung biasanya kita lakukan, bila setelah semua kebutuhan dikeluarkan, jika ada sisa maka baru ditabung.





Saya menemukan seseorang yang akhirnya saya nisbatkan menjadi “guru menabungku”. Dia memberikan pencerahan tentang bagaimana seharusnya kita bisa cerdik melakukan terobosan, agar tabungan setiap bulannya bertambah gemuk.



Siapa guru tabunganku?



Dia seorang pria, dulunya dia merupakan salah satu rekan kerja. Statusnya termasuk karyawan umum, bantu-bantu pekerjaan di kantor. Gajinya menurut saya, hanya cukup untuk satu bulan. Tapi dia mampu menabung secara rutin dengan jumlah rupiah yang tetap, yang menurut saya luarbiasa mengagumkan untuk standard gaji yang diterimanya.



Mampu menabung saja sudah membuat saya terpana, apalagi dia ternyata mampu berinvestasi dengan membuat rumah barakan. Karena penasaran, saya pun “menyenggolnya” untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya dalam mengelola keuangan keluarganya.



Kiatnya ternyata mudah, bila memang kita mau menabung. Karena prinsip yang dipakainya sangat sederhana. Dan Insya Allah mudah dipraktekkan. Tentu saja harus dilakukan dengan istiqomah. Karena bagaimanapun sebuah kiat, yang menurut kita sangat mudah, tapi bila kita tidak berteguh hati, tentu tak ada gunanya.



“Setiap menerima gaji diawal bulan, maka saya akan menyisihkan sekian persen untuk ditabung.” kata guruku tersebut.



“Bagaimana bisa? Gajimu sangat mepet. Kamu punya satu anak dan isteri. Mana saat itu kamu kan masih ngontrak rumah?” Saya tak langsung percaya apa yang disampaikannya.



“Begini, saya harus menabung dengan jumlah tetap setiap bulannya. Dan sisa uang yang ada ditangan, saya paksakan agar cukup setiap bulannya.”



Ternyata untuk belanja kebutuhan dapur, dia menggunakan anggaran yang sangat ditekan. Maksud saya, biasanya diawal bulan, saat kita baru menerima gaji, maka kita akan sedikit membenarkan diri untuk membeli makanan atau barang-barang yang sebenarnya tidak begitu diperlukan. Dalam artian pemborosan keci-kecilan.



Guruku itu, diawal bulan, menunya sangat sederhana. Yang penting ada nasi, lauknya kadang ikan kering. Tak ada istilah membeli makanan luar. Dia istiqomah melakukannya hingga mendekati akhir bulan.



Jika saat akhir bulan, ternyata uang yang tersedia masih “banyak”, maka barulah saatnya mereka “berpesta”. Akhir bulan, barulah mereka makan dengan menu yang lumayan enak. Kadang mereka baru memasak ayam,daging atau apapun yang mereka inginkan.



Itu mereka jalani beberapa tahun lamanya. Hingga cukup tabungan untuk membangun rumahnya. Menabung diawal bulan tetap mereka jalankan hingga akhirnya, perabotan di rumah mereka lengkap. Punya kendaraan roda dua dan sebagainya. Hal yang tak pernah dibayangkan sesama rekan kerjanya, begitu pula saya!



Guruku pandai membaca peluang.



Saat Kota Sengata masih dicanangkan menjadi ibukota Kabupaten Kutai Timur, dia pun membeli sebidang tanah dengan cara diangsur. Hingga beberapa tahun tanah tersebut dapat dimiliknya secara penuh.



Dia melihat kota Sengata saat itu pasti akan memerlukan banyak rumah. Karena sebagai ibukota kabupaten, tentu pegawai negeri yang dibutuhkan sekitaran seribu orang. Belum lagi penambahan perluasan tambang PT Kaltim Prima Coal.



Akhirnya dia dapat membangun lebih dari 5 rumah barakan, dengan mengambil kredit bank. Dia berasumsi, bahwa untuk angsuran setiap bulannya, para penyewa barakanlah yang akan membayarkan untuknya. Karena memang dia menyewakan dengan system bulanan.



Hingga saat ini, dia telah punya beberapa tanah pertanian dan perkebunan di kampungnya. Dia telah menjadi orang yang berada, dan dapat membantu orangtua serta saudaranya dikampung. Karena hasil-hasil investasinya di kampungnya disisihkan sebagian, untuk diberikan kepada orang-orang yang dicintainya.



Bagaimana guruku saat ini?



Dia tetap dengan motor roda duanya, dan tetap kelihatan bersahaja. Padahal saya yakin, bahwa dia akan punya roda empat untuk kesehariannya. Rumahnya pun tetap yang dulu, saat dia masih merintis dari nol. Yah, dia memang tetap bersahaja dan santun kepada siapapun.



Guru tabunganku itu memang istimewa, karena mampu istiqomah untuk menanbung diawal bulan, demi menggapai cita-citanya, agar tidak menjadi orang miskin selamanya. Dan bahkan mampu mengangkat martabat keluarganya. Bahkan saat ini, saya tidak melihat sedikitpun rasa angkuh atau sesuatu yang lain pada dirinya. Bila bertemu dirinya, senyumnya tetap mengembang sangat ramah. Dan tentu saja, sikap santunya dalam bersikap maupun berbicara tak pupus karena kekayaannya.



Wahai guru tabunganku, terimakasih saya ucapkan atas ilmu yang kau berikan.



( Walau saya tak mampu melakukan 100% seperti yang dia jalani, paling tidak dia mampu memberikan inspirasi kepadaku, membuatku untuk lebih berhati-hati dalam pengelolaan keuangan keluarga kami. )



halimah taslima



http://www.facebook.com/notes/akh-mujitrisno/guru-menabungku/452672135016

Dikirim pada 11 Oktober 2010 di Gambleh


Dikisahkan, pada suatu malam Abu Qolabah bermimpi berada disuatu pemakaman . Tiba-tiba ia menyaksikan kuburan-kuburan yang ada disitu terbelah. Mayat- mayat keluar dari kuburnya dan duduk-duduk di tepi kuburan itu. Ditangan mereka seolah- olah ada yang memegang nampan yang terbuat dari cahaya yang kemilau.



Sementara sebagian mereka terlihat dengan tangan hampa, tanpa cahaya sedikitpun. Maka Abu Qolabah bertanya kepada mereka : “Aku lihat diantara kedua tangan Anda terdapat cahaya pertanda apakah itu? “ Mayat-mayat serempak menjawab :”Sesungguhnya kami mempunyai beberapa anak dan teman yang saling menghadiahkan kepada kami. Mereka bersedekah dan berderma didunia dan diniatkan pahalanya untuk kami. Dan Nur inilah buah dari apa yang mereka persembahkan untuk kami.”



Sementara mayat- mayat yang bertangan hampa , tanpa sinar memancar menjawab,: “Kami mempunyai anak yang tidak shaleh dan tidak mau mendoakan serta tidak berbuat baik bagi kami. Oleh karena itu kami tidak memiliki nampan bercahaya. Dan kami sangat malu terhadap tetangga- tetangga kami ini.”



Ketika Abu Qolabah terbangun kemudian Abu Qolabah segera menuju rumah si anak yang disebut oleh laki-laki dalam mimpinya itu. Dan menceritakan semua kejadian yang dialaminya dalam mimpi, khususnya pertemuan dengan ayah anak itu yang sangat mengharapkan doa dan sedekah ( yang diperuntukkan untuk si ayah) dari anaknya itu.



Lalu lelaki itu berkata :” Saya bertobat kepada Allah dari segala kemaksiatan dan dosa yang pernah saya lakukan. Saya tidak akan kembali kejalan itu lagi selamanya.” Semenjak itu , ia menyibukkan dirinya hanya untuk taat kepada Allah SWT, berdoa dan bersedekah yang ditujukan kepada orang tuanya yang telah tiada… Kini dia benar-benar telah menjadi anak yang shaleh. Dia membalas kebaikan orang tuanya dan berbakti kepada keduanya yang telah meninggal dengan cara mendoakan dan bersedekah untuknya.



Setelah beberapa hari berlalu , Abu Qolabah kembali bermimpi berada disekitar kuburan yang dulu lagi. Semua penghuni kubur keluar dengan keadaan seperti yang dilihatnya pada mimpi sebelumnya. Laki-laki yang dulu terlihat murung, kini sudah tak murung lagi. Wajahnya tampak berseri-seri. Laki-laki itu telah memiliki nampan yang bercahaya pula. Bahkan nampan miliknya lebih bersinar daripada yang lain.



Laki-laki itu berkata kepada Abu Qolabah, "Abu Qolabah, semoga Allah membalas kebaikanmu. Karena nasihatmu, anakku selamat dari api neraka dan juga aku terhindar dari rasa malu berkumpul dengan orang-orang disini".



*** Rasulullah SAW bersabda: Apabila anak Adam menninggal dunia maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: Shodaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak yang shaleh yang mendoakan orang tuanya (Al-Hadits)



Sudah sejauhmanakah kita MENGHADIAHKAN CAHAYA buat orang tua kita ?



http://www.facebook.com/notes/akh-mujitrisno/hadiahkan-cahaya-buat-orang-tua-kita/452677360016

Dikirim pada 11 Oktober 2010 di Gambleh

Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, "Pada suatu ketika, kami sedang berada di dekat Rasulullah SAW Tak lama kemudian beliau tertawa dan selanjutnya bertanya, Hai para sahabat, tahukah kalian,mengapa aku tadi tertawa?



Para sahabat menjawab, "Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui."



Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Sebenarnya aku tadi tertawa karena mendengar dialog seorang hamba dengan Tuhannya. Hamba itu berkata, Ya Tuhanku, bukankah Engkau menghindarkan hamba-Mu ini dari perbuatan yang zhalim?



Allah menjawab, "Ya benar."



Hamba tersebut berkata lagi, "Ya Allah, hamba tidak akan pernah merasa bersalah, kecuali ada saksi dari diri hamba sendiri."



Allah menjawab, "Baiklah. Sekarang cukuplah dirimu sendiri dan para malaikat pencatat amalmu yang akan menjadi saksi."



Kata Rasulullah SAW, "Lalu mulut hamba tersebut dikunci dan Allah berkata kepada anggota tubuhnya, Bicaralah! Kemudian anggota tubuhnya itu menuturkan semua amai perbuatannya. Setelah itu, mulut hamba tersebut diberi kesempatan lagi untuk berbicara dan ia pun berkata kepada anggota tubuhnya, Celaka kamu ini! Percuma saja aku dulu membelamu di sana." {Muslim 8/217}

Dikirim pada 31 Agustus 2010 di Gambleh


Terdapat satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor, dia berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku ...." "Pergilah ...Kau membawa ayahmu kesini", perintah beliau.



Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata: "Ya, Muhammad, Allah Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya.



Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: "Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?" Lelaki tua itu menjawab: "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?" Rasulullah bersabda lagi: Lupakanlah hal itu.



Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!" Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: "Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya ..."



Nabi mendesak: "Katakanlah, aku ingin mendengarnya." Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: "Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini:



Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda.Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas.Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita.Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras.Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang.Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan.Sayang..., kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu.Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu ..., seakanakan kesejukann bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.



Selanjutnya Jabir berkata: "Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: "Engkau dan hartamu milik ayahmu!" (HR. At-Thabarani dalam "As-Saghir" dan Al-Ausath).Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, "Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu." (Asy-Syafii dan Abu Dawud)

Dikirim pada 31 Agustus 2010 di Gambleh


Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.



Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin.





Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya, “Bagaimana perjalanan tadi?” “Sungguh luar biasa, Pa.” “Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?” tanya sang ayah. “Iya, Pa,” jawabnya. “Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?” tanya ayahnya lagi.





Si anak menjawab, “Saya melihat kenyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki 5 ekor kambing .



Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya.



Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.





Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison.



Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang.



Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri.



Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri.



Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.”





Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan, “Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita.”.





Sahabat, Kaya adalah ketika kita ringan berbagi, Kaya itu tidak pernah mengeluhkan apa yang telah terjadi dan yang sedang terjadi, Kaya adalah mensyukuri dan menikmati segala bentuk pemberian, Kaya adalah kita mampu merasakan kebahagiaan ketika saudara atau tetangga kita sedang berbahagia, Kaya adalah kemampuan meringankan penderitaan orang lain. Kaya bukan menunggu datangnya banyak harta. Dan Kaya yang sesungguhnya adalah ketika kita amat sangat dekat dengan SANG MAHA KAYA, Allah SWT.



http://www.rumah-yatim-indonesia.org/

Dikirim pada 31 Agustus 2010 di Gambleh

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.



Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna hidup(to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.



Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang keuangan dan marketing pernah berujar, “Banyak orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis.” Marilah kita menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?



Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.



Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual.Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. “Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya…,” katanya.Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.



Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.



Memaknai hidupIa memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan “Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini sekarang ?”



Seorang Mahatma Gandhi sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India.



Muhammad SAW teladan terbaik adalah pebisnis sukses bersama istrinya Khadijah, namun dibalik kesuksesannya itu tersimpan kegalauan yang amat sangat ketika melihat ummat disekitarnya tersesat dan salah memilih Tuhan, maka dikorbankanlah seluruh hasil bisnisnya untuk bekal Mencari Tuhan Yang Hilang di Gua Hira.Dari Gua Hira inilah kemudian Muhammad SAW menemukan Sang Khaliq Allah SWT untuk dirinya dan ummatnya yang kemudian menjadi Pribadi dan Ummat yang memiliki identitas mencerahkan seluruh Ummat sampai akhir zaman



Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan hanya dengan mampu bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi !







"Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (At-Taubah : 105 )



http://www.rumah-yatim-indonesia.org/

Dikirim pada 31 Agustus 2010 di Gambleh

Sudah seminggu ini Doni (4) batuk terus. Belakangan, nafasnya berubah menjadi cepat dan sesak. Setelah dibawa ke dokter, ternyata Doni terkena radang paru atau pneumonia. Sebenarnya, apa, sih, pneumonia itu?

Di dalam paru-paru, terang dr. Darmawan BS, Sp.A dari Bagian Pulmonologi FKUI-RSCM ini, terdapat lobus atau belahan. Di sebelah kanan terdapat 3 lobus, sedangkan di sebelah kiri 2 belahan. Bila radang tersebut mengenai salah satu lobus, maka disebut pneumonia lobaris . Bila kena di saluran nafas yang kecil-kecil disebut broncholitis .

Kalau secara umum terkena saluran nafasnya saja, maka disebut broncho pneumonia atau pneumonia. Pneumonia ini merupakan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) bagian bawah. Jangan salah, lo, ISPA itu send

Yang dimaksud dengan ISPA itu sendiri, bisa radang hidung (misalnya pilek), radang tenggorok, radang tonsil (amandel), sampai paru-paru. "Justru, yang perlu dibedakan adalah, apakah ISPA ini sudah sampai ke pneumonia atau hanya ISPA bagian atas saja. Kalau hanya ISPA bagian atas, seperti batuk, pilek, flu, amandel, biasanya tidak terlalu berbahaya. Umumnya ISPA bagian atas ini tidak disertai dengan nafas cepat dan sesak. Sedangkan, ISPA bagian bawah atau pneumonia , termasuk penyakit berat," tutur Darmawan.

Penyebab dari pneumonia itu sendiri banyak ragamnya. Bisa karena virus, bakteri, atau karena kemasukan cairan/pneumonia aspirasi.

Waspadai gejalanya

Yang jelas, pneumonia ini dapat menyebabkan pada kematian. Karena itu, sebaiknya para orang tua mengenali gejalanya. Dua gejala khas yang gampang terlihat dari penderita pneumonia yaitu adanya nafas cepat dan sesak. Namun ingat, nafas cepat pada setiap tingkatan umur pun tidak sama, lo. Jadi, tergantung dari usianya.

Bayi di bawah usia 2 bulan baru dikatakan bernafas cepat jika nafasnya lebih dari 60 kali/menit. Jika nafas bayi Anda sudah secepat demikian, maka sebaiknya diwaspadai. Karena ada kemungkinan bayi Anda terkena ISPA bawah atau pneumonia tadi. Sedangkan bayi di atas usia 2 bulan sampai 1 tahun disebut bernafas cepat jika nafasnya lebih dari 50 kali/menit. Sementara pada anak 1 sampai 5 tahun jika lebih dari 40 kali/menit.

pneumonia ini dapat menyebabkan pada kematian. Karena itu, sebaiknya para orang tua mengenali gejalanya. Dua gejala khas yang gampang terlihat dari penderita pneumonia yaitu adanya nafas cepat dan sesak

Untuk mengetahui apakah bayi Anda sesak nafas bisa dilihat dari tarikan dinding dada ke dalam (chest indrawing) . "Normalnya, saat bernafas dada enggak sampai cekung. Tetapi pada keadaan sesak pneumonia , karena usaha nafas yang ekstra, dinding dada tertarik sehingga cekung ke dalam. Makin berat ia bernafas, makin dalam tarikannya."

Nah, jika gejala ini tampak, perlu diwaspadai. Pada pneumonia yang sudah berat, anak pun biasanya tidak bisa minum saking sesaknya. Mukanya juga kebiruan, pucat, serta tangan dan kaki dingin. Gejala awal dari pneumonia sendiri adalah batuk. Padahal, apa pun yang mengganggu saluran nafas, dari atas sampai bawah, bisa merangsang batuk.

Sementara batuk ini merupakan gejala awal semua infeksi saluran nafas, baik akut maupun yang kronis. "Batuk sendiri sebenarnya merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan sumber gangguan, misalnya lendir, benda yang terhirup, infeksi di saluran nafas, dan sebagainya.

Namun jika batuk tersebut tanpa disertai nafas cepat dan sesak berarti bukan merupakan gejala pneumonia , melainkan hanya merupakan ISPA bagian atas saja.

Nah, jika batuk tersebut hanya disertai nafas cepat, maka dikategorikan pneumonia ringan. Tapi bila batuknya disertai nafas cepat dan sesak, baru dikatakan pneumonia berat. Lamanya batuk yang diderita si anak juga perlu diwaspadai.

Jika batuknya berlangsung hingga 2 minggu, harus diperhatikan karena kemungkinan merupakan gejala ISPA. Sedangkan jika lebih dari 2 minggu dianggap sebagai infeksi saluran pernafasan kronik

"Jika batuknya berlangsung hingga 2 minggu, harus diperhatikan karena kemungkinan merupakan gejala ISPA. Sedangkan jika lebih dari 2 minggu dianggap sebagai infeksi saluran pernafasan kronik," ujar Darmawan. Lebih jelasnya, batuk akut mengarah ke ISPA atas dan pneumonia , sedangkan batuk kronik mengarah ke TBC atau asma. "Jadi, kalau batuknya enggak sembuh-sembuh sampai lebih dari 2 minggu, kemungkinan merupakan gejala TBC atau asma."

Pengobatan

Walaupun termasuk penyakit berat, para orang tua tak perlu terlalu khawatir. Pneumonia adalah penyakit yang bisa diobati. Jadi, kalau dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien akan bisa tertolong. Yang diperlukan hanyalah dapat mendeteksi secara cepat.

"Kalau memang kemungkinan pneumonia berat, maka sebaiknya segera dirawat di rumah sakit supaya segera dapat ditangani. Jangan dibiarkan berlarut-larut sampai berat, karena bisa enggak tertolong," katanya. Biasanya yang menjadi penyebab pneumonia berat adalah karena bakteri. Nah, jika penyebabnya karena bakteri, maka penderita biasanya akan diberi obat antibiotik.

Jika pengobatan dilakukan secara dini dan tepat, sebagian besar pneumonia akan sembuh sempurna tanpa gejala sisa. Walaupun demikian, pneumonia ini bisa muncul lagi. Bisa karena kuman yang sama atau kuman yang lain. Lebih lanjut Darmawan menuturkan bahwa pencegahan khusus untuk pneumonia sampai kini memang belum ada atau belum ada imunisasinya. "Memang ada imunisasi radang paru, tetapi sampai saat ini belum diakui betul.

Kalau ada anggota keluarga yang sedang terserang pilek, hindari jangan sampai terjadi kontak. Selain itu, lingkungan buruk, seperti rumah tanpa ventilasi atau dalam satu rumah terlalu padat penghuninya juga akan memperbesar risiko terkena pneumonia.

Penelitian masih terus dilakukan," ujar Darmawan. Jadi, yang perlu dilakukan sekarang adalah pencegahan secara umum. Seperti peningkatan daya tahan tubuh. "Selain itu, kalau ada anggota keluarga yang sedang terserang pilek, hindari jangan sampai terjadi kontak," lanjut Darmawan. Anak dengan gizi buruk juga akan gampang terkena pneumonia . "Selain itu, lingkungan buruk, seperti rumah tanpa ventilasi atau dalam satu rumah terlalu padat penghuninya juga akan memperbesar risiko terkena pneumonia." (rps/kompas)


Dikirim pada 25 Agustus 2010 di Gambleh

Mulai usia 4 sampai 7 tahun, anak tengah memasuki masa intuitif. Di masa ini, imajinasinya berkembang pesat, sehingga ia masih rancu membedakan antara realitas dan fantasi. Baginya, sinterklas atau superman , misalnya, adalah tokoh realitas. Atau, kala ia menjumpai kaki boneka lepas, misalnya, lantas digunakannya sebagai ulekan.

Bukankah paha itu modelnya seperti ulekan? Jadi, pikirnya, "Oh, ini bisa buat ulekan, nih." Namun tidak demikian halnya sebelum anak berusia 4 tahun, "ia hanya mengenal benda sebagai objek, belum bisa dikembangkan sesuai imajinasinya," kata dra. Gerda K. Wanei, M.Psi dari FKIP Unika Atma Jaya, Jakarta.

Karena imajinasinya berkembang inilah, maka apa yang dituturkan anak kadang terasa ngawur dan kurang masuk akal bagi orang dewasa, sehingga kerap disalahartikan sebagai bentuk kebohongan. Padahal, terang Gerda, "anak seusia itu belum mengenal bohong dalam arti sesungguhnya. Bohongnya masih berupa bohong fantasi. Ia mengatakan yang tidak sebenarnya hanya untuk mengisi ketidaksinkronan antara realitas dengan fantasinya." Misalnya, si kecil pulang "sekolah" terlambat gara-gara mobilnya macet di jalan karena ada kecelakaan.

Meski ia tak melihat kecelakaan itu, tapi setiba di rumah, ia bisa menceritakannya, "Tadi ada kecelakaan, lo, Ma. Orangnya berdarah-darah, terus mobil ambulans datang, orangnya dibawa ke rumah sakit." Jadi, belum sampai pada bohong yang betul-betul bohong sebagaimana yang dilakukan anak usia di atas 7 tahun ataupun orang dewasa. Sehingga, kalau orang tua mengarahkannya secara benar, si kecil akan "mengaku" dengan jujur, kok.

TIGA PENYEBAB

Menurut drs. Monty. P. Setiadarma, MS/AT,MCP/MFCC dalam kesempatan terpisah, ada 3 penyebab anak melakukan kebohongan fantasi. Pertama, sebagai bentuk kompensasi. Misalnya, anak bercerita bahwa dirinya baru saja berkelahi dengan raksasa. "Heroisme ini merupakan bentuk kompensasinya. Ia tahu dirinya masih kecil dan lemah di tengah dunia yang begitu besar, sehingga ia mengkompensir dengan kehebatannya yang bisa setara dengan orang dewasa," jelas psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.

Penyebab kedua ialah menunjukkan ekspresi superior. Misal, sepulangnya berkunjung dari kebun binatang, si kecil dengan menggebu-gebu bercerita pada teman-temannya bahwa ia bertemu dinosaurus. "Hal ini menunjukkan superior terhadap teman-temannya, bahwa kamu belum pernah melihat dinosaurus tapi aku sudah pernah melihatnya." Si kecil ingin menunjukkan identitas dirinya dan ingin selalu diperhatikan oleh lingkungannya atau lawan bicaranya. "Ia mempunyai kesan-kesan tertentu yang bisa dieksploitasikan. Dengan bercerita demikian, maka ia akan dikerubuti oleh teman-temannya."

Yang terakhir, sebagai ungkapan keinginan. Misalnya, si Upik bercerita pada ibunya bahwa ia baru saja bertemu dengan anak kucing yang sedang mencari ibunya. "Nah, bisa jadi hal itu sebenarnya merupakan ungkapan dirinya. Mungkin ia merasa terasing dan membutuhkan perlindungan dari orang tuanya." Oleh sebab itu, orang tua seharusnya peka, jangan malah bilang, "Ah, kamu bisa saja. Masa kucing bilang begitu? Kucing, kan, nggak bisa ngomong ."

Sementara soal serunya cerita yang dituturkan anak, lanjut Monty, tak bisa dilepaskan dari bacaan atau dongengan yang ia dengar maupun film-film yang ditontonnya. Bukankah anak pada usia ini sedang senang-senangnya pada dongeng/cerita, sandiwara boneka, menggambar dan lainnya yang bisa mengembangkan fantasinya?

Nah, tokoh-tokoh yang ada dalam bacaan/dongeng/film itu kerap menjadi layar proyeksi dunia anak. "Anak memproyeksikan dirinya dengan tokoh binatang, misalnya, karena ia belum bisa bicara mengenai dirinya sendiri. Ia belum bisa ngomong apa yang ia mau. Ia akan bilang, kalau anak sapi itu maunya begini, anak buaya itu maunya demikian. Padahal sebenarnya ia bicara tentang dirinya, aku, tuh, maunya begini."

Selain itu, bisa saja setelah melihat objek tertentu atau mendengar suara tertentu, ia berimajinasi tentang objek tersebut. Misalnya, mendengar suara ban meletus, anak akan berfantasi seakan-akan ada bom meledak. "Penghayatan perasaannyalah yang membuat ia berfantasi."

BERI PENGARAHAN

Namun, apapun penyebabnya dan bagaimanapun "heboh"nya cerita anak, Gerda meminta orang tua agar jangan buru-buru mencapnya sebagai pembohong ataupun pembual. Sebab, sikap orang tua yang demikian sama saja dengan mematikan kreativitas anak. Akibatnya, anak akan mengalami CD (creativity drop) . "Ia juga akan merasa mendapat stigma atau label sebagai pembohong atau pembual, sehingga akhirnya ia tak mau lagi berfantasi." Kalau sudah begitu, ia pun tak bisa mengekspresikan diri sesuai apa yang dihayatinya. Ini juga berdampak terhadap kreativitasnya kelak.

Usia 4-7 tahun, lanjut Gerda, sebenarnya merupakan peluang emas sekaligus bisa jadi bumerang. "Kalau salah mengarahkan, apalagi selalu memotong imajinasi anak dengan mengatakan ia pembohong, maka ia tak mau mengembangkan kreativitasnya dan jadi pasif." Padahal, di usia ini justru peluang emas untuk mengembangkan kreativitas anak, sehingga perkembangan otaknya juga bisa pesat. Bukankah otak kanan dan kiri harus dikembangkan secara selaras? Lagipula, bila anak tak punya fantasi sama sekali, ia akan berkembang menjadi orang yang sangat realistik, sehingga tak ada romantisme dalam hidupnya.

"Kedalaman emosinya jadi kurang baik. Dia tak bisa menjalin hubungan yang hangat dengan teman-temannya." Jadi, tandas Gerda, yang seharusnya dilakukan orang tua ialah mengarahkan imajinasi/fantasi anak. "Lakukan pengecekan pada anak seperti apa kejadian sebenarnya, lalu tunjukkan realitasnya." Misalnya, "Tadi Kakak turun dari mobil, ya, untuk melihat kecelakaan itu?" Si anak tentu akan menjawab, "Enggak, kok, Ma." Lalu tanyakan lagi, "Kok, Kakak bisa tahu kalau orangnya berdarah-darah?" Ia pun akan menjawab, "Bukankah kalau ada kecelakaan pasti orangnya berdarah-darah, pasti ada ambulans datang?"

Nah, pada saat itulah tunjukkan realitasnya bahwa orang yang mengalami kecelakaan itu belum tentu akan berdarah-darah. Dengan demikian, orang tua mengajarkan secara objektif, sehingga anak bisa menghubungan antara fantasinya dengan kenyataan. Alangkah baiknya lagi bila fantasi anak disalurkan kepada hal-hal yang produktif, tambah Monty. Misalnya, anak bercerita melihat dinosaurus, mintalah ia menggambarkan bagaimana wujud dinosaurus tersebut.

"Bukankah ini lebih produktif? Koordinasi motoriknya jalan, daya kreatifnya juga jalan. Jadi, perimbangan otak kanannya juga dilatih." Dengan demikian, orang tua tetap memberikan peluang anak berfantasi, tapi fantasinya sesuai dengan realitasnya. Pengarahan juga harus segera dilakukan jika fantasi anak sudah ngawur dan negatif. Misalnya, anak bercerita bahwa di "sekolah"nya tadi ada tank besar dan ibu guru terlindas tank. "Jangan-jangan itu adalah ekspresi ketidaksenangannya pada ibu guru. Mungkin memang ada tank di sekolahnya. Tapi, kan, pasti ibu guru enggak kelindas tank. Bisa jadi ia habis dimarahi gurunya saat dekat-dekat dengan tank tersebut. Nah, ekspresi kebencian pada gurunya inilah yang memunculkan ungkapkan ibu gurunya kelindas tank," tutur Monty.

MENJADI PEMBUAL

Dampak buruk juga terjadi bila bohong fantasi dibiarkan berkembang tanpa ada pengarahan sama sekali atau pengarahannya sangat minim. "Kelak anak akan jadi pembual atau pembohong," ujar Gerda. Umumnya, membual ataupun berbohong dalam arti sesungguhnya, terjadi sesudah masa fantasi berlalu, yaitu setelah usia 7 tahun. Karena di usia tersebut, anak sudah bisa memahami realitasnya.

Jadi, kalau di atas usia 7 tahun anak masih saja bicara yang tak sesuai dengan realitas, maka bisa dikatakan sebagai hidden something atau menyembunyikan dari sesuatu, entah lantaran takut atau karena ingin menutupi diri. Namun begitu, adakalanya perilaku ini terjadi pula di usia 4-7 tahun. "Biasanya karena kepribadian si anak memang demikian. Ia omong besar karena mempunyai bentuk kepribadian tertentu yang agak berlebihan."

Tapi tak usah cemas, hal ini sangat jarang terjadi, karena umumnya pada masa 4-7 tahun yang terjadi ialah bohong fantasi. "Tentunya orang tua harus bisa mencermati, apakah anaknya bicara bohong fantasi atau sudah benar-benar berbohong," ujar Gerda, Misalnya, si kecil menyenggol vas bunga sehinga pecah. Ketika ditanya siapa yang memecahkan, ia bilang kucing. "Nah, itu sudah berbohong." Orang tua juga harus tahu, kapan anaknya bohong fantasi dan kapan bohong beneran. Untuk itu, orang tua harus tahu karakteristik anak.

"Kalau memang karakteristiknya selalu ingin melindungi diri, mungkin kelihatan dustanya itu bual atau bohong beneran. Tujuannya untuk mencapai kenikmatan atau keuntungan tertentu. Tapi kalau bohong fantasi, anak biasanya sungguh-sungguh innocent dan memang sebetulnya itu hanya berkhayal yang cenderung agak membual."

Jikapun orang tua menemukan kebohongan beneran, menurut Gerda, sebaiknya orang tua jangan buru-buru marah, "tapi buatlah rekonstruksi." Misalnya, "Tadi si Mbak melihat Kakak menyenggol vas itu lalu jatuh. Bunda enggak marah, kok, tapi benar enggak Kakak yang menyenggol?" Sebab, terangnya, kebohongan bisa timbul karena bersumber dari tindakan orang tua juga. "Anak takut pada orang tua, karena kalau ia mengatakan jujur malah dimarahi atau dipukul."

JANGAN DIHUKUM

Gerda tak keberatan bila anak diberi punishment atau hukumaan karena berbohong beneran, "tapi hukumannya tak perlu fisik. Cukup misalnya, ia tak boleh menonton film kesayangan selama berapa hari." Lain halnya, bila anak berbohong fantasi, Gerda sama sekali tak setuju pemberian hukuman, "karena dia, kan, tak bermaksud jahat atau buruk dengan berbohong fantasi. Dia tengah mengembangkan imajinasinya." Lagi pula, tambah Monty, dengan orang tua meng-counter kebohongannya saja sudah merupakan hukuman. Misalnya, anak bercerita bertemu dinosaurus. Orang tua lantas bertanya, "Seperti apa warna dinosaurus itu? Mungkin kamu salah lihat. Yang kamu lihat itu mungkin jerapah. Memang iya, ya, lehernya mirip leher dinosaurus." "Ini merupakan reward dan punishment serentak. Di satu pihak, kita membantah pernyataan dia secara halus.

Di lain pihak, kita memberikan reward bahwa fantasi dia itu tak ada salahnya karena memang leher jerapah mirip leher dinosaurus." Jadi, yang paling baik adalah memberikan pengarahan dan pengertian sehingga si kecil dapat belajar membedakan antara khayalan dan realitas. Juga, agar ia tak kehilangan kreativitasnya dan tak berkembang menjadi seorang pembual/pembohong. (rps/nova)


Dikirim pada 25 Agustus 2010 di Gambleh

RASANYA bosan dan terkadang gemas melihat anak bangun di malam hari dan masuk ke kamar Anda. Di samping tidur terganggu, Anda pun harus menidurkannya kembali. Alhasil, waktu tidur pun berkurang. Apa solusinya?

Tanti seakan tidak pernah pulas tidur di malam hari. Putrinya, Mirel, yang masih berumur lima tahun kerap masuk ke kamarnya dan meminta tidur di samping dirinya. Ada saja alasan yang dikemukakan putri semata wayangnya tersebut. Terkadang dia mengatakan takut tidur sendiri. Di lain waktu dia mengompol. Terpaksa Tanti menidurkan Mirel kembali ke kamarnya dan meyakinkan dirinya tidak ada yang perlu ditakuti.

“Padahal, paginya saya harus kerja sampai sore. Rasanya lelah dan pergi ke kantor selalu dalam keadaan mengantuk,” beber Tanti.

Sudah sering Tanti mengatakan hal ini kepada Mirel, tapi tetap saja dia selalu terbangun dan mengganggu Tanti di malam hari. Kadang minta dibuatkan susu atau malah dibacakan cerita.

Rupanya Tanti tidak sendirian. Ibu-ibu lain pun banyak mengeluhkan hal yang sama tentang anak mereka. Tidak sedikit anak-anak di usia prasekolah bahkan sudah sekolah sekalipun, yang masih meminta tidur dengan orang tuanya. Menurut National Sleep Foundation (NSF) di Amerika Serikat, sedikitnya 24 persen orang tua memiliki anak yang tidur bersama mereka di separuh waktu malam.

Pengalaman Karen Higdon lain lagi, agar anak kembarnya tidak menerobos masuk ke kamarnya lagi, dia merancang kamar anaknya dengan semanis mungkin. Lengkap dengan tempat tidur dengan gambar putri berikut bed cover. Awalnya putri kembarnya yang berusia empat tahun tersebut tampak antusias. Mereka mengeksplorasi kamarnya di siang hari. Namun saat hari berganti malam, mereka mengaku ketakutan terhadap monster yang ada di kamarnya dan menuju ke kamar Karen.

Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakangi anak tidur dengan orang tua. Yang pertama karena sudah keputusan orang tua untuk membiarkan anak tidur dengan mereka. Yang kedua, sebenarnya orang tua tidak menginginkan hal ini, tapi itu adalah jalan terbaik untuk memecahkan masalah pada jam dua dini hari dengan keadaan mengantuk

Saat si kembar berusia tiga tahun, Karen dan suaminya, Richard, memisahkan kamar tidur kedua anaknya. Satu di kamar orang tua dan satu lagi di kamar anak. Karen dan Richard pun menemani masing-masing putrinya. Nyatanya kebiasaan ini akhirnya menjadi rutinitas, putri mereka, Kaylee dan Gracie, malah tak bisa lepas dari kedua orang tuanya dan sangat bergantung. “Saya ingin mereka lebih mandiri,” kata Karen seperti dikutip dari webmd.com.

Menurut juru bicara NSF Jodi Mindell PhD, setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakangi anak tidur dengan orang tua. “Yang pertama karena sudah keputusan orang tua untuk membiarkan anak tidur dengan mereka. Yang kedua, sebenarnya orang tua tidak menginginkan hal ini, tapi itu adalah jalan terbaik untuk memecahkan masalah pada jam dua dini hari dengan keadaan mengantuk,” kata wanita yang juga penulis buku “Sleeping Through the Night” ini.

Dikatakan Jodi, mengubah waktu tidur yang sudah menjadi kebiasaan bukanlah hal yang mudah. Sebab, aspek biologis bukan kita yang mengatur. Sementara itu, ahli anak James McKenna PhD mengatakan, “tidak ada yang salah, baik orang tua maupun anak jika mereka tidak bisa membuat anakanak tidur hingga semalaman.”

Profesor antropologi di Universitas Notre Dame ini menambahkan, biasanya anak bermimpi buruk atau gelisah sehingga mencari orang tua mereka di malam hari.

Lebih mudah untuk mengajarkan anak kecil yang baru belajar berjalan untuk tidur di kamarnya bila dia ditempatkan pada tempat tidur khusus bayi atau boks, sehingga dia pun tidak akan turun dari tempat tidurnya dan mencari orang tua di malam hari

Meski demikian, kebiasaan tersebut lama-lama juga akan mengganggu orang tua dan waktu tidur mereka. Untuk itu, orang tua harus pintar-pintar menyiasatinya. Karenanya, tip berikut bisa Anda manfaatkan.

Menurut konsultan masalah tidur anak Dana Obleman, lebih mudah untuk mengajarkan anak kecil yang baru belajar berjalan untuk tidur di kamarnya bila dia ditempatkan pada tempat tidur khusus bayi atau boks. “Sehingga dia pun tidak akan turun dari tempat tidurnya dan mencari orang tua di malam hari,” ujar wanita yang juga pengarang buku “The Sleep Sense Program” ini. (rps/oz)


Dikirim pada 25 Agustus 2010 di Gambleh

Sering bertelanjang kaki adalah yang terbaik untuk balita. Menurut ahli, anak yang sering bertelanjang kaki akan lebih cepat mulai berjalan dan perkembangan otaknya berjalan secara optimal.Tracy Byrne, seorang ahli penyakit kaki yang mengkhususkan diri dalam podopaediatrics, seperti dilansir dari Guardian, menyatakan "Memakaikan sepatu pada anak dengan usia yang terlalu muda dapat menghambat kemampuan berjalan dan kemampuan otaknya. Usia balita sebaiknya anak sering dibiasakan telanjang kaki,". selanjutnya, Byrne mengatakan dengan bertelanjang kaki, anak akan belajar untuk seimbang. Dengan umpan balik yang dirasakan saat menginjak tanah, akan mengajari anak bagaimana cara untuk tidak terjatuh.

Selain itu, berjalan dengan telanjang kaki akan mengembangkan otot-otot dan ligamen kaki, meningkatkan intensitas busur kaki, meningkatkan proprioception (kesadaran dengan ruang di sekitar) dan memberikan kontribusi untuk postur tubuh yang baik.

Kaki manusia pada saat lahir bukan merupakan versi miniatur dari kaki orang dewasa. Bahkan, tidak berisi tulang sama sekali dan hanya terdiri dari massa tulang rawan. Selama bertahun-tahun, tulang rawan tersebut akan menjadi kaku dan menjadi 28 tulang yang ada di kaki manusia dewasa.Namun, proses ini belum selesai sampai masa remaja, sehingga sangat penting untuk sering-sering membiarkan kaki tanpa penghalang atau alas kaki.

"Sayangnya, kebanyakan sepatu yang dipasarkan untuk balita tidak sehat. Kebanyakan sepatu hanya seperti bata ukuran kecil, yang sangat kaku, tidak ada fleksibilitas pada telapak dan tumit dan memiliki hak terlalu tinggi untuk balita,sepatu semacam itu sangat tidak baik untuk anak, terlebih bagi balita yang sedang belajar berjalan." jelas Byrne. Bila Anda ingin memberikan keamanan bagi anak, carilah sepatu yang sangat fleksibel sehingga tidak memperlambat perkembangan kaki anak. Tapi yang terbaik adalah sering-sering membiarkan anak tanpa alas kaki.(rps)


Dikirim pada 25 Agustus 2010 di Gambleh

Anak akan merasa aman dan dicintai oleh orang tua. Hanya saja, memberikan cinta kepada anak tidak berarti melindungi secara berlebihan. Anak juga memerlukan proses mencoba dan bereksplorasi di lingkunganya.

Dan yang dibutuhkan oleh anak saat itu adalah kesempatan dan dukungan, baik emosional maupun kata-kata positif serta contoh perilaku yang baik. Jangan sampai si kecil terus bergantung kepada orangtuanya, bahkan sampai dia dewasa. Alih-alih memberikan cinta, malah membuatnya menjadi anak yang tak percaya diri.

Untuk mengajarkan si kecil mandiri, Naomi Soetikno, MPd, Psi dari Rumah Sakit Omni Medical Center Pulomas, Jakarta Timur, memberikan pemaparannya:

Proses Kemandirian

Teori kepribadian yang dikutip dari psikolog asal Hungaria, Margaret Mahler menjelaskan bahwa ikatan antara balita dengan sang ibu akan berkembang ke arah kemandirian.

Prinsipnya, sejak usia 4 bulan, anak mulai secara bertahap "berpisah" dengan ibunya, di mana anak mulai mencari sensasi sendiri dengan asyik bermain-main dengan jari-jarinya sendiri. Anak pun mulai mengembangkan perasaan sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk menghadapi hal-hal yang ada di sekitarnya. Artinya, kemandirian tidak terjadi secara tiba-tiba atau sudah dimiliki sejak lahir, melainkan suatu proses adaptasi seorang anak -sesuai dengan usianya- terhadap lingkungannya.

Mendidik Anak Agar Mandiri

Bila Moms mendapati si kecil kerap merengek untuk menemaninya pada setiap kegiatan, dekati dia, peluk dirinya dan yakinkan bahwa dia dicintai dan dia memiliki banyak potensi. Berikan pula perhatian yang utuh, beri kesempatan anak untuk bereksplorasi dan mencoba dengan upayanya sendiri, beri bimbingan dan arahan praktis.

Begitu juga, saat anak mengikuti lomba dan menampilkan performa-nya. Yang harus Moms lakukan adalah mengingatkan bahwa dia sudah berlatih dengan baik. Dampingi anak saat berlatih dan berikan penjelasan yang dapat dimengerti anak. Jangan mengritik dan merendahkan kemampuan anak, tapi tunjukkan apa yang harus dilakukannya.

Jika si kecil gugup ketika naik ke panggung dan mulai menangis, hendaknya Moms berada tidak jauh dari dirinya dan yakinkan bahwa Moms mencintai dia apa adanya. Tunjukkan ekspresi dan gerak tubuh yang tulus sebagai rasa kasih sayang.

Jika si kecil sedang beraktivitas dan memerlukan perhatian, jauhkan kesibukkan pribadi anda, seperti nonton televisi, bermain HP atau hal-hal yang membuat dirinya merasa tidak diperhatikan. Karena cinta, dukungan dan pendampingan yang utuh -saat anak sedang beraktivitas di mana Moms benar-benar hadir- sangat penting dalam melatih kemandirian sang buah hati.

4 Trik Mendidik Kemandirian Anak

1. Memberi anak kepercayaan dan tanggung jawab. Berilah si kecil kepercayaan untuk melakukan dan memutuskan sesuatu, misalnya biarkan dia menentukan baju mana yang ingin dipakainya. Jika warna tidak serasi berilah penjelasan mengenai warna-warna apa saja yang cocok dan serasi, lalu jenis pakaian apa saja yang bisa dikenakan untuk momen-momen tertentu.

2. Mendorong, membimbing dan memberi dukungan. Berikan dorongan kepada anak untuk bisa berprestasi. Beri dukungan saat dia menyatakan ingin melakukan sesuatu dan bimbing dia untuk bisa berhasil dalam melakukan sesuatu.

3. Memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapatnya. Dasarnya, anak memiliki hak dan kemampuan untuk menyatakan pendapatnya. Libatkan anak dalam setiap pengambilan keputusan dalam keluarga. Dengan demikian dia akan merasa sangat dihargai, sekalipun pendapat yang disampaikannya "asal bunyi".

4. Berikan reward baik pujian atau hadiah setiap kali mereka melakukan hal yang baik. Pemberian reward ini akan memberikan energi yang luar biasa bagi anak. Dia akan mengulangi perbuatan tersebut dan akan terekam dalam benaknya bahwa perilaku tersebut merupakan hal baik yang harus dilakukan.(rps/Mom& Kiddie)


Dikirim pada 25 Agustus 2010 di Gambleh


Nama lelaki itu mudah dikenal, Yahya ibnu Yahya.Nun jauh dari Andalusia ia berasal. Ia pergi menuntut ilmu ke Madinah.Berguru pada Imam Malik. Andalusia-Madinah adalah jarak yang teramatjauh. Terlebih dengan sarana transportasi apa adanya di masa itu.Tetapi Yahya bin Yahya adalah salah satu contoh terbaik tentangbagaimana kehendak seorang muslim untuk tidak pernah berhenti menjadi berarti.



Hari-hari menimba ilmu pun ia lalui di Madinahyang tenang. Di hadapan sang guru Imam Malik. Hingga suatu hari, saattengah berada di majelis bersama murid-murid yang lain, tiba-tiba adarombongan orang-orang entah dari mana. Mereka datang sambil membawagajah. Para murid-murid Imam Malik berhamburan keluar ingin melihatgajah. Di jazirah Arab, makhluk besar berbelalai itu saat itu memangtergolong asing. Maka orang-orang pun keluar ingin melihat lebih dekat.Begitu pun murid-murid Imam Malik. Semua beranjak, kecuali Yahya binYahya. Hingga semua keluar Yahya tetap duduk di majelis itu. Melihatitu Imam Malik mendekat. "Mengapa engkau tidak keluar juga untukmelihat gajah?" tanya Imam Malik. Yahya menjawab, "Aku jauh-jauh datangdari Andalusia untuk menuntut ilmu, bukan untuk melihat gajah." ImamMalik sangat kagum dengan keteguhan Yahya. Setelah itu Imam Malik punmenggelarinya dengan aqilu Andalus (lelaki berakal dari Andalusia).



Lelakiberakal, Yahya bin Yahya telah meletakkan prinsip mendasar di atasjalan hidupnya. Ia mengerti sedang di jalan apa berlalu dan ke arahmana menuju. Ia seperti tengah menegaskan, betapa ia tidak bolehberhenti, di jalur kehendak dan cita-citanya, oleh sesuatu yangsederhana. Sekiranya ia sejenak keluar, melihat gajah bersamateman-temannya, itu pun tak jadi soal besar. Toh Imam Malik sejenaktidak melanjutkan pelajarannya, sebab semua murid-muridnya keluar.Tetapi filosofi luhur di balik sikapnya itu, mencerminkan sebuahkecerdasan, tentang bagaimana seorang muslim memahami godaan-godaankonsistensi, yang kadang menghentikan dan menghempaskan. Betapa iatidak boleh terhenti oleh godaan-godaan itu. Maka lelaki itubenar-benar layak disebut aqilu Andalus.

Betapasering perjalan hidup kita terhenti. Bahkan oleh hal-hal yang tidakterlalu serius. Betapa banyak orang berhenti dari mengejar cita-cita,kehendak mulia, mimpi-mimpi fantastik dalam capaian prestasi, hanyalantaran keteledoran, hanya karena ulah menyimpang yang mulanya hanyaiseng-iseng belaka, atau mental nanti dulu, atau sikap sebentardulu. Akhirnya lama kelamaan jiwanya mulai layu, semangatnya mulairedup. Gairah berkaryanya semakin kering. Akhirnya ia pun terhenti darisegala harapan yang telah menanti di ujung kerja kerasnya.



Gelar aqilu Andalus,lelaki berakal dari Andalus menegaskan soal lain, bahwa kehendak kuatuntuk tidak berhenti, atau terhenti, membutuhkan kalkulasi keyakinanyang kuat. Ini tidak sekadar ukuran rasional untung atau rugi. Ini jugabenar-benar bukan soal selera suka atau tidak suka melihat gajah. Tapiini sungguh-sungguh benar soal pemahaman kemengertian, kesadaran danjuga kedalaman penghayatan tentang keputusan apa yang harus diambilseorang muslim di saat-saat ia tergoda.

Begitulahseorang muslim semestinya menata jalan cita-citanya. Semua orang punyaharapan-harapannya. Tinggi atau rendah. Jauh atau dekat. Serius ataumain-main. Tetapi menjadi seorang muslim yang tak mengenal kata hentidalam berjalan, berusaha, berkarya, adalah pilihan keimanan untuktujuan nun jauh di akhirat sana. Sebab di atas arah jalan itu hidupseorang muslim menjadi punya arti.

Dalamkehidupan para salafussalih, keberartian tidak diperoleh dalam waktuyang singkat. Tidak pula dengan usaha yang setengah-setengah.Orang-orang besar di dalam tarikh umat Islam yang gemilang, menjadibesar karena mereka tidak pernah lelah menabung untuk investasikeberartiannya, hari demi hari, waktu demi waktu, detik demi detik.Imam Bukhari setiap malam bisa terbangun hingga dua puluh kali, untukmenuliskan hadits-hadits yang dihafalnya. Ia tidak pernah berhentiuntuk menjadi berarti. Maka kini ia memetik jerih payah itu. Ia menjadimaha guru ahli hadits sepanjang masa.



Begitupunorang-orang lain seperti Imam Nawawi. Bila seluruh usianya dibagidengan karya tulisnya, maka setiap hari ia akan menulis tidak kurangdari enam belas halaman manuskrip. Bila diurai menjadi buku-buku masakini setiap halaman manuskrip itu bisa menjadi berlembar-lembarhalaman. Begitu juga Ibnu Hajar Al-Asqalani, ulama besar penguraiShahih Bukhari, ia menghabiskan seperempat abad usianya untuk menuliskarya monumentalnya, Fathul Bari.



Begitulahorang-orang besar menjadi besar karena ia tidak pernah berhentimenginvestasikan untuk dirinya karya kebajikan. Sebagaimana orang-orangjahat, orang-orang kejam, akan terkenang sepanjang masa, karena ia jugamenginvestaikan untuk dirinya kekejian dan kekejaman.



Janganpernah berhenti, sebelum hidup kita punya arti. Sepanjang perjalanan,sejak kita beranjak dewasa, sejujurnya kita telah mengerti apa itutujuan akhir, cita-cita puncak, dan mimpi-mimpi terjauh kita untukmenjadi sesuatu. Tetapi tidak jarang kita terhempas, kita terlena, dankemudian berhenti di tengah jalan. Padahal hidup bagi seorang mukmin,semestinya adalah proses menjadi baik tanpa kenal putus.



Didalam Al-Quran, sebuah siklus menjadi baik dijelaskan dengan indaholeh Allah dengan pendekatan usia. Bahwa pada mulanya manusia hanyalahseorang bayi. Lalu tumbuh dewasa, lalu bila Allah memberi umur panjang,ia bisa melewati umur empat puluh tahun. Tetapi semua tahapan usia ituharus menjadi sebuah siklus keshalihan.



Allah swt berfirman, "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baikkepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah,dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampaimenyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasadan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, Ya Tuhanku,tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikankepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yangshalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberikebaikan) kepada anak-anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaEngkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."(QS. Al-Ahqaf: 17).



Ayat di atas denganjelas mengisyaratkan tentang siklus kehendak menjadi baik yang takpernah berhenti, tidak pernah putus. Waktu kecil dibawah asuhankebaikan orang tua. Begitu beranjak dewasa, ia menyambungnya denganberbakti. Lalu disebutnya umur empat puluh tahun, menandakan kematanganyang berkelanjutan. Saat itu ia teringat lagi kebajikan kedua orangtuanya. Maka ketika ia memohon untuk bisa bersyukur, atas karunia untukdirinya dan orang tuanya.





Selain itu, tentusaja, di dalamnya bersyukur atas kebajikan yang bisa ia lakukan. Ituartinya ia tidak memutus jalan hidupnya untuk selalu dalam rantaikebajikan. Begitupun, ketika ia memohon hal yang sama untuk anak-anakdan cucunya. Begitu dahsyat alur siklus keshalihan itu berjalan. Nyaristak ada yang terputus. Dari seorang bayi, hingga kelak anak cucu bagibayi tersebut. Begitu seterusnya.

Cita-citaluhur, kehendak kuat, mimpi-mimpi untuk menjadi seorang muslim yangpunya arti, tidak boleh terhenti oleh apapun. Apalagi hanya sekadarkarena seekor gajah. Hiburan dan rehat ada tempatnya sendiri yangproporsional. Kita harus terus mengejar. Jangan berhenti. Jadilahseperti lelaki berakal dari Andalusia itu.Wallahualam



http://beranda.blogsome.com/2008/10/09/lelaki-andalus-dan-gajah/

Dikirim pada 17 Agustus 2010 di Gambleh

Oleh: Udo Yamin Majdi


Selesai menggelar acara Volunteer Training, aku bersama Aa Fatih tidak langsung pulang ke Tafahna. Sebab, ada beberapa agenda lagi di Cairo. Diantaranya, mengisi acara Up Grading di IKMAL (Ikatan Mahasiswa Lampung) dan LBT (Leadership Basic Training) di PII (Pelajar Islam Indonesia). Aku dan anak sulungku itu, bermalam di sekretariat Pwk. Persis (Perwakilan Pimpinan Pusat Persatuan Islam) Mesir di Nasr City.

* * *

Siang menjelang Dhuhur, keesok harinya, hpku berdering. Aku ambil, lalu kudekatkan di telinga kanan. Di ujung sana, terdengar suara Andy, Ketua Umum PII, "Do, ini rute tempat training, antum nanti naik mobil eltramco Tagammu� Awwal, lalu turun di Syibrawy. Kalo udah di sana, antum miscall aja ana. Ntar kita jemput!"

Aku dan Aa Fatih meninggalkan sekretariat Pwk.Persis. Kami berdua naik mobil eltramco dari Mahattoh Gami� menuju Zahra. Di Mahattoh Asyir kami turun, kemudian naik mobil menuju Tagammu� Awwal. Selama dalam perjalanan, selain memandang gurun pasir di sisi kanan-kiri jalan, aku memperhatikan penumpang yang duduk di depanku. Ada yang baca koran Ahrom, ada yang melamun, ada yang tidur, dan lain sebagainya.

Tak berapa lama kemudian, mobil memasuki kawasan baru Mesir. Banyak vila bergaya Erofa mulai dibangun. Ada juga perumahan berlantai tiga, berbeda dengan di Nasr City yang rata-rata lima atau enam lantai. Prediksiku, lima atau sepuluh tahun akan datang, daerah ini akan banyak dihuni orang asing, seperti dulu di daerah Madrasah-Zahra yang dulu jarang orang Indonesia, kini banyak yang tinggal di sana. Apalagi di daerah Nasr City dari Madrasah hingga Bawwabat, saking banyaknya mahasiswa Indonesia yang tinggal, kami sebut Kampung Melayu.

"Turun sayang, kita udah sampai!" ajakku kepada Aa yang matanya sudah mulai sayup. Kami menunggu di dekat rumah makan Syibrawy. Andy dan panitia datang menjemput. Kami langsung menuju tempat acara LBT yang sudah berlangsung lima hari dari tujuh hari yang dijadwalkan. Kami sampai di flat tempat acara.

Sebelum aku mengisi acara, aku tanya Kortim (Koordinator Tim) instruktur perkembangan peserta. Aku minta DRH (Daftar Riwayat Hidup) dan sosiogram peserta. Dari sinilah, aku sedikit memahami para peserta. Sehingga aku bisa memilih metode penyampaian. Aku juga meminta silabus untuk melihat pokok bahasan dan indikator dari materi yang akan aku sampaikan.

Dengan basmalah, aku memasuki kelas pelatihan. Aku berusaha percaya diri, meskipun tanpa persiapan apapun, sebab aku diminta panitia mengisi LBT pada saat bertemu di acara Volunteer Training. Aku berusaha mengingat kembali bacaanku dan pengalaman hidupku untuk memahamkan para peserta tentang materi Komunikasi Efektif. Dengan metode partisipatoris, aku menjelaskan definisi, unsur, bentuk dan pembagian komunikasi. Bahkan di sela-sela menyampaikan materi, aku beri simulasi. Tak terasa, waktu 3 jam berakhir.

Karena aku akan mengisi acara Up Grading di IKMAL, aku langsung pamit. Ketika keluar pintu, aku tidak menemukan sepatu Aa Fatih. Aku bersama panitia, mencari setiap sudut flat, sampai di kamar mandi pun kami cari, ternyata tidak ada. Akhirnya, Aa pulang tanpa sepatu. Akibatnya dia tidak mau jalan, melainkan harus aku gendong. Tentu saja, membawa Aa belasan kilo dan tas di punggung, sedangkan cahaya matahari sangat panas, membuatku berkeringat dan haus. Aku minta Elman menggendong Aa, tapi Aa tidak mau.

Kami pun naik bus menuju Nasr City.

* * *

Di IKMAL, para anggota sudah berkumpul. Acara mulai. Seperti biasanya, dimulai dengan pembacaan kalam ilahi dan sambut-sambutan. Baru kemudian acara Pelantikan Dewan Pengurus IKMAL Periode 2010-2011. Ini periode kedua, setelah berdirinya IKMAL 4 Agustus 2009.

Perjalanan lahirnya IKMAL lumayan panjang. Dulu, mahasiswa Indonesia Mesir asal Lampung bergabung dengan KEMASS (Keluarga Masyarakat Sumatra bagian Selatan) meliputi Sumsel, Bengkulu, Bangka-Belitung dan Lampung. Karena mahasiswa asal Lampung mulai banyak, sejak akhir tahun 90-an, ingin memisahkan diri, namun baru terealisasi tahun lalu.

Aku mengisi acara Up Grading. Nuansa pelatihan, aku bawa dalam acara ini. Aku hanya sebatas fasilitator. Konsep andragogi, aku terapkan di sini. Sebab, 100% peserta adalah mahasiswa. Aku analogi organisasi sebagai sebuah kendaraan. Dari sini muncul beberapa pertanyaan ini: Di manakah posisi kita? Kita mau ke mana? Apa saja yang harus kita lakukan agar penumpang merasa nyaman? Dan seterusnya.

Aku berusaha membantu teman-teman untuk melihat masalah sekaligus menemukan solusinya. Aku berusaha memetakan persoalan organisasi yang berkutat dalam 4 hal ini: masalah leadership, manajemen, administrasi, dan struktur. Dari empat hal ini, muncul masalah turunan, seperti masalah komunikasi, masalah pendanaan, dan seterusnya.

Acara dari ba�da Asar ini berakhir tepat pada adzan Sholat �Isya. Aku dan Aa Fatih pamit. Aku kembali berjuang, menggendong Aa dari Saqor Quraisy menuju Gami�. Aku berusaha merayu Aa agar mau berjalan, sebab selain membawanya berat, aku juga membawa plastik berisi sembako dari IKMAL, beratnya lebih dari 5 kilogram. Aa tetap tidak mau turun.

Aku tidak kehabisan akal. Aku tahu kelemahan anakku ini. Biasanya, dia akan mengalah, manakala aku memenuhi kemauannya. Aku pun bernegoisasi, "Aa mau apa?"

"Mau sepatu baru!" jawabnya.

"Gimana kalo sendal aja?" tanyaku, sebab aku tahu, aku tidak memiliki uang. Sebab, uangku habis membeli konsumsi untuk peserta Volunteer Training tadi malam. Panitia memang tidak merencanakan ada konsumsi makan untuk panitia, hanya diberi minum dan snack saja. Namun, perutku melilit karena dari siang hingga malam, aku belum makan. Aku kira, peserta pun demikian. Makanya, aku minta panitia untuk beli Kusyari dan Togin. Aku tidak ingin peserta kelaparan.

"Iya, sendal aja, tapi yang bagus buya!"

"Oke, buya beliin sendal bagus, tapi Aa jalan kaki ya?"

"Iya!" ujar anakku dan turun dari punggungku dengan semangat.

Aku ajak Aa Fatih ke tempat jualan sepatu. Niatku, hanya ingin tahu harganya dulu, baru setelah meminjam uang di Pwk Persis, aku akan membeli sendal itu. Aku sudah menyiapkan alasan kepada anakku, bahwa membeli sendal kami tunda, sebab aku tidak punya uang.

"Kenapa anakku tidak pakai alas kaki?" Tanya pedagang sambil menyodorkan sandal hitam yang ingin aku lihat.

Aa Fatih mencoba sandal itu. Aku lihat Aa senang. Aku pun menjawab pertanyaan sang pedagang, "Sepatu anakku hilang?"

"Hilang di mana?"

"Hilang di depan rumah teman!"

Aku sedikit ragu, untuk melepaskan kembali sandal di kaki anakku. Dia begitu senang. Namun, dengan terpaksa, aku berkata, "Sayang, sendalnya Aa lepas dulu. Buya sekarang enggak punya uang. Kita ke Pwk dulu, kita pinjam uang, baru kita ke sini lagi, beli sendal ini, gimana?"

"Enggak mau?!"

"Trus, kita bayar pakai apa?"

"Ini Aa punya uang!" katanya Aa sambil mengeluarkan uang 50 piester. Aku tersenyum. Uang yang aku berikan tadi pagi untuknya jajan, mana mungkin bisa membayar sandal seharga 5 pound itu.

"Ini enggak cukup sayang!"

"Pokoknya, Aa enggak mau lepasin sandal ini!!"

"Bentar aja sayang, ntar kita ke sini lagi!"

"Enggak mau!!"

Sang pedagang, meskipun tidak tahu dialog antara aku dan anakku, mungkin dia memahami bahwa aku meminta anakku melepaskan sandal itu. Dia pun bertanya, "Mengapa harus dilepas kembali, kan anakmu tidak ada alas kaki, langsung aja pakai, tidak perlu dibungkus?"

"Saat ini, aku tidak punya uang. Aku hanya ingin tahu harganya dulu!"

"Tidak masalah, pakai aja. Bayarnya bisa kapan saja, bisa besok, lusa atau kapan saja!"

"Saya bukan tinggal di Cairo, tapi tinggal di Tafahna dan jarang sekali ke sini!"

"Tidak masalah. Justru karena kalian tinggal di Tafahna, maka pakai aja dulu sendal ini. Masa kamu tega membiarkan anakku kami tanpa alas kaki?"

Aku diam. Aku menatap sang pedagang yang tidak aku kenal ini, begitu juga dia tidak mengenalku. Dia tersenyum. Dari pancaran mata dan senyumannya, aku melihat dia memang tulus ingin membantuku. Belum juga aku berbicara, dia kembali berkata, "Pakailah, aku percaya kepada kamu!"

Aku pun luluh. Aku tidak ingin mengecewakan niat tulus sang pedagang. Terlebih lagi, aku tidak ingin menghilangkan senyum di bibir anakku. Aku pun mengucapkan terima kasih dan pamit kepada pedagang itu. Aa Fatih pun, tidak mau aku gendong, bahkan tangannya tidak mau aku pegang, sebab dia berlari menuju Pwk dengan sandal barunya.

* * *

Satu jam kemudian. Aku datang ke tempat jualan sandal. Aku memaksakan diri meminjam uang 5 pound kepada teman di Pwk, sebab aku tidak mau mengkhianati kepercayaan pedagang itu. Dia telah memberikan kepercayaan kepadaku, maka aku pun harus memberikan kejujuran kepadanya.


* * *


Cairo, 1 Agustus 2010


Dikirim pada 05 Agustus 2010 di Gambleh

1. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.

2. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

3. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

4. Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan.

5. Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka.karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.

6. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu) , tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

7. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti berenang di air setelah ia melepaskannya.

8. Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.

9. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak baik dan menyayangi.

10. Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup

11. Ayah benar-benar senang membantu seseorang...tapi ia sukar meminta bantuan.

12. Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?... .mmmmhhh..."tidak terlalu mengecewakan" ^_~

13. Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.

14. Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.

15. Ayah akan sangat senang membelikanmu makanan selepas ia pulang kerja, walaupun dia tak dapat sedikitpun bagian dari makanan itu

16. Ayah selalu berdoa agar kita menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat, walaupun kita jarang bahkan jarang sekali mendoakannya

17. Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.

18. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.

19. Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya.

20. Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu.

22. Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan....

23. Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara...

24. Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya....

25. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu....

26. Ayah akan berkata ,, tanyakan saja pada ibumu" Ketika ia ingin berkata ,,tidak"

27. Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin

28. Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok menghisap rokok dikamar mandi.

29. Ayah mengatakan ,, tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan"

30. Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu hal yang baik persis seperti caranya....

31. Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri....

32. Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.

33. Ayah tidak suka meneteskan air mata .... ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya,dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis)

34. ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu...ketika kau mimpi akan dibunuh monster...

35. tapi.....ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.

36. Ayah pernah berkata :" kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendaptkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"

37. Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan: ,, jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu"

38. Dan Untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan :" jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa
melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu"

39. Ayah bersikeras, bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu....

40. Ayah bisa membuatmu percaya diri... karena ia percaya padamu...

41. Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik....

42. Dan terpenting adalah... Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya..

"The Wonder Of Dad"., Phillys Hobe.


Dikirim pada 05 Agustus 2010 di Gambleh

Sekalipun dia seorang penjahat, dia tidak ingin anak keturunannya mewarisi perbuatannya. Itulah fitrah manusia, yang sesungguhnya senang kepada kebaikan

Oleh: Sholih Hasyim

TAHUN 2005, di bulan Ramadhan, alkisah, ada seorang pencuri kerudung di sebuah swalayan di kota Surabaya. Sang pencuri akhirnya tertangkap Satpam dan digebuki massa beramai-ramai. Namun betapa mengagetkan, tatkala dalam penjelasannya, ia mengatakan, terpaksa melakukan karena ingin melihat dua putrinya bahagian di saat Hari Raya Idul Fitri. Ia mengaku tak ingin menanggung malu jika pulang tanpa membelikan baju baru di bulan Suci itu.
***
Apapun profesi dan status sosial seseorang, mereka semua merindukan kehidupan yang berbahagia di dunia ini dan berlanjut pada kehidupan nanti. Kehidupan dengan keadaan dan sistem waktu lain yang pasti terjadi.

Sekalipun dia seorang penjahat, dia tidak ingin anak keturunannya mewarisi perbuatannya. Itu berarti fitrah manusia, senang kepada kebaikan yang dikenali hati (al-Ma’ruf) dan benci kepada kejahatan yang diingkari hati (al-Munkar). Ia berharap bahagia di dunia dan selamat di akhirat. Karena dipaksa oleh keadaan tertentu, ia berbuat jahat. Itupun demi kebahagiaan orang-orang terdekatnya. Sekalipun ia merasa ada gugatan batin (nafsu lawwamah) atas perbuatannya.

Ada sebagian orang yang berpandangan, manusia hidup dunia ini akan berbahagia manakala semua kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi. Mulailah orang mendaftar kebutuhan-kebutuhan lahir dan batin tersebut. Kebutuhan jasmani : makan dan minum dengan kenyang, pakaian yang cukup, hidup enak, tidur nyenyak, tempat tinggal yang layak, kebutuhan seksual dan kesehatan. Kebutuhan rohani : kasih sayang, rasa aman, harga diri, kebebasan, keberhasilan, rasa ingin tahu terpuaskan.

Doa sapu jagat (memuat cakupan yang luas) yang sering menjadi doa banyak orang adalah mendambakan sukses di dunia dan akhirat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Al-Baqarah (2) : 201).

Doa diatas menghimpun segala kebaikan/kenikmatan dunia dan menjauhkan segala kerumitannya. Karena kebaikan itu mencakup segala permintaan di dunia, seperti kesehatan, rumah yang luas, kendaraan, istri shalihah, rezeki, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, perjalanan yang mudah, pujian dan reputasi yang baik.

Sedangkan kebaikan di akhirat, lebih tinggi dari itu. Misalnya, masuk surga beserta implikasinya berupa keselamatan dari ketakutan yang sangat hebat dan kemudahan hisab. Adapun keselamatan dari neraka menuntut kelancaran dari berbagai sarananya ketika di dunia ini, seperti menjauhi berbagai perkara yang diharamkan, dosa, perkara syahwat dan syubhat dan haram.

Al-Qasim Abu Abdurrahman berkata, Barangsiapa yang dianugerahi hati yang selalu bersyukur (qalban syakiran), lisan yang senantiasa menyebut nama Allah SWT (lisanan dzakiran) , dan diri yang sabar (nafsan shabiran), berarti ia diberi kebaikan dunia dan akhirat serta dipelihara dari neraka. Oleh karena itu, terdapat sunnah yang mendorong pengamalan doa diatas.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, Sesungguhnya Rasulullah saw menengok seorang muslim yang telah menjadi seperti anak burung karena kemahnya. Rasulullah saw berkata kepadanya, “Apakah kamu memohon sesuatu kepada Allah atau meminta sesuatu kepada-Nya ? Orang itu menjawab, Ya, Aku berdoa, Ya Allah, perkara yang akan Engkau siksakan kepadaku di akhirat itu timpakanlah kepadaku di dunia. Maka Rasulullah saw bersabda, Mahasuci Allah. Engkau tak kuat menerimanya. Mengapa kamu tidak berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka ?. Anas berkata, Kemudian dia mengucapkannya, dan Allah menyembuhkannya.” (HR. Muslim).

Demikian pentingnya kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat, dalam posisi bagaimanapun, status sosial apapun, seseorang dalam kehidupannya berusaha semaksimal mungkin, pantang menyerah dan tidak kenal lelah menciptakan kondisi yang mendukung terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Persoalannya, pernahkah manusia dalam kehidupannya merasakan keadaan yang bisa memenuhi kebutuhannya secara utuh, terus-menerus dan permanen ?. Jawabannya : jelas tidak mungkin. Kondisi di dunia ini fluktuatif dan dinamis, selalu berubah-ubah. Peristiwa demi peristiwa datang silih berganti. Kehidupan ini selalu dipergilirkan dan dipergulirkan oleh yang memberi karunia kehidupan. Kata orang, dunia ini selalu berputar bagaikan roda pedati.

Seseorang yang menghendaki sukses yang membahagiakan, dan bisa mempertahankannya, bukan menciptakan kondisi eksternal di luar dirinya, tetapi yang terpenting adalah menciptakan kondisi rohaninya yang membuatnya selalu sukses dan bahagia dalam kondisi yang bagaimanapun. Ternyata, kebahagiaan itu bukan berbentuk barang yang dicari di tempat tertentu. Tetapi, ketentraman itu bersumber dari internal dirinya. Dengan meyakini dan mengamalkan ajaran Islam, dapat menciptakan rohani yang diperlukan agar memiliki spirit yang sama dalam menghadapi pasang surut kehidupan. Diantaranya Istighfar (memohon kepada Allah SWT agar semakin hari ditutupi kelemahan dan kekurangan dirinya) dan Taubat (kembali kepada jalan-Nya).

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling (tidak beristighfar dan bertaubat), maka sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Hud (11) : 3).

Istighfar

Cara lain mencari selama adalah istighfar. Istighfar artinya memohon kepada Allah SWT agar kelemahan dan sisi gelap serta bau tidak sedap kita ditutupi oleh-Nya. Anjuran memperbanyak beristighfar sesungguhnya mengajarkan kepada kita agar setiap saat terjadi peningkatan kualitas diri kita. Baik dari sisi mental spiritual, material dan ilmu pengetahuan. Istighfar tidak sekedar diucapkan di mulut, tetapi terhunjam di hati dan diikuti dengan amal kebaikan yang bisa menghapus kesalahan. Dengan memperbanyak kalimat istighfar mendidik kita untuk selalu meluruskan dan memurnikan niat dan amal kita.

Dalam Al-Quran sering disebut kalimat istighfar, terkadang dalam redaksi perintah.


وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil (73) : 20).

Dan sekali waktu dalam bentuk pujian kepada orang yang minta ampun.

“dan yang memohon ampun di waktu sahur [saat sebelum fajar menyingsing mendekati subuh] (QS. Ali Imran (3) : 17).

وَمَن يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّهَ يَجِدِ اللّهَ غَفُوراً رَّحِيماً
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa (110).

Banyak sekali kalimat istighfar digandeng dengan taubat, berarti istighfar disini ungkapan untuk memohon ampun dengan lisan dan taubat, ungkapan dari berlepas diri dari dosa dengan hati dan anggota tubuh. Hukum istighfar seperti hukum berdoa. Jika Ia menghendaki Ia Mengabulkannya dan mengampuni pelakunya terutama jika keluar dari hati yang tulus mengakui dosa, atau dilakukan pada saat mustajab (terkabul), seperti waktu sahur, selesai shalat fardhu. Dan istighfar yang terbaik adalah dimulai dengan memuji-Nya mengakui segala dosa kemudian memohon ampun kepada-Nya.

“Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bahwa ia bersabda : Demi Allah sesungguhnya aku sungguh mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya sebanyak 70 kali lebih dalam sehari.” (HR. Bukhari & Muslim).

Apabila seorang hamba berharap dengan menghadirkan hati, memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya dan menyempurnakan syarat-syaratnya dan menghilangkan penghalangnya, sekalipun tumpukan dosanya sepenuh langit, maka Dia akan mengampuninya.

Al-Hasan berkata : Perbanyaklah istighfar di rumah-rumahmu, dan diatas meja makanmu, dan dijalanmu, di pasarmu dan di majlismu serta dimanapun kamu berada, karena sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan turunnya ampunan.

Imam Qotadah mengatakan : Sesungguhnya Al-Quran ini menunjukkan kepadamu atas penyakitmu dan obatmu, adapun penyakitmu adalah dosa-dosa yang kamu lakukan dan obatmu adalah istighfar.

Taubat

Taubat dari dosa dengan kembali kepada Yang Maha Mengetahui Yang Ghaib Dan Maha Pengampun segala dosa adalah titik tolak para penempuh jalan menuju Allah SWT, modal orang-orang yang sukses, tapak tilas orang yang menghendaki keridhaan-Nya, dan kunci istiqomah bagi orang-orang yang menyimpang, dan tempat berpijak manusia-manusia bersih dan makhluk pilihan dan orang-orang yang dekat dengan-Nya.

Taubat adalah permulaan dan akhir perjalanan menuju-Nya.


وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur (24) : 31).

Ayat diatas turun di Madinah, diserukan oleh Allah SWT kepada ahlul iman dan manusia pilihan-Nya untuk bertaubat setelah keimanan, kesabaran, hijrah dan jihad mereka. Dia menggandeng kata taubat dengan al-falah (kesuksesan di akhirat) dan menggunakan kata “la’alla”, ini berarti mengandung pelajaran yang berharga, jika kamu bertaubat maka kamu akan memiliki harapan untuk berhasil. Tidak mengharapkan keberhasilan melainkan orang-orang yang bertaubat.

Orang yang menyadari kekurangan dirinya dan menyesalinya menunggu turunnya rahmat dan orang yang bangga dengan amal shalihnya mendatangkan kemurkaan Allah SWT, meminjam kata bijak.Taubat adalah kembali ke jalan kebenaran dan berlepas diri dari pengaruh orang-orang yang tersesat dan dimurkai.

Jika dosa berhubungan dengan Allah SWT maka syarat diterimanya adalah berlepas diri darinya, menyesalinya dan bertekat untuk tidak mengulanginya. Adapun jika dosa menyangkut dengan orang lain maka ia harus memperbaiki hubungan yang telah rusak dan minta maaf dan mohon keridhaan dari kesalahan yang di perbuat kepadanya.

“Barangsiapa yang berbuat zhalim kepada saudaranya, baik berupa harta ataupun kehormatan (harga diri) maka hendaklah dihalalkan pada hari itu sebelum masa dimana (tidak diperhitungkan) dinar dan dirham kecuali kebaikan dan keburukan.” (HR. Bukhari).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At-Tahrim (66) : 8). [Kudus, 14 Januari 2010/www.hidayatullah.com]


Dikirim pada 05 Agustus 2010 di Gambleh

Hiduplah dalam keadaan mulia. Kehidupan sekali yang berarti, dengan memberi manfaat kepada orang lain

Oleh: Shalih Hasyim*

SEBAGIAN besar penderitaan kehidupan kita akhir-akhir ini yang jauh dari arahan Al-Quran, bahkan kondisi fisik yang kronis, merupakan penyakit makna. Penyakit fisik diakibatkan oleh penyakit psikis. Akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat (al-‘Aqlus Salim Fil Jismis Salim). Dan sebaliknya, badan yang tidak sehat merupakan turunan (derivat) dari pikiran yang buruk. Penyakit kanker, penyakit jantung, Alzheimer, dan berbagai gangguan lain yang kemungkinan besar didahului oleh depresi, rasa lelah, alkoholisme, dan kecanduan obat adalah bukti dari krisis kekosongan makna yang merasuk ke dalam sel-sel tubuh kita.

Pada akhirnya kematian pun dialami dengan rasa sakit dan kengerian, akibat miskin makna sebagai bekal mengelola kehidupan ini secara utuh, alamiah dan normal. Tidak ada jalan untuk mati secara damai, penuh rahmat dan berkah. Bahkan, baru-baru ini seorang kriminolog Eropa, setelah meneliti tingkat kriminalitas di Negeri Paman Sam yang sangat tidak masuk akal, dia menulis buku yang berisi cara mudah mengakhiri kehidupan (bunuh diri). Setelah membandingkan angka setahun kriminal bangsa Eropa, sama dengan 10 tahun bangsa Arab, dia sendiri menjatuhkan dirinya dari gedung pencakar langit. Diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul: Kaifa inha’ul hayati bisuhulah (bagaimana mengakhiri kehidupan dengan mudah).

Beberapa dokter spesialis dan kaum profesional di bidang kesehatan telah mulai memandang penyakit dari sudut pandang yang berbeda (nonmedis). Mereka mempersepsikan penyakit sebagai jeritan tubuh pemiliknya, agar mendapatkan perhatian khusus dalam kehidupan, yang apabila diabaikan dan ditinggalkan akan berefek pada kerusakan yang bersifat fatal dan permanen, ketidakseimbangan pertumbuhan fisik, emosi dan spiritual, bahkan mengakibatkan kematian yang mengenaskan. Mungkin sikap atau gaya hidup kitalah yang mengakibatkan timbulnya berbagai masalah dan kerumitan dalam nilai-nilai, hakikat atau makna kehidupan.

Inilah inti filsafat Victor Frankle, seorang psikiater besar dari Wina yang hidup pada zaman Freud, seabad yang silam. Ia disekap dalam kamp konsentrasi Nazi Jerman bersama seluruh keluarganya. Ia disiksa, dibiarkan kehausan dan kelaparan, disuruh kerja paksa, anak istrinya dibunuh. Tetapi, ia tetap hidup. Justru karena itulah ia menemukan makna kehidupan. Ia mengelola berbagai kesulitannya dengan optimisme. Ia pandai memaknai sesuatu di balik peristiwa.

Nazi Jerman boleh mengerangkeng dia, menyiksa habis (tanpa sisa) seluruh anggota tubuhnya, membunuh semua orang terdekatnya, tetapi mereka tidak bisa mencengkeram jiwa dan pikiran yang melayang bebas bersama Tuhan yang dijadikan tumpuhan akhir harapannya. Inilah makna kehidupan yang ditemukan orang asing Victor Frankle.

Makna hidup bisa bersifat umum dan universal, tapi bisa pula sangat sederhana dan mudah. Unik, spesifik dan sangat privat bagi kita masing-masing. Makna hidup adalah tanpa pura-pura dan pamrih. Makna hidup adalah untuk makna hidup itu sendiri. Dan makna hidup itu ditemukan bukan berbentuk barang (materi) yang diburu di mall, tempat-tempat wisata. Makna hidup diperoleh dari cahaya Allah SWT yang menerangi hati hamba yang dicintai-Nya.

Jika kita masuk dalam kategori barisan orang-orang yang dipandang sukses materi, hidup berkecukupan, pakaian serba wah, kendaraan mengkilat, ladang yang luas, tempat tinggal yang layak, bahkan berlebih, tetapi kebingungan mencari makna hidup, cobalah kita melakukan hal yang sederhana dan mudah. Buatlah program kehidupan Anda bermulti guna bagi orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang lebih banyak manfaatnya untuk orang lain (HR. Bukhari dan Muslim). Kehidupan kita berarti jika kita mengedepankan tradisi berkorban, memberi. Bukan berapa yang bisa saya ambil dari orang lain.

Carilah anak-anak yatim piatu, kaum dhuafa (grass root) dan mustadhafin (tertindas) untuk diasuh di rumah kita. Carikan orang yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja. Buatlah agar komunitas yang termarginalkan oleh pemodal dan penguasa itu tersenyum bahagia, berkat uluran tangan Anda. Berilah apa yang berlebih pada diri Anda dan jangan dihitung berapakah pemberian yang kita keluarkan. Pemberian kita harus di atas standar minimal. Sekalipun banyak orang tidak mau memberi, biarlah. Kita tetap memberi, karena semua pemberian itu akan kembali kepada kita (QS. Al Isra (17) : 7).

Allah SWT Yang Maha Pemberi, tidak pernah menghitung pemberian-Nya. Dengan suka memberi, kita tertantang untuk kreatif, produktif, dan inovatif. Yang tidak memiliki, tidak memiliki kemampuan untuk memberi (faqidusy syai’i laa yu’thihi). Setelah sukses satu pekerjaan, angkatlah pekerjaan baru yang lebih menantang (QS. Al Insyirah (94) : 7).

Makna hidup tidak harus orang lain tahu. Justru makna hidup yang sejati adalah sepi ing pamrih, rame ing gawe (beramal shalih tanpa hiruk pikuk). Hanya kita sendiri yang merasakan, memaknai, dan menikmatinya. Belajarlah makna hidup dari binatang penyu. Sekali bertelur berjumlah 500-3000 buah. Mencari tempat yang sepi dan gelap. Pemiliknya sendiri, tidak mengetahuinya. Binatang penyu boleh dikata, contoh kongkrit keikhlasan. Orang yang ikhlas, kata ibunda Amin Rais : Dicokot dadi otot, dijiwit dadi kulit, syetan ora doyan, dhemit ora ndulit. Orang ikhlas itu memiliki jiwa besar. Selalu bersikap positif dengan orang-orang yang menjahatinya. Justru dengan jiwa besar, setan dan makhluk halus lainnya tidak akan mampu menggodanya.

Barangsiapa yang awal kehidupannya tanpa makna, ending-nya akan sengsara. Sesungguhnya berbagai keluhan, protes, kejenuhan, gundah gulana, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan terhadap sesuatu secara berlebih-lebihan, disebabkan oleh rusaknya cara pandang dalam melihat dan mencermati makna kehidupan (innama tatawalladud da’awaa min fasadil ibtida).

Hiduplah dalam keadaan mulia, kehidupan sekali yang berarti, dengan memberi manfaat kepada orang lain atau jangan sekedar hidup, dan matilah dengan kesan yang sulit dilupakan bagi yang kita tinggalkan (‘isy kariman au mut syahidan). Jika dalam kehidupan kita tidak seimbang antara kebutuhan aktualisasi diri dan potensialisasi diri, akan mengalami kesepian. Dan kesepian cenderung melakukan tindakan destruktif. Dengan cara hidup mulia dan mati syahid, kehadiran kita selalu dirindukan dan kematian kita selalu dikenang. Semoga kita bisa mengambil ‘ibrah dari pelajaran “krisis makna”.

Ahmad Syauqi, sastrawan terkenal dari Mesir mengatakan: “Jagalah dirimu sebelum kematianmu dengan sebutan baik, sesungguhnya sebutan baik bagi manusia merupakan umur kedua.” [Semarang, 22 April 2010/hidayatullah.com]


Dikirim pada 05 Agustus 2010 di Gambleh

Sebuah kapal karam di tengah laut karena terjangan badai dan ombak hebat. Hanya dua orang lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke sebuah pulau kecil yang gersang.

Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, mereka berdua yakin bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa kepada Tuhan. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat untuk membagi pulau kecil itu menjadi dua wilayah. Dan mereka tinggal sendiri-sendiri berseberangan di sisi-sisi pulau tersebut.

Doa pertama yang mereka panjatkan. Mereka memohon agar diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki ke satu melihat sebuah pohon penuh dengan buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

Seminggu kemudian, lelaki yang ke satu merasa kesepian dan memutuskan untuk berdoa agar diberikan seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal yang karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang berenang dan terdampar di sisi tempat lelaki ke satu itu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apanya.

Segera saja, lelaki ke satu ini berdoa memohon rumah, pakaian, dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban saja, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.

Akhirnya, lelaki ke satu ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi harinya mereka menemukan sebuah kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki ke satu dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap untuk berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lelaki ke dua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya, memang lelaki kedua itu tidak pantas menerima pemberian Tuhan karena doa-doanya tak terkabulkan.

Sahabat, tahukah Anda do’a apa yang dipanjatkan oleh lelaki kedua tersebut ? lelaki kedua tersebut berdo’a memohon agar seluruh permintaan Lelaki yang pertama dikabulkan ?! .

begitulah mungkin kebanyakan dari kita ketika kita telah meraih kesusksesan demi kesuksesan, kita kadang lupa bahwa ada peran orang lain yang mungkin tak pernah kita sangka dan tak juga kita hitung ternyata sangat berperan dalam langkah-langkah kita menuju kesuksesan.

Allah telah mengajarkan kita di dalam Al-Quran untuk berdoa, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk orang lain dan orang-orang terdahulu dari kita.

“ dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa ,“ Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang” (Al Hasyr: 10)

Indahnya doa ini. Begitu dalam maknanya. Jika diteliti, doa untuk diri sendiri adalah hanya permohonan keampunan dari Allah SWT dan selebihnya adalah untuk orang-orang lain yang beriman, bahkan yang telah lebih dahulu beriman. Selanjutnya adalah permintaan agar menyatupadukan hati dalam kebersihan sesama orang beriman. Bersih dari kedengkian, dari hasad, dari iri hati dan bersih dari apa-apa perasaan yang boleh merusak kebersamaan antara orang-orang yang beriman. Dan kebersihan hati yang dimohonkan itu bukan bersifat peribadi, tetapi untuk permohonan bersama. Sungguh indah!

Rasulullah SAW mengajarkan kita mendoakan saudara kita di saat tidak diketahui orang lain, terlebih lagi untuk orang yang kita doakan. Lisan orang berdoa untuk saudaranya adalah wasilah agar doa itu dikabulkan Allah SWT.

“ tidaklah seorang Muslim berdoa untuk saudaranya dalam kondisi tidak ada orang yang mengetahuinya, kecuali Malaikat yang diutus mengatakan kepadanya, “ dan bagimu apa yang engkau minta untuk saudaranmu” (HR Muslim)

Kehadiran malaikat yang mengaminkan permohonan seseorang sebagaimana permohonan orang tersebut kepada saudaranya mengandungi makna lain bahawa doa itu diucapkan kembali kepada diri sendiri.

Mendoakan orang lain menunjukkan perhatian kita kepada orang lain. Sikap kepedulian dan empati ini yang dianjurkan oleh Islam. Maka mendoakan orang lain secara automatiknya menghilangkan perasaan ke’aku’an dan menyingkirkan keegoaan dalam diri. Seseorang yang kerap mendoakan orang lain adalah lebih dekat dengan reality hidup dan lebih sedar akan keterbatasan sebagai hambaNya. Lebih merasakan kesyukuran yang lebih dalam daripada kondisi diri yang dialami kerana melihat kondisi orang lain yang lebih berat.

Dikirim pada 03 Agustus 2010 di Gambleh

IRI HATI RACUN KEBAHAGIAAN

“Rasa iri menggerogoti sukacita, kebahagiaan, dan kepuasan hidup seseorang sampai habis.”


Dahulu di sebuah desa, hiduplah seorang tabib yang sangat pandai mengobati orang. Namanya tabib Lie. Selain pandai mengobati, tabib Lie pun tidak pernah meminta bayaran tinggi sesuai kemampuan penduduk. Itulah sebabnya penduduk senang sekali kepadanya. Keadaan itu membuat tabib Han menjadi iri. Sebenarnya tabib Han juga pandai mengobati orang. Namun, sayang ia selalu meminta bayaran yang tinggi. Jadi penduduk desa kurang senang kepadanya.

Melihat kesuksesan tabib Lie, timbullah niat jahat di benak tabib Han. Suatu hari tabib Han menghadap Baginda Raja Mhing. Raja Mhing terkenal sebagai penguasa yang kurang bijaksana dan cepat sekali emosi. Tabib Han pun memanfaatkan hal itu untuk mencelakan tabib Lie.

Tabib Han melaporkan kepada Baginda Raja, “ Wahai Baginda yang mulia , Tabib Lie ternyata mempunyai sebutir pil umur panjang. Ia sengaja menyembunyikannya untuk dipakai sendiri.”. “Pil umur panjang ? ”kening baginda mengerut. “Benar yang Mulia, tabib Lie berusaha menyembunyikan pil penemuannya itu,”kata tabib Han, berusaha membohongi Baginda.

Mendengar ada sebutir pil yang dapat membuat seseorang menjadi berumur panjang, Baginda Raja pun tertarik. Baginda Raja segera memerintahkan tabib Lie untuk menghadapnya. Tabib lie terkejut saat medengar permintaan Baginda Raja. “Ampun, Baginda Raja. Sebenarnya hamba tidak mempunyai pil umur panjang,”kata tabib hati-hati. Mendengar perkataan tersebut baginda pun marah,”Jangan bohong! Aku tahu kau sengaja menyembunyikan pil itu untuk kau makan sendiri. Aku tidak mau tahu. Kau harus memenuhi permintaanku. Kuberi kau waktu satu minggu. Jika kau tidak memberikan pil itu, kepalamulah taruHannya.” Tabib lie tidak lagi dapat berkata-kata.

Ia mengetahui ini pasi ulah tabib Han, orang yang iri dan selalu mau menyingkirkannya. Tabib Lie kembali ke rumah. Ia sangat sedih dan tidak dapat tidur nyenyak. Istirnya yang mengetahui keadaan suaminya, datang mendekatinya lalu mebisikan sesuatu kepadanya tiba-tiba saja wajah murung tabib Lie berubah ceria. Ternyata sang istri telah memberinya sebuah ide cemerlang untuk mengatasi masalahnya.

Beberapa hari berlalu. Akhirnya waktu yang ditentukan Baginda Raja telah berakhir. Tabib Han bersorak melihat keadaan tabib Lie. “Kali ini kau pasti dapat kusingkirkan,” pikir tabib Han.

Pagi itu tabib Lie datang menghadap Baginda Raja. “Mana pil pesananku?”Tanya Baginda tanpa basa-basi. “Ampun yang Mulia, sebelum hamba memberikan pil umur panjang itu, izinkan hamba menyampaikan sesuatu,”ujar tabib Lie “Cepat katakana,” jawab baginda Raja tak sabar “Pil umur panjang itu baru akan berkhasiat jika Baginda meminumnya sesuai dengan syarat-syaratnya,”jawab tabib Lie menjelaskan.
“Syarat?”Tanya Baginda tidak mengerti
“Sebelum pil umur panjang itu Baginda minum, Baginda harus menjalani puasa selama empat puluh hari empat puluh malam,”jelas tabib Lie
“Syarat yang aneh,”ujar Baginda Raja. “Tetapi baiklah aku akan melakukannya,”lanjutnya.

Akhirnya mulai hari itu Baginda pun menjalani puasanya. Hari pertama puasa, Baginda dapat menjalaninya dengan baik tetapi memasuki hari ke-3 Baginda merasa resah. Ia tidak dapat tidur dan bekerja dengan konsentrasi karena rasa lapar yang dideritanya.

”Apa enaknya mendapatkan pil umur panjang itu kalau aku harus berpuasa sampai empat puluh hari. Mungkin sebelum aku mendapatkannya pil itu aku sudah mati kelaparan,”pikir Baginda Tiba-tiba Baginda sadar kalau permintaanya itu aneh.”mana ada manusia yang abadi ?, Setiap manusia pasti akhirnya akan meninggal juga,”kata baginda.”Alangkah bodohnya aku karena menerima laporan yang tidak masuk akal begitu saja dari tabib Han,”sesal Baginda. Akhirnya Baginda sadar bahwa tabib Han sudah membohonginya. Segera saja ia menyuruh pengawalnya menangkap tabib Han dan menjebloskannya ke dalam penjara.


Sahabat, Hanya sedikit orang yang memiliki sikap menghormati keberhasilan seorang teman tanpa rasa iri hati”. Rasa iri memang hanya akan merusak hati dan kehidupan seseorang. Selain menjauhkan kita dari sukacita dan damai sejahtera, iri hati Hanya akan menyengsarakan hidup. Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.

Bila meyadari bahwa tidak ada satu pun keuntungan dengan menyimpan salah satu penyakit hati itu, mengapa kita tidak berusaha menyingkirkannya? Belajarlah untuk dapat menerima kesuksesan orang lain dengan lapang dada karena terkadang kita harus mengakui bahwa ”diatas langit masih ada langit”. Atau ketika kita melihat keberhasilan seseorang, jadikanlah hal itu sebagai lecutan yang memotivasi diri agar mampu bekerja lebih maksimal lagi. Bila perlu bergaulah dengan mereka dan jalin sebuah hubungan yang baik agar kita pun bias belajar sesuatu untuk meraih sukses.
Jika mereka mampu, kita juga pasti mampu. JIKA KITA SIBUK MEMPERSIAPKAN DIRI MENJADI PRIBADI YANG SEMAKIN BAIK DARI HARI KE HARI, SAYA RASA KITA TIDAK AKAN PUNYA CUKUP WAKTU UNTUK MERASA IRI DENGAN ORANG LAIN. Bagaimana menurut Anda?

"Jangan Sesekali Kamu Iri Hati Kerana Iri Hati Menghapuskan Kebajikan Seperti Api Menghanguskan Kayu Bakar" - Riwayat Abu Dawud

Terapi Mengobati Iri hati

Iri hati adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Dan hati tidak bisa diobati kecuali dengan ilmu dan amal. Ilmu tentang iri hati yaitu hendaknya kita ketahui bahwa iri hati sangat membahayakan kita, baik dalam hal agama maupun dunia. Dan bahwa keiri hatian itu setitikpun tidak membahayakan orang yang diirihati, baik dalam hal agama atau dunia, bahkan ia malah memetik manfaat darinya. Dan nikmat itu tidak akan hilang dari orang yang kita iri hati hanya karena keiri hatian kita.

Bahkan seandainya ada orang yang tidak beriman kepada hari Kebangkitan, tentu lebih baik baginya meninggalkan sifat iri hati daripada harus menanggung sakit hati yang berkepanjangan dengan tiada manfaat sama sekali, apatah lagi jika kemudian siksa akhirat yang sangat pedih menanti?

Bahkan kemenangan itu ada pada orang yang diiri hati, baik untuk agama maupun dunia. Dalam hal agama, orang itu teraniaya oleh Kita, apalagi jika keiri hatian itu tercermin dalam kata-kata, umpatan, penyebaran rahasia, kejelekan dan lain sebagainya. Dan balasan itu akan dijumpai di akhirat. Adapun kemenangannya di dunia adalah musuhmu bergembira karena kesedihan dan keirihatianmu itu.

Adapun amal yang bermanfaat yaitu hendaknya kita melakukan apa yang merupakan lawan dari keiri hatian. Misalnya, jika dalam jiwa kita ada iri hati kepada seseorang, hendaknya kita berusaha untuk memuji perbuatan baiknya, jika jiwa ingin sombong, hendaknya kita melawannya dengan rendah hati, jika dalam hati kita terbetik keinginan menahan nikmat pada orang lain maka hendaknya kita berdoa agar nikmat itu ditambahkan. Dan hendaknya kita teladani perilaku orang-orang salaf yang bila mendengar ada orang iri padanya, maka mereka segera memberi hadiah kepada orang tersebut.

Dan sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya kita renungkan kata-kata Ibnu Sirin: "Saya tidak pernah meng-iri hati kepada seorangpun dalam urusan dunia, sebab jika dia penduduk Surga, maka bagaimana aku menghasudnya dalam urusan dunia sedangkan dia berjalan menuju Surga. Dan jika dia penduduk Neraka, bagaimana aku menghasud dalam urusan dunianya sementara dia sedang berjalan menuju ke Neraka."

Sahabat, namun ada dua iri hati yang diperbolehkan yaitu :
1. Iri terhadap orang yang dikaruniai kemampuan membaca Al-Qur’an lalu ia membacanya siang dan malam hari
2. Iri terhadap orang yang dikaruniai Harta lalu ia mensedekahkan pada siang dan malam hari



http://www.facebook.com/ervan.budianto?v=app_2347471856#!/notes.php?id=1646918032

Dikirim pada 03 Agustus 2010 di Gambleh

Tidak satu manusiapun di dunia ini yang tidak dikaruniai masalah, masalah pribadi, masalah keluarga, masalah lingkungan masyarakat sampai masalah Negara dan dunia. Dan tidak ada satu manusiapun mampu lari dari masalah kemanapun kita lari, ke Kota Besar ? ke luar negeri ? sampai uzlah/menyepi di hutanpun pasti dan pasti ada masalah.

Bagaimana menghadapainya ? sederhana saja, mulai sekarang ubahlah kata ” Masalah ” menjadi ” Guru ”, jadi kalau ada masalah datang berarti kita sedang didatangi Guru, maka jangan kita sia-siakan untuk segera belajar dengan Sang Guru tersebut.

Jadi bergembiralah kita semua yang selalu peduli dan rela hidup bersanding dengan berbagai masalah keummatan, karena disitulah berbagai macam Guru berdatangan untuk melatih dan memperkaya Ilmu Strategi menghadapai permasalahan ummat yang sangat rindu dan menunggu solusi tuntas berbagai masalah kehidupan.

Sahabat, ternyata tidak selamanya orang besar dan berpendidikan mampu menyelesaikan masalah yang sebenarnya ringan, kadang orang-orang kecil polos lebih punya strategi dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan yang rumit sekalipun, coba kita simak guyonan Madura di bawah ini (bukan berniat SARA cuma rekaan fiktif saja)

Alkisah seorang juragan garam terkaya di Madura ingin melihat ibukota Jakarta dimana Presiden “yang seorang Kyai” tinggal. Ia memutuskan untuk pergi ke Jakarta dengan menggunakan pesawat.

Setelah ticket berada ditangan dia langsung menuju ke pesawat dan langsung duduk di business class. Tidak lama berselang, seorang business man naik pesawat dan mendapati kursinya telah diduduki oleh penumpang lain, maka terjadilah peristiwa seperti berikut:

Business man : Ma’af pak ini tempat duduk saya.
Madura : Sampeyan siapa (tanya Madura kepada business man)
Business man : Saya penumpang.
Madura : Lho sesama penumpang kok ser-ngoser.
itu kan masih banyak kursi yang lain.
sampeyan dodok saja disana.
Karena tidak ingin terjadi keributan maka si businessman menemui pramugari dan mengadukan hal tersebut.

Dan setelah mengecek ticket milik business man, si pramugari menghampiri si Madura.
Pramugari : Ma’af pak, bapak tidak boleh duduk di sini.tempat bapak di bagian lain.
Madura : Sampeyan siapa (tanya Madura kepada pramugari)
Pramugari : Saya Pramugari.
Madura : Apa itu pramugari saya ndak tahu, apa kerjaan sampeyan…?!
Pramugari : Saya bertugas melayani bapak.
Madura : Lho sampeyan tugasnya melayani saya kok ser-ngoser.saya ndak mau (hardik si Madura)

Karena kehabisan akal si pramugari menjumpai Kapten dan mohon bantuan atas perihal tersebut.
Kapten pun mendatangi si Madura..
Kapten : Ma’af pak, tempat duduk ini milik bapak yang itu,
jadi bapak harus duduk di tempat yang lain.
Madura : Sampeyan siapa (tanya si madura dengan kesal)
Kapten : Saya pilot.
Madura : Apa itu pilot, apa kerjaan sampeyan.
Kapten : Saya yang nyopir pesawat ini.
Madura : Saya naik bis ndak pernah di ser-oser sama sopir.pokoknya saya mau duduk disini.

Akhirnya semua kehabisan akal dengan ulah si madura. tapi untunglah penumpang terakhir yang baru naik adalah mbok Bariyah.
Langsung saja Pramugari menceritakan hal tersebut dan minta pertolongan kepada mbok Bariyah.
Pramugari : ehh, mbok Bariyah, selamat siang. mbok tolong saya ya, ada penumpang yang bikin repot nih.
mbok Bariyah : Penumpang yang mana.
Pramugari : Itu, bapak yang dari madura itu, harusnya duduk di kelas ekonomi tapi dia
terlanjur duduk di tempatnya bapak ini.
mbok Bariyah : ooh, gampang itu, serahkan saja ambek saya, pokoknya ditanggung beres.
Serta-merta mbok Bariyah menghampiri Bapak Madura.
mbok Bariyah : He..He.. pak sampiyan mau kemana.
Madura : Oh, saya mau ke Jakarta.
mbok Bariyah : Lho…sampiyan salah pak, tempat duduk ini untuk tujuan Medan, kalau ke Jakarta tempatnya disana, disebelah belakang. itu tempat sampeyan masih kosong.
Madura : Oh…iya.., ini untuk yang mau ke Medan ya….
terema…..terema…kasih... ya bik…..

” Bicaralah sesuai dengan kadar intelektual mereka ” ( Al-Hadits )

” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk ” ( Q.S. Anhl : 16 )

TERSENYUMLAH karena sebentar lagi BULAN MULIA akan menjadi TAMU KITA, mari kita sambut dengan penuh persiapan secara maksimal agar kita dapat hidup didalamnya secara optimal.

http://www.facebook.com/ervan.budianto?v=app_2347471856#!/notes.php?id=1646918032

Dikirim pada 03 Agustus 2010 di Gambleh

Sekarang hampir semua organisasi tergila-gila pada selembar ijazah dan nyaris menafikan hasil perjalanan panjang anak manusia yang dipetiknya sepanjang perjalanan kerjanya. Vertical social climbing nyaris pudar saat ini. Tak lama lagi kita bisa akan kehilangan sosok2 sejenis Houtman Zainal Arifin ini.

Evi Douren


Kisah Nyata Seorang OB menjadi Vice President Citibank


Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.



Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:



Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.



Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.



Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.



Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.



Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.



Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.



Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.



Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan
tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.



Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.



Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.



Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.



19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.



Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .



(Kisah Nyata Houtman Zainal Arifin, disampaikan dalam training Leadership bank Syariah Mandiri)

Evi Douren

Dikirim pada 03 Agustus 2010 di Gambleh

Iman itu terkadang menggelisahkan. Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

“..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur.” (Saba’ 13)

salim a. fillah -www.fillah.co.cc-

Dikirim pada 27 Juli 2010 di Gambleh

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ



dakwatuna.com – “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.”

Sabda Rasulullah saw. ini ada dalam Kitab Sunan Tirmidzi. Hadits 2320 ini dimasukkan oleh Imam Tirmidzi ke dalam Kitab “Zuhud”, Bab “Sabar Terhadap Bencana”.

Hadits Hasan Gharib ini sampai ke Imam Tirmidzi melalui jalur Anas bin Malik. Dari Anas ke Sa’id bin Sinan. Dari Sa’id bin Sinan ke Yazid bin Abu Habib. Dari Yazid ke Al-Laits. Dari Al-Laits ke Qutaibah.

Perlu Kacamata Positif

Hidup tidak selamanya mudah. Tidak sedikit kita saksikan orang menghadapi kenyataan hidup penuh dengan kesulitan. Kepedihan. Dan, memang begitulah hidup anak manusia. Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit. Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami/istri selingkuh. Pahit karena anak tidak saleh. Pahit karena sakit yang menahun. Pahit karena belum mendapat jodoh di usia yang sudah tidak muda lagi.

Sayang, tidak banyak orang memahami kegetiran itu dengan kacamata positif. Kegetiran selalu dipahami sebagai siksaan. Ketidaknyamanan hidup dimaknai sebagai buah dari kelemahan diri. Tak heran jika satu per satu jatuh pada keputusasaan. Dan ketika semangat hidup meredup, banyak yang memilih lari dari kenyataan yang ada. Atau, bahkan mengacungkan telunjuk ke langit sembari berkata, “Allah tidak adil!”

Begitulah kondisi jiwa manusia yang tengah gelisah dalam musibah. Panik. Merasa sakit dan pahit. Tentu seorang yang memiliki keimanan di dalam hatinya tidak akan berbuat seperti itu. Sebab, ia paham betul bahwa itulah konsekuensi hidup. Semua kegetiran yang terasa ya harus dihadapi dengan kesabaran. Bukan lari dari kenyataan. Sebab, ia tahu betul bahwa kegetiran hidup itu adalah cobaan dari Allah swt. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

Hadits di atas mengabarkan bahwa begitulah cara Allah mencintai kita. Ia akan menguji kita. Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita. Bukankah itu obsesi tertinggi seorang muslim? Mardhotillah. Keridhaan Allah swt. sebagaimana yang telah didapat oleh para sahabat Rasulullah saw. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka.

Yang Manis Terasa Lebih Manis

Kepahitan hidup yang dicobakan kepada kita sebenarnya hanya tiga bentuk, yaitu ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Orang yang memandang kepahitan hidup dengan kacamata positif, tentu akan mengambil banyak pelajaran. Cobaan yang dialaminya akan membuat otaknya berkerja lebih keras lagi dan usahanya menjadi makin gigih. Orang bilang, jika kepepet, kita biasanya lebih kreatif, lebih cerdas, lebih gigih, dan mampu melakukan sesuatu lebih dari biasanya.

Kehilangan, kegagalan, ketidakberdayaan memang pahit. Menyakitkan. Tidak menyenangkan. Tapi, justru saat tahu bahwa kehilangan itu tidak enak, kegagalan itu pahit, dan ketidakberdayaan itu tidak menyenangkan, kita akan merasakan bahwa kesuksesan yang bisa diraih begitu manis. Cita-cita yang tercapai manisnya begitu manis. Yang manis terasa lebih manis. Saat itulah kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebab, sekecil apa pun nikmat yang ada terkecap begitu manis.

Itulah salah satu rahasia dipergilirkannya roda kehidupan bagi diri kita. Sudah menjadi ketentuan Allah ada warna-warni kehidupan. Adakalanya seorang menatap hidup dengan senyum tapi di saat yang lain ia harus menangis.

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali ‘Imran: 140)

Begitulah kita diajarkan oleh Allah swt. untuk memahami semua rasa. Kita tidak akan mengenal arti bahagia kalau tidak pernah menderita. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis karena tidak pernah merasakan pahit.

Ketika punya pengalaman merasakan manis-getirnya kehidupan, perasaan kita akan halus. Sensitif. Kita akan punya empati yang tinggi terhadap orang-orang yang tengah dipergilirkan dalam situasi yang tidak enak. Ada keinginan untuk menolong. Itulah rasa cinta kepada sesama. Selain itu, kita juga akan bisa berpartisipasi secara wajar saat bertemu dengan orang yang tengah bergembira menikmati manisnya madu kehidupan.

Bersama Kesukaran Selalu Ada Kemudahan

Hadits di atas juga berbicara tentang orang-orang yang salah dalam menyikapi Kesulitan hidup yang membelenggunya. Tidak dikit orang yang menutup nalar sehatnya. Setiap kegetiran yang mendera seolah irisan pisau yang memotong syaraf berpikirnya. Kenestapaan hidup dianggap sebagai stempel hidupnya yang tidak mungkin terhapuskan lagi. Anggapan inilah yang membuat siapa pun dia, tidak ingin berubah buat selama-lamanya.

Parahnya, perasaan tidak berdaya sangat menganggu stabilitas hati. Hati yang dalam kondisi jatuh di titik nadir, akan berdampat pada voltase getaran iman. Biasanya perasaan tidak berdaya membutuhkan pelampiasan. Bentuk bisa kemarahan dan berburuk sangka. Di hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi di atas, bukan hal yang mustahil seseorang akan berburuk sangka terhadap cobaan yang diberikan Allah swt. dan marah kepada Allah swt. “Allah tidak adil!” begitu gugatnya. Na’udzubillah! Orang yang seperti ini, ia bukan hanya tidak akan pernah beranjak dari kesulitan hidup, ia justru tengah membuka pintu kekafiran bagi dirinya dan kemurkaan Allah swt.

Karena itu, kita harus sensitif dengan orang-orang yang tengah mendapat cobaan. Harus ada jaring pengaman yang kita tebar agar keterpurukan mereka tidak sampai membuat mereka kafir. Mungkin seperti itu kita bisa memaknai hadits singkat Rasulullah saw. ini, “Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (HR. Athabrani)

Tentu seorang mukmin sejati tidak akan tergoyahkan imannya meski cobaan datang bagai hujan badai yang menerpa batu karang. Sebab, seorang mukmin sejati berkeyakinan bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Setelah hujan akan muncul pelangi. Itu janji Allah swt. yang diulang-ulang di dalam surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Jadi, jangan lari dari ujian hidup


Dikirim pada 27 Juli 2010 di Gambleh

Pada saat peristiwa Fathu Makkah (penaklukkan Mekkah oleh pasukan kaum muslimin dibawah pimpinan Rasulullah SAW), ada seseorang di Mekkah yang berniat membunuh Rasulullah. Orang ini bernama Fadhalah bin Umair al-Laitsi. Dia bermaksud membunuh Nabi Muhammad SAW ketika beliau sedang thawaf di Ka’bah.

Untuk melancarkan niatnya itu, Fadhalah mencoba mendekat ke Rasul yang sedang thawaf. Ketika mendekat, tiba-tiba Rasulullah SAW menegurnya, “Apakah ini Fadhalah?”

“Ya, saya Fadhalah wahai Rasulullah SAW” jawab Fadhalah.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Rasulullah SAW.

“Tidak memikirkan apa-apa. Aku sedang teringat Allah kok” jawab Fadhalah.

Mendengar jawaban Fadhalah itu, Rasulullah SAW tersenyum dan berkata, “Mohonlah ampun kepada Allah…”

Kemudian Nabi SAW meletakkan tangannya di atas dada Fadhalah sehingga hatinya menjadi tenang.

Dari peristiwa itu, Fadhalah mengatakan “Begitu beliau melepaskan tangannya dari dadaku, aku merasa tak seorang pun yang lebih aku cintai daripada Beliau.”

Setelah peristiwa itu menimpa Fadhalah, dia tidak jadi membunuh Rasulullah SAW dan segera pulang ke rumah. Ketika pulang ke rumah, dia melewati seorang wanita yang pernah dicintainya. Wanita itu memanggil dan mengajaknya berbicara. Tapi kemudian dari mulut Fadhalah keluar untaian bait-bait ini:

Dia berkata: Marilah kita ngobrol!
Tidak, jawabku.
Allah dan Islam telah melarangku
Aku baru saja melihat Muhammad
Di hari penaklukan, hari dihancurkannya semua berhala
Agama Allah itu sangat jelas dan nyata
Sedang kemusyrikan adalah kegelapan

Fadhalah jatuh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Fadhalah jatuh cinta kepada Islam…. []

(hdn/hudzaifah) dakwatuna.com

Dikirim pada 23 Juli 2010 di Gambleh




Iman itu terkadang menggelisahkan. Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”
Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

“..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur.” (Saba’ 13)

salim a. fillah -www.fillah.co.cc-

Dikirim pada 23 Juli 2010 di Gambleh

Mulai sekarang, kurangilah aktifitas Duduk dalam jangka waktu lama, karena hal itu perlahan bisa membunuh anda. Berdasarkan poling yang dilakukan Institute for Medicine and Public Health terhadap 6.300 orang, diketahui bahwa rata-rata orang Amerika menghabiskan waktu 56 jam dalam seminggu hanya untuk duduk. Peneliti menyebutkan hal tersebut akan memicu sebagai sitting disease atau penyakit duduk. Dan Penyakit ini diperkirakan akan semakin meningkat di masa depan dan kelak bisa mengancam kesehatan manusia.

Menurut Marc Hamilton, PhD, profesor biomedis dari University of Missouri, metabolisme tubuh akan terganggu saat duduk dalam jangka waktu lama. "Setelah duduk berjam-jam, tubuh akan mulai mematikan tingkatan metabolismenya, menurunkan sirkulasi dan sedikit membakar kalori," ujar Hamilton.

Semakin sedikit bergerak, semakin sedikit pula gula dalam darah yang digunakan tubuh. "Bahkan setiap 2 jam duduk, kemungkinan terkena diabetes meningkat sebesar 7 persen," kata Hamilton.

Kebanyakan duduk juga tidak baik untuk postur tubuh dan tulang belakang. "Bahkan jika Anda pergi ke tempat fitnes tiap hari, 60 menit waktu yang dihabiskan disana tidak akan bisa menggantikan kerusakan yang terjadi akibat tubuh yang duduk setiap hari," jelas Genevieve Healy, PhD, dari Cancer Prevention Research Centre of the University of Queensland, Australia.

Lalu apa solusinya? "Seimbangkan semuanya dengan aktivitas fisik. Perbanyak gerakan dalam setiap harinya, seperti berjalan kaki, peregangan, lari dan juga seks," kata Healy. [ratna/voa-islam.com]


Dikirim pada 19 Juli 2010 di Gambleh

STROKE adalah penyebab kematian kedua di dunia dengan angka lebih dari 5.1 juta. Angka kematian pada pria dan wanita relatif sama, tetapi angka kematian di negara-negara miskin dan sedang berkembang jauh lebih besar dari pada angka kematian stroke di negara-negara maju. Tahun 2020, angka kematian karena stroke diperkirakan akan mencapai 7.6 juta orang.
Stroke terjadi apabila pembuluh darah di otak pecah atau tersumbat. Gejala-gejala stroke berlangsung lebih dari 24 jam.

Berdasarkan penyebabnya, stroke terbagi menjadi dua macam, yakni:
1. Cerebral haemorrhage (stroke hemorajik), yaitu stroke yang terjadi karena pecahnya pembuluh darah.
2. Ischaemic stroke (stroke iskemik), yaitu stroke yang terjadi karena sumbatan pembuluh darah.
Dilihat dan gejalanya, stroke terbagi menjadi tiga macam, yakni:
1. Stroke sementara (sembuh dalam beberapa menit atau jam).
2. Stroke ringan (sembuh dalam beberapa minggu).
3. Stroke berat (sembuh dengan meninggalkan cacat, tidak bisa sembuh total, bahkan dalam beberapa bulan (tahun) bisa mengakibatkan kematian.
Baik stroke sementara, ringan maupun berat mempunyai lima gejala utama, yaitu:
1. Pusing atau sakit kepala tiba-tiba tanpa tahu sebabnya.
2. Tiba-tiba kehilangan keseimbangan, koordinasi dan kontrol tubuh.
3. Kehilangan penglihatan pada salah satu atau kedua mata.
4. Kehilangan kesadaran dan bicara tidak jelas.
5. Kelemahan dan kelumpuhan pada wajah, lengan, tangan, terutama pada salah satu sisi tubuh.


Tindakan dan Pencegahan
Meskipun hanya terserang stroke sementara, namun dianjurkan pada penderita untuk cepat-cepat ke rumah sakit atau dokter terdekat. Penanganan dokter atau pihak rumah sakit tersebut akan menentukan kesembuhan penderita itu.

Sejurnlah penderita dapat sembuh dan stroke, namun banyak yang meninggal atau mengalami cacat permanen (kelumpuhan, gangguan bicara dan kehilangan sebagian daya ingat). Stroke hemorajik memiliki probabiliitas lebih besar sebagai penyebab cacar atau kematian ketimbang stroke iskemik.

Seorang yang pernah mengalami stroke ringan bisa mendapatkan serangan stroke ulangan. Bahkan risiko berulangnya stroke sangat tinggi. Kurang lebih dan lima penderita akan mendapat stroke sekunder dalam waktu lima tahun. Namun seiring perkembangan pengobatan stroke, risiko berulangnya penyakit itu bisa dikurangi. Asam asetil salisilat yang banyak dipakai oleh penderita stroke iskemik (TIA) dapat mengurangi risiko stroke sekunder sebesar 25 – 33 %.

Operasi untuk menghilangkan sumbatan pada arteri karotid yang mengalirkan darah ke otak juga dapat mengurangi risiko stroke pada penderita stroke iskemik (TIA). Akan tetapi hanya sebagian kecil penderita yang dapat menjalani operasi in Obat-obat anti pembekuan darah dapat pula digunakan untuk mengurangi risiko stroke yang dikarenakan gangguan irama jantung. Namun, hanya sebagain kecil penderita yang menerimanya.


Siapapun tidak akan pernah tahu kapan stroke datang. Tapi, langkah-langkah pencegahan di bawah ini mungkin bisa menjadi angin segar bagi semua orang:

+ Rutin memeriksa tekanan darah
Tingkat tekanan darah adalah faktor paling dominan pada semua jenis stroke. Makin tinggi tekanan darah makin besar risiko terkena stroke. Jika tekanan darah meningkat, segera konsultasikan dengan seorang dokter. Tekanan darah yang harus diwaspadai adalah jika angka tertinggi di atas 135 dan angka terbawah adalah 85.

+ Waspadai gangguan irama jantung (attrial fibrillation)
Detak jantung tidak wajar menunjukkan perubahan fungsi yang mengakibatkan darah terkumpul dan menggumpal di dalam jantung. Detak jantung yang mampu menggerakkan gumpalan darah sehingga masuk pada aliran darah itu mengakibatkan stroke. Gangguan irama jantung dapat dideteksi dengan menilai detak nadi.

+ Berhenti merokok dan anti alkohol
Rokok dapat meningkatkan risiko stroke dua kali lipat. Sebagaimana rokok, alkohol dapat meningkatkan risiko stroke dan penyakit lain seperti liver.

+ Periksa kadar kolesterol dalam tubuh
Mengetahui tingkat kolesterol dapat meningkatkan kewaspadaan stroke. Kolesterol tinggi mengarah pada risiko stroke. Jika kolesterol tinggi, maka segeralah untuk menurunkannya dengan memilih makanan rendah kolesterol. Agar kolesterol dalam tubuh tidak berlebihan, maka gantilah asupan lemak jenuh dengan asupan asam lemak tak jenuh, seperti: omega 3, 6 dan 9.

+ Kontrol kadar gula darah
Diabetes mampu meningkatkan risiko stroke. Jika Anda penderita diabetes, konsultasilah dengan seorang dokter mengenai makanan dan minuman yang bisa dikonsumsi untuk menurunkan gula darah.

+ Olabraga teratur
jalan cepat minimal 30 menit sehari bisa menurunkan risiko stroke. Anda juga bisa melakukan olahraga renang, sepeda, dansa, golf, atau tenis. Pilih olahraga yang Anda sukai dan lakukan secara teratur tiga kali seminggu.


+ Konsumsi garam rendah sodium dan diet lemak
Kurangi konsumsi garam bersodium tinggi. Sebaliknya konsumsilah buah, sayuran, dan gandum untuk mengurangi risiko stroke.


+ Waspadai gangguan sirkulasi darah
Stroke berkaitan dengan jantung, pembuluh arteri dan vena. Tiga bagian ini penting bagi sirkulasi darah ke seluruh tubuh, termasuk dan jantung ke otak. Ketika terdapat tumpukan lemak yang menghambat aliran, maka risiko stroke meningkat. Masalah ini dapat diobati. Operasi pula mampu mengatasi tumpukan lemak yang menghambat pembuluh arteri. (www.rumahfarmasi.com)


Dikirim pada 19 Juli 2010 di Gambleh

Hafshah binti Umar bin Khatab adalah ummul mukminin yang gemar berpuasa dan shalat. Ibunya adalah Zainab binti Madh’un binti Hasib. Hafshah adalah sebelumnya isteri dari sahabat Khunais bin Khudzafah al-Sahmi yang ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) dan Madinah.Suaminya Khunais syahid pada perang Uhud.

Meskipun, hidupnya dirundung duka nestapa, semenjak suaminay syahid di padang Uhud, dan penuh dengan duka, keimanan dan keteguhan (sikapnya yang tsabat) hati Hafshah dapat meredam segala yang terjadi dan menerpa dirinya, dan Hafshah menyadari benar bahwa semua adalah semata karena takdir-Nya.

Kesabaran, ketabahan, sikap hidup yang qanaah (ridha) selalu menyelimut pribadinya. Tidak pernah berkeluh kesah dengan keadaan yang dihadapinya. Segalanya diterima penuh dengan ikhlas dan tawakal. Dijalaninya kehidupan sehari-hari tanpa rasa cemas dan khawatir, dan selalu yakin atas janji Allah Azza Wa Jalla. Hafshah yakin atas pertolongan dari Allah, dan tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Wanita Muslimah itu benar-behar pasrah-seprasahnya. Tidak bersuudhon (berburuk sangka) kepada Allah Rabbul Alamin.

Karena sikap yang sangat zuhud dan wara’, dan selalu berpuasa itu, maka ia mendapatkan julukan ‘sawwamah’ (orang yang selalu berpuasa) dan qawwamah (orang yang selalu bangun malam). Hafshah tidak pernah henti berpuasa dan bangun malam untuk bertemu dengan Rabbnya. Hidupnya tidak dimanjakan dengan keinginan-keinginan yang dapat menjauhkan dari Rabbnya. Maka, ia selalu berpuasa, menahan lapar dan dahaga, dan terus bangun malam, meskipun di siang hari tetap bekerja.

Kemudian, Umar berkeinginan keras agar Hafshah dapat dipertemukan dengan Utsman r.a., namun dengan sikapnya yang halus, ternyata Utsman menyatakan ketidaksanggupannya. Betapa Hafshah di mata Utsman, wanita yang sangat mulia, puteri Umar, dan kehidupan yang penuh dengan zuhud dan wara’, serta berpuasa dan bangun malam. Demikian pula, sahabat Abu Bakar As-Sidiq, tak sanggup untuk menikahinya.

Tetapi, segala ketentuan kehidupan ada di tangan Allah Azza Wa Jalla, dan takdir dan hikmah-Nya yang sangat agung. Kemudian, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, menkahinya dan menjadikan dia sebagai ‘ummul mukminun’, gelar kehormatan bagi para isteri Rasulullah Shallahu Alaih Wa Salam.

Dengan kehidupan yang begitu sedih, cobaan begitu berat, tetapi tidak menghilangkan rasa cintanya kepda Allah Azza Wa Jalla. Tetap bertaqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah, berpuasa yang terus menerus, dan melakukan ibadah di malam hari, Hafshah akhirnya menjadi ‘Ummul Mukminun’. Sebuah gelar kemuliaan yang disandangnya, dan kelak akan mendapatkan kemuliaan di disisi-Nya.

Betapa kehidupan ini hanya dapat dinikmati dengan melakukan ibadah-ibadah yang berat, dan penuh dengan pengorbanan, serta menjadikan Rabbnya semata menjadi tujuan hidupnya. Kesedihan yang mula-mula mengawalinya dalam kehidupan, kemudian berakhir dengan kebahagiaan.


Dikirim pada 19 Juli 2010 di Gambleh

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radliyallahu anhu berkata, "Aku bertanya, Wahai Rasulallah, Aku tidak pernah melihat Anda berpuasa pada bulan-bulan lain sebagaimana Anda berpuasa pada bulan Syaban?" Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia yang berada di antara Rajab dan Ramadlan. Dia adalah bulan dinaikannya amal-amal perbuatan kepada Rabb semesta alam (Allah) dan aku senang ketika amalku dinaikkan aku dalam keadaan berpuasa." (HR. al-Nasai dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.” (Lathaif Al Ma’arif, hal. 235)

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)

Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau berpuasa Syaban hanya sedikit hari saja.” (HR. Muslim no. 1156) Maknanya bahwa beliau tidak pernah mengosongkan bulan Syaban dari berpuasa, terkadang beliau puasa di bagian-bagian awal, terkadang di bagian akhir, dan terkadang di pertengahan. (Lihat Syarah hadits ini dalam Syarah Shahih Muslim oleh Imam al-Nawawi) (voa-islam.com)

Dikirim pada 14 Juli 2010 di Gambleh

Hisyam bin Yahya al-Kinaniy berkata, “Kami berperang melawan bangsa Romawi pada tahun 38 H yang dipimpin oleh Maslamah bin Abdul Malik. Dalam pertempuran itu ada di antara kami seorang lelaki yang bernama Sa’id bin Harits yang terkenal banyak beribadah, berpuasa di siang hari, dan shalat di malam hari.

Saya melihat orang itu adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik siang maupun malam hari. Jika dia tidak sedang melakukan shalat atau ketika kami berjalan-jalan bersama, saya lihat dia tidak pernah lepas dari berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam ketika kami melakukan pergantian jaga (saat mengepung benteng Romawi), sungguh saat itu kami dibuat bingung olehnya. Saat itu saya katakan kepadanya, ‘Tidurlah sebentar karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pada musuh. Jika terjadi sesuatu agar nantinya kamu dalam keadaan siaga.’

Lalu dia tidur di sebelah tenda sedangkan saya berdiri di tempatku berjaga. Di saat itu saya mendengar Said berbicara dan tertawa, lalu mengulurkan tangan kanannya seolah-olah mengambil sesuatu kemudian mengembalikan tangannya sambil tertawa. Kemudian ia berkata, ‘Semalam.’ Setelah berkata seperti itu tiba-tiba ia melompat dari tidurnya dan terbangun dan bergegaslah dia bertahlil, bertakbir, dan bertahmid.

Lalu saya bertanya kepadanya, ‘Bagus sekali, wahai Abul Walid (panggilan Sa’id), sungguh saya telah melihat keanehan pada malam ini. Ceritakanlah apa yang kau lihat dalam tidurmu.’

Dia berkata, ‘Aku melihat ada dua orang yang belum pernah aku lihat kesempurnaan sebelumnya pada selain diri mereka berdua. Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai Sa’id, berbahagialah, sesungguhnya Allah swt. telah mengampuni dosa-dosamu, memberkati usahamu, menerima amalmu, dan mengabulkan doamu. Pergilah bersama kami agar kami menunjukkan kepadamu kenikmatan-kenikmatan apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.’

Tak henti-hentinya Sa’id menceritakan apa-apa yang dilihatnya, mulai dari istana-istana, para bidadari, hingga tempat tidur yang di atasnya ada seorang bidadari yagn tubuhnya bagaikan mutiara yang tersimpan di dalamnya. Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah lama kami menunggu kehadiranmu.” Lalu aku berkata kepadanya, “Di mana aku?” Dia menjawab, “Di surga Ma’wa.” Aku bertanya lagi, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah istrimu untuk selamanya.”

Sa’id melanjutkan ceritanya. “Kemudian aku ulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Akan tetapi dia menolak dengan lembut sambil berkata, ‘Untuk saat ini jangan dulu, karena engkau akan kembali ke dunia.’ Aku berkata kepadanya, “Aku tidak mau kembali.” Lalu dia berkata, “Hal itu adalah keharusan, kamu akan tinggal di sana selama tiga hari, lalu kamu akan berbuka puasa bersama kami pada malam ketiga, insya Allah.”

Lalu aku berkata, “Semalam, semalam.” Dia menjawab, “Hal itu adalah semuah kepastian.” Kemudian aku bangkit dari hadapannya, dan aku melompat karena dia berdiri, dan saya terbangun.

Hisyam berkata, “Bersyukurlah kepada Allah, wahai saudaraku, karenaDia telah memperlihatkan pahala dari amalmu.” Lalu dia berkata, “Aapakah ada orang lain yang bermimpin seperti mimpiku itu?” Saya menjawab, “Tidak ada.” Dia berakta, “Dengan nama Allah, aku meminta kepadamu untuk merahasiakan hal ini selama aku masih hidup.” Saya katakan kepadanya, “Baiklah.”

Lalu Sa’id keluar di siang hari untuk berperang sambil berpuasa, dan di malam hari ia melakukan shalat malam sambil menangis. Sampai tiba saatnya, dan sampailah malam ketiga. Dia masih saja berperang melawan musuh, dia membabat musuh-musuhnya tanpa sekalipun terluka. Sedangkan saya mengawasinya dari kejauhan karena saya tidam mampu mendekatinya. Sampai pada saat matahari menjelang terbenam, seorang lelaki melemparkan panahnya dari atas benteng dan tepat mengenai tenggorokannya. Kemudian dia jatuh tersungkur, lalu dengan segera aku mendekati dia dan berkata kepadanya, “Selamat atas buka malammu, seandainya aku bisa bersamamu, seandainya….”

Lalu ia menggigit bibir bawahnya sambil memberi isyarat kepadaku dengan tersenyum. Seolah-olah dia berharap ‘Rahasiakanlah ceritaku itu hingga aku meninggal’. Kemudian dari bibirnya keluar kata-kata, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janjiNya kepada kami.” Maka demi Allah, dia tidak berucap kata-kata selain itu sampai dia meninggal.

Kemudian saya berteriak dengan suaraku yang paling keras, “Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian semua melakukan amalan untuk hal seperti ini,” dan aku ceritakan tentang kejadian tersebut. Dan orang-orang membicarakan tentang kisah itu dan mereka satu sama lain saling memberikan teguran dan nasihat. Lalu pada pagi harinya mereka bergegas menuju benteng dengan niat yagn tulus dan dengan hati yang penuh kerinduan kepada Allah swt. Dan sebelum berlalunya waktu Dhuha benteng sudah bisa dikuasai berkat seorang lelaki saleh itu, yaitu Sa’id bin Harits. (dakwatuna.com)

Dikirim pada 14 Juli 2010 di Gambleh

Oleh: Eva Fauzah, M.Psi., Psikolog

Kemampuan membaca memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena membaca merupakan bekal bagi keberhasilan individu di sekolah dan kehidupan selanjutnya kelak di masyarakat. Allah SWT menunjukkan peran penting membaca dalam Al-Quran surat Al-‘Alaq ayat 1-5 :

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Kemampuan membaca ternyata tidak muncul begitu saja pada diri seseorang, tetapi harus mengikuti suatu proses yang panjang. Perkembangan membaca digambarkan sebagai berikut:

a. Pada usia 4-5 tahun anak dilatih untuk memiliki kesiapan belajar membaca.

b. Di usia 5-6 tahun anak mulai menyadari bunyi-bunyi huruf dan belajar mengenali sebagian besar huruf dari alfabet. Selain itu, anak usia ini mampu mengingat cara membaca satu kata hanya dari huruf awal dan akhirnya saja.

c. Pada usia 6-7 tahun, yaitu saat duduk di kelas satu dan dua Sekolah Dasar (SD), anak-anak mulai mengenal bagaimana cara mengeja.

d. Sedangkan pada usia 7-8 tahun, yaitu kelas dua dan tiga Sekolah Dasar, anak-anak secara otomatis mampu membaca kata-kata yang umum, mulai membaca sedikit demi sedikit, baru kemudian mahir membaca dan membaca dengan tidak bersuara. Pada tahap-tahap selanjutnya, barulah individu mempelajari hal-hal baru dari apa yang dibacanya

...anak usia 4-6 tahun seringkali dituntut sudah bisa membaca, padahal menurut perkembangan membaca, anak usia 4-6 tahun masih berada pada tahap persiapan dan tahap awal pengenalan terhadap aktivitas membaca…

Apabila kita lihat proses yang begitu panjang dari perkembangan membaca, kenyataan yang terjadi tidaklah demikian. Praktik pengajaran membaca di Indonesia umumnya tidak mengikuti tahapan proses perkembangan membaca. Contohnya, anak usia 4-6 tahun langsung diajarkan membaca tanpa melalui persiapan dan seringkali dituntut sudah bisa membaca, padahal menurut perkembangan membaca, anak usia 4-6 tahun masih berada pada tahap persiapan dan tahap awal pengenalan terhadap aktivitas membaca.

Kondisi ini terjadi karena ada tuntutan ketika masuk SD anak harus sudah bisa membaca. Akibatnya, orang tua menjadi gelisah kalau anak mereka yang berusia 4-6 tahun belum bisa membaca. Seperti hasil survey yang dilakukan oleh tabloid Nakita (Juli 2006) terhadap para orang tua mengenai kemampuan membaca, menulis dan berhitung anak, diketahui sebanyak 61,5% responden milis Nakita merasa gelisah kalau anak mereka yang berusia 4-6 tahun belum bisa membaca. Padahal mereka tahu bahwa lulusan TK tidak diwajibkan bisa membaca. Tetapi jika anak-anak mereka tidak diajarkan membaca, bisa tidak lulus tes masuk SD favorit. Orang tua pun akhirnya memasukkan anak-anak mereka ke TK yang memberikan pelajaran membaca. Bahkan ada orangtua yang mendaftarkan anak-anak mereka untuk mengikuti les membaca.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat bagaimana efek dari mengajarkan membaca sebelum waktunya. Seorang psikolog di Amerika membandingkan dua kelompok anak. Kelompok pertama merupakan anak-anak yang dimasukkan ke TK-TK akademis, yakni TK yang metode pembelajarannya seperti layaknya di SD, mengajarkan para muridnya berbagai pelajaran termasuk membaca. Sementara kelompok kedua merupakan murid-murid TK-TK biasa, yakni TK yang mengutamakan metode bermain bagi siswanya. Hasilnya, saat duduk di kelas 1 SD, para lulusan TK akademis ternyata tidak memiliki keunggulan akademis jangka pendek, apalagi jangka panjang, jika dibandingkan dengan siswa lulusan TK biasa. Bahkan murid-murid TK akademis terlihat lebih gelisah dan kurang kreatif jika dibandingkan murid-murid TK biasa (http://today.msnbc.msn.com/).

Penelitian lain di Finlandia, yang dilakukan oleh Marit Korkman, Sarianna Baron, Pekka Lahti (1999), diketahui bahwa anak yang belajar membaca saat mendapat pendidikan formal di usia 6-7 tahun memiliki prestasi membaca lebih bagus dibanding anak lain yang belajar membaca di usia sebelum 6 tahun. Hal ini diketahui ketika dilakukan tes pada anak-anak tersebut di usia 9 atau 10 tahun (jurnal Developmental Neuropsychology, Vol. 16, 1999).

Penelitian juga dilakukan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yaitu studi internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia. Hasil penelitian tersebut dipaparkan oleh Prof Dr Suhardjono dari Pusat Penelitian Pendidikan Depdiknas di Jakarta (Oktober, 2008), bahwa rata-rata anak Indonesia kemampuan membacanya terutama kemampuan memahami bacaan berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di dunia. Kemampuan pemahaman bacaan yang lemah bisa dilihat dari kebanyakan anak mengalami kesulitan dalam menjawab soal cerita. Bahkan, karena tidak memahami makna soal yang berupa cerita, anak menjawab tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Penelitian ini khususnya dilakukan pada anak-anak kelas IV Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah di 12 sekolah (http://kompas.com/).

Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya di Finlandia bahwa memaksakan anak bisa membaca di usia dini, seperti yang umumnya terjadi di Indonesia hanya terfokus pada membuat anak bisa membaca tapi ketika dilakukan pengukuran beberapa tahun kemudian terhadap kemampuan membacanya, diketahui ternyata anak kurang memiliki pemahaman membaca.

Selain adanya peloncatan pengajaran membaca yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan membaca, ternyata cara pengajaran yang dilakukan guru terhadap anak usia 4-6 tahun lebih bersifat instruksional, di mana murid-murid diminta mengikuti guru menyebutkan huruf-huruf, menghafalkan huruf dari A – Z dan mengikuti guru mengeja, menyebutkan kalimat secara lisan. Demikian seterusnya anak dilatih sampai bisa membaca. Padahal mengenali huruf, baik huruf besar maupun huruf kecil merupakan tantangan bagi banyak anak, karena beberapa huruf berbeda satu sama lain hanya dari arah penulisannya. Anak-anak seringkali kesulitan membedakan antara M dan W, serta antara b, d, p dan q. Membedakan huruf saja sulit apalagi mengeja.

Cara pengajaran seperti ini bisa membuat anak tidak paham sebenarnya akan arti huruf dan kata, mereka hanya menghafalnya. Selain itu, aktivitas meniru guru menyebutkan kalimat secara lisan ini, bisa membuat anak-anak bosan karena pada usia ini anak-anak lebih suka bermain daripada duduk di dalam kelas. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan seorang ahli, cara pengajaran yang bersifat instruksional seperti ini bisa membuat anak-anak menyimpulkan bahwa membaca merupakan tugas yang membosankan.

…pengajaran membaca juga seringkali disertai target guru karena sebagian besar orang tua menginginkan anak mereka bisa membaca ketika di sekolah TK. Ini berarti, anak diberi "beban" untuk terus mencapai target…

Selain cara pengajaran guru yang bersifat instruksional, pengajaran membaca juga seringkali disertai target, misalnya dalam jangka waktu tertentu, guru harus bisa mencapai target materi tertentu. Target ini ditetapkan oleh guru karena sebagian besar orang tua menginginkan anak mereka bisa membaca ketika di sekolah TK. Ini berarti, anak diberi "beban" untuk terus mencapai target. Di samping itu, sepertinya guru-guru melupakan bahwa meskipun usia para siswa-siswanya sama tetapi kemampuan setiap anak berbeda-beda. Ada yang sudah siap menangkap materi tertentu dan ada yang belum. Anak-anak yang belum siap menangkap materi bisa menjadi frustasi dan akhirnya bisa membuat ia malas masuk sekolah.

Jika melihat praktik pengajaran yang terjadi di lapangan, tentulah sulit bagi tercapainya kemampuan membaca seorang anak yang sesuai dengan perkembangan membaca. Padahal sesuatu yang dipaksakan, tidak baik juga hasilnya. Ibarat buah, yang matang betul dari pohon rasanya lebih enak daripada buah yang matang karena dikarbit. Anak kita tentu bukan buah yang harus dikarbit, ibu harus memperhatikan betul apakah anak sudah siap dilatih membaca. Karena menurut seorang ahli, pengajaran membaca dan bentuk stimulasi lainnya tidak akan punya peranan jika anak belum memiliki kematangan/kesiapan untuk dilatih membaca. Bahkan kita harus berhati-hati untuk tidak terlalu memberikan beban kepada anak sebelum anak memiliki kematangan, hal ini penting untuk mencegah terjadinya gangguan membaca.

Apa saja ciri-ciri anak siap dilatih membaca?

1. Anak memiliki ketertarikan terhadap buku dan aktivitas membaca

2. Anak memiliki kemampuan memahami

Ciri anak memiliki kemampuan memahami antara lain: anak mulai memahami kategorisasi objek, sekalipun masih dilihat dari ciri tunggalnya dan anak mampu mengungkapkan inti dari suatu cerita yang telah dibacakan untuknya.

Kemampuan memahami dibutuhkan karena dalam membaca seorang anak awalnya harus mampu memahami apa itu huruf, apa itu kata dan kalimat. Kemudian, anak harus mampu memahami arti dari apa yang dibacanya.

3. Kesiapan Berbahasa

Kesiapan dari segi bahasa meliputi: anak sudah berbicara jelas dan dapat dimengerti oleh orang lain, mampu membuat kalimat seperti rata-rata anak seusianya yaitu membuat kalimat yang terdiri dari 5 sampai 8 kata, memiliki perbendaharaan kata sesuai dengan rata-rata teman seusianya.

Anak yang memiliki banyak kosa kata dan faham artinya akan lebih mudah dalam belajar membaca, sebab awal dari kemampuan membaca adalah memahami makna dari suatu kata. Misalnya, akan lebih mudah bagi anak untuk belajar bahwa susunan huruf m-a-c-a-n berbunyi macan, bila tahu apa itu macan.

Anak harus sudah berbicara jelas dan dapat dimengerti orang lain karena semirip mungkin struktur bahasa yang digunakan dalam materi bacaan dengan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh anak, semakin mempermudah anak untuk memahami apa yang dibacanya.

4. Anak memiliki koordinasi visual motorik yang baik.

Apakah anak mampu menggunting, melempar dan menangkap bola, mengaitkan tali sepatu, memasang kancing dan menulis. Kemampuan ini harus dimiliki sebelum anak belajar menulis.

5. Kemampuan persepsi

a. Anak mampu membedakan ukuran, bentuk, dan warna.

Ini harus dimiliki anak sebelum dilatih membaca, karena dalam pelajaran membaca anak harus mampu membedakan bentuk-bentuk huruf dan membedakan mana huruf kecil dan huruf besar.

b. Anak mampu mengingat apa yang ia lihat, karena belajar membaca meliputi mengingat huruf.

c. Anak mampu membedakan bunyi dan mengingat bunyi karena membaca meliputi

membedakan bunyi dan mengingat perbedaan bunyi tersebut

...Jika anak tidak memiliki pengetahuan kanan dan kiri, maka anak akan mengalami kesulitan mengenali huruf, ia akan tertukar mengenali b dan d atau p dan q...

6. Anak mampu membedakan kanan dan kiri

Jika anak tidak memiliki pengetahuan kanan dan kiri, maka anak akan mengalami kesulitan mengenali huruf, ia akan tertukar mengenali b dan d atau p dan q. Selain itu anak bisa terbalik dalam membaca huruf atau kata, dimana seharusnya dimulai dari kiri malah membaca dari kanan. Riset membuktikan bahwa anak-anak usia 4-6 tahun masih sering terbalik dalam membaca huruf atau kata, bahkan sampai usia 7,5 tahun pun anak masih mengalami hal ini.

Jadi, pastikan anak-anak kita memiliki kesiapan untuk dilatih membaca dulu baru kemudian mulai dilatih membaca dan ibu jangan hanya mementingkan anak bisa membaca tapi juga bagaimana membuat anak kita gemar membaca. Karena jika anak kita gemar membaca, ia akan memperoleh pengetahuan yang luas. Tips mengenai bagaimana anak bisa gemar membaca, bisa dilihat di artikel ”5 Tips Jitu Agar Buah Hati Mahir Membaca” yang dimuat dihttp://www.voa-islam.com/muslimah/pendidikan/2010/02/21/3463/5-tip-jitu-agar-buah-hati-mahir-membaca/[]


Dikirim pada 13 Juli 2010 di Gambleh

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat.

Karunia Allah terbesar yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat ketaatan, nikmat dien dan iman. Sebaliknya, hukuman Allah terberat atas manusia adalah diharamkannya dari nikmat ini, terjerumus dalam kemaksiatan dan penyimpangan.

Pada umumnya, orang memahami nikmat adalah harta, kesehatan, jabatan, anak, istri, mobil dan rumah mewah. Memang benar semua ini merupakan nikmat, tapi nikmat yang pasti akan lenyap dan pergi meninggalkan kita atau kita meninggalkannya. Sedangkan nikmat hakiki yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba yang dicintainya adalah nikmat iman. Allah telah berfirman tentang orang-orang yang mendapatkan kerunia terbesar ini,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

"Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah." (QS. An-Nisa: 69)

Siapa mereka yang telah diberi nikmat oleh Allah? Yaitu:

مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

"Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa: 69) Siapa yang tersisa selain mereka?, tidak lain adalah para perusak dan jahat. -semoga Allah melindungi kita darinya-.

Allah telah memberikan nikmat kepada para nabi dengan nikmat dien, walaupun terkadang mereka hidup sampai meninggalnya dalam kondisi fakir. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, pemimpin umat manusia, manusia terbaik di atas bumi, pembawa bendera pada hari penghisaban, orang pertama yang masuk surga, pemilik syafaat kubra pada hari kiamat; hidup dengan sangat sederhana. Bahkan alas tidur beliau berupa tikar sehingga ketika bangun, sulamannya membekas pada tubuhnya Beliau tidak pernah kenyang dengan makanan selama tiga hari berturut-turut, dan ketika wafat beliau masih menggadaikan baju besinya dengan 30 sha gandum.

Aisyah radliyallahu anha berkata, "Pernah berlalu tiga purnama sementara di rumah keluarga Muhammad tidak dinyalakan api. Abdullah bin Zubair bertanya, "Lalu apa makanan Anda sekalian, wahai Ibunda?" Beliau menjawab, "Dua makanan hitam: kurma dan air." (HR. Bukhari)

Dengan kondisi ini, mereka disebut mendapat nikmat. Berarti nikmat ini bukan nikmat perut. Berapa banyak orang yang perutnya kenyang dengan yang haram dan dipenuhi dengan makanan hasil riba. Betapa banyak orang yang badannya gemuk, tapi menjadi penghuni neraka, menjadi bahan bakar jahannam. Betapa banyak orang yang mobilnya mewah, namun tempat kembalinya ke neraka. Betapa banyak orang memiliki kedudukan tinggi, namun kedudukan itu menempatkannya di neraka. -Kita berlindung kepada Allah dari nasib seperti ini-.

Lalu apa nikmat yang hakiki dan terbesar itu? Nikmat hakiki dan terbesar adalah nikmat dien (iman dan Islam). Siapa yang mendapat dien, lalu dia teguh dalam berpegang dengannya maka itu lebih baik dari pada orang kaya yang bergantung kepada harta. Sebaliknya, siapa yang kehilangan nikmat ini akan mendapat adzab.

وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

"Dan barang siapa yang menukar ni`mat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya." (QS. Al-Baqarah: 211)

Maknanya, apabila Allah telah menganugerahkan nikmat iman kepadamu, lalu engkau menggantinya dengan kekufuran dan kemaksiatan setelah engkau mendapatkan nikmat tersebut dan merasakan manisnya iman, maka sungguh siksa Allah amat sangat keras dan pedih.

Siapa yang mendapat dien, lalu dia teguh dalam berpegang dengannya maka itu lebih baik dari pada orang kaya yang bergantung kepada harta.

Namun, zaman sekarang banyak orang yang tidak memahami keagungan nikmat iman. Sehingga apabila Allah memberikan nikmat iman kepadanya, dia tidak perhatian, tidak menjaga dan meningkatkannya. Sebaliknya apabila dia diberi harta yang banyak, perkebunan yang subur, peternakan yang berkembang bagus, dan bisnis yang sukses maka dia akan sibuk menjaga dan mengurusinya. Hampir-hampir pikirannya tidak pernah lepas darinya. Otaknya tidak pernah berhenti memikirkanya. Bahkan dalam shalat selalu terbayang harta benda dan kekayaannya.

Ya Allah,. . . Jangan Engkau jadikan musibah kami adalah musibah yang menimpa dien kami . . .

Sesungguhnya tidak ada bencana yang lebih besar daripada musibah dien dan iman. Di antara bentuknya, diharamkannya seseorang dari ketaatan karena tidak Allah pilih untuk mendapat hidayah-Nya sehingga terus menerus dia berkubang dengan kemaksiatan. Puncak dari musibah ini adalah hilangnya status agama dan iman dari dirinya, dikarenakan kesyirikan atau kekafiran yang dilakukannya.

Allah berfirman tentang nasib orang-orang musyrik dan kafir,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Az-Zumar: 65-66)

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

"Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya." (QS. Al Nuur: 39)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (QS. Al Furqaan: 23)

Allah menjelaskan nasib orang murtad (berpindah dari Islam kepada agama selainnya) di dunia dan akhirat,

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

"Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217) Di sini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa mati di atas kemurtadan menghapuskan seluruh amal shalih di dunia dan akhirat, serta mengakibatkan kekal di dalam Neraka.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ

"Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat." (QS. Ali Imran: 90) Siapa yang kafir setelah sebelumnya beriman dan terus-terusan kafir dan tidak mau bertaubat sampai datang kematian, maka sekali-kali Allah tidak akan menerima taubatnya ketika ajal menjemputnya.

Seorang musyrik dan kafir haram masuk surga dan akan kekal dalam neraka. Allah berfirman;

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun." (QS. Al Maidah: 72)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ

"Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh." (QS. Al-Baqarah: 161-162)

Dari Ibunda Aisyah radliyallah anha, berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Ya Rasulallah, Ibnu Judaan sewaktu Jahiliyah telah menyambung silaturahim dan memberi makan orang miskin, apakah hal itu bermanfaat baginya?" Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, "Tidak bermanfaat baginya karena tak pernah sehari pun dia berucap, "Ya Allah Tuhanku, ampunilah dosa kesalahanku pada hari pembalasan." (HR. Muslim)

Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan makna hadits ini, "Bahwa apa yang telah dikerjakannya berupa menyambung silaturahim, memberi makan, dan berbagai kemuliaan lainnya tidak memberikan manfaat baginya di akhirat, dikarenakan dia seorang kafir."

Oleh karena itu, musibah dunia seberapa berat dan dahsyat, tidaklah lebih besar dibandingkan dengan musibah yang menimpa dien dan iman. Karena musibah ini akan menyebabkan kerugian besar di dunia dan akhirat.

"Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (QS. Al-Zumar: 15)

Dalam sebuah doa yang panjang, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberitahukan bahwa musibah terbesar adalah musibah yang menimpa dien dan iman, karenanya beliau berlindung dari tertimpa musibah ini.

. . . . وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا . . .

". . . Jangan Engkau jadikan musibah kami adalah musibah yang menimpa dien kami . . ." (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim. Syaikh Al-Albani menghasnakan hadits ini dalam Shahih al-Jaami)


Dikirim pada 13 Juli 2010 di Gambleh

assalamualaikum ustadz

saya ingin bertanya apa hukumnya bila seseorang berzina dengan seorang wanita yang bukan istrinya dan apakah dosanya akan diampuni oleh allah ?

terima kasih ustadz atas pencerahannya.

wassalamualaikum

xyz
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Zina termasuk diantara dosa-dosa besar yang diharamkan Allah swt baik dilakukan oleh seorang yang belum menikah maupun yang sudah menikah, sebagaimana firman Allah swt :

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra : 32)

Imam Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan". Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah itu? Beliau bersabda: "Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang wanita mumin yang suci berbuat zina".

Sedangkan sangsi seorang pezina yang telah menikah lebih berat dari yang belum menikah yaitu dibunuh dengan cara dirajam karena orang itu telah mengetahui dan merasakan kenikmatan dari jima’ dengan pasangannya baik suami atau istrinya melalui suatu akad pernikahan yang sah menurut syari’at. Sedangkan bagi orang yang belum menikah dihukum cambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun, sebagaiman dalil-dalil berikut :

1. Firman Allah swt :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nuur : 2)

2. Dari Abu Hurairoh ra bahwasanya Rasulullah saw pernah memberikan hukuman kepada orang yang berzina (belum menikah) dengan hukuman dibuang (diasingkan) satu tahun dan pukulan seratus kali.” (HR. Bukhori)

3. Rasulullah saw menanyakan kepada seorang laki-laki yang mengaku berzina,”Apakah engkau seorang muhshon (sudah menikah)? Orang itu menjawab,’Ya’. Kemudian Nabi bersabda lagi,’Bawalah orang ini dan rajamlah.” (HR Bukhori Muslim)

Namun demikian Allah swt Maha Pengampun dan Maha penerima taubat hamba-hamba-Nya yang mau kembali kepada-Nya, bertaubat dengan taubat nasuha, yaitu : memohon ampunan kepada-Nya, menyesali perbuatan buruknya itu, bertekad untuk tidak mengulanginya di masa-masa yang akan datang dan melakukan berbagai amal shaleh, sebagaimana firman Allah swt :

Artinya : “Dan sesungguhnya aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha : 82)

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik ia berkata; saya mendengar Rasulullah saw berkata: "Allah tabaraka wa taala berfirman: "Wahai anak Adam, tidaklah engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku melainkan Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak perduli, wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku niscaya aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan kepenuh bumi kemudian engkau menemui-Ku dengan tidak mensekutukan sesuatu dengan-Ku niscaya aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi." Abu Isa berkata; hadits adalah hadits hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini.

Untuk itu tidak sepatutnya seorang yang telah melakukan suatu dosa sekali pun ia adalah dosa besar berputus asa karena pintu taubat masih terus dibuka selama nyawa belum berada di tenggorokan dan selama matahari belum terbit dari barat. Bahkan Allah swt menjanjikan bagi setiap orang yang berdosa lalu bertaubat dengan sebenar-benarnya akan dihapuskan kesalahannya itu bagaikan seorang yang tidak dosa serta memberikan kemenangan baginya di akherat dengan surga-Nya.

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. At Tahrim : 8)

Artinya : “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur : 31)

Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Ubaidah bin Abdullah dari ayahnya dia berkata; Rasulullah saw bersabda: "Orang yang bertaubat dari dosa, bagaikan seorang yang tidak berdosa."

Kemudian hendaklah si pelaku setelah bertaubat tidak membuka aibnya itu kepada siapapun setelah Allah menutupi aibnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw ,”Setiap umatku mendapat pemaafan kecuali orang yang menceritakan (aibnya sendiri). Sesungguhnya diantara perbuatan menceritakan aib sendiri adalah seorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari dan sudah ditutupi oleh Allah swt kemudian dipagi harinya dia sendiri membuka apa yang ditutupi Allah itu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Wallahu A’lam


Dikirim pada 13 Juli 2010 di Gambleh

Genap sudah usia perkawinan kami menjadi 15 tahun pada tahun ini . Sebuah perjalanan yang panjang dan penuh liku – liku dalam menapakinya. Dulu pada awal pernikahan sebagaimana doa kebanyakan pengantin baru , kami mohon kepada Allah agar menjadikan kami keluarga Sakinah , Mawaddah wa Rahmah .

Sebuah doa yang pendek tapi mempunyai dimensi yang sangat luas bukan hanya dimensi dunia tetapi tujuan akhirnya juga dimensi akhirat , Insya Allah. Dan tak lupa pula kami selalu berdoa agar Allah memberikan keturunan yang sholeh / sholihah , yang senantiasa dekat kepada Allah , selalu mendapat ridho Allah , berbakti untuk Allah , Rasullullah dan kami kedua orang tuanya.

Istriku , memang sampai saat ini Allah belum mengkaruniakan keturunan kepada kita. Tapi mari kita renungkan perjalanan hidup kita . Pada saat awal kita berumah tangga , Allah telah menitipkan amanah kepada kita untuk membantu orang tua kita mendidik salah satu adikku yang menurut banyak orang agak nakal .

Itulah ujian sekaligus pesantren kita yang pertama . Pada saat usia kita yang masih semuda dan baru belajar berumah tangga itu harus sudah belajar membina adikku yang saat ini baru lulus SMA . Tidak ada yang salah dalam hal ini ,orang tua kita tidak salah karena memang beban beliau berdua dengan 7 anak tentu sangat berat . Beban itu akan sedikit lebih ringan kalau anak tertuanya bisa membantu mendidik adik – adiknya. Dan kebetulan anak tertua itu adalah saya. Alhamdulillah kita bisa melalui ujian tersebut dengan baik.

Setahun enam bulan kita belajar mengurus adik yang akhirnya bisa berfikir dewasa juga. Akhirnya karena tugas kita pindah dari Tarakan ke Tanjung redeb yang saat itu transportasinya masih susah.Setelah adikku bisa mandiri kembali Allah memasukkan kita ke pesantren-Nya dengan dititipkannya adikmu yang baru lulus SMA kepada kita . Sama persis , kondisi kedua orang tua kita , pas-pasan dengan anak yang cukup banyak .

Itulah takdir .Tak terasa tahun ke dua sudah kita lewati. Kadang memang terasa sepi keluarga kita .Masih terngiang di telingaku pada suatu saat ada temanku yang ngomong “ orang kok nggak punya anak , terus kalau sudah tua siapa yang akan ngurus ?. Pertanyaan yang tidak dapat terjawab olehmu . Aku sangat yakin sebenarnya engkau bisa menjawab dengan bijak . Sungguh aku tahu persis kualitasmu.

Akhirnya aku yang coba jawab Itu urusan Allah , Allah lah yang berhak memberikan ataupun tidak memberikan. . Kalau soal pada masa tua akupun menjelaskan : jangankan kok nanti pada saat tua , sedetk , semenit , sehari ataupun beberapa hari kedepan kita pun tidak tahu takdir kita, karena itu rahasia Allah.

Sangat banyak mereka yang punya anak banyak pada saat tuanya justru di buat susah oleh anak- anaknya.Belum mati juga hartanya sudah dipakai rebutan .Jadi semua bukan jaminan , yang bisa kita jadikan jaminan hanya ketaqwaan kita kepada Allah . Engkaupun kulihat tegar kembali, yach itulah hidup …..

Banyak orang berpikir bahwa orang yang belum di karuniai keturunan biasanya kurang sabar . Betul saja , salah satu tetanggaku juga bilang begitu. Untuk kali ini aku sendiri tidak bisa menjawab karena ukuran kesabaran kita juga hanya Allah yang tahu . Kali ini kita hanya bisa memohon kepada Allah jawabannya.

Benar saja , selang beberapa hari Allah mentakdirkan beberapa anak tetangga kita minta di ajari membaca Al Quran . Pada mulanya hanya 3 orang , lama- lama berkembang hingga 50 orang . Sampai rumah dinas yang kita tempati penuh sesak . Masya Allah , untuk kesekian kalinya Allah memasukkan kami ke pesantran-Nya agar kami belajar kesabaran dalam mendidik anak- anak.

Hingga pada suatu pagi saya menghadap kepala kantor saya untuk minta ijin menggunakan salah satu rumah dinas yang kosong untuk bisa di gunakan sebagai TPA. Alhamdulillah diijinkan . Mulai saat itu dibantu oleh adik-adik kita mulai memanfaatkan salah satu rumah dinas itu untuk mengaji.

Salah seorang yang Allah titipkan di TPA kita adalah Rendy . Yah .. Rendy seorang santri yang istimewa. Bapaknya seorang suku Bugis yang notabene Islam sedangkan ibunya Manado , penganut Kristen yang taat. Anak ini di usianya yang baru 6 tahun sudah bisa menjelaskan tentang bedanya Kristen Katolik dan Protestan .

Memang sejak kecil dia selalu di ajak ibunya ke gereja.Tetapi setiap ke gereja itu pula menurut cerita bapaknya dia selalu menangis minta pulang .Akhirnya suatu sore pada saat ayahnya pulang kerja melihat beberapa anak kecil yang mengaji , belaiu tertarik dan malamnya si Rendy kecil di atar kerumah.

Alhamdulillah walaupun masih terbata-bata anak ini begitu bersemangat untuk mengaji.Yang membuat hati kadang- kadang geli adalah setiap mengaji dia selalu membawa ransel kecil yang selalu penuh isinya .Disamping buku Iqra mesti mebawa kue, bahkan pernah membawa pisang satu sisir dan selalu dibagi dengan teman- temannya.

Masih menurut bapaknnya pernah suatu sore dia pulang dan ditanya oleh tetangganya yang satu gereja dengan ibunya Ren , ngapain kamu ngaji , di ajarin apa sih disana ?” . Dengan polosnya dia jawab : Kalau mau tahu ya kesana saja !” .Sebuah jawaban telak yang mengalir begitu saja.Sejak saat itu bapaknya semakin rajin mengontrol nakanya untuk pergi mengaji . Mudah – mudahan Allah menjadikanmu anak yang sholeh , nak .

Tak terasa kitapun menapaki hari – hari dengan ramai dan riuhnya anak- anak TPA sampai 6.5 tahun. Sungguh Allah mengisi kesepian hari – hari kita dengan cara-Nya . Masih segar di ingatan kita lucunya si Dewi yang ngotot nggak mau masuk syurga tetapi malah memilih masuk TK karena belum faham , bandelnya si Ari yang nggak mau sekolah umum tetapi rajin ke TPA , si Agus dan Jupri yang senang main sepeda di depan rumah selesai mengaji bahkan sampai malam dan seorang anak suku Toraja yang keluarganya Kristen tetapi setiap sore ikut datang ke tempat mengaji .

Kitapun tidak pernah mengajari anak tersebut mengaji takut terjadi salah faham , karena Islam memang tidak memaksa. Benar saja , suatu saat anak itu di hajar habis – habisan oleh kakaknya karena pergi ke tempat mengajinya orang-orang Islam . Kita hanya bisa kasihan dan mendoakan saja . Bahkan kita sempat di teror melalui telepon karena di bilang mengajak adiknya masuk Islam .

Masya Allah. Bahkan kita saja tidak tahu dia itu anak siapa dan dimana rumahnya. Dengan sabar saya coba jelaskan kepada keluarganya pada saat telepon sambil marah – marah . Akhirnya karena kepalang tanggung mereka mengancam keluarga kita sekalian aku jawab :Saya sudah katakan , saya tidak kenal anak itu , setiap di datang saya juga tidak mengajari apapun karena teman-temannya selalu bilang bahwa anak itu kristen .

Tetapi kalau dengan penjelasan saya ini anda masih tidak terima dan main ancam , saya sedikitpun tidak takut , silahkan datang kesini sekarang juga ,” Alhamdulillah nggak terjadi apa- apa di keluarga kita .Mudah- mudahan Allah memberikan hidayah -Nya kepada anak itu kelak.

Keceriaan anak-anak itu tidak lagi dapat kami nikmati karena kami harus hijrah ke Balikpapan .Kita pun selalu ikhtiar dan berdoa kepada Allah memohon kemurahan Allah agar mengkaruniakan keturunan kepada kita .Kebetulan di tempatku yang lama belum ada dokter spesialis kandungan waktu itu .

Ikhtiar secara medis akhirnya kita lakukan di Balikpapan yang kebetulan ada dokter spesialis kandungan dan peralatannyapun lengkap. Mulai kita jalani pemeriksaan dan terapi setiap beberapa malam sekali sesuai arahan dokter. Belum lagi aturan minum obat yang ketat waktunya yang harus kita ikuti. Tak terasa lebih dari 1 tahun proses itu berlangsung dan Alhamdulillah tidak di ketemukan kelainan dari kita berdua. Dan prosess inipun kita akhiri ketika akan dilakukan lagi operasi dan di larang justru oleh ibuku .

Dengan bijak ibuku berkata : Jangan nak , ibu pernah menjalani itu , sungguh berat perjuangannya , kuatkanlah doamu kepada Allah , mulailah menabung dan berdoalah di Baitullah kelak. Akhirnya kita batalkan rencana operasi itu. Memang kebiasaan kita selalu minta doa dan ijin orang tua setiap saat .Bahkan sampai sekarangpun , diusia 40 tahun kami tetap minta doa dan restu bapak ibu kalau kami harus berangkat keluar kota.

Apalagi untuk hal-hal besar seperti itu.Disisi lain Allah kembali mengisi hari -hari kita persis seperti waktu di Tanjung Redeb .Awalnya tiba -tiba beberapa anak datang ke rumah untuk di ajari mengaji , lambat laun semakin banyak .Akhirnya rumah kecil kita tidak cukup lagi untuk menampung anak – anak tersebut. Mulailah dengan kemurahan rizki dari Allah kita tambah ruang tamu untuk menampung anak- anak yang jumlahnya sudah lebih dari 50 .

Toh inipun beberapa bulan kemudian jadi tidak mencukupi lagi karena jumlah santrinya mencapai 90 anak .Masya Allah , sungguh ada ketakutan yang luar biasa di hati kami berdua karena kami tidak punya basic pesantren dan tidak bisa mengaji tetapi Allah mentakdirkan lain.Justru tiap hari jumlah santrinya semakin banyak .

Ya Allah ampuni kelemahan hamba.Karena harus dilakukan 2 shift ( pagi dan sore ) beberapa orang tua santri berinisiatif untuk membuat Musholla di limgkungan kami . Alhamdulillah saat ini di bantu oleh 8 guru jumlah santri TPA sudah mendekati angka 200.Mudah- mudahan mereka kelak menjadi anak yang sholeh dan sholihah .

Istriku , sungguh di saat orang lain menyangka kita kesepian , justru Allah menghilangkan rasa itu dengan cara-Nya. Dan Alhamdulillah keluarga besar kita selalu memompa semangat untuk selalu berprasangka baik kepada Allah , berprasangka baik terhadap takdir Allah . Dan sampai saat ini pun aku tetap yakin Allah akan mengabulkan doa kita .

Masih sangat segar dalam ingatanku pada saat selesai thowaf sunnah di depan Baitullah , di sesaknya jamaah haji yang jumlahnya jutaan aku melihat kebesaran Allah yang misterinya belum terkuak sampai hari ini. Setelah putaran ke tujuh aku kepingin sholat sunnah di depan pintu Kabah , aku tahan niatku untuk sholat sunnah karena di sesaknya jamaah dan posisinya persis di depanku dan di depan pintu Kabah aku lihat seorang anak perempuan yng mungkin usianya sekitar 7 tahun .

Bukan karena kecantikannya yang sekilas menurutku berwajah Arab atau Pakistan yang membuatku kagum. Anak ini dengan santai dan khusuknya mengerjakan sholat sunnah seolah tidak ada orang lain di tempat itu.Aku jaga dia sampai mengerjakan sholat sunnah 4 rokaat . Ketika selesai salam dia mempersilahkan aku untuk menempati tempat sholatnya. Subhanallah , mulianya anak ini.Tentu ada yang istimewa dimata Allah.

Sholatnya khusu , gerakannya betul dan seolah dia sedang sendirian di depan Rabb nya. Bahkan aku sendiri tidak melihat orangtuanya di sekitar anak itu dan aku juga tidak tahu kemana perginya anak itu setelah mempersilahkanku.Mudah- mudahan Allah mengkaruniakan keturunan yang sholeh atau sholihah.

Sampai saat inipun aku tetap yakin bahwa Allah telah memberiku istri yang sholihah.Bahkan beberapa kali teman-temanku di kantor secara guyon sering bertanya :” pak , nggak ada niat untuk jadi nahkoda di kapal yang lain ?.Atau bahkan ada juga yang secara guyon juga ngomong : Jangan kuatir pak , keturunan tidak harus dari istri yang pertama .” Biasanya aku hanya tersenyum .

Karena mereka mungkin merasa kasihan .Sementara aku menganggap itu adalah bagian dari takdir yang harus di terima dengan ikhlas walaupun ikhtiar juga jalan terus. Semua yang berjalan di luar skenario manusia .Termasuk engkau yang di takdirkan jadi istriku. Aku yakin karena sebelum meminangmu aku sholat Istiqarah untuk memohon kebaikan dari pilihanku , kebaikan dunia dan akhirat .

Alhamdulillah Allah menjadikanmu pendampingku. Bisa jadi Allah sedang menguji kesabaran kita , atau mungkin justru Allah ingin menghindarkan kita dari fitnah dunia yang berupa harta dan anak , atau Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang kita sendiri tidak pernah membayangkan sesuatu tersebut .

Mungkin juga benar nasehat salah seorang ustadz tantang anak adam yang meninggal terputuslah tiga perkara kecuali amal jariah , ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya. Saat ini kita masih memilki dua pintu untuk memperolehnya , atau Allah menjadikan murid – muridmu sebagai anak yang doanya bisa mengantarkan kita ke Ridho – Nya , atau bahkan Allah akan segera menggenapkan ketiga pintu-Nya untuk kita .Wallahu alam , semoga.

Yang jelas jangan jadikan ini beban karena sungguh kita tidak pernah tahu rencana Allah dan hikmah dibalik itu semua.


. M. Jono AG
masjono@telkom.co.id

http://www.eramuslim.com/oase-iman/m-jono-ag-hanya-karena-kita-tidak-mengetahui-rencana-allah.htm


Dikirim pada 12 Juli 2010 di Gambleh

Oleh Saiful Islam Mubarak


Masalah:
Semangat remaja mengkaji Islam sering dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memecah belah umat. Dengan memperalat kata “jamaah” banyak remaja yang berani menuduh kafir kepada kedua orang tuanya sendiri karena tidak bergabung dengan kelompok mereka kendatipun kedua orang tuanya rajin shalat dan biasa melakukan ibadah lainnya. Siapa sebenarnya yang hidup berjamaah? Dan siapa sebenarnya orang yang mengaku berjamaah itu?

Pembahasan:

Hidup berjamaa’ah menurut pandangan Islam merupakan syarat utama terpeliharanya aqidah, tegaknya syari’ah dan tersebarnya da’wah Islamiyah.

Islam sebagai aqidah tauhid senantiasa menghadapi banyak tantangan dari berbagai ajaran yang berihak kepada kekufuran dan kemusyrikan. Al Islam diturunkan untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada berhala dan dari tunduk kepada selain Allah. Karena itu, tokoh-tokoh musyrikin yang menjadikan manusia sebagai hambanya tidak pernah merasa tenang mendengar tersebarnya ajaran tauhid terutama bila mereka berdekatan dengan kaum Muslimin.

Sebab Islam menyadarkan ummat untuk tidak tunduk kepada manusia dan mengajak mereka untuk tunduk hanya kepada Allah. Sayid Quthub mengatakan:

لإسلام إعلان عام لتحرير الإنسان من عبودية العباد للعباد إلى عبودية الواحد الأحد

Islam adalah proklamasi kemerdekaan secara umum ntuk membebaskan manusia dari penyembahan hamba kepada hamba menuju penyembahan kepada Zat Mahasatu dan Maha Esa.

Orang-orang yang senantiasa menyebarkan ajaran sesat tidak pernah tentang melihat orang yang membawa ajaran yang haq. Orang-orang yang memusuhi Islam berusaha untuk bersatu merusak aqidah Islamiyah meski ideology mereka bebeda-berbeda. Sekiranya umat Islam berjama’ah maka aqidah mereka akan terancam. Orang musyrikin dalam merusak aqidah Islamiyah menggunakan berbagai cara.

Banyak sekali cara-cara yang mereka gunakan dan telah mencapai sebagaian sasaran, sementara umat Islam sendiri banyak yang tidak mmenyadarinya. Ketidak sadaran
tersebut terjadi akibat tidak ada yang mengingatkan, sebab dia hidup menyendiri, atau tidak beramal jama’i.

Apa yang mesti dilakukan untuk memelihara aqidah ini? Tiada aturan untuk dijadikan pegangan yang lebih tepat dari pada aturan yang ada dalam al Qur’an. Untuk itu mari kita hayati firman Allah dari surat yang sangat pendek namun mengandung aturan yang lengkap bagi kehidupan manusia, yaitu surat al ‘Ashr.

وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلَّا الَّذِينَ
ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia sungguh (tenggelam)) dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan (mereka semua) beramal shaleh, dan (mereka semua) saling menasihati dengan haq dan (mereka semua) saling menasihati dengan shabar.

Surat yang pendek ini mengandung banyak petunjuk yang mesti kita jadikan pegangan, diantaranya:

1. والعصر (demi masa) Mengingatkan tentang harga waktu. Sungguh banyak menusia yang terjebak dengan waktu, sehingga mereka lalai mereka tidak memanfaatkannya dengan hal yang bernilai ibadah, padahal mereka menyadari bahwa waktu yang telah dilalui itu tidak akan terulang lagi, dan kesempatan hidup semakin berkurang. Bagi orang yang menyadari akan harga waktu, tentu tiada satu kesempatan kecuali akan diisi dengan hal
yang bermanfaat bagi kehidupan masa depan yang abadi.

2. إن الإنسان لفي خسر (sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian). Waktu adalah amanat, dan sedikit sekali manusia yang menyadarinya, karena itu kebanyakan manusia terancam dengan kerugian. Orang-orang yang kiehidupannya dipenuh dengan berbagai kesibukan namun tidak sempat dinikmanti hasilnya keculai hanya dengan angan-angan,
mereka adalah termasuk oarng yang menderita letih dan penat menjadi pelayan bagi hawa nafsunya. Dan orang yang pemalas dan pengangguran adalah orang khiyanat kepada waktu dan mereka menderita dengan penganggurannya. Kedua golongan ini adalah orang yang merugi didunia dan terancam siksa di akhirat.

3. إلا الذين آمنوا (kecuali orang-orang yang beriman). Yang dimaksud dengan memanfaatkan waktu bukan berarti harus banyak bekerja untuk meraih keuntungan materi, sebab tanpa diingatkan oleh al Qur’an banyak sekali manusia yang sibuk kehidupannya dengan berbagai aktivitas untuk meraih keuntungan tersebut. Bahkan lebih dari sekedar meraih
keuntungan materi, mereka juga sibuk dengan bekerja untuk mengurus orang lain.

Namun demikian, kegiatan mereka tidaklah akan dapat menyelamatkan dirinya apalagi menyelamatkan orang lain kecuali disertai dengan keikhlasan. Ikhlas sering diartikan dengan makna ridla tanpa pamrih, meski harus melakukan hal yang tidak sesuai dengan
aturan Allah. Sungguh pemahaman seperti ini sangat jauh dari hakikat ikhlas yang sebenarnya.

Ikhlas tidak akan tercapai tanpa dilandaskan kepada keimanan. Iman, tiada tuhan selain Allah. Iaman, tiada yang dituju selain Allah. Iman, tiada yang diharapkan selain ridha-Nya.
Iman, tiada aturan yang benar secara mutlak selain aturan-Nya. Iman, tiada yang dapat menyelamatkan dirinya selain Allah, dan seterusnya.

Ketika seseorang beramal baik, dan dia yakin bahwa Allah memerintahkan semua hamba untuk berbuat baik, namun dia lakukan perbuatan tersebut untuk mendapat nilai dari manusia, baik yang ada hubungannya dengan jabatan ataupun tidak, maka keimanannya tidaklah berfungsi bagi amalnya, karena ternodai dengan adanya harapan kepada selain-Nya, meski secara lahir perbuatannya sangat terpuji. Rasulullah SAW
bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ َ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى
يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ
فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ
قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ
قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ
فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ
تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ
فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ
تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ
وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ
بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ
وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ
فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ
فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا
إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ
لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى
وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

Dari Abi Hurairah RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: (a) Sesungguhny orang yang pertama divonis pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia dihadirkan kemudian diperlihatkan kepadanya berbagai keni’matan yang diterimanya, dan dia mengakuinya. (Allah) berfiman: apa yang kamu kerjakan dengan keni’matan ini? dia berkata:

"Aku berperang karen Engkau hingga aku mati syahid. Dia berfirman: kamu berbohong. Sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan sebagai pahlawan, dan terbukti sudah dikatakan. Maka ditariklah dari wajahnya hingga dilemparkan kedalam neraka. (b) orang yang mencari ilmu dan mengajarkannya. Dia membaca al Qur’an. Dia dihadirkan dan
diperlihatkan kepadannya berbagai keni’matan yang diterimanya, dan dia pun mengakuinya."

Allah berfirman: apa yang kamu kerjakan dalam keni’matan ini? dia berkata: aku mencari ilmu dan mengajarkannya, dan aku juga membaca al Qur’an karena Engkau. Dia berfirman: kamu berbohong. Sungguh kamu mencari ilmu agar dikatakan sebagai alim dan kamu membaca al Qur’an agar mendapat gelar sebagai qari. Dan kamu telah disebut (alim dan qari). Kemudian turunlah perintah Ilahi, maka wajahnya ditarik hingga dilemparkan kedaalam neraka. (c) dan ada pula orang yang telah mendapat keluasan harta dari Allah, dia mendapat berbagai maca kekayaan.

Maka dia dipanggil dan diperlihatkan kepadanya keni’matannya, dia pun mengakuinya. Allah berfirman: apa yang kamu lakukan dengan kekayaan ini? ia berkata: tiada kesempatan infaq yang Engkau perintahkan kecuali ku infakkan hartaku karena Engkau. Allah berfiman: telah berdusta kamu, sungguh kamu lakukan hal itu karen kamu
ingin disebut sebagai dermawan, dan kamu sudah dikatakan sebagai dermawan. Kemudian turun perintah dan ditariklah wajahnya hingga dilemparkan kedalam neraka .

وعملوا الصالحات dan mereka beramal shaleh. Keimanan sangat mudah untuk diungkapkan, namun perlu disadari bahwa ungkapan lisan tidaklah punya arti tanpa dibuktikan dengan amal perbuatan sehari-hari. Beramal dapat dikatakan shaleh kalau disertai niat yang ikhlash. Sebab kesatuan lahir dengan batin dalam pelaksaan ibadah sangat menentukan
hasil. Tidak sedikit orang yang sibuk dengan perbuatan yang baik menurut pandangan manusia namun perbuatan tersebut tidak dilakukan atas dasar perintah Allah, maka mereka tidak mendapat keuntungan selain keuntungan sejenak.

Dan ada juga orang yang qalbunya berisi keyakinan bahwa segala perbuatan mesti dilaksakan karena Allah namun dia sendiri tidak banyak berbuat, maka dia tidak akan mendapat apapun dari yang dia yakini. Kata الصالحات bentuk jamak yang menunjukkan
banyaknya amal.

Disamping iman dan semangat beramal, keshalehan amal juga sangat memerlukan ilmu. Agar semua amal tidak keluar dari amal shaleh maka sangat diperluakan ilmu yang luas dan pemahaman yang mendalam tentang agama Islam. Atau yang disebut fiqih. Fiqih Islam tidak terbatas kepada fiqih hukum.

Akan tetapi sesuai dengan sifat Islam yang sangat luas maka fiqihnya pun sangat luas, meliputi semua aspek kehidupan sehar-hari yang sangat berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat luas. Karena luasnya ajaran Islam, tidak mungkin dapat
difahami hanya dengan membaca buku atau mengkaji literature yang ada meski dari berbagai sumber dengan berbagai bahasa, tanpa melakukan pelatihan dalam praktek kehidupan nyata, akan tetapi harus pergi untuk tafaqquh fiddin .

Amal ‘ibadah dalam Islam meliputi semua aspek kehidupan. Yaitu meliputi kehiduupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Orang yang rajin melaksanakan ibadah ritual, namunn tidak pernah berjuang membina keluarga yang merupakan tempat bertolak untuk
membina ummat, maka dia tidak termasuk ahli ‘ibadah. Pembinaan keluarga sangat memerlukan bantuan orang diluar keluarga, apalagi membina masyarakat luas, tidak mungkin dapat berlangsung dengan berkesinambungan dan meliputi berbagai aspek kehidupan bila tidak dilkukan bersama-sama dengan orang lain.

Fakta telah berbicara, bahwa seseorang yang sibuk membina umat dan lupa terhadap keluarganya, maka hasil perjalanannya ternodai oleh kelakuan keluarganya sendiri. Dan
untuk membina keluarga sangat diperlukan kedalaman ilmu kelauasan waktu. Apabila pembinaan keluarga hanya berlandaskan kepada pengetahuan sendiri yang sangat terbatas ini, maka tidak dapat diharpakan akan mencapai sasaran. Karena bagaimanapun luasnya wawasan seseorang masih sangat jauh untuk memenhui tuntutan yang dihadapinya dari keluarga apalagi bila dibandingkan dengan tuntutan mansyarakat luas.

6 . وتواصوا بالحق dan mereka saling memberi nasihat dengan haq. Orang yang beriman selalu menyadari akan kelemahan dirinya. Sehingga dia selalu merasa perlu bantuan orang lain. Keparluan tersebut tidak terbatas kepada urusan yang terlihat, akan tetapi juga meliputi
hal-hal lain yang tidak terlihat.

Bahkan boleh jadi, dalam mengatur urusan yang tidak terlihat sangat diperlukan bantuan orang lian, melebihi dari pada urusan yang terlihat. Sebab banyak sekali kekurangan diri kita yang tidak kita ketahui, justru orang lainlah yang dapat mengetahuinya. Sehingga tanpa bantuan orang lain kita terkadang merasa tenang meski menghadapi bahaya. Artinya kita sangat memerlukan orang lain untuk mengetahui kesalahan kita dihadappan
Allah.

Tanpa adanya kesadaran akan pentingnya nasihat orang lain, boleh jadi seseorang akan menolak untuk dinasihati. Hal ini terjadi karena tidak terbiasa saling menasihati antara satu dengan lainnya. Dan saling menasihati tidak akan berlangsung tanpa hidup berjama’ah. Nasihat tidak akan mencapai sasaran berupa keselamatan dari ancaman
rugi tanpa diasarkan kepada haq. Menurut ulama tafsir, seperti yang dikutip Aththabari , yang dimaksud dengan haq disini adalah al Qur’an.

وتواصوا بالحق يقول وأوصى بعضهم بعضا بلزوم العمل بما أنزل الله في
كتابه من أمره واجتناب ما نهى عنه فيه وعن قتادة وتواصوا بالحق والحق
كتاب الله وعن الحسن وتواصوا بالحق قال الحق كتاب الله

Saling menasihati dengan haq artinaya masing-masing memberi nasihat kepada yang sesamanya dengan menegaskan kewajiban beramal berdasar apa yang Allah turunkan dalam kitab-Nya, dan menjauhi apa yang dilarrang-Nya. Qotadah dan al Hasan berkata: al haq adalah kitabullah.

Al Qur’an sebagai wahyu Allah tidak akan dapat dipahami tanpa bantuan para ahli. Dan keahlian seseorang dalam berbagai disiiplin ilmu betapapun luas dan mendalamnya menurut pandangan manusia adalah sangat sempit dan dangkal bila dibandingkan dengan ilmu yang diperlukan untuk memahami kitabullah.

Karena itu agar keahlian masing-masing dapat dipadukan maka sangat diperlukan kerja sama dalam memahami dan mengamalkan kitabullah,. Dan hal ini tidak akan
terlaksana kecuali dalam hidup berjama’ah. Jadi, hidup berjamaah tidak akan berarti tanpa AlQuran dan AlQuran tidak akan dapat dipahami dengan luas dan mendalam dan diamalkan semua petunjuknya tanpa hidup berjamaah.

7. وتواصوا بالصبر saling menasihati dengan kesabaran. Sungguh banyak orang yang memiliki semangat beramal yang disertai dengan ilmu dan keyakinan namun gagal tidak mencapi tujuan akibat terputus ditengah jalan. Kegagalan tersebut sering terjadi akibat tidak mampu bertahan mengahadapi tantangan, baik tantangan internal ataupun eksternal. Dan tantang dari dalam lebih sering membuat orang gagal dalam perjuangan, baik tantangan yang manis ataupun yang pahit.

Tawashau bishshabr merupakan langkah yang paling tepat yang mesti ditempuh untuk
terpeliharanya amal dan kesinambungannya kerja. Perintah shabar sering ditujukan kepada orang yang sedang menderita sakit atau terkena mushibah yang tidak diharapkan terjadi, dan hal itu sangat penting, namun lebih penting lagi shabar tersebut bagi orang sehat atau sedang sibuk dengan berbgai aktifitas, agar dia dapat memanfaatkan kesehatannya sesuai fungsinya dan tidak menyipang dalam bergerak
akibat terjebak oleh dorongan hawa nafsu dan rayuan setan.

Artinya, shabar sangat diperlukan dalam segala kondisi dan setiap saat, dan penitngnya sahabar ini sering terlupakan kcuali sewaktu menderita sakit atau sejenisnya yang merupakan kejadian yang pahit dan tidak diinginkan. Sehubungan dengan ayat diatas Ibnu Katsir mengatakan: Mereka saling memberi nasihat dengan shabar atas berbagai mushibah dan ketetapan Ilahi serta tabah dalam menghadapi tantangan yang datang dari orang-orang yang diperintah berbuat baik dan dilarang berbuat jahat.

Dari beberapa kalimat diatas, dapat dipahami, bahwa semua manusia akan menderita kerugian kecuali yang penuh perhatian kepada harga waktu, menyadari akan sangat terbatasnya kesempatan dan penuh perhatian kepada usia hidup yang tidak lam lagi akan berakhir. Kendatipun mereka selalu mengisi kehidupan dengan berbagai kegiatan yang dipandang bermanfaat, mereka tetap akan terancam dengan menderita kerugian bila tidak diisi qalbunya dengan keimanan.

Keimanan tidak dapat diakui tanpa disertai dengan amal. Sebanyak apapun amal seseoranng tidak akan dapat menyelamatkan hidupnya bila amal tersebut tidak berbentuk amal shaleh. Amal shaleh yang dilakukannya tidak terbatas kepada ‘ibadah ritual akan tetapi meliputi semua amal.

Kendatipun seseorang mencurahkan segala usahanya agar semua amalnya tidak keluar dari amal shaleh, dia tetap mesti sadar bahwa kemampuan untuk menilai dirinya sangat terbatas. Boleh jadi, menurut pandangan kita, kita sedang berada dalam jalur yang telah ditetapkan Allah, karena sedang beramal kebaikan. Padahal menurut pandangan orang lain, disamping kita sedang melaksanakan suatu amal yang baik namun, tanpa disadari, kitapun sedang melanggar beberapa aturan-Nya.

Atau kita sedang berusaha menghindar dari bahaya, tanpa disadari kita sedang mendekati bahaya lain. Hal ini akan sering terjadi bila kita hidup sendirian, sehingga
tidak ada yang mengingatkan, dimana sebenarnya kita berada. Maka saling menasihati dalam haq selalu diperlukan setiap saat oleh semua insan. Perjalanan seorang muslim senantiasa mengahadapi tantangan dari berbagai pihak dengan menggunakan berbagai cara.

Bila hal ini kurang diwaspadai, dia akan terperosok kejurang kehancuran tanpa dia sadari. Bahkan boleh jadi dia menganggap dirinya sedang beruntung padahal sedang berada dalam ujung tombak atau dalam pintu kehancuran yang abadi. Sekiranya tidak segera diingatkan saudaranya dia tidak akan dapat selamat dari ancaman itu. Dan nasihat akan sulit disampaikan kecuali kepada orang yang sudah terbiasa saling menasihati atara satu dengan lainya. Wallahualam.eramuslim.com


Dikirim pada 12 Juli 2010 di Gambleh

Jilbab ini tak sekedar penutup kepala karena rambut yang jelek
Jilbab ini tak sekedar penutup kulit yang hitam atau coklat karena
termakan iklan pingin berkulit putih
Jilbab ini tak sekedar penutup kaki yang tidak panjang semampai
Jilbab ini tak sekedar ingin ikut-ikutan tren karena banyak artis berjilbab
Jilbab ini tak sekedar karena beli bahan kepanjangan mau buat apa sisanya
Jilbab ini bukan dipakai karena memang terpaksa karena instansi tempat
kita belajar atau bekerja mengharuskan kita untuk berjilbab
Jilbab ini dipakai bukan karena ingin mencari perhatian lawan jenis agar dinilai alim ...

Muslimah, lebih dari itu semua, ketahuilah bahwa di antara kasih sayang Allah terhadap kaum wanita adalah tidak mengabaikan hal-hal yang dapat menjadi kemaslahatan bagi mereka kecuali menganjurkannya dan memerintahkannya, dan tidak membiarkan apapun yang membahayakannya kecuali memperingatkannya dan menghindarkannya dari mereka.

Muslimah, bentuk kasih sayang Allah kepada kaum perempuan adalah memerintahkannya supaya mengenakan hijab yang syari jika ia telah mencapai usia baligh dan lebih banyak menetap dirumah. Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab 33, "Dan hendaklah kamu tetap dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahli bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."

Juga dalam QS. An-Nuur 3, "Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anaka-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."

Juga dalam QS. Al-Ahzab 59, "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka tidak diganggu. Dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Bagi saudari-saudariku yang sudah mengenakan pakaian muslimah tentu sudah tidak asing lagi dengan ayat-ayat diatas, bukan maksudku untuk meremehkan kalian semua dalam hal ini, akan tetapi aku tuliskan kembali semua ini sekedar untuk mengingatkan kembali tentang semangat kita semua dalam berpakaian mauslimah yang syari, karena di zaman yang serba modern saat ini bukanlah hal mustahil jika kita bisa saja tergoda oleh buaian dunia sehingga jauh dari aturan-aturan syariat. Naudzubillah. Tak terkecuali diriku. Semoga kita terhindar dari itu semua. Aku yakin, dengan saling mengingatkan di antara kita, Insya Allah akan menambah keimanan kita .

Teruntuk saudariku yang belum terketuk hatinya untuk mengenakan jilbab syari semoga dapat menambah wawasan dan menambah keyakinan bahwa tak ada kerugian ketika kita menaati apa yang Allah perintahkan. Saya dan muslimah lain mendoakan semoga kalian diberikan hidayah-Nya. Dan juga para lelaki, para suami maupun calon suami, sudah kewajiban Anda untuk juga tahu akan hal seperti ini karena Anda adalah pemimpin/calon pemimpin dalam keluarga yang tentunya anda mempunyai istri atau anak-anak perempuan yang menjadi tanggung jawab Anda untuk senantiasa mengingatkan dalam kebaikan dan nantinya pasti dimintai pertanggungjwaban.

Saudariku sudah selayaknyalah kita memudahkan orang-orang yang bertanggung jawab, karena kesadaran kita sendiri untuk berjilbab karena kita tahu kita lebih takut kepada Allah.

Saudariku, lalu sebenarnya hijab yang wajib dikenakan itu seperti apa?

1. Menutup seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan
2. Tebal dan tidak transparan
3. Tidak mengundang fitnah atau menjadi perhiasan bagi dirinya
4. Longgar tidak menggunakan wangi-wangian
5. Tidak menyerupai kaum laki-laki
6. Tidak berbusana seperti wanita non-muslim
7. Tidak mencolok

Saya hanya menuliskan poin-poinnya saja. Selanjutnya Anda bisa mengakses lewat buku-buku, salah satunya yang berjudul "Pakaian Wanita Muslimah" karya Syaikh Utsaimin. Saudariku, sudahkah kita, istri kita, anak-anak kita nantinya, saudara perempuan kita berjilbab sesuai syariah? Mari senantiasa perbaiki niatan kita dan juga busana kita sehingga ketika kita berpakaian tidak hanya sekedar ikut tren tapi juga berniat melaksanakan perintah Allah yang menuai pahala.

Saudariku, semoga tulisan sederhana saya ini bisa kembali mengingatkanku dan kalian semua. Dakwah tidak sekedar berkata akan tetapi butuh suri tauladan. Semoga kita bisa mengikuti suri tauladan yang baik, Nabi Muhammad Saw. Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh-Nya untuk menapaki dinul Islam. Amiin

Penulis: Anindya Sugiyarto, Ibu rumah tangga dengan dua orang anak, tinggal di Rawasari, Jakarta Pusat


Dikirim pada 12 Juli 2010 di Gambleh

Pasca kepulangan tim Relawan Komat yang berangkat ke Gaza, Palestina, beberapa waktu lalu, sebuah surat khusus dari mujahidah Palestina dititipkan melalui Relawan KOMAT Palestina, al-Ustadz Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc.

Surat tersebut berbahasa Arab yang kemudian diterjemahkan oleh Divisi Kajian Komat Palestina, ustadz Abul Miqdad Al-Madany. Berikut isi surat terbuka yang diperuntukkan kepada para muslimah di Indonesia ini.

Bismillahirrahmanirrahim
Saudari-saudariku para muslimah di Indonesia…
Aku sampaikan salam penghormatanku untuk kalian, salam penghormatan Islam yang agung:

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Amma ba’du…

Kami adalah saudari-saudari muslimah kalian di Palestina. Kami tumbuh di medan ribath dan jihad. Dan kami selalu berusaha untuk berpegang teguh pada agama kami yang agung, serta mendidik anak-anak kami untuk itu. Karena berpegang teguh pada agama Islam adalah (satu-satunya) tali keselamatan, berdasarkan Firman Allah Ta’ala dalam Surah Ali Imran:

“Dan barang siapa yang menginginkan selain Islam sebagai agama, maka itu tidak akan diterima darinya, dan kelak di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.”

Karena itu, kami selalu berusaha untuk komitmen dengan al-Qur’an dan keislaman kami. Dan seperti itu pula komitmen pemerintahan Islam kami untuk menumbuhkan sebuah generasi yang selalu menjaga al-Qur’an, serta melahirkan ribuan penghafal Kitabullah di setiap tahunnya.

Dari bumi Palestina,medan ribath ini, kami mengirimkan surat persaudaraan dari lubuk hati yang dipenuhi cinta kepada saudari-saudari kami di Indonesia. Melalui surat ini, kami haturkan rasa terima kasih kepada semuanya atas sikap dan dukungan mereka untuk anak-anak bangsa Palestina kami.

Melalui surat ini juga, kami mendorong mereka untuk selalu mentarbiyah (membina) anak-anak mereka dengan tarbiyah Islamiyah dan komitmen dengan Syariat Allah; karena dalam itu semua terdapat pembinaan terhadap ruh dan jiwa, serta keteladanan terhadap akhlak Rasul kita yang mulia Shallallahu ‘ALaihi wa Sallam dan para sahabatnya yang mulia. Perhatikanlah sahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika mengatakan:

“Janganlah seorang dari kalian meminta dari dirinya selain al-Qur’an. Sebab jika ia mencintai al-Qur’an dan mengaguminya, niscaya ia akan mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun jika membenci al-Qur’an, maka ia akan membenci Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Karena itu, siapakah di antara kita yang dapat menerima dirinya atau anak-anaknya menjadi orang yang benci kepada Allah dan Rasul-Nya yang kelak akan memberi syafaat kepada kita di hari kiamat?

Itulah sebabnya, saya membisikkan ke telinga saudara-saudara kami tercinta, kaum muslimin di manapun berada: “Kalian harus terus mempelajari dan menghafalkan al-Qur’an, serta berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Islam. Sebab sesungguhnya siapapun yang menginginkan kemuliaan dengan Islam, niscaya Allah akan memuliakannya. Namun siapa yang mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakannya.”

Semoga Allah selalu memberikan taufiq-Nya untuk kalian untuk mengikuti apa saja yang dicintai dan diridhai-Nya.

Saudari-saudarimu, para muslimah yang sedang berjihad di bumi Palestina
Gaza, 29/6/2010. (ERAMUSLIM.COM)


Dikirim pada 12 Juli 2010 di Gambleh

Oleh Abduldaem Al-Kaheel


Sebuah kajian baru membuktikan bahwa semakin banyak hafalan seseorang terhadap Al-Qur’an Al-Karim, maka semakin baik pula kesehatan. Dr. Shalih bin Ibrahim Ash-Shani’, guru besar psikologi di Universitas Al-Imam bin Saud Al-Islamiyyah, Riyadh, meneliti dua kelompok responden, yaitu mahasiswa/i Universitas King Abdul Abdul Aziz yang jumlahnya 170 responden, dan kelompokmahasis Al-Imam Asy-Syathibi yang juga berjumlah 170 responden.

Peneliti mendefinisikan kesehatan psikologis sebagai kondisi dimana terjadi keselarasan psikis individu dari tiga faktor utama: agama, spiritual, sosiologis, dan jasmani. Untuk mengukurnya, peneliti menggunakan parameter kesehatan psikis –nya Sulaiman Duwairiat, yang terdiri dari 60 unit.

Penelitian ini menemukan adanya korelasi positif antara peningkatan kadar hafalan dengan tingkat kesehatan psikis, dan mahasiswa yang unggul di bidang hafalan Al-Qur’an itu memiliki tingkat kesehatan psikis dengan perbedaan yang sangat jelas.

Ada lebih dari tujuh puluh kajian, baik Islam atau asing, yang seluruhnya menegaskan urgensi agama dalam meningkatkan kesehatan psikis seseorang, kematangan dan ketenangannya. Sebagaimana berbagai penelitian di Arab Saudi sampai pada hasil yang menegaskan peran Al-Qur’an Al-Karim dalam meningkatkan ketrampilan dasar siswa-siswa sekolah dasar, dan pengaruh yang positif dari hafalan Al-Qur’an untuk mencapai IP yang tinggi bagi mahasiswa.

Kajian tersebut memberi gambaran yang jelas tentang hubungan antara keberagamaan dengan berbagai bentuknya, terutama menghafal Al-Qur’an Al-Karim, dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kesehatan psikisi individu dan kepribadiannya, dibanding dengan individu-individu yang tidak disiplin dengan ajaran-ajaran agama, atau tidak menghafal Al-Qur’an, sedikit atau seluruhnya.

Komentar terhadap Kajian:

Setiap orang yang menghafal sebagian dari Al-Qur’an dan mendengar bacaan Al-Qur’an secara kontinu itu pasti merasakan perubahan yang besar dalam hidupnya. Hafalan Al-Qur’an juga berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Melalui pengalaman dan pengamatan, dipastikan bahwa hafalan Al-Qur’an itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada seseorang, dan membantunya terjaga dari berbagai penyakit.

Berikut ini adalah manfaat-manfaat hafalan Al-Qur’an, seperti yang penulis dan orang lain rasakan:

1. Pikiran yang jernih.
2. Kekuatan memori.
3. Ketenangan dan stabilitas psikologis.
4. Senang dan bahagia.
5. Terbebas dari takut, sedih dan cemas.
6. Mampu berbicara di depan publik.
7. Mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan dari orang lain.
8. Terbebas dari penyakit akut.
9. Dapat meningkatkan IQ.
10. Memiliki kekuatan dan ketenangan psikilogis.

Karena itu Allah berfirman, “Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim.” (QS Al-‘Ankabut [29]: 49)

Ini adalah sebagian dari manfaat keduniaan. Ada manfaat-manfaat yang jauh lebih besar di akhirat, yaitu kebahagiaan saat berjumpa dengan Allah, memperoleh ridha dan nikmat yang abadi, mendapatkan tempat di dekat kekasih mulia Muhammad Saw.


Dikirim pada 12 Juli 2010 di Gambleh

Masih banyak orang-orang yang mengaku muslim tapi tidak pernah sholat subuh berjamaah di masjid. Padahal dia itu sesungguhnya munafik jika tidak pernah sholat isya dan subuh berjamaah di masjid.

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah
shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang
terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya
(berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Bicara tentang sholat subuh, banyak sekali manfaatnya jika kita
melakukannya secara berjamaah di masjid.

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan
dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam
jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam
jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang
siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan
menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah
seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat.
Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”.


“Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam
harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih
mengetahui keadaan mereka - ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian
tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]

Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan
shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi
pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid.

“Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

Halangan-halangan yang membuat lalai dalam sholat subuh
berjamaah di masjid:


1. Ketiduran.
2. Malas mandi wajib.
3. Udara yang dingin.
4. Rumah yang jauh dari masjid.
5. Kelelahan.
6. Tidak berani memulai sholat subuh berjamaah di masjid.

Sudah jelas, jika kita tahu halangan-halangannya maka kita sebagai
umat muslim yang pandai dan dirahmati Allah harus mencari jalan
keluarnya.

Berikut ini tips-tips dari kami untuk bisa konsisten sholat subuh berjamaah di masjid:

1. Ikhlaskan niat karena Allah.
2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari.
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali.
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk
shalat Subuh.
5. Carilah kawan yang baik (shalih).
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw
(tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa).
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada
malam hari.
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding.
9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat (jam weker; telpon; bel pintu).
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga
11. Jangan tidur kurang dari enam jam. Kita harus bangun jam 4
pagi agar sempat sholat Tahajud, dilanjutkan subuh berjamaah di
masjid. Untuk itu kita harus tidur maksimal jam 10 malam.
12. Jika kita harus mandi wajib, lakukanlah sebelum tidur atau jam 4 kurang.
13. Lakukan ini secara konsisten minimal 3 hari berturut-turut,
kami jamin jam biologis Anda langsung mudah menyesuaikan diri dan Anda akan lebih mudah melakukannya keesokkan harinya.
14. Jangan sampai kebiasaan di atas terputus, karena sekali saja
terputus, rasanya akan sulit sekali untuk memulainya lagi.
15. Camkan dalam hati, semakin jauh rumah dengan masjid, semakin
banyak yang diperoleh karena pahala menuju sholat berjamaah di masjid dihitung per langkah pulang-pergi!

Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah Anda
mungkin berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah
untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan,
lemah, terus berdiam diri, dan yang paling parah, Munafik.

--
“Apakah kalian mengira akan dibiarkan (begitu saja), sedangkan Allah
belum mengetahui (dalam kenyataan) orang yang berjihad diantara kalian dan tidak mengambil teman setia selain Allah, Rasul-Nya dan
orang-orang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang
kalian kerjakan.” (TQS. At Taubah [9] : 16)




Dikirim pada 12 Juli 2010 di Gambleh

Assalamualaykum warohmatullahi wabarokatuh

Saat ini kita telah memasuki bulan Rajab. Bila memasuki bulan Rajab, Nabi SAW mengucapkan, “Allaahumma Baarik Lana Fii Rajaba Wa Sya’baana, Wa Ballighna Ramadhaana. “Ya Allah, berilah keberkahan pada kami di dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”

Bulan Rajab merupakan starting awal untuk menghadapi Bulan Suci Ramadhan. Subhanallah, Rasulullah SAW menyiapkan diri untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan selama dua bulan sebelumnya, yaitu bulan Rajab dan bulan Sya’ban. Dengan berdoa dan memperbanyak amal shalih.

Memperbanyak amal shaleh, seperti shaum (puasa) sunnah, terutama di bulan Sya’ban. Diriwayat oleh Imam al-Nasa’i dan Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Huzaimah. Usamah berkata pada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang engkau lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang. Di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.”

Bagi yang ingin belajar tentang fiqh ramadhan...silahkan unduh disini

Risalah Ramadhan http://www.ziddu.com/downloadlink/5338442/Risalah_Ramadhan.zip
Sifat Puasa Nabi http://www.ziddu.com/downloadlink/5338391/sifatpuasanabi.pdf
Risalah Ramadhan 2 http://www.ziddu.com/downloadlink/5323040/RisalahRamadhan.zip

Dikirim pada 14 Juni 2010 di Gambleh

Bacalah panduan ini sehingga Anda tidak akan panik saat perlu menyelamatkan si kecil dalam situasi yang mengerikan.
Bayangkan, hanya dalam beberapa detik Anda lalai mengawasi si kecil di halaman belakang rumah tetangga, dan tiba-tiba Anda melihatnya terbenam di dasar kolam renang. Merasa ketakutan, naluri pertama Anda adalah langsung terjung ke kolam renang.
Jangan lakukan itu. Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menelepon instalasi gawat darurat (IGD), lalu mengambil sesuatu yang bisa mengapung –seperti rakit ataupun bantal sofa- sebelum Anda meloncat ke dalam, begitu saran para ahli. “Kebanyakan orang sebenarnya bukan seorang perenang yang kuat untuk bisa menarik anak dari dasar kolam renang tanpa menggunakan alat-alat yang mengapung,” ujar BJ Fisher, direktur Health and Safety dari American Lifeguard Association. “Anak yang tenggelam bisa menyeret Anda ke dasar.” Ini hanyalah satu dari sekian banyak kesalahan yang dibuat orang tua saat menghadapi keadaan mengerikan. Terkadang, kita hanya bertindak tanpa berpikir. Kali lainnya, kita bergantung kepada informasi medis yang kuno atau pengobatan tradisional yang tidak terbukti secara klinis. Berikut ini adalah kejadian-kejadian terburuk, serta cara yang salah dan benar untuk menolong keluarga Anda.

Secangkir kopi panas tumpah di kaki si kecil.
Respons yang salah: Menaruh es batu di permukaannya.
Langkah cerdik: Cepat buka semua kain yang menutupi bagian tersebut, biarkan luka terseduh itu berada di bawah aliran air selama 10 menit, lalu bungkus longgar dengan kain kasa. Es dan air dingin bisa membuat kerusakan lebih parah pada kulit. “Anak Anda bisa mengalami cedera seperti terkena frost-bite jika Anda menaruh es langsung di atas kulitnya, terutama bila kulit tersebut sudah luka karena terbakar,” papar Bob Waddell, pelatih di National Association of Emegency Medical Technicians. Jangan juga menaruh mentega atau salep antibiotik pada kulit yang terbakar. Jika lukanya melepuh, hubungi dokter, terutama jika lepuhannya lebih besar dari seperempat bagian yang tersiram.

Si kecil hilang di dalam toko.
Respons yang salah:
Mencari dia sendiri.
Langkah cerdik: Panggillah dia, lakukan pencarian dengan cepat, dan secepatnya cari pegawai toko. “Jangan ragu untuk meminta bantuan,” ujar Nancy McBride, National Safety Director untuk National Center for Missing and Exploited Children. “Para pegawai toko sudah dilatih untuk tahu apa yang harus dilakukan saat seorang anak hilang, seperti mengawasi pintu keluar dan pintu masuk, memeriksa toilet, dan mencari di bawah baju-baju yang dipajang.“ Jika Anda tidak menemukan anak dengan segera, hubungi polisi.

Anda mendapati si batita memegang obat resep dokter. Tutup tempat obat sudah terbuka, tapi Anda tidak tahu apakah dia sempat menelannya.
Respons yang salah: Memperhatikannya dengan cermat apakah ada gejala sakit.
Langkah cerdik: Hubungi nomor telepon gawat darurat rumah sakit terdekat yang menyediakan dokter jaga 24 jam. “Jangan menunggu untuk melihat apa yang terjadi,” ujar Richart Dart, MD, direktur Rocky Mountain Poison and Drug Center. “Mereka akan segera bisa mengatakan apakah obat tersebut beracun dan apakah Anda harus segera membawa si kecil ke IGD.” Beberapa jenis racun membutuhkan waktu untuk menimbulkan akibat serius, dan pada saat itu bisa saja Anda sudah terlambat.

Anda dan si kecil terjebak dalam arus pasang yang kuat.
Respons yang salah: Mencoba berenang ke arah pantai.
Langkah cerdik: Berenanglah paralel ke pantai sampai Anda melewati arus, lalu berenanglah ke arah balik menuju pantai, sehingga Anda tidak merasa lelah. Kebanyakan ombak pasang hanya sepanjang 7-20 meter, ujar Fisher. Orang dapat tenggelam ketika mereka panik atau lelah karena mencoba melawan arus ombak.

Anak Anda terkena bola yang kencang, jatuh dan pingsan.
Respons yang salah:
Membawanya ke rumah sakit.
Langkah cerdik: Hubungi IGD. Mungkin saja dia mengalami cedera otak atau tulang belakang, dan memindahkan posisi tubuhnya bisa membuat cederanya semakin parah, kata Anne Stack, MD, kepala klinik pengobatan darurat khusus anak-anak di Children’s Hospital Boston. Pastikan anak Anda bernapas dan nadinya berdenyut. Jika tidak, lakukan CPR secepatnya. Jika sebaliknya, guncang dia pelan-pelan dan panggil namanya untuk melihat apakah dia terbangun atau tidak.

Si kecil tersengat ubur-ubur.
Respons yang salah: Mengoleskan alkohol atau urine pada luka.
Langkah cerdik: Bilas dengan air laut (air biasa malah akan membuat luka terasa semakin nyeri) dan singkirkan tentakel yang terlihat masih menempel, saran Paul Auerbach, MD, dokter IGD di Stanford University Medical Center dan penulis buku Medicine for the Outdoors. Lalu basahi serbet atau secarik kain dengan cuka putih dan oleskan terus menerus sampai anak tidak lagi merasa nyeri. Para penjaga pantai seringkali membawa cuka. Namun jika tidak ada, suruh seseorang untuk mencarinya di tetangga, toko, atau restoran terdekat. Cuka akan mematikan sel sengat pada kebanyakan ubur-ubur, yang bisa membuat nyeri selama 30 menit atau lebih. Jika anak Anda menunjukkan gejala alergi (susah bernapas, napas berbunyi, atau gatal berbintik merah) carilah perawatan medis darurat segera.

Mata si kecil tercolok tongkat.
Respons yang salah: Membuka matanya untuk memeriksa apakah terjadi cedera.
Langkah cerdik: Tutupi area mata tersebut dengan kain kasa atau kain yang kering dan bersih, lalu pergilah ke IGD. Mencoba membuka matanya, menaruh es, atau menekan matanya bisa menambah masalah yang bisa mengakibatkan terjadinya hilang penglihatan, ujar Dr. Stack. Menutup mata si kecil akan membuatnya sulit untuk mengucek atau menyentuhnya, dan bila korneanya tergores, menjaga mata dalam keadaan tertutup akan mengurangi iritasi.

Mobil Anda tercebur ke sungai.
Respons yang salah: Menunggu sampai tekanan airnya merata ketika air sudah mencapai pintu, sebelum akhirnya Anda mencoba keluar.
Langkah cerdik: Setiap menit sangatlah berharga, jadi jangan menunggu, kata Pete Gannon, presiden dari Dive Rescue International, yang menyediakan pelatihan penyelamatan air. Begitu Anda menyentuh air, lepaskan sabuk pengaman dan coba untuk membuka pintu atau jendela. Bahkan jika mobil Anda memiliki power window atau kunci pintu otomatis, pencet tombolnya, karena mungkin masih akan terbuka untuk beberapa menit. Jika Anda tidak bisa membuka apapun, fokuskan untuk memecahkan jendela dengan memukulnya di bagian pojok. “Kebanyakan kaca jendela mobil sudah dipanaskan, sehingga jika Anda memukulnya di bagian pojok, kacanya akan pecah dalam kepingan kecil,” ujar Gannon. Gunakan sepatu yang keras, botol soda, tinju dengan kunci yang Anda genggam, atau lebih bagus lagi, simpanlah sebuah LifeHammer kecil (yang juga bisa memotong sabuk pengaman Anda) di laci dalam mobil. Memang benar bahwa membuka pintu akan lebih mudah jika tekanan air sudah merata, tapi saat itu dilakukan bisa saja sudah terlambat dan pintu tidak bisa dibuka.

Si kecil digigit ular yang mungkin beracun.
Respons yang salah: Menggunakan turniket (alat atau tali untuk mengikat daerah seputar gigitan) menghentikan pendarahan atau mencoba mengisap bisa ular dengan mulut.
Langkah cerdik: Panggil ambulans atau segera masuk ke mobil dan pergi ke IGD terdekat, dimana tersedia penawar bisa ular. Di perjalanan hubungi rumah sakit tersebut, karena beberapa rumah sakit perlu waktu menyiapkan penawar bisa tersebut. Kurangi gerakan pada bagian tubuh anak yang digigit (kalau bisa, gendonglah dia) dan jagalah agar posisinya lebih rendah dari jantung. “Saya sudah mengalami banyak kasus dimana cedera yang diakibatkan oleh turniket lebih parah daripada cedera karena gigitan ular,” kata Dr. Dart.

sumber parentsindonesia.com

Dikirim pada 09 Juni 2010 di Gambleh

Baitul Maqdis adalah sebagian dari negara Palestina dan bahkan ia merupakan buah mata dan urat nadinya, ia mempunyai tempat tersendiri dalam hati umat Islam. Allah SWT telah menerangkan sifat negeri ini dengan “keberkatan”, Allah SWT mensifatkan Masjidil Aqsa dalam surat al-Isra’ : “Yang kami berkati sekelilingnya” (Al-Isra ‘:1). Ketika Allah SWT berfirman tentang Kekasih-Nya Ibrahim AS: “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke sebuah negeri yang Kami telah memberkatinya untuk sekalian alam.“ (Al-Anbiya ‘: 71)
“Dan Kami jadikan di antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya beberapa negeri yang berdekatan dan kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.“ (Saba’: 18)

Negeri-negeri yang diberkati Allah ini ialah Syam dan Palestina. Seorang ulama tafsir, Al-Alusi penulis tafsir Ruhul Ma’ani berkata: “Yang dimaksudkan dengan negeri-negeri yang diberkati dalam ayat di atas adalah negeri Syam karena banyaknya pohon-pohon dan buah-buahannya serta keluasan hidup untuk penduduknya. Berkata Ibnu Abbas: “Ia adalah Baitul Maqdis.” Dan berkata Ibnu ‘Atiyyah: “Sesungguhnya para ahli tafsir berijma’ bahwa yang dimaksudkan di situ adalah Baitul Maqdis.” Allah berfirman, maksudnya : “Demi (buah) Tin dan (buah (Zaitun) dan demi bukit Sinai dan demi Kota (Makkah) ini yang aman “(QS,At-Tin:1-3). Bahwa yang dimaksudkan dengan Tin dan Zaitun adalah tanah dan bumi yang tumbuh padanya Tin dan Zaitun, yaitu
Baitul Maqdis” (Ruhul-Ma’ani, Imam Al-Alusi, 22-129).

Keistimewaan dan kedudukan Masjid al-Aqsha bagi umat Islam

1. BAITUL MAQDIS KIBLAT PERTAMA UMAT ISLAM

Di Madinah terdapat saksi sejarah yang nyata dan menguatkan peristiwa perpindahan kiblat, yaitu Masjid Qiblatain (Masjid dua kiblat) yang mana di situlah kaum muslimin mendirikan satu solat, setengahnya menghadap ke Baitul Maqdis dan setengahnya lagi menghadap ke Ka’bah di Makkah. Sampai sekarang Masjid ini tetap berdiri dengan beberapa renovasi oleh pemerintah Saudi
Arabia. Bagaimana mungkin kita akan melupakan bukti-bukti jelas yang telah diapaparkan dalam al-Qur’an. Tidaklah seorang muslim yang melupakan Baitul Maqdis melainkan mereka yang sudah jauh dari sentuhan-sentuhan ayat al-Qur’an.

Firman Allah swt, artinya: “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulunya mereka telah berkiblat kepadanya?”, Katakanlah “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya kejalan yang lurus… dan Kami tidaklah menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan Allah tidak akan mensia-siakan imanmu.“ (Al-Baqarah:142-143)

2. BAITUL MAQDIS NEGERI ISRA’ DAN MI’RAJ

Allah telah menjadikan Baitul Maqdis sebagai perhentian terakhir perjalanan Isra’ di bumi dan permulaan perjalanan Mi’raj ke langit. Iradah Allah SWT telah menghendaki untuk memulai perjalanan Isra’ Nabi Muhammad s.a.w di bumi pada malam yang penuh berkat itu dari Masjidil Haram di Mekah. Allah menghendaki akhir terminal perjalanannya di bumi di Masjidil Aqsa. Hal tersebut bukan sesuatu yang kebetulan atau sia-sia, tetapi ia merupakan peraturan Ilahi dan demi hikmah rabbani, yaitu supaya penutup para Rasul bertemu dengan para Rasul dan Beliau menjadi imam mereka dalam solat. Hal ini merupakan isyarat pemberitahuan tentang pemindahan kepemimpinan agama bagi dunia dari Bani Israel kepada umat yang baru, Rasul yang baru, Kitab yang baru, yaitu umat sedunia, Rasul sedunia dan Kitab sedunia, sebagaimana firman Allah s.w.t: Surat Al-Isra’, Artinya :
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami” (Al-Isra ‘: 1)

3. BAITUL MAQDIS KOTA BESAR ISLAM KETIGA

Baitul Maqdis adalah kota ketiga terbesar dalam Islam, kota terbesar pertama adalah Mekah al-Mukarramah yang dimuliakan Allah dengan Masjidil Haram-Nya; dan kota besar Islam yang kedua adalah Madinah Al-Munawwarah yang dimuliakan Allah dengan adanya Masjid An-Nabawi dan mengandungi makam Rasulullah SAW dan kota terbesar yang ketiga dalam Islam adalah Baitul Maqdis yang dimuliakan Allah dengan Masjidil Aqsa yang diberkati sekelilingnya oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan apa yang disebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Nabi SAW bersabda, yang bermaksud:

“Janganlah kamu bersegera untuk mengadakan perjalanan kecuali untuk menuju tiga masjid yaitu Masjidil Haram, Masjidil Aqsa dan Masjidku ini.” al-hadis

4. NEGERI PERSIAPAN JIHAD

Baitul Maqdis bagi kaum Muslimin adalah negeri persediaan dan jihad. Keterangan Al-Qur’an tentang Masjidil Aqsa dan penjelasan hadis tentang fadilah solat di sana adalah merupakan suatu khabar gembira bahwa Baitul Maqdis akan ditakluki oleh Kaum Muslimin karena pada zaman Rasul SAW Baitul Maqdis belum dapat ditakluki oleh kaum Muslimin) dan akan menjadi milik kaum Muslimin. Mereka akan memperbanyakkan pemergian (musafir) ke masjidnya untuk beribadah di sana. Hal ini telah terbukti di mana dahulunya kota ini bernama Eliyah telah dapat ditakluki pada zaman khalifah yang kedua Umar ibnu Al-Khatab. Panglima tentera agungnya yang bernama Sofruniyus mensyaratkan bahwa kunci kota itu tidak akan diserahkan kecuali terus kepada Khalifah itu
sendiri dan tidak kepada salah seorang dari panglimanya.

Maasiral Muslimin, Itulah keistimewaan Masjid al-Aqsa

Sejak jatuhnya Baitul Maqdis pada Juni 1967, Israel telah melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dan menyakitkan hati umat Islam terhadap masjid al-Aqsha. Berikut ini adalah bentuk-bentuk kejahatan mereka terhadap masjid al-Aqsha :

1) Menciptakan ritual baru di dinding Masjid al-Aqso yang disebut “Dinding Ratapan” satu bentuk peribadatan baru yang tidak tertulis didalam kitab Taurot, Talmut maupun kitab-kitab kuno para pemimpin agamanya. Kawasan tersebut dirampas dari umat Islam.

2) Membakar masjid al-Aqsha pada tahun 1969.

3) Menggali berpuluh-puluh terowongan dan menciptakan ruang-ruang khusus untuk ritual, musium dll yang berada tepat dibawah masjid al-Aqsha.

4) Membangun sebuah kota agama untuk para wisatawan asing maupun lokal, dan bisa dinikmati oleh para pengunjung khususnya para generasi muda Yahudi.

5) Israel sengaja membuat kota wisatawan itu dari batu-batu buruk dan arsitektur klasik yang seakan-akan menggambarkan bahwa ia telah berusia ratusan tahun, gunanya untuk mengelabuhi para wisatawan dan khususnya generasi baru Yahudi bahwa Haikal Sulaiman itu memang wujud dibawahnya.

6) Mengizinkan para wisatawan asing maupun lokal untuk memasuki masjid al-Aqsha.

7) Melarang umat Islam yang berusia dibawah 44 tahun memasuki dan solat didalam masjid al-Aqsha.

8) Mendirikan pemukiman-pemukiman baru bagi warga Yahudi yang dekat dengan masjid dengan cara merampas tanahnya dari para pemiliknya bangsa Palestina. Sehingga Masjid al-Aqsha sekarang sudah mulai terkepung dengan pemukiman-pemukiman baru warga Yahudi.

9) Membangun tempat-tempat maksiyat semisal cafe-cafe untuk berdansa dan meminum-minuman keras persis di depan mihrab masjid al-Aqsha.

Seluruh mata dunia dan umat Islam menyaksikan perkembangan yang sangat menyedihkan atas arogansi Zionis Israel terhadap masjid al-Aqsha. Sudah terbukti, beberapa waktu belakangan ini Israel dengan sengaja dan terus menerus dan semakin berani, melakukan serangan demi serangan ke jantung Masjid Al-Aqsha yang menjadi kiblat pertama umat Islam di tengah-tengah
lalainya umat Islam. Langkah serangan itu seperti membuka sinagog Kharaab di kota lama Al-Quds setelah selama 4 tahun mempersiapkan sinagog ini.

Serangan-serangan intensif terus dilakukan terhadap penduduk al-Quds : pengusiran penduduk, penghancuran rumah-rumah, pengepungan rakyat, penggalian di masjid al-Aqsha, penyitaan tanah dan pendirian pemukiman baru bagi yahudi dari lahan-lahan yang dirampas. Semua itu menunjukkan dimensi tekad Israel untuk menantang hukum dan keinginan internasional, dan kegetolan mereka dalam menghinakan Arab dan negara-negara Islam, dan kedalaman pembangkangan mereka terhadap acuan-acuan dari proses perdamaian, dan pengabaian mereka atas segala upaya internasional yang dikerahkan untuk kembali melakukan negosiasi dengan umat Islam.

Bentuk kejahatan terbaru zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsa sekarang ini adalah melalui cara penutupan dan penyerbuan atas sejumlah sekolah Islam yang berdekatan dengan Masjid Al-Aqsa, penyerbuan beberapa rumah di wilayah sekitarnya, penutupan SMU Putri Al-Aqsa yang terletak persis di dalam Masjid Al-Aqsha, dan pengusiran para siswi dari sana, pengusiran umat Islam yang
sedang iktikaf padahal mereka adalah orang-orang tua dan juga penutupan SMU Syariah di dalam Masjid Al-Aqsa, pelarangan terhadap para pemuda untuk salat didalamnya. Penangkapan warga yang melawan peraturan jahat zionis Israel.
Kesemuanya ini tersimpul dalam pengepungan atas Masjid Al-Aqsa secara ketat, sehingga mengurangi jumlah jamaah shalat, sekaligus menjauhkan umat Islam dari kepemilikan masjid ini. Israel juga terus menerapkan rencana-rencana jahatnya di Al-Quds Timur dan melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sangat serius.

Ya Allah berilah kami kekuatan untuk bisa menolong saudara-saudara kami yang tertindas di Palestina…, kuatkanlah azam mereka…, berikanlah mereka kekuatan dan kesabaran untuk menghadapi musuh-musuh-Mu dan musuh nabi-Mu…Kembalikanlah masjid al-Aqsha ke dalam genggaman kami,… Wahai Zat yang Maha Perkasa….

Masjid al-Aqsha sekarang telah ditawan oleh kebuasan Israel di tengah-tengah lalainya bangsa Arab Muslim yang jumlahnya hampir seratus juta, atau satu milyar umat Islam di seluruh dunia. Al-Quds memerlukan para mujahid sejati semisal Umar bin al-Khottob yang berhasil membukanya dari tangan-tangan kolonialis Romawi Timur yang zalim untuk dilestarikan kesuciannya dijaga kehormatannya sebagaimana dahulu berada dibawah jagaan para ambiya’. Al-Quds memerlukan pejuang gagah berani semisal Solahuddin al-Ayyubi yang menyatukan umat Islam sehingga berhasil memerdekakannya dari tangan-tangan tenara salib
yang telah mengotorinya hampir sembilan puluh tahun.

Ketahuilah bahwa kalau umat Islam sekarang tidak mau bangkit melawan arogansi zionis Israel masjid suci kebanggaan kita yang yang ketiga itu segera diruntuhkan dan dibangun diatasnya sinagog Yahudi. Umat Islam adalah penerus mata rantai risalah perjuangan para nabi dengan akidahnya yang lurus, oleh karena itu sudah tentu mereka yang paling berhak menjaga kesucian dan kehormatan masjid al-Aqsha tersebut. Kita berdoa semoga masjid al-Aqsha cepat dikembalikan oleh Allah s.w.t ketangan umat Islam.


اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ

Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas agama Rasul-Mu SAW, berikanlah mereka agar mampu menunaikan janji yang telah Engkau buat dengan mereka, menangkan mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Ilah yang hak jadikanlah kami termasuk dari mereka.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami sebab agama adalah benteng urusan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan.

اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.

اللهم عذِّبِ الكَفَرَةَ الذين يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ ويُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ ويُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكََّ

Ya Allah siksalah orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, dan mendustai rasul-rasul-Mu, membunuh kekasih-kekasih-Mu..

اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين

Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh agama, jadikan keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta. Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.

اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ إنَّكَ رَبُّنَا عَلَى كلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ يَا رَبَّ العالمين

Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.



Oleh DR. Muqoddam Cholil, MA (Ketua Harian KNRP)

Dikirim pada 03 Juni 2010 di Gambleh

Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk menuangkan apa yang ada dalam pikiran saya selama lebih dari sepekan ini. Setelah mendengar khuthbah jum’at seorang khothib (saya bersyukur bahwa pada saat itu saya tidak tertidur), saya berpikir kembali tentang penyebab dari sebuah kemiskinan yang melanda kita atau sebagian dari saudara-saudara kita.

Namun sebelum bercerita lebih banyak lagi tentang hal itu, saya sedikit mengingatkan kepada Anda bahwa Anda tentunya sering mendengar keluhan dari teman-teman Anda. Atau Anda juga yang sebenarnya mengeluh tentang kondisi ekonomi Anda?

Ya, dengan tingkat persaingan yang tinggi, ditambah hedonisme yang merajalela, rasa kesetiakawanan yang mulai meluntur, membuat hidup yang sudah sulit menjadi bertambah sulit. Anda sudah mati-matian cari duit, cari dunia, tapi kok hidup begini-begini bae. Enggak ada perubahan. Siang malam hidup Anda didedikasikan untuk menjaga bagaimana timbunan uang yang ada di rekening bank Anda tidak berkurang bahkan sebaliknya. Mending bagi Anda yang sudah punya seperti itu.

Tapi Anda misalnya yang hidupnya benar-benar di jalanan, pasti hanya memikirkan bagaimana bisa bertahan hidup untuk keesokan harinya. Atau yang mendingan lagi bila Anda adalah orang yang hidupnya pas-pasan. Gaji yang Anda terima atau duit yang Anda peroleh ya cukup untuk kehidupan sehari-hari dan kebutuhan yang paling dasar yaitu sandang, pakan, dan papan.

Untuk menabung? Tidak ada bagian yang disisakan untuk itu. Untuk piknik? Boro-boro, tidak terpikir sama sekali. Untuk anak sekolah? Dipaksa-paksakan untuk ada, karena pendidikan itu penting bagi anak-anak Anda. Supaya kemiskinan itu tidak diturunkan sampai keturunan yang ketujuh. Tak masalah dapat dari berhutang atau dari mana yang penting halal. Bukan dari merampok atau pinjam dari bank keliling.

Semua jenis tipe Anda itu lalu sama-sama mengeluhkan tentang betapa miskin diri Anda, betapa kurangnya penghidupan Anda, betapa jarangnya rezeki mengalir kepada Anda. Lalu Anda pada akhirnya akan berkata: “Allah telah menghinakan kita.”

Tidak!!! Sebenarnya bukan karena Allah telah menghinakan Anda sehingga menyebabkan Anda miskin dan rezeki Anda tertahan di langit, tidak turun-turun, dan jatuh pada dirinya. Tapi karena empat hal ini.

Ketika seharusnya Anda dapat proyek besar ternyata dalam hitungan menit seharusnya proyek itu sudah berada dalam genggaman Anda tetapi tiba-tiba proyek itu lenyap dan jatuh ke tangan pesaing Anda. Empat hal ini bisa jadi karena telah Anda lakukan. Apa itu?

Yang pertama penyebab Anda miskin dan gagal dalam meraih rezeki adalah karena Anda tidak menafkahi anak yatim. Pantas saja para pejabat dan pengusaha itu kalau ada acara keagamaan, mereka selalu mengundang anak yatim untuk disantunin. Wajar kalau mereka semakin bertambah kaya. Ya dengan menyantunin anak yatim mereka menjaga aset mereka tidak hilang dan memastikan aset mereka terus bertambah dan bertambah, serta tujuan atau keinginan yang dimaksud tercapai. Jadi, kalau Anda mau kaya, lakukan cara ini dulu: santuni anak yatim.

Yang kedua, mengapa Anda tetap miskin? Ini dikarenakan Anda tidak memberikan nasehat kepada yang lain untuk memberi makan orang miskin. Ternyata penyebab kedua ini adalah bukan sekadar Anda belum memberi makan orang miskin. Tetapi kalau Anda sudah memberi makan mereka tetapi Anda belum menganjurkan kepada sahabat-sahabat Anda, teman-teman Anda, sanak kerabat Anda untuk melakukan hal yang sama dengan Anda, Anda dipastikan tetap akan miskin.

Coba, aspek apa yang mencolok dari penyebab yang kedua ini? Anda sejatinya dituntut untuk menjadi kader-kader kebaikan, tidak hipokrit, dan anti dengan kemunafikan. Karena sebelum meminta kepada orang lain untuk berbuat kebaikan Anda dituntut untuk melakukannya terlebih dahulu. So, kalau Anda mau kaya: Anda beri makan orang miskin dan anjurkan orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan Anda. Karena surga diciptakan bukan hanya untuk sahaja.

Yang ketiga, mengapa sampai saat ini Anda masih miskin? Ini dikarenakan Anda memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan antara yang halal dan haram. Penyebab ketiga ini bermula dari cara Anda mendapatkan harta warisan itu. Dengan cara yang licik, menjijikkan, tidak adil, dan tidak syar’i.

Anda yang seharusnya mendapatkan harta warisan sesuai hukum faraid, tapi Anda serakah dan ingin mengangkangi semuanya hingga menzalimi Saudara-saudara Anda. Bahkan yang lebih zalim lagi lalu Anda mempergunakan harta warisan itu untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Bersiap-siaplah Anda akan miskin seumur hidup Anda jika melakukan hal yang ketiga ini. Miskin tulen dan laten.

Nah Pembaca, perhatikan ketiga hal di atas ini. Semuanya berdimensi adanya pihak lain yang berhubungan dengan Anda. Dengan kata lain secara sosial Anda harus baik dengan mereka: anak yatim, orang miskin, dan saudara-saudara Anda sebagai sesama ahli waris. Anda dilarang untuk berbuat tidak adil dengan mereka kalau Anda tidak mau jadi orang miskin sampai Anda mati.

Islam memperhatikan betul masalah sosial kemasyarakatan ini sehingga ketika Anda mencederainya Anda langsung menjadi miskin karena ulah Anda sendiri.

Penyebab keempat Anda miskin inilah yang menyangkut kepentingan Anda sendiri. Enggak ada kaitannya dengan orang lain. Apa itu? Anda cinta mati sama harta Anda dengan kecintaan yang berlebihan.

Memangnya Anda kagak boleh demen ama itu duit? Ama emas yang berkilo-kilo, ama perempuan-perempuan cantik, ama anak-anak Anda yang ganteng-ganteng dan ayu-ayu, ama Ferarri Anda, ama tumpukan saham Anda, ama jabatan yang membuat orang-orang iri, ama perusahaan anda yang sudah menjadi bo-na-fi-de? TENTU BOLEH saudara-saudara.

Itu adalah hak Anda. Itu sudah menjadi sunnatullah, kecenderungan alami, naluri kuno yang tak bisa ditutup-tutupi. Karena Allah sudah menegaskan semua kecenderuangan itu menjadi kecintaan terhebat yang pernah ada yang bisa dilakukan oleh manusia. Semua itu dibuat indah oleh Allah di pandangan manusia.

Masalahnya cuma satu, Anda cinta benar sama harta itu. Titik.

Saking cintanya, lalu cinta itu membutakan Anda. Anda tabrak semua rambu-rambunya. Ibadah Anda terbengkalai, panggilan Haji Anda abaikan, rintihan kelaparan Anda lempar jauh-jauh dari telinga Anda. Anda—sekali lagi—buta. Anda lupa. Ya sudah siap-siap saja Anda akan miskin. Atau bagi Anda yang saat ini sudah miskin, dikuadratkan lagi kemiskinan itu. Atau yang seharusnya besok Anda dapat rezeki yang banyak, eh…ternyata tidak dapat sama sekali. Anda yang seharusnya lulus dari ujian eh ternyata tidak lulus. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Tapi memang di dunia ini ada saja yang anomali. Anda sudah memakan harta anak yatim sampai habis tidak tersisa bahkan anak yatim itu malah jadi anak jalanan tetapi Anda semakin kaya saja. Anda juga sudah tidak pernah infak kepada orang miskin, kasih recehan pun tidak sudi tetapi hitungan rumah Anda semakin bertambah saja.

Bahkan Anda sampai rebut harta warisan dari Saudara Anda, eh bukannya Anda jatuh bangkrut, tetapi Anda dan sanak keluarga Anda semakin jaya saja. Anda jadi Anggota DPR RI yang terhormat di Senayan. Istri Anda jadi Bupati. Anak Anda yang sulung jadi Ketua Partai tingkat Propinsi. Anak yang kedua jadi pengusaha sukses. Anak Anda yang bungsu dan cantik itu jadi model dan sekarang sedang kuliah di Aussie. Enggak ngepek…(benar-benar pakai p bukan f).

Bahkan Anda ngebet banget ama harta. Jadi gaji dan tunjangan Anda yang besar berasa tidak cukup. Akhirnya Anda terima suap dari kolega Anda untuk memuluskan usahanya. Tapi ya kok KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ndak melirik sama sekali Anda. Bahkan PPATK pun sampai terbengong-bengong dan tidak bisa menganalisis uang dari mana hingga membuat rekening Anda semakin hari semakin bertambah. Pokoke Anda aman dan sentosa saja.

Anomali apa ini sehingga empat hal itu tidak membuat Anda miskin seketika. Cuma Allah yang menghendaki itu: ISTIDRAJ. Pembiaran dari-Nya. Sampai Allah akan tuntut sehabis-habisnya Anda di akhirat sana. Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya.

Anda ingin kaya? Anda ingin rezeki Anda mengalir terus? Anda tidak mau miskin? Jangan lakukan empat hal itu.

Semoga bermanfaat.

***

Maraji’: AlFajr surat ke-89 ayat 15-20



riza almanfaluthi

yang sedang belajar jadi orang kaya

dedaunan di ranting cemara

Dikirim pada 11 Mei 2010 di Gambleh




“ Suatu hari nanti ...... Ketika anda Mendengar seseorang dalam Kesusahan dan Mengira itu bukan Urusan anda
.....

PIKIRKANLAH SEKALI LAGI ! “

Sepasang suami dan isteri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan gelagat sambil menggumam



"hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar ?".

Ternyata yang dibeli oleh petani hari adalah perangkap tikus. Sang tikus naik panik bukan kepalang. Ia bergegas lari ke sarang dan berteriak,



" Ada perangkap tikus di rumah....di rumah. Sekarang ada perangkap tikus...."

Ia pun mengadu kepada ayam dan berteriak,



" Ada perangkap tikus !"

Sang Ayam berkata,



" Tuan Tikus ! Aku turut bersedih tapi ia tak ada hubungannya dengan aku."

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak seperti tadi. Sang Kambing pun menjawab,



"Aku pun turut bersimpati...tapi tidak ada yang bisa aku perbuat Lagi pula tidak ada hubunganya dengan aku. "

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama.



" Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali. Hewan sebesar aku tak kan bisa masuk perangkap tikus. "

Dengan rasa kecewa ia pun berlari ke hutan menemui Ular. Sang ular berkata



" Eleh engkau ini...Perangkap Tikus yang sekecil itu tak kan bisa membahayakan aku."

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah karena mengetahui ia akan menghadapi bahaya seorang diri. Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara berdetak perangkap tikusnya berbunyi menandakan umpan dah mengena.



Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa yang jadi mangsa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang isteri pemilik rumah. Walaupun si Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, isterinya tidak sempat diselamatkan. Si suami pun membawa isterinya kerumah sakit.



Beberapa hari kemudian isterinya sudah boleh pulang namun tetap saja demam. Isterinya lalu minta dibuatkan sup cakar ayam oleh suaminya kerana percaya sup cakar ayam bisa mengurangi demam. Tanpa fikir panjang si Suami pun dengan segera menyembelih ayamnya untuk membuat sup cakar ayam.



Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.Masih juga isterinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.



Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Banyak sungguh orang datang melawat jenazahnya. Karena rasa sayang suami pada isterinya, tak sampai hati pula dia melihat orang ramai tak dijamu apa-apa. Tanpa berfikir panjang dia pun menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang berziarah.



Dari kejauhan...



Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan.


Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.



Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a yang artinya: “Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling mmembenci, saling memutuskan hubungan dan janganlah sebagian kamu menyerobot transaksi sebagian yang lain,jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yang lain, tidak boleh mendhaliminya, membiarkannya (tidak memberikan pertolongan kepadanya), dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu berada berada di sini, beliau (Rasulullah) menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang (muslim) dianggap (melakukan) kejahatan karena melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. (Hadis Arba’in : 25)

Saudaraku ....sesungguhnya Ukhuwah (persaudaraan ) dalam Islam dibangun di atas landasan iman, bukan berdasarkan pertalian darah, suku, hubungan kekerabatan, apalagi nasionalisme kebangsaan yang semu.



Allah subhaanahu wa taala berfirman yang artinya:


“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujarat : 10 )

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “ ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah dibangun di atas landasan persamaan agama bukan nasab ( hubungan darah)”, karena itu dapat dikatakan bahwa persaudaraan berdasarkan agama lebih kokoh dan tsabit (tetap) dibanding persaudaraan yang dibangun di atas landasan nasab atau hubungan darah, karena sesungguhnya persaudaraan karena nasab akan terputus dengan sendirinya karena perbedaan agama, sementara persaudaraan karena agama tidak terputus dengan terputusnya nasab.



Sementara itu Rasulullah SAW bersabda, artinya:


”Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, muslim itu saudara bagi muslim yang lain. ( H.R. Bukhari-Muslim )

Jelaslah sekarang bahwa setiap muslim pada asalnya adalah saudara bagi muslim yang lain. Oleh karena itu hak-hak ukhuwah diantara mereka harus dijaga dengan baik agar tidak menimbulkan kesalah fahaman yang dapat menumbuhkan benih-benih perpecahan yang sekaligus melemahkan barisan perjuangan kaum muslimin.



Semoga Bermanfaat.....



SEBARKAN
Notes ini ke teman anda jika menurut anda bermanfaat.....




Source :http://www.iluvislam.com

Dikirim pada 29 April 2010 di Gambleh

Ummu Shalih, Seorang Nenek yang Menghafalkan Al-Qur’an di Usia 82 Tahun
Alhamdulillah, Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar [54] : 32)

Banyak orang di seluruh dunia menghafal Al-Qur’an, dan tidak aneh melihat seorang anak menghafal Al-Qur’an dan di usia yang sangat muda. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Al-Qur’an mudah untuk dihafalkan, telah menjadikanya mudah bagi Ummu Shalih yang berusia 82 tahun. Dalam wawancara bersama Ummu Shalih, ia ditanyai sejumlah pertanyaan berikut:

Pertanyana: “Alasan apa yang mendorong anda untuk menghafal Al-Qur’an setelah sekian tahun berlalu?”

Ummu Shalih: “Aku selalu berharap menghafalkan Al-Qur’an sejak aku masih muda. Ayaku selalu berdoa kepada Allah bagiku agar menjadi orang yang menghafal Al-Quran sebagaimana dirinya dan saudaras-saudara laki-laki yang lebih tua di dalam keluargaku yang menghafalkan Al-Qur’an. Maka aku mulai menghafal tiga bagian dan menamatkannya di usia 13 tahun. Aku menikah dan menjadi sibuk dengan urusan rumah tangga dan anak-anak. Setelah memiliki tujuh orang anak, suamiku meninggal. Anak-anakku mash kecil maka aku menghabiskan waktu untuk membesarkan dan mendidik mereka, dan setelah mereka dewasa dan menikah, aku memiliki lebih banyak waktu untuk diriku sendiri. Oleh karena itu, hal pertama yang aku lakukan adalah memusatkan pertahian pada Al-Qur’an.

Pertanyaan: Ceritakanlah kepada kami perjalanan anda bersama Al-Qur’an."

Ummu Shalih: “Anak perempuanku yang paling kecil masuk SMA dan dia adalah anak yang paling dekat denganku dan yang paling kucintai, karena dia tinggal bersamaku setelah kakak-kakak perempuannya menikah dan sibuk dengan kehidupan mereka sendiri, dan karena dia adalah gaids pendiam, shalihah dan penuh cinta dan baik. Apalagi, dia tertarik mempeelajari Al-Qur’anul Karim, dan guru-gurunya mendorongnya. Ditambah lagi dia sangat antusias dan selalu menceritakan kepadaku banyak wanita yang terdorong oleh motivasi besar untuk menghafal Al-Qur’an, dan disinilah aku memulai.”

Pertanyaan: “Ceritakanlah bagaimana cara anda menghafal.”

Ummu Shalih: “Kami menetapkan 10 ayat (maksudnya dia dan anak perempuannya yang masuk SMA). Setiap hari setelah Ashar kami duduk bersama. Dia membaca dan aku mengulanginya tiga kali. Kemudian dia menerangkan artinya kepadaku, dan setelah beberapa saat dia mengulanginya tiga kali. Pada hari yang berikutnya, dia mengulanginya tiga kali sebelum berangkat ke sekolah. Dia juga merekam bacaan Syaikh al-Husary rahimahullah, mengulangi setiap ayat tiga kali dan begitulah aku melanjutkan mendengarkannya hampir sepanjang waktu. Kemudian pada hari berikutnya kami akan melanjutkan pada 10 ayat berikutnya jika hafalanku baik. Jika tidak, kami akan menunda menghafal ayat berikutnya sampai hari berikutnya lagi. Lebih lanjut, kami menetapkan hari Jum’at untuk meninjau kembali hafalan selama satu minggu. Dan inilah perjalanan dari awal”

Kemudian Ummu Shalih berkata: “Setelah 4,5 tahun aku telah menghafal 12 juz menurut cara yang aku jelaskan kepada anda. Kemudian anakku menikah. Ketika suaminya mengetahui kegiatan kami mengenai hafalan, dia menyewa rumah dekat denganku, dekat dengan rumahku, sehingga memungkinkan untuk melanjutkan kegiatan hafalan. Lebih lanjut, dia, semoga Allah memberikan pahala baginya, selalu mendorong kami dan kadang-kadang duduk bersama kami mendengarkan, menjelaskan, dan mengajarkan. Kemudian setelah tiga tahun perkawinannya, anakkmu mulai sibuk dengan anak-anak dan urusan rumah tangganya, dan jadwal kami pun terganggu, akan tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah. Bahkan, dia melihat hasratku untuk menghafal masih tetap ada, dia mencarikan guru khusus untuk melanjutkan kegiatan tersebut di bawah pengawasannya. Akhirnya aku menamatkan hafalan dengan pertolongan Allah, dan anakku masih berusaha menamatkan hafalannya terhadap Al-Qur’anul Adzim. Dia masih ketinggalan sedikit insya Allah.

Peertanyaan: “Motivasimu (untuk menghafal –pent.), apakah mempengaruhi wanita-wanita lain di sekelilingmu?"

Ummu Shalih: “Itu benar-benar memberikan dampak baik yang kuat. Anak-anak perempuanku dan anak-anak perempuan (dari suami terdahulu) semuanya terdorong dan berussaha untuk belajar dan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak mereka dan belajar bagi diri mereka sendiri.

Pertanyaan: “Setelah menamatkan Al-Qur’an, tidakkah anda berpikir untuk mulai menghafalkan hadits?”

Ummu Shalih: “Sekarang aku telah menghafalkan 90 hadits dan insya Allah aku akan terus melakukannya. Hafalanku tergantung pada rekaman dan siaran radio Qur’an. Di akhir setiap minggu, anak perempuanku datang dan mengecek tiga hadits fahalanku, dan aku sekarang mencoba menghafalkan lebih banyak lagi.

Pertanyaan: “Selama menghafalkan Al-Qur’an, apakah hidup anda berubah? Apakah hal itu mempengaruhi hidupmu?”

Ummu Shalih: “Ya, aku mengalami perubahan besar dan aku selalu mencoba, segala puji bagi Allah, untuk taat kepada Allah sebelum mulai menghafal. Namun demikian, setelah aku mulai tugas menghafalkan, aku mulai merasakan kepercayaan diri, kepercayaan diri yang besar dan semua kekhawatiran perlahan-lahan sirna. Aku bahkan mencapai tingkat membebaskan diriku dari semua kekhawatiran yang berlebihan akan ketakutan mengenai anak-anakku dan urusan mereka, dan semangatku bertambah. Aku memiliki tujuan mulia untuk dilaksanakan dan ini adalah nikmt yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala kepadaku, karena kita mengetahui bahwa sebagian wanita, ketika mereka beranjak tua dan tidak memiliki suami, dan anak-anak mereka menikah, mungkin dihancurkan oleh waktu dan pikiran kosong, kecemasan, dan seterrusnya. Akan tetapi, Alhamdulillah, aku tidak melaluinya dan aku menyibukkan diri dengan tugas yang besar, dan tujuan yang besar.

Peranyaan: “Tdakkah anda berpikir pada saat tertentu, untuk bergabung dengan majelis yang memusatkan perhatian untuk mengajarkan Al-Qur’an?”

Ummu Shalih: “Ya, sebagian wanita menyarankan hal ini kepadaku, akan tetapi aku adalah wanita yang terbiasa tinggal di rumah, dan aku tidak suka keluar setiap hari dan Alhamdulillah, anak perempuanku mencukupiku dari semua kesulitan dan aku merasa bahagia ketika belajar darinya. Anakku telah memberikan teladan dalam kebaikan dan ketaatan yang jarang ditemukan di masa kita ini. Dia memulia tugas dan kegiatan ini bersamaku ketika dia masih remaja, dan ini adalah usia rawan yang banyak dikeluhkan orang. Dia selalu menekan dirinya agar dia dapat meluangkan waktu untuk mengajariku, dan dia mengajariku dengan baik dan bijaksana. Suaminya adalah penolong yang baik baginya dan dia telah berusaha keras. Aku memohon kepada Allah subhanau wa ta’ala agar memberikan mereka kebahagiaan dan menjadikan anak-anak mereka anak-anak yang shalh.

Pertanyaan: “Apa yang anda katakana kepada wanita di usia anda yang ingin belajar dan menghafalkan Al-Qur’an namun merasa khawatir dan merasa tidak mampu melakukannya?”

Ummu Shalih: “Aku katakana kepadanya, tidak aka nada keputusasaan dengann tekat yang teguh, ikhlas dan benar. Mulailah dengan ikhlas, keteguhan pendirian dan tawakkal kepada Allah setiap saat. Dan ingatlah, pada usia sekarang ini anda seharusnya memiliki waktu untuk diri anda sendiri. Namun jangan gunakan waktu anda hanya untuk keluar atau tidur dan seterusnya, Sebaliknya, sibukkanlah diri anda dengan kebajikan.

Tanya: “Apa yang akan anda katakan kepada wanita yang masih muda? Apa yang akan anda nasihatkan kepadanya?”

Ummu Shalih: “Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu. Gunakanlah nikmat yang Allah berikan kepadamu dari kesehatan dan jalan dan kenyamanan hidup. Gunakanlah untuk menghafalkan Kitabullah. Inilah cahaya yang akan menghidupkan hatimu, hidupmu dan kuburmu setelah engkau mati. Dan jika engkau memiliki seorang ibu, maka berusahalah untuk mengajarinya, dan tidak ada nikmat yang lebih baik bagi seorang ibu darpada seorang anak shalih yang menolongnya untuk lebih dekat kepada Allah.”

Dipublikasikan pertama kali pada majalah Ad-Da’qah, no. 1552, 17 Rabiul Awal 1417 (1 Agustus 1996)
Transkrib dalam bahasa Inggris oleh: Ummu Maahir al-Amreekiyyah
Alih bahasa: Ummu Abdillah al-Buthoniya

http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/275

Dikirim pada 14 April 2010 di Gambleh

Hari ini kita belajar peristiwa dialog Burung Hud-Hud dengan Nabi Sulaiman as. Dalam beberapa riwayat Burung Hud-Hud adalah sejenis burung pelatuk.

Suatu ketika Nabi Sulaiman as melakukan pemeriksaan rutin. Sewaktu dia memeriksa burung-burung lalu berkata:

"Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang."

Maka tidak lama kemudian datanglah hud-hud, lalu ia berkata:

"Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, ......"


Wanita tersebut adalah ratu Balqis yang memerintah kerajaan Sabaiyah di zaman Nabi Sulaiman. Saba nama kerajaan di zaman dahulu, ibu kotanya Marib yang letaknya dekat kota Sana ibu kota Yaman sekarang.

Dikirim pada 13 April 2010 di Gambleh


Sudah menjadi fitrah manusia...untuk diberi rasa cinta dan rindu...
Begitu saya, juga memimpikan suatu kerinduan yang membuncah kalbu..

Ya...saya rindu...rindu akan pemimpin generasi baru...
Rindu mengulang kisah kisah yang dulu...


Kisah agung nabi muhammad yang melayani rakyatnya...dengan menghabiskan kekayaannya untuk umatnya...jangan salah Rasulullah itu kaya...dia pernah menebus seorang yang tak sengaja membunuh muslim dalam peperangan uhud (karena kekacauan yang sangat)..dengan seratus onta...pake kekayaan pribadi....

Ada seorang yang meminta rasulullah...untuk menangguhkan potong tangan kepada seorang anak pembesar suku arab...rasulullah langsung berpidato....sesungguhnya kaum kaum sebelum kalian dihancurkan karena menindas yang lemah dan melindungi yang kuat...seandainya fatimah anakku mencuri niscaya aku potong tangannya....


Aku juga rindu...bagaimana umar ra ...yang terbiasa turba (turun kebawah)...untuk mengecek kebutuhan...rohani dan jasmani rakyatnya....

Juga Muadz yang diangkat menjadi gubernur kufah ...hanya mempunyai beberapa perabotan...dan gajinya sepertiga untuk zakat.....

Salman al farisi...juga datang ke parsi dengan mengendarai keledai...padahal parsi (iran) adalah negara kiblat dunia....kiblat mode pada waktu itu....permadani...emas dll. Rakyatnya bersiap dengan penyambutan yang luar biasa....ternyata salman sendang duduk bersantai di bawah pohon...sambil makan daging mengendarai keledai.....


Saya rindu pemimpin yang bersih peduli dan profesional....pemimpin yang menyelamatkan rakyatnya dunia dan akhirat

Dikirim pada 09 April 2010 di Gambleh

Sebelum berangkat kerja kemarin, saya melihat berita TVOne ada gempa di aceh pukul 05 lebih sedikit.....yang menakutkan bahwa berpotensi tsunami....Allohu Akbar...teringat ketika berbagai bencana dan bencana yang menimpa kita....

“… dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya” (Al Ankabut 53)

Tidakkah, kita mengambil ibroh dari kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah karena maksiat. Bagaimana kaum Nabi Sholih menjadi mayat yang bergelimpangan di tempat tinggalnya karena gempa. Begitupula kaum Syu’aib yang mendustakan nabinya.

“Maka mereka mendustakan Syu�aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka” (Al Ankabut 37)

Apakah kita akan mengikuti para ahlul hawa yang mengatakan ini adalah perkara tabi’i (periistiwa alam biasa) ? Tidakkah kita lupa dengan ayat ini :

“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras” (Hud 102)

Sungguh kita yang dzolim bukan Allah yang mendzolimi kita. Ampuni hamba-Mu ini ya Allah. Tanda-tanda akhir jaman adalah semakin banyaknya gempa bumi.

Saudaraku
Dahulu, ketika Rasulullah saw masih hidup, bumi ini pernah bergetar dan bergerak. Rasulullah ketika itu dikelilingi para sahabatnya. Saat getaran dan gerakan itu dirasakan Rasulullah saw, ia segera meletakkan tanagnnya yang mulia di atas tanah, lalu berucap, “Diamlah..belum datang saatnya untukmu (bergerak)” lantas Rasulullah saw menoleh dan berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya Tuhan kalian meminta kerelaan kalian, maka relakanlah dia.” (Al Jawab Al Kafi Ibnul Qoyim)
Dijaman Umar bin Khatab ra, gempa bumi pernah terjadi 20H. Ketika itu Umar ra berkata, “Wahai manusia, getaran bumi ini tidak lain karena sesuatu (kemaksiatan) yang kalian lakukan. Demi Zat yang jiwaku di TanganNya, jika bumi ini bergerak kembali, aku tidak akan tinggal bersama kalian selamanya di tempat ini!”

Umar bin Abdul Aziz, pernah menulis surat kepada para gubernurnya, “Sesungguhnya bergeraknya bumi ini sesuatu teguran Allah SWT kepada hamba-Nya. …..Barangsiapa yang memiliki sesuatu untuk disedekahkan, maka sedekahkanlah. Katakanlah sebagaimana dikatakan Adam as, “Robbana dzolamna anfusana, wa in lam taghfirlana lana kunanna minal khosirin. Katakanlah seperti Nabiyullah Nuh as “Wa illa taghfirlii wa tarhamnii akun minal khosirin…”. Katakanlah sebagaimana perkataan Yunus as. “Laa ilaaha ill anta subhanaka inni kuntu minadz dzolimin.
Memang musibah kadang untuk menguji manusia.

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji�uun"
(Al Baqoroh 155-156)

Tetapi apakah kita terjaga dari kesalahan, tidak pernah bermaksiat kepada Allah, selalu mematuhi perintah-Nya. Mari kita koreksi diri kita, tentang lalai dan dosa yang kita perbuat. Perbanyak istighfar, memuji Allah, menunaikan ketakwaan kita dengan amal sholih.
Lalu marilah kita bersatu padu mencegah kemungkaran. Lihatlah Saudaraku, betapa banyak kemungkaran terjadi di negeri ini. Ulama melecehkan Al Qur’an, pornografi merajalela, seks pra nikah sudah biasa, selingkuh sudah budaya, aborsi dimana-mana, minuman keras merajalela, menghibah para pemimpin negara, masih dan masih banyak lagi. Teramat banyak untuk disebutkan, hanya akan melukai hati ini. Bila tidak maka maka terjadilah ancaman Allah sebagaimana disabdakan Rasulullah yang diriwayatkan Abu Bakar Ash Shidiq ra:

“Tidaklah satu kaum diantara mereka ada yang berbuat maksiat, kemudian mereka mampu untuk mengubahnya, namun mereka tidak mengubahnya, kecuali hampir Allah akan meratakan mereka dengan siksa.”(HR Abu Dawud)

Bumi memang telah datang untukmu untuk bergerak. Karena dosa dan lalai kami.

Dikirim pada 08 April 2010 di Gambleh

“ Benarkah engkau jodoh yang diberikan Allah kepadaku ? “

Bertanya Mentari pada selembar kertas yang masih terlipat rapi di hadapannya. Pagi tadi Ummi Farah memberikan kertas itu padanya.

Hampir empat tahun setelah Mentari ditanya Ummi Farah tentang kesiapannya menggenapkan separuh dien. Kini selembar biodata yang dinanti-nanti, benar-benar berada di hadapannya.

Matanya menerawang dalam diam. Menemani lintasan kenangan yang berkecamuk dalam pikirannya …..ia belum berani membuka kertas itu
……………………..


Bundaran HI, menjelang Dhuhur, empat tahun yang lampau.
Beberapa saat yang lalu, serombongan besar wanita muda berjilbab berdemo mengusung tema besar anti pornografi. Mentari bersama dua sahabatnya, Wida dan Nana, berjalan menuju halte depan hotel President.

" Tari, Wida.. ana duluan ya… tuh kak Fauzi udah nunggu di depan telpon umum ". Nana pamit sambil menunjuk ke arah seorang pemuda tegap berbaju rapi ala kantoran.

" Aduh… penganten baru, nggak sabar nih cepet sampai rumah…", goda Wida sambil melempar senyum simpulya.

"Iya, udah lupa ya sama asrama " Salsabila" tempat kita tumbuh dan berkembang "

" Maaf deh saudari-saudariku, makanya pada cepet punya suami..biar nggak ditagih ibu kos lagi tiap bulan…".

" Wuuuu…lagaknya !! "

Nana tersenyum penuh kemenangan. Sebentar kemudian ia telah meninggalkan Mentari dan Wida.

Panas Jakarta di pertengahan tahun memang cukup merepotkan. Orang-orang malas untuk terus-terusan berdiri mematung dipinggiran jalan. Setiap bus kota yang datang disambut dengan kejar-kejaran dan desak-desakan antar penumpang. Tentu saja Mentari dan Wida selalu ketinggalan. Mereka tak bisa sembarangan melompat dan bergantungan. Bisa-bisa jilbab dan jubah panjang mereka akan jadi korban.

Satu jam berlalu, tak ada kemajuan. Mereka masih setia menunggu Patas 16 yang akan membawanya ke kawasan Rawamangun. Namun langit berganti warna, panas berlalu tanpa sisa. Hujan pun mulai turun. Mentari dan Wida masih terjebak di halte. Dalam lelah yang berkepanjangan.
Mendadak….datang dua orang pemuda. Satu berambut gondrong. Satu lainnya beranting. Keduanya memakai baju khas orang kuliahan. Ada hasrat buruk tergambar dari kilatan mata mereka.

" Halo ceweek .. godain kita doong, dari kampus mana nih ? ", seorang dari mereka mulai menyapa dengan kedipan mata yang genit.

" Eh.. elo yang tadi orasi ya ? yang katanya nolak pornogafi ya ", tambah seorang lagi sambil menunjuk ke arah Mentari. Mentari dan Wida merasa terancam, mereka bergerak menjauh. Tapi dua pemuda itu masih berhasrat mendekat.

" Hei cewek, jangan munafik loo.. gue tahu loe punya pacar dan rutin kencan kan tiap malam minggu di kos-kosan.."

Muka Wida memerah dasyhat mendengar ocehan sang berandal. Jiwa petarungnya sebagai mantan atlit karate tak bisa membiarkan ini terjadi.

" Jangan sembarangan kalau bicara, kalian belum tahu berhadapan dengan siapa."
Namun gertakan Wida berlalu begitu saja. Mereka malahan tambah nekat.

" Iya, apa gunanya pake jilbab kalau sudah tidak perawan lagi. Mending jilbabnya di copot saja …., sini biar gue yang copot kalau tidak mau "

Sreeet !!! Jilbab Mentari menjadi sasaran ! Mereka menariknya dengan paksa Mentari berusaha mempertahankannya..

" Tolooooong ! Rampook ! "

Mentari berteriak meminta pertolongan. Tapi derasnya hujan meredam suaranya. Beberapa orang yang melihat dari jauh diam tak bergerak. Ketakutan.

Buuk ! Tendangan samping Wida tepat mengenai punggung seorang pemuda berandal. Ia sempat terhuyung beberapa saat. Seorang lagi masih menarik kuat jilbab yang
dipakai Tari.

Buuk ! Sreeet !.Terdengar dua teriakan yang berbeda sumbernya. Satu teriakan dari pemuda berandal yang menarik jilbab tari. Ia terkena tendangan Wida tepat di titik kelemahannya. Satu teriakan lagi keluar dari mulut dan nurani Tari. Jilbab yang dikenakannya terlepas. Tetesan hujan membasahi rambutnya yang panjang.

" Tolooong …… !!! ", Mentari panik. Ia mendapati dirinya sangat asing dengan rambut yang terurai tanpa penutup. Ia merasa bagai terjebak di sarang penyamun yang haus tubuh wanita. Wida segera menarik Tari menjauh dari halte itu. Kedua berandal masih sempat mengancam dalam kesakitannya. Beruntung, sebuah Taksi tepat berhenti di depan Tari dan Wida, memberikan tumpangan.

Malampun menjelang dengan membawa seribu kesan menyakitkan dalam diri Tari. Hari itu begitu berat bagi seorang Tari. Demonstrasi yang melelahkan ditambah kejadian mengerikan di halte siang tadi.

Mendadak Tari ingat Nana, sahabatnya yang juga ikut demonstrasi siang tadi. Mentari merenung dalam kesendirian di kamar kosnya …Ah, betapa beruntungnya kau Nana, ada yang menjaga dan memperhatikanmu.… Ucapnya dalam hati

" Ya Allah, datangkanlah kepadaku seorang yang Kau janjikan untuk menemani dan meneguhkan hidupku.."

Mentari pun tenggelam dalam doa-doa yang tak pernah bosan ia panjatkan.

******************

Asrama Salsabila, pagi hari, tiga tahun yang lalu.

Pintu kamar Mentari di ketuk tiga kali. Sahabatnya, Wida, masuk memberi salam, keduanya berpelukan seolah lama tak bertemu.

" Subhanallah, my lovely Wida… bumi bagian mana yang tega menelanmu selepas wisuda Februari, tiga bulan yang lalu.. tak ada kabar, telpon atau surat ? "

" Afwan Tari, aku pulang ke Bandung. Di sana ternyata banyak proyek yang harus kugarap. Tahu sendirikan ? Papa memang dari dulu sudah nunggu lama kelulusanku.

Beliau ingin aku menjadi manajer akuntan di perusahaannya. "

" its OK ukhti, tapi janji ya kamu nginep lama di sini… ada banyak cerita baru lho di kampus kita "

" Justru itu Tari.. aku ke sini memang khusus untuk menemuimu. Aku ingin kau mengetahuinya langsung dariku, meski sebenarnya bisa saja kalau aku poskan undangan ini dari Bandung.. "

" Undangan ? Walimah maksudnya ? Subhanallah… akhirnya kau menikah juga Wida.Tadinya aku kira aku yang duluan.. selamat ya… mana undangannya ? "

Wida mengulurkan sebuah undangan berwarna merah muda. Indah dan berkesan bagi penerimanya. Keduanya kembali berpelukan. Isak tangis mulai terdengar pelan. Bahagia dalam haru.

" Maaf Tari… aku harus menikah terlebih dahulu. Aku takut jika terlalu larut dalam perusahaan nanti…aku bisa sibuk dan lupa nikah. Lucu ya kedengarannya ? tapi memang begitu kemarin nasehat orangtuaku di rumah. Nah, kamu sendiri gimana kuliahnya ? "

Wajah mentari mendadak berubah muram.

" Yaah.. kamu tahu sendiri kan Mr. Bondan ? Beliau tuh sangat teliti kalo pas ngoreksi. Tapi apapun, aku usahakan September ini aku udah angkat kaki dari kampus ini.

Eh… tapi jangan lupa doain ya Wid..! "

" Jelas dong… mau didoakan cepet wisuda atau cepet nikah ? "

" Cepet Nikah dong !!! eh… maksudku kalo bisa dua-duanya dapet gituu.. "

" Iya non.. aku juga tak tega membiarkanmu menjadi bidadari ketinggalan kereta ! "

Buuk ! Serasa ucapan Wida yang terakhir bagai tendangan karatenya yang tepat mengenai ulu hati Mentari. Sakit memang, tapi Tari sadar sahabatnya hanya ingin memberikan motivasi padanya untuk tetap tegar !

Selepas kepergian Wida, Tari kembali merenung dalam kamar. Tangannya asyik membolak-balik undangan Wida. Ah..ini bukan yang pertama bagi Mentari. Bukan yang pertama kali Mentari ketinggalan kereta, seperti kata Wida. Seminggu yang lalu Dina, teman seangkatannya nikah dapat anak Medan. Bahkan sebulan yang lalu malahan si centil Tasya, adik kelasnya dua tingkat, sukses di lamar teman satu jurusannya !

Tari menghidupkan PC-nya yang setia menemani hari-hari kuliahnya selama lima tahun terakhir ini. Dibukanya sebuah file di program Corel Draw. Nampak di layar sebuah desain undangan pernikahan yang anggun dan manis. Tertulis di dalamnya…

Menikah : .MENTARI CANDRASARI bin H. BASUKI dengan .. MR. MOST WANTED !!! !

Mentari termenung berkaca-kaca. File itu sudah setahun lebih dibuka dan diedit, tanpa tahu kapan akan diprint dan digunakan.

*******************
Rumah Mentari yang anggun , di sisi utara pulau jawa, dua tahun yang lampau.

Matahari pagi yang cerah menemani keluarga Mentari. Kemarin sore Tari, putri satu-satunya keluarga Haji Basuki, baru saja datang dari Jakarta. Mereka berkumpul hangat di ruang keluarga.

Hari itu terasa istimewa bagi pak Basuki, ayah Mentari, dan juga bagi ibunya. Tapi tidak bagi Mentari. ..ada seorang dari masa lalu yang tiba-tiba dibicarakan oleh bapak ibunya. Joko, pacarnya saat SMU dulu, sepekan yang lalu menelpon Haji Basuki. Tari penasaran meski ia tak merasa punya alasan untuk penasaran.

“ Bapak kenal Joko juga ya Pak ? “

“ Oo.. bukan kenal lagi Tari, Bapaknya itu kan pak Suroso too ? Beliau dulu kawan Bapak semasa masih muda merantau di Jakarta. Kami sama-sama ngontrak rumah di

Tanah Abang, sebelum akhirnya Bapak dipanggil kakekmu untuk nikah sama ibumu ini.. “

“ Lalu ? apa maksudnya seminggu yang lalu ia menelpon Bapak ?“

“ Jadi begini… Nak Joko sudah mengutarakan niat baiknya untuk melamarmu. Dan pak Suroso juga secara khusus sempat menyinggung masalah ini kemarin saat telepon.. Besok pagi Joko mau ke sini khusus untuk bertemu kamu… “

Wajah Tari berubah. Seolah tak percaya dengan pendengarannya.

“ Tapi Pak ? Tari kan belum tentu menerima…… “

“ Huss ! jangan membantah dulu… yang penting besok kau temui dia. Siapa tahu cocok…Bapak dan Ibu sebenarnya terserah kamu, tapi inget Tari.. usiamu sudah tidak muda lagi..Ibumu kemarin nangis karena ada tetangga yang ngomongin kamu calon perawan tua ! “

Mentari diam. Mencoba untuk teguh meski hatinya tergugu. Dia tahu persis siapa Joko yang dulu. Meski lima tahun ia tidak ketemu, Mentari tidak yakin Joko berubah seperti yang diinginkannya.

Pagi menjelang dengan cahaya yang riang. Mencoba menyinari hati Tari yang masih bimbang. Di ruang depan, bapaknya masih sibuk dengan seorang tamu muda. Joko namanya. Pakaiannya perlente,khas eksekutif. Tumpangannya jauh dari yang Tari perkirakan. Kalau dulu saat sekolah, Joko hobby ganti-ganti motor sport. Tapi kini sebuah sedan metalik dengan anggun parkir di depan rumah Tari. Mobil Joko kah ? atau mobil orangtuanya ? Ah.. bagi Tari itu sama sekali tidak penting.

Hati Tari bergetar hebat, apalagi saat ayahnya memanggil, menyuruhnya bergabung di ruang tamu. Tari melangkah pelan. Ia merasa sorot mata Joko terarah lurus ke arahnya. Mencoba menelanjangai jibab lebar dan jubah rapi yang dikenakannya. Mendadak Tari merasa risih..…

“ Ini Tari ? waah.. sekarang pakai busana muslim ya ? Kapan pergi hajinya Tari ? bareng pak Basuki ya ? “

Pergi haji ? Apa hubungannya dengan kewajiban memakai jilbab ? Tapi Tari tidak merasa bingung. Joko masih seperti dulu. Tidak mengenal dan memahami Islam..

Tari tambah risih saat Bapak minta ijin keluar sebentar, meninggalkan Tari dalam kungkungan rasa yang menakutkan. Ini khalwat ! bisiknya dalam hati. Yang ketiga adalah setan !

“ Ada perlu apa Joko ? Ada yang bisa di bantu ? “, sapa Tari dengan gaya yang tidak dibuat-buat. Pandangannya masih tertunduk. Tegas, tapi tidak ketus.

“ Hah ! Bapak dan Ibu tidak bilang sama kamu sebelumnya ? Aku datang untuk menyampaikan niat baik melamarmu Tari… kalau kamu berkenan, seminggu lagi keluargaku akan datang melamarmu.. bagaimana Tari, kau setuju kan ? kita akan menyambung kembali cerita dan kenangan cinta kita saat SMU dulu.. “

Tari merasa terusik dengan kalimat terakhir Joko. Kali ini ia benar-benar muak. Kenangan masa lalu yang sedemikian lama telah terhapus, mencoba menghujam masuk kembali dalam diri Tari.
“ Maaf Joko, aku bukan Tari yang dulu…kau salah datang kepadaku ..”

Mata Joko melebar. Ia seperti tidak percaya Tari mengatakan hal seperti itu. Tari yang dulu selalu setia menemani hari-hari indahnya saat SMU.Kini dihadapannya bagai sosok asing yang tak pernah dikenalnya.

“ Tari !! aku datang kembali untukmu… lima tahun aku memendam cinta ini Tari…, ingatkah kau saat-saat indah kita dulu Tari…, Tari… bukankah dulu kita pernah berjanji sehidup semati, Tari, lupakah kau dengan semua itu… Tari…. “

“ Tidaaaaaaaaaak ! Kau tidak berubah Joko !Maaf, mungkin kita tidak jodoh. Titik !! “

Tari bergegas masuk kembali ke ruang dalam. Meninggalkan Joko dalam keheranan yang panjang. Sementara Bapak ibu Tari saling berpandangan heran. Mereka berdua masih menyimpan beban. Kapan putri satu-satunya akan ke pelaminan ?

Tari menangis dalam kamar. Ia menangis bukan karena Joko. Ia sama sekali sudah melupakan masa lalunya yang kelam bersama Joko. Ia menangis, karena baru kali ini ada seorang yang datang untuk melamarnya. Baru kali ini. Tapi mengapa yang datang Joko ? Pacarnya di masa lalu.

Mengapa bukan ustad Agus, Akh Budi, Mas Hanafi, Pak Irvan, Fajar, Wisnu atau teman-teman lain yang aktif di kegiatan masjid ?. Mengapa bukan mereka-mereka yang hanif dan sholih yang datang? Sehingga Tari bisa semakin teguh mengarungi hidup ini ? Kemana mereka semua ? Kemanaaa ? Tari berteriak dalam hati, menanti sebuah jawaban.

**************************
“ Benarkah engkau jodoh yang telah di janjikan Allah kepadaku ? “

Kembali Mentari bertanya pada kertas bisu dihadapannya. Dengan hati-hati dibukanya kertas itu pelan-pelan. Seolah didalamnya ada sesuatu yang sangat berharga.

Mentari mendapati sebuah nama yang tidak asing baginya…. Agus Budiman

“ Ustad Agus ??? Benarkah ?? Subhanallah … “,

Tari memang harus terkejut. Tentu ia tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima Ustad Agus. Ia seorang yang mempunyai pemahaman Islam yang sangat baik. Ia seorang ustad yang sangat terkenal di kalangan teman-temannya di kampus. Buah keikhlasannya dalam membina telah melahirkan banyak kader dakwah dari masjid kampusnya.

Sungguh ! Tari tak mempunyai alasan untuk menolaknya. Apalagi jika mengingat usianya yang sudah dua tahun melewati seperempat abad ! Juga tangisan ibunya terkasih yang selalu memintanya untuk segera bersanding di pelaminan..

Tapi…. Mendadak Tari tertegun. Ingatannya kembali menerawanag. Beberapa bayang wajah anggun mengitari benaknya. Ia mengingat beberapa seniornya di kampus yang belum menikah ; Mbak Rahma, Mbak Santi…dan juga Mbak Zaenab. Mbak Rahma, pembimbing mentoringnya saat Tari belum berjilbab di tingkat satu. Usianya kini menjelang kepala tiga. Sudah dua tahun ini ia tidak banyak kelihatan. Sakit organ dalam membuatnya harus banyak beristirahat di rumah.

Lain lagi dengan Mbak Santi, dua tingkat di atasnya dulu di kampus. Sekarang sibuk bekerja di perusahaan konveksi, dari pagi sampai sore. Sesekali saat libur, masih sempat untuk diminta mengisi kajian muslimah di kampus. Mbak Santi memang harus kerja keras mencari nafkah. Ia anak sulung dari delapan bersaudara. Ayahnya sudah tiada sementara ibunya sudah cukup renta untuk bekerja. Mbak Santi adalah tulang punggung di keluarganya.

Cerita tentang Mbak Zaenab lebih memilukan. Suaminya, almarhum ustad Ahmad, meninggal tertembak saat dikirim untuk berdakwah di daerah konflik Ambon. Ia meninggalkan dua putri yang masih sangat lucu-lucu, Hana dan Aisyah. Aktifitasnya sekarang menjadi pengajar SDIT, untuk mencukupi kebutuhan hidup dua putri kecilnya.
Perlahan-lahan mata Tari berkaca-kaca. Air matanya mengambang tenang. Bayang-bayang wajah ketiga seniornya menari-nari dihadapannya. Mengapa bukan mereka yang dilamar ustad Agus ? Mengapaa ? Mereka jauh lebih berhak dan membutuhkan daripada aku …

Tililliiiiiit…..Tililiiiiit .. deringan HP memecah kesunyian lamunan Tari. Suara bijak dan salam akrab Ummi Farah terdengar dari seberang.

“ Bagaimana ukhti Tari ? bersedia bukan ? Beliau siap kapan saja bertemu untuk ta’aruf ..”

“ Engg…..begini Mi, mungkin saya perlu istikhoroh dulu.Mungkin seminggu lagi saya baru bisa ambil keputusan… “

“ Baiklah… saya tunggu ya, dan semoga Allah memberi kemudahan..”

Suara salam penutup terdengar dari arah seberang. Pembicaraan telah selesai. Namun bayang-bayang Mbak Rahma, Santi, dan Mbak Zaenab masih setia mengiringi langkah Tari.

*****************************

Dua bulan berlalu. Hari yang bahagia. Suasana walimah yang meriah namun terjaga nuansa kesyahduannya. Tamu laki-laki duduk terpisah dari tamu perempuan. Terdengar aluanan nasyid pernikahan menggetarkan hati pendengar lajangnya.

Tari duduk anggun berseri-seri. Jilbab dan bajunya yang rapi menambah suasana hatinya yang lega dan tenang. Dengan perlahan Tari melangkah, menemui seorang wanita yang jadi pusat perhatian para tamu sedari tadi. Di sisi wanita itu ada dua putri cantik yang masih kecil-kecil. Tari menyalami haru wanita tersebut. Keduanya berpelukan.

“ Mbak Zaenab, Barakallahu lakuma wa baraka alaikuma wa jama’a bainakuma fi khoiriin… selamat ya Mbak semoga bahagia dan berkah menyertai keluarga baru Mbak..”

“ Jazakillah khoiron ya dik, semoga dik Tari juga cepat menyusul ya..Nanti saya minta mas Agus mencarikan khusus buat dik Tari ya.. beliau kan punya kenalan banyak.. “

“ Amiin… doanya ya Mbak..Tari tunggu lho janjinya.hehe...”

“Insya Allah…. “

Lega dalam rasa bahagia dan syukur yang terpanjatkan. Tari berpamitan dan melangkah pulang. Mencoba merenda hari-hari penantian yang baru. Jiwanya tenang. Tidak ada penyesalan. Ia ingat persis, saat selesai sholat istikhoroh dulu, yang muncul selalu saja bayang-bayang Mbak Rahma, Mbak Santi, dan Mbak Zaenab. Wajah ustad Agus tak pernah terlintas dalam malam-malam istikhorohnya.

Kini. dalam hari-hari penantiannya, Tari yakin, ia tidak sendiri. Sebagaimana juga ia yakin, akan ada sesosok laki-laki hanif yang akan menyapanya dengan cinta. Entah satu bulan lagi, dua bulan, satu tahun, atau entah saat senja nanti. Ia yakin Allah telah menjanjikan sebuah cinta yang akan datang menyapanya.

“ Ya Allah, datangkanlah kepadaku seseorang yang akan meneguhkanku dalam hidup ini, dan berikan kesempatan kepadaku untuk berbakti kepadanya, melahirkan dan merawat anak-anaknya untuk menjadi anak sholih. Agar saat kami telah renta atau telah tiada, akan ada mereka yang senantiasa mendoakan kami berdua“

Arkawit, 9 Agustus 2004
Terinspirasi dari nasyid SP ‘ Bergegaslah’
Untuk para ‘senior’ : Kapan kau sapa mereka ?

Sumber : Kajianpranikah oleh Ustadz Hatta Syamsudin pengarang buku "Muhammad saw, the insping romance" mahasiswa stan yang berhenti dan memilih untuk kuliah di Institute of Arabic & Islamic Studies, Jakarta. Branch of El-Imam Muhammad Ibnu Suud University in Riyadh, KSA. Preparations Language Program

Dikirim pada 05 April 2010 di Gambleh

Pernah kukatakan padamu kawan, godaan jabatan itu mematikan. Manis dirasa bak madu, namun menusuk jantungmu bak sembilu. Kau adalah Megaloman Sang Penguasa Dunia. hanya dengan kerlingan mata dan jentikan jari atau lobi-lobi tengik, segala urusan lancar karenamu. Bila matamu kau pejamkan atau tangan kau sandarkan diatas meja dan line telpon kau tutup maka urusan itu pasti tak akan jadi. Sekalipun jadi dalam waktu yg sangat lama. karna kau adalah penguasa, dan sang penguasa sedang tidak enak hatinya.

Godaan harta? setali tiga uang, nyaman digenggam namun panas bak memijak bara api. Sekali saja kau tergoda, merasakan nikmatnya menjadi penguasa, dunia dalam tanganmu, menentukan nasib seorang sekehedak hatimu, memutuskan hajat hidup orang banyak diatas tanda tangan mu kemudian kau lacurkan wewenang itu, bukan atas dasar Allah atau nurani manusia atau undang-undang yang ada atau norma-norma masyarakat, tapi atas dasar nafsu binatangmu, naluri buas hewanimu, kepentingan syahwat perutmu. Maka kukatakan padamu kawan, tak ubahnya kau seperti binatang ternak. Tahu kan kau binatang ternak? besar badannya, gendut perutnya, santai hidupnya, Ah kau pasti tau kawan. tapi sayang kawan, dia tak berbaju, jarang mandi, baunya naudzubillah dan bebalnya bukaaaan main. Karna itu dengan anak kecil sang gembala sapi pun dia takluk. Apatah lagi dengan harimau sang raja hutan. waahh...bukan tandingannya kawan.

Apalagi kalau harta dalam kantongmu kawan?kau bisa bangun rumah seharga 1,3 M, kau beli sederet apartemen mewah, kau gonta-ganti tungganganmu kapanpun kau mau, ford escape, harrier, lexus, alphard. aaaahhhh...menggoda kawan..sangat menggoda...meskipun kau peroleh itu dengan naluri hewanmu, kebiadaban syahwatmu, dan nafsu angkara murkamu..!!

Dulu sering kuingatkan padamu ketika masih di kampus, bahwa rajin sholatmu ke masjid, rutin puasa senin-kamis mu, dahimu yg tak pernah lepas dari ujung sajadahmu kala kau habiskan 1/3 malam terakhirmu, lembar demi lembar mushaf yang kau lantunkan lewat mulutmu, infaq-sodaqoh yg biasa kau sisihkan dari hasil mengajar privatmu, tak bisa menjadi jaminan kesolehanmu kemudian hari kawan. Karena waktu itu kita di kampus kawan, tidak ada jabatan, tidak ada harta, wanita yang hilir mudik di sekeliling kita pun rata-rata berhijab dan bisa dihitung jari, tidak ada godaan di kampus kawan. Dan karena itu iman kita bisa setinggi-tingginya.

Tapi sekarang lah kehidupan sebenarnya kawan, kala iman berhadapan dengan syahwat yang menantang bak karang tegar di lautan. kala hasil lingkaran pengajian kita bertemu dengan sebenar-benarnya musuh. kala kita dihadapkan antara tuntutan perut, ekonomi keluarga dan kebutuhan hidup dengan ideologi kita, sumpah setia di hadapan Allah dan murabbi kita bahwa hanya Allah lah Tujuan Hidup Kita dan hanya Baginda Rasul lah contoh setia hidup kita. Lupa kah kau kawan dengan itu, hari-hari kala tangan kita bergenggam bersama dalam lingkaran iman saat malam menjelang atau saat subuh menyapa, saat aku tertunduk syahdu menyimak engkau membacakan doa robithoh karya Asy-Syahid yang kita teladani. Dan tanpa sadar air mata kita menetes satu demi satu saat engkau dengan lirih membaca "Allahumma Amit ha alaa syahaadaati fii sabiilika"... lupakah kau akan itu semua...?

Kembalilah kawan...duhai sahabatku...masih ada waktu untuk kembali, Titi kembali jalan yang pernah kita lewati bersama, sumpah setia yang terucap dari lisan kita. Sekarang kawan. Ya sekarang. Saat dunia sedang ditangan kita dan kita berkuasa atasnya. Karena Allah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar, lebih nikmat dan lebih abadi dari apa yang kau miliki sekarang. kembalilah....bersamaku...

" Hai jiwa yang tenang kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku "
(QS Al-Fajr: 27-30)


Akhi Brazkie Adam

Dikirim pada 30 Maret 2010 di Gambleh

Salah satu Pusat Kajian di Eropa telah mengadakan survai seputar 20 sifat perempuan yang paling tidak disukai laki-laki. Survai ini diikuti oleh dua ribu (2000) peserta laki-laki dari beragam umur, beragam wawasan dan beragam tingkat pendidikan. Dari gambaran survai ini, diharapkan menjadi masukan dan pertimbangan sikap para istri dan juga sikap para suami. Sekaligus menjawab pertanyaan para istri selama ini, perihal sebab mengapa para suami mereka lari dari rumah.

1. perempuan yang kelaki-lakian, “mustarjalah”
sifat penunjukan diri lebih kuat secara fisik, sebagaimana mereka menyaingi laki-laki dalam berbagai bidang kerja, terutama bidang yang semestinya hanya untuk laki-laki… Mereka bersuara lantang menuntut haknya dalam dunia kepemimpinan dan jabatan tinggi! Sebagian besar pemuda yang ikut serta dalam survai ini mengaku tidak suka berhubungan dengan tipe perempuan seperti ini.


2. perempuan yang tidak bisa menahan lisannya “Tsartsarah”
perempuan yang banyak omong dan tidak memberi kesempatan orang lain untuk berbicara, menyampaikan pendapatnya, umumnya lebih banyak memaksa dan egois.


3. perempuan materialistis “Maaddiyah”
4. perempuan pemalas “muhmalah”
5. perempuan bodoh “ghobiyyah”
Yaitu tipe perempuan yang tidak memiliki pendapat, tidak punya ide dan hanya bersikap pasif.


6. perempuan pembohong “kadzibah”
7. perempuan yang mengaku serba hebat “mutabahiyah”
Tipe perempuan ini selalu menyangka dirinya paling pintar, ia lebih hebat dibandingkan dengan lainnya, dibandingkan suaminya


8. Kedelapan, perempuan sok jagoan, tidak mau kalah dengan suaminya
Tipe perempuan yang selalu menunjukkan kekuatan fisiknya setiap saat.

9. perempuan yang iri dengan perempuan lainnya

Adalah tipe perempuan yang selalu menjelekkan perempuan lain.

10. perempuan murahan “mubtadzilah”

Tipe perempuan pasaran yang mengumbar omongannya, perilakunya, menggadaikan kehormatan dan kepribadiannya di tengah-tengah masyarakat.

11. perempuan yang perasa “syadidah hasasiyyah”

Tipe perempuan seperti ini banyak menangis yang mengakibatkan laki-laki terpukul dan terpengaruh semenjak awal. Suami menjadimasyghul dengan sikap cengengnya.

12. perempuan pencemburu yang berlebihan “ghayyur gira zaidah”

Sehingga menyebabkan kehidupan suaminya terperangkap dalam perselisihan, persengketaan tak berkesudahan.

13. perempuan fanatis “mumillah”

Model perempuan yang tidak mau menerima perubahan, nasehat dan masukan meskipun itu benar dan ia membutuhkannya.

http://www.dakwatuna.com/2008/13-sifat-perempuan-yang-tidak-disukai-laki-laki/

Dikirim pada 30 Maret 2010 di Gambleh

Ada yang menarik dari persaingan tiga klub ini. Meski saya dilahirkan sebagai Milanisti, tetapi tidak menolak bila Liga Inggris tayang. Sudah biasa, sebagai penggemar bola, dia punya tim gacoan di tiap liga. Nah, di Inggris kebetulan jagoan saya MU.

Mengamati persaingan ketiga tim tersebut musim sekarang, kayaknya tidak ada habisnya. Mereka bergantian memimpin puncak klasemen. Tim Arsenal yang penuh dengan peluru-peluru muda, tidak mempunyai pemain dengan nama besar tetapi mampu bermain secara kolektif dan sempat memimpin perolehan poin. Dikala para pemain cedera, selalu ada pemain yang siap menggatikan posisinya. Walaupun bukan posisi aslinya, tetap saja mampu bermain apik dan ciamik. Bahkan kalau boleh menyebut merekalah tim dengan penampilan paling atraktif. Semangat mereka selalu menggebu, meskipun acapkali tiap tahun mereka gagal dalam memenangi titel juara.

Tim kedua adalah Mancherter United. Tim ini selalu langganan juara. Tetapi tetap saja mereka selalu bernafsu memenangi setiap duel, hingga akhirnya mengantarkan mereka ke puncak juara. Kemampuan untuk selalu fokus dalam pertandingan, dan strategi jitu sang pelatih adalah kuncinya. Sehingga hilangnya sang mega bintang ke Real Madrid tidak banyak berpengaruh dalam permainannya.

Tim ketiga adalah Chelsea. Dengan dana berlimpah, gaji pemain yang mahal-mahal, dan para pemain nomor satu sepertinya akan mudah tim ini memenangi semua titel juara. Tapi semenjak kasus selingkuh sang kapten Terry mencuat ke media, tim ini seakan tidak fokus dalam mencapai target mereka. Bahkan akhir-akhir ini kedodoran juga menghadapi tim medioker. Kepercayaan akan kapten mereka mulai berkurang, dan ini juga kurangnya ketegasan dari pengurus atau pelatih.

Saya tidak akan meramal mana yang akan jadi juara saya, sebab saya bukan Ki Joko Bodo, atau Mama Lauren. Tetapi mengambil sudut kebaikan yang bisa diambil dari ketiga tim tersebut.

Suatu organisasi manapun, walaupun semua anggotanya sudah mempunyai dana yang melimpah, gaji yang tinggi, status yang mentereng tidak akan bisa mencapai visi dan misinya apabila tidak ada kerjasama yang baik, kepercayaan pada anggota organisasi untuk menunjukkan kemampuannya, kepemimpinan yang tegas, semangat pantang menyerah, dan nilai postif lainnya yang terus ditumbuhkan.

Janganlah habiskan waktu kita akan kasus yang menimpa rekan kita, anggaplah itu adalah sebagai ujian modernisasi. Tatap kedepan, biar waktu membuktikan. Semoga kita mencapai apa yang kita cita-citakan bersama. Hidup DJP.

Dikirim pada 25 Maret 2010 di Gambleh

Nabi sallallahu `alayhi wa sallam bersabda," Ada dua nikmat di mana banyak manusia terpedaya di dalamnya, yaitu sehat dan waktu luang. " [Shahih Bukhari, Kitab 81, Bab 1, Hadits No 6.412, hal 1232.]

Ini adalah kisah nyata yang disertai dengan gambar.

Jika Allah memberi Anda hidayah, ini dapat mengubah hidup, cara berpikir, dan tujuan utama dalam hidup Anda.

Ini adalah cerita tentang seseorang dari Bahrain bernama Ibrahim Nasser. Dia telah lumpuh total sejak lahir dan hanya dapat menggerakkan kepala dan jarinya. Bahkan bernapasnya dilakukan dengan alat bantu.




Pemuda ini sangat ingin bertemu syekh Nabeel Al-Awdi. Maka, ayah Ibrahim pun menghubungi syekh lewat telepon untuk mengatur kunjungan ke Ibrahim.



Ini syekh Nabeel tiba di bandara.

Ibrahim sangat senang melihat syekh Nabeel membuka pintu kamarnya. Kita hanya bisa melihat kebahagiaan dari ekspresi wajahnya karena ia tidak dapat berbicara.




Saat syekh Ibrahim Nabeel memasuki kamar.




Dan ini adalah ekspresi Ibrahim ketika bertemu dengan syekh Nabeel.

Perhatikan alat pernapasan di leher Ibrahim... Ia bahkan tidak mampu bernapas dengan normal.


Dan sebuah ciuman di kepala untuk Ibrahim.



Ibrahim dengan ayahnya, pamannya, dan syekh Nabeel.

Lalu syekh Nabeel dan Ibrahim mulai berbicara tentang Dakwah di internet dan perjuangannya yang diperlukan.
Mereka juga saling bertukar cerita.




Dan selama percakapan mereka itu, syekh Ibrahim Nabeel melontarkan pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang membuat Ibrahim menangis... dan air mata bergulir di pipi Ibrahim.


Ibrahim tidak bisa menahan tangisnya ketika ia ingat beberapa kenangan masa lalunya yang menyakitkan.



Ini adalah ketika syekh Nabeel menyeka air mata dari wajah Ibrahim.


Apakah Anda tahu pertanyaan apa yang membuat Ibrahim menangis?
Syekh itu bertanya: Oh Ibrahim .. jika Allah telah memberi kesehatan kepadamu ... apa yang akan kamu lakukan?

Dan dengan demikian Ibrahim menangis tersedu-sedu, dan ia membuat syekh, ayahnya, pamannya dan semua orang di ruangan menangis .. bahkan pria yang memegang kamera pun menangis juga.

Dan jawabannya adalah: "Demi Allah saya akan melaksanakan shalat di masjid dengan sukacita .. Saya akan menggunakan nikmat kesehatan saya dalam segala sesuatu yang akan menyenangkan Allah SWT."
Saudara – saudariku, Allah telah menganugerahi kita dengan kelincahan dan kesehatan.

Tapi kita tidak melaksanakan (mendirikan) ibadah shalat kita di masjid! Dan kita duduk berjam-jam di depan komputer atau TV!

"Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf: 37).

from Voa-islam.com

Dikirim pada 25 Maret 2010 di Gambleh

‘Abi lebih suka tinggal di kota atau di desa?’, Tanya anakku.
‘Tinggal di desa, nak!’, jawabku mantap.

Aku memang suka tinggal di desa. Bukan membenci kota dan memang tidak terlalu memiliki sumber dana untuk tinggal di kota. Karena 2 (dua) factor itu – kondisi keuangan dan kecenderungan- aku memilih tinggal di kawasan Deresan. Dusun kecil yang memiliki sejarah lumayan panjang itu menjadi pilihan sadar tempat tinggal kami. Tempat kami menyemai cita-cita besar kami. Deresan –dusun kecil di dekat gua Selarong itu, gua perlindungan pangeran Diponegoro- menjadi pilihan sadarku sebagai tempat kami menuliskan sejarah.Tidak ada keistimewaan yang luar biasa dengan Deresan bagi kebanyakan teman. Satu-satunya –sampai saat ini- pegawai DJP yang tinggal di sana. Jarak yang 12 km kerap membuat kawan-kawan mengernyitkan dahi. Situasinya yang jauh dari peradaban kerap membuat pegawai Pajak yang seharusnya tidaksuka. Tapi itu tidak menghalangi kami untuk menyemai cita-cita di sana. Itulah rumah kami. Tempat kami menggapai surga.

Untuk kami...
Ketika kawan-kawan seiring memilih tempat tinggal yang seharusnya. Kamipun memilih tempat tinggal kami yang seharusnya menurut kami. Kami tidak butuh akses hiburan malam, maka Deresan adalah pilihan kami. Kami tidak terlalu sedih dengan alamat yang memakai RT dan RW, maka Deresan adalah pilihan yang tidak mengganggu. Kami tidak risau dengan nama Kabupaten- ‘Mbantul… terkesan ndeso’, maka kami memilih Deresan. Kadang kami melawan, ‘Orang kota memang butuh suasana desa, Dan orang yang kurang kota memang membutuhkan tambahan unsur kota’. Maaf, Cuma untuk menguatkan kami. Semoga Allah mudahkan urusan ini... Amin

Dengan segenap doa dan pasrah, kami memilih Deresan. Selama Allah ridho dengan kami, kami diajari untuk tidak takut berbeda dengan kawan seiring. Semoga Allah mudahkan urusan ini.Tapi ternyata ini bukan Cuma urusan kami. Ini juga urusan anak-anak. Anak-anak risau. Setidaknya kami menangkap kerisauan itu. Itulah yang menyebabkan kami tidak membelikan buku tentang farm, jungle, desa dan sejenisnya. Bagi mereka buku tentang peternakan tidak terlalu istimewa. Binatang yang bernama kambing bukan khayalan. Kambing adalah sesuatu yang mereka saksikan, bias mereka sentuh dan mereka rasakan aromanya. Sapi bukan hal asing. Buku tentang Jungle, terasa benar-benar buku terjemahan. Di buku itu ada beberapa binatang yang justru khayalan. Contoh ; Sigung. Sigung adalah binatang yang tidak ada di Indonesia. Ada binatang lain yang memiliki kasus semacam ini. Buku tentang desa juga bukan pilihan kami. Sungai kecil, sawah, ladang, pohon pisang, singkong, semak adalah sesuatu yang mereka kenal di keseharian.Kami membelikan buku semacam ‘The City’, Airport, Station, Hotel dan tema sejenis. Dengannya kami mengenalkan tentang pesawat, escalator, hotel, restoran, traffic light, kantor pos besar, terminal dan lain-lain. Secara bercanda kami sering berkata,’ Rihlah? Rihlah kami ke kota…’. Tidak selamanya ke kota, kadang kami ke pantai Depok (dekat parangtritis, radar TNI AU di dekat pantai Glagah, wana wisata UGM, makan raja-raja di Imogiri dan sejenisnya. Tapi titik tekan kami adalah kota dan segenap peradaban kota.Kami ingin anak-anak mengenal kota tetapi tidak tinggal di kota.Sekali lagi, ternyata ini bukan soal kami semata. Ini juga soal anak-anak. Anak-anak berhadapan dengan sterotipe bahwa desa adalah buruk dan tidak bergengsi. Sedangkan kota adalah sesuatu yang hebat.Sterotipe adalah penyakit komunikasi. Pengambilan kesimpulan tanpa kecukupan data. Sungguh ada banyak hal desa yang bagus untuk kita. Dan tentu ada banyak hal bagus di kota.Mendapatkan hal bagus dari keduanya –desa dan kota- adalah pilihan cerdas.Untuk kami –yang memilih tinggal di desa-, kami harus mengenalkan pola pikir dan cara hidup kota yang bermanfaat. Kami hanya harus menyediakan bacaaan yang sedikit mengenalkan kota. Kami hanya harus jujur terhadap perbedaan desa dan kota. Semuanya agar anak-anak menjadi penduduk desa yang memiliki modal untuk meraksasa.Pada saatnya, kami mengenalkan sisi gelap kota dan sisi gelap desa. ‘Abi, ini penduduk kota yang biasa ya? Yang kalau musim hukan kena banjir?.’, kata anak-anak. ‘Ini anak-anak kota yang tidak memiliki rumah’, kata mereka di depan rumah singgah.

Sisi gelap desa juga kami tunjukkan. Perasaan inferior beberapa kawan mereka yang ditampakkan dengan malu, menunduk dan menjawab dengan jawaban yang sebenarnya sulit disebut sebagai jawaban. Kemiskinan juga ada di desa. Ketinggalan informasi dan lain-lain.
Maka, -bagi kami- mendapatkan hal bagus keduanya adalah keharusan. Adalah tugas kami membuat anak-anak jujur dan siap menjalani hidup.

Kami ingin anak-anak jujur. Jujur melihat hal positif kota dan hal negative kota serta jujur dalam menilai hal positif dan negative desa. Kami ingin anak-anak tidak termanipulasi oleh orang kota yang kurang kota dan tak menyembunyikan kelemahan di balik sebutan ‘orang desa’.
Jika kami bisa menertawakan orang kota yang khawatir kehilangan kekotaannya dengan panik. Dengan sesuatu yang tidak substansial. Kami ingin anak-anak juga bias. Jika kami dapat miris dengan ketertinggalan desa, kami ingin anak-anak memburu kelebihan kota dengan dewasa dan merdeka.

Semoga Allah mudahkan urusan ini.



http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/38

Dikirim pada 25 Maret 2010 di Gambleh

Sebenarnya hal ini sudah banyak yang tahu, tapi tak apalah siapa tahu ada yang bisa mengambil manfaat dari postingan ini. Kebetulan sering juga saya melihat orang yang salah dalam bertasyahud

Pandaangan kita sewaktu bertasyahud adalah mengarah ke telunjuk.

Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Uwanah disebutkan bahwa Nabi SAW merenggangkan telapak tangan kiri diatas lutut kirinya. Tetapi Beliau SAW menggenggam semua jari tangan kanannya dan mengacungkan telunjuknya ke kiblat. Lalu mengarahkan pandangan mata ke telunjuknya.


Jadi semua gerakan sholat seharusnya atau sebaiknya kata yang pas untuk menyebut sunnah..yaitu melihat ke tempat sujud...tidak boleh keatas melihat langit,...kecuali gerakan sholat waktu tasyahud...mata/pandangan melihat ke telunjuk....




Tentunya bagi yang matanya normal lhoo........


sedikit ini semoga berguna

Dikirim pada 24 Maret 2010 di Gambleh

Beberapa waktu yang lalu, sebelum pemilu legislatif kami bersama sekitar 56 orang mengadakan MABIT disalah satu rumah teman. Mulai ba’da isya diisi acara taujih dari beberapa ustadz lokal lalu disambung dengan ustadz dari Surabaya. Malamnya diisi qiyamul lail dan paginya dzikir bersama. Acara seperti ini rutin dilakukan setiap bulan, selain agenda-agenda yang lain seperti liqo, tastqif, dll untuk penguatan ruhiyah dalam dakwah.


Setelah makan pagi kami dibagi menjadi lima tim, untuk bersilaturahim dengan tokoh masyarakat di beberapa kecamatan. Kebetulan kami mendapat satu kecamatan yang tidak terlalu jauh dari tempat kami MABIT. Kami bertemu beberapa tokoh masyarakat, tapi yang paling berkesan adalah pertemuan kami dengan salah seorang pensiunan guru. Guru tersebut adalah orang yang ditokohkan di desa tersebut, dia mau mengurusi sekolah islam (MI) tanpa mencari materi, sedangkan dia sendiri juga mengajar di sekolah negeri. Dia juga peduli terhadap pembangunan desa, bahkan kebersihan beberapa masjid dia ikut menangani. Diakhir perpisahan dia berpesan kepada kami agar membantu beliau dalam berkontribusi bagi desanya.


Mungkin, para sahabat ada melihat acara Kick Andy beberapa waktu lalu. Tentang perjuangan para hebat para guru. Ada guru yang tetap mengajar dengan gedung seperti kandang kambing sedangkan guru-guru yang lain sudah tidak tahan untuk mengajar, ada juga guru yang hanya lulus kelas 5 SD yang mampu membuat sekolah dengan murid 450 siswa dan gratis bahkan sebagian diasramakan padahal dia bukan orang kaya selain itu dia pernah mendapat penghargaan dari dinas pendidikan karena setiap ujian semua muridnya lulus semua, ada juga guru yang buta mengajar fisika dan matematika.



Bagi saya kisah-kisah mereka sangat inspiratif dan mengharukan. Dengan segala keterbatasan mereka mampu untuk bermanfaat bagi orang lain. Benarlah sabda nab saw

khoirukum anfauhum linnas (sebaik-baik kalian adalah yang bermanfaat bagi orang lain)...


Dikirim pada 23 Maret 2010 di Gambleh

Setiap saya sholat shubuh, di masjid, saya merasa sedih kenapa teman-teman jamaah hanyalah para camat (calon mati alias sudah sepuh). Kemana para pemuda, apakah orang bertakwa hanya untuk orang tua. Apakah bila masih muda tidak perlu pergi kemasjid ? Apakah bila masih muda yakin akan hidup sampai tua sehingga tidak perlu pergi ke masjid ? Sungguh benar engkau ya Rasulullah saw, engkau resah akan masjidmu yang tinggi menjulang, kokoh menantang tetapi kosong tak bertuan.

Ayolah, jadilah seperti rasulullah yang mengajak bilal rehat dengan sholat.
Letakkan pekerjaan anda, sisingsingkan selimut anda, berehatlah di masjid
Bertafakur menekur dengan nafas teratur
Mengagungkan asma ilahi yang misuwur
Jadilah pemuda yang hatinya bertaut dengan masjid.
Pemyemarak ramai ibadah
Menganyam nilai ukhuwah, sesama jamaah
Sedihlah bila anda melihat masjid tanpa aktivitas, kosong ruhaniyah.

Ramaikan masjid sekitar kita
Gentarkanlah musuh dengan rapatnya jamaah
Kokohkan ukhuwah dengan tegaknya sholat lima
Bagaimana kita akan memenuhi seruan jihad, sedangkan seruan adzan pun kita tinggalkan
Bayangkan bila rasulullah masih hidup
Pasti beliau sedih melihat umatnya
Mungkin kita akan ditinggalkannya
Mungkin kita akan didiamkan laksana 3 sahabat tertinggal di perang
Mungkin rumah kita akan dibakar oleh rasulullah
bila tahu kita tidak pergi memenuhi panggilan sholat

OOh suraumu kini ya nabi...
sepi tanpa ruh..
hanya bata yang rapuh..
simbol rumah Allah...
tanpa tamu..
tidak semarak..
senyap..

Dikirim pada 22 Maret 2010 di Gambleh

Boleh dong saya mengungkapkan isi hati saya..di media ini...
Walau untuk khalayak umum..tak apalah...biar semua orang merasakan kerinduan saya...
merasakan kegundahan saya....

Sudah menjadi fitrah manusia...untuk diberi rasa cinta dan rindu...
Begitu saya, juga memimpikan suatu kerinduan yang membuncah kalbu..

Ya...saya rindu...rindu akan pemimpin generasi baru...
Rindu mengulang kisah kisah yang dulu...


Kisah agung nabi muhammad yang melayani rakyatnya...dengan menghabiskan kekayaannya untuk umatnya...jangan salah Rasulullah itu kaya...dia pernah menebus seorang yang tak sengaja membunuh muslim dalam peperangan uhud (karena kekacauan yang sangat)..dengan seratus onta...pakekekayaan pribadi....

Ada seorang yang meminta rasulullah...untuk menangguhkan potong tangan kepada seorang anak pembesar suku arab...rasulullah langsung berpidato....sesungguhnya kaum kaum sebelum kalian dihancurkan karena menindas yang lemah dan melindungi yang kuat...seandainya fatimah anakku mencuri niscaya aku potong tangannya....


Aku juga rindu...bagaimana umar ra ...yang terbiasa turba (turun kebawah)...untuk mengecek kebutuhan...rohani dan jasmani rakyatnya....

Juga Muadz yang diangkat menjadi gubernur kufah ...hanya mempunyai beberapa perabotan...dan gajinya sepertiga untuk zakat.....

Salman al farisi...juga datang ke parsi dengan mengendarai keledai...padahal parsi (iran) adalah negara kiblat dunia....kiblat mode pada waktu itu....permadani...emas dll. Rakyatnya bersiap dengan penyambutan yang luar biasa....ternyata salman sendang duduk bersantai di bawah pohon...sambil makan daging mengendarai keledai.....


Saya rindu pemimpin yang bersih peduli dan profesional....pemimpin yang menyelamatkan rakyatnya dunia dan akhirat

http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/22

Dikirim pada 19 Maret 2010 di Gambleh

Shubuh itu, ketika langkah-langkah kakiku beranjak pulang dari surau, aku melihat seorang wanita tua yang ringkih. Tertatih tatih jalannya dengan membawa gendongan. Sudah berulangkali aku berpapasan dengan dia, tapi entah baru kali ini aku memperhatikan dia. Yang kutahu bahwa dia pergi ke pasar yang dari rumahku masih sekitar 5 kilometer lagi. Sejenak kulihat dia bersandar di ‘lincak’ tempat kami dan tetangga bercengkerama. Kulihat keriput diwajahnya, hmm tua, sudah sangat tua. Sekitar 80 tahun. Napasnya tersengal sengal….mungkin kelelahan yang menghinggapinya tidak bisa dia lawan dengan usianya. Dan belum sempat kusapa dia, dia berdiri dari ‘lincak’ itu dan meneruskan ke pasar dengan membawa gendongan yang kelihatannya cukup berat. Yaah aku cuma bisa berdoa semoga dia dimudahkan rizkinya.

Pagi itu, matahari mulai menyeruak dibalik pohon-pohon yang rindang. Kududuk bersama istri sambil bercanda di depan kontrakan kami. Tak berapa lama, lewat wanita tua yang shubuh tadi aku bertemu dengannya. Kami lontarkan senyum padanya, ia pun membalas dengan anggukan yang sangat pelan. Sesaat dia berhenti lagi di tempat yang sama waktu dia berangkat.

Istriku berjalan mendekatinya, sambil mengucapkan salam hangat dia pun menjawab dengan suara bergetar.

“Nunut ngaso neng?” kata dia.

“Oh, monggo bu, dari mana bu?”

“Dari pasar, neng?”

“Jualan apa bu?”

“Jualan daun pisang neng, buat makan sehari hari.”

“Lha, punopo mboten gadhah putro, tho bu?”

“Nggih gadhah, tapi kulo mboten pengin ngrepoti putro kulo. Sampun keluargo sedanthen.”

“Oooh.” Kata istriku

Kudengar percakapan itu dari jauh…hmmm sungguh wanita yang hebat…entah berapa jauh rumahnya ke pasar. Dengan usia yang sangat tua, dia masih berusaha menghidupi diri dari tangannya sendiri. Entah berapa yang dia dapat. Kuteringat sebuah riwayat dimana seorang lelaki tua yang menanam pohon kurma, padahal pohon kurma agar dapat tumbuh perlu waktu yang lama. Ketika ditanya seseorang kenapa dia menanam kurma sedangkan belum tentu dia dapat menikmatinya. Dia menjawab demi keturunanku nanti. Sungguh mereka adalah orang orang yang hebat.

Setahun telah berlalu, sudah lama aku tidak pernah bertemu dengan wanita tua tersebut. Rasa penasaran yang menghinggapiku membawaku untuk bertanya kepada istriku, tentang kabar wanita tua penjual daun tersebut. Dengan wajah sedih, istriku menjawab bahwa dia sekarang sudah tidak mampu berjalan jauh.

Ah aku berpikir..bagaimana dia menghidupi dirinya. Pengin sekali kami menengoknya.

Sayang….hingga aku pindah ke kota baru…belum sempat menemuinya…

Yaah kuberdoa semoga Allah selalu melindungi, dan merahmati beliau



http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/21

Dikirim pada 18 Maret 2010 di Gambleh

Bila anda sedang melihat langit,
kadang anda melihat Angsa terbang berombongan,
pergi ke daerah yang lebih hangat,
menghindari musim dingin…

Perhatikan, mereka terbang dalam formasi “V”
Mungkin anda kepingin tahu kenapa……..

Dikirim pada 17 Maret 2010 di Gambleh
12 Mar

Its Friday, Dont let it pass you without reading surat Al-Kahf, jumma mubarka everyone

Dikirim pada 12 Maret 2010 di Gambleh

Ketika teman saya sarjana akunting yang berpendirian keras menikah dengan seorang sarjana psikologi, naluri saya mengatakan ada sesuatu yang tidak kena pada pernikahan mereka. Pasangan itu sebenarnya ideal dilihat dari berbagai sudut. Hanya saja keduanya begitu pede dengan kepribadiannya masing-masing, begitu kristal mirip dua kelereng yang sama-sama keras dan bulat sempurna sehingga tidak ada lekuk-lekuk yang bisa berpasangan, tak ada ruang untuk memberi dan menerima.

Padahal seorang pria, seorang pendukung asas persamaan gender sekalipun, sebenarnya merindukan seorang gadis manis yang jujur dan lugu yang ingin dimanjakannya sebagai seorang ratu. Seorang gadis yang menaruh hormat kepadanya, berlindung kepadanya bila ada kesulitan atau bahaya. Seorang pria ingin berperan sebagai guru dan ada murid yang mengagumi bakat-bakatnya. Dengan kata lain ia mendambakan seorang yang dapat membuatnya merasa sebagai gentle-man yang disukai kerena cerdas, berwibawa dan dicintai karena kepribadiannya yang ramah dan simpatik.

Dibalik sana pasti ada seorang gadis yang merindukan pria idaman yang akan mengentaskannya dari gubuk derita dan memboyongnya kesebuah istana emas. Seorang pria yang bisa membuat semua yang kelam berubah menjadi cerah. Wanita mana yang sanggup menolak cinta seorang pria yang menumpahkan segenap perhatian dan memanjakannya seperti seorang dewi. Alangkah mulia seorang pria yang bekerja keras dan tekun yang mempersembahkan hasilnya demi kebahagiaan bersama.

Alkisah pasangan sarjana kristal teman saya bercerai pada tahun kedelapan pasca pernikahan mereka. Tak ada kecocokan dalam banyak hal dan masing-masing kukuh dengan pendiriannya. Setahun kemudian teman saya menikah dengan Siti Munaroh gadis berwajah bulat dari pinggir kota, tamatan madrasah ’aliyah. Berkerudung dan berkebaya. Manis dan ceria. Lugu dan apa adanya.

Siti Munaroh diboyong dari rumah kampung kerumah gedung, sebuah istana emas dimatanya. Ia sangat bahagia, tidak rewel, tidak neko-neko. Anak-anaknya diasuh dan dididik menghormat orang tua, terutama bapak mereka yang telah mengentaskannya dari kesengsaraan kedunia terang benderang. Kebahagiaan sebuah keluarga trdisional. Suami dengan tugas laki-lakinya, istri mengurus rumah tangga dan mendidik anak. Siti Munaroh mengantar dan menyambut suamiya dengan senyum setiap hari, makan bersama dan solat berjamaah. Bila mereka berada berdua saja, Munaroh dengan tekun mendengarkan semua keluhan suamiya, memberinya dukungan agar tabah dan ia selalu menyertainya dengan doa. Tahun 2008 yang lalu Yorkshire Building Society dari Inggris mengadakan sebuah penelitian tentang pandangan pria dan wanita masakini mengenai pasangan yang ideal dalam berkeluarga. Hasilnya sungguh menyimpang dari impian kaum feminist yang mereka kobarkan sejak 1960 an yaitu sebuah dunia dengan persamaan hak antara pria dan wanita. Hasil penelitian itu tidak berbeda jauh dengan isi buku petunjuk tentang keluarga bahagia yang terbit tahun 50 an. Yaitu bahwa para pria lebih menyukai wanita tradisional dan bahwa para wanita merasa bahagia sebagai ibu rumah tangga.

Seandainya diizinkan kembali keumur duapuluhlima, saya akan melamar Siti Munaroh gadis berwajah bulat, ceria, berkerudung dan berkebaya. Tamatan sanawiyah sekalipun....




Pak Jum�an


http://greeneers.multiply.com/journal/item/1584/SAYA_PILIH_SITI_MUNAROH


Dikirim pada 11 Maret 2010 di Gambleh
11 Mar



Mujitrisno Nasyid

Dikirim pada 11 Maret 2010 di Gambleh

Tulisan ini sebagai rasa prihatin saya, akan kejadian akhir akhir ini yang banyaknya pembentukan opini terhadap kejadian pasca bom JW Mariot dan Ritz Carlton dan penangkapan para tersangka bomber atau teroris.

Pasca kedua bom tersebut, kita sering melihat dan membaca di media, Densus 88 mengejar berbagai orang yang diduga terkait dengan terorisme. Bahkan di media mulai ada wacana pembuatan UU ISA seperti di Malaysia.

Yang menyedihkan seperti ada pembentukan opini bahwa seolah olah orang yang berbuat terorisme adalah orang shaleh, aktif ke masjid, celana ngantung, sering mengadakan pengajian dan lain-lain yang bersifat agamis. Bahkan SJ di duga pendoktrin teroris adalah seorang (katanya) hafidz al qur�an.

Hal ini sedikit banyak menyudutkan para da�i yang lain, yang bahkan berbeda pendapat dan mengutuk terorisme (irhab). Beruntunglah, atas ketajaman bashiroh para qiyadah, kita melakukan koalisi dengan pemerintah. Ini salah satu ibroh sehingga kita setidaknya bisa membuat opini lain bahwa irhab tidak terkait dengan islam (Ust Tiffatul dan Ust HNW). Bahkan, setidaknya harokah kita tidak disebut sebagai organisasi yang terkait teroris, seperti perkataan mantan ketua BIN yang terang2an menyebut wahaby.

Dijaman Fir�aun juga ada upaya pembunuhan da�i. Tidak tanggung-tanggung yang akan dibunuh adalah Musa as. Fir�aun kesal melihat perkembangan da’wah nabi Musa –‘alaihis-salam. Betapa tidak. Bukankah “seharusnya” nabi Musa –‘alaihis-salam- mati tidak berapa lama setelah lahir. Lalu, bukankah nabi Musa –‘alaihis-salam- besar dan gede di dalam istana Fir’aun dan dibawah “asuhan”-nya (QS Asy-Syu’ara [26] : 18).

Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, bukankah nabi Musa –‘alaihis-salam- mempunyai “catatan” tindak pidana, yaitu membunuh satu orang Qibti; dari suku bangsa Fir’aun sang penguasa! Masih ada lagi kejahatan dia yang lain, yaitu, setelah membunuh, nabi Musa –‘alaihis-salam- melarikan diri dari Mesir dan menjadi “buronan”!

Lalu “tiba-tiba” dia datang lagi dan mengajak Fir’aun untuk melepaskan belenggu Bani Israil dan mengajak Fir’aun beriman kepada Allah –Subhanahu wa ta’ala- Tuhan semesta alam, yang berarti menghancurkan ketuhanan Fir’aun! Sudah begitu, “banyak” juga generasi baru yang mengikuti dan menerima da’wah nabi Musa –‘alaihis-salam-

Karena keselnya, Fir’aun mengeluarkan dua intruksi penting, yaitu:
Pertama: Bunuhi semua anak laki-laki dari orang-orang yang beriman kepada nabi Musa –‘alaihis-salam.
Kedua: Biarkan hidup wanita-wanitanya.

Dengan adanya dua perintah ini, menjadi beratlah beban orang-orang yang beriman kepadanya, sebab kaum lelakinya berkurang atau terancam habis. Dari sisi lain, dengan adanya ledakan jumlah kaum wanita dan minimnya kaum laki-laki, maka menjadi sulit mengelola masyarakat dengan komposisi sosial seperti itu. Karena dahsyatnya “strategi” ini, Allah –Subhanahu wa ta’ala- mensifatinya dengan sebutan wama kaidul kafiriina illa fi dhalal (dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain berada pada kesesatan). Silahkan lihat QS Ghafir [40]: 25).

Masih ada lagi “proyek” Fir’aun yang lebih seru dan lebih dahsyat, yaitu, rencana pembunuhan nabi Musa –‘alaihis-salam. “Proyek” ini adalah pekerjaan besar yang tidak sederhana. Bagaimanapun juga, nabi Musa –‘alaihis-salam- telah memiliki banyak peran dan jasa bagi negara dan bangsa. Bukankah nabi Musa –‘alaihis-salam- adalah seseorang yang “berjasa besar” dalam menanggulangi wabah dan bencana thufan (banjir), jarad (belalang), qummal (kutu), dhafadi’ (kodok), dan dam (semua air berubah menjadi darah)! (QS Al A’raf [7]: 132 – 135).

Jasa-jasa besar ini tentulah sangat dikenang oleh rakyat, oleh masyarakat luas, oleh khayalak. Karenanya, kalau tiba-tiba dia dibunuh begitu saja, tentulah rakyat akan membelanya, dan bisa jadi akan secara ramai-ramai melawan Fir’aun sang penguasa, dan hal ini tentulah tidak dikehendaki oleh Fir’aun. Karena inilah, “proyek” itu harus mendapat legalisasi konstitusi dan dukungan publik. Karenanya, Fir’aun berkata:
“Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan mengganti agama kalian, atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”. (QS Ghafir [40]: 27).

Dari perkataan ini kita menangkap beberapa hal, diantaranya:

a. Fir’aun tidak berani begitu saja membunuh nabi Musa –‘alaihis-salam.
b. Untuk membunuhnya, dia harus mendapatkan dukungan publik yang bersifat massal, karenanya, dia berkata: “Dzaruuni” yang artinya: “Biarkanlah (wahai orang banyak) saya membunuh Musa”. Biarkan artinya: jangan ada yang memprotes keputusan ini.
c. Untuk mendapatkan dukungan publik, Fir’aun harus mendapatkan pula dukungan konstitusi dan kewajaran hukum.
d. Kewajaran hukumnya adalah:
• Musa akan mengganti agama kalian, atau
• Musa akan berbuat kerusakan di muka bumi

Bagaimana sikap seorang da’i dalam menghadapi konspirasi “proyek” besar ini?
1. Pertama: Dia harus menyerahkan masalah ini kepada Allah –Subhanahu wa ta’ala- secara total dan meminta perlindungan kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya.
2. Kedua: semenjak awal, sang da’i sudah harus menyebar luaskan da’wahnya ke berbagai segmen masyarakat, baik pada kalangan pemuda maupun orang-orang tua, dari kalangan ilmuwan maupun masyarakat awam, dari kalangan rakyat jelata maupun kalangan birokrat dan penguasa, sehingga, luasnya dukungan da’wah ini akan sangat membantu sang da’i dalam situasi dan kondisi seperti yang dialami nabi Musa –‘alaihis-salam- ini.
3. Dalam kasus nabi Musa –‘alaihis-salam- ini, muncullal seorang lelaki beriman, dari keluarga Fir’an, yang dia masih menyembunyikan keimanannya, yang tampil memberikan advokasi dan pembelaan yang sangat luar biasa sekali, sehingga Fir’aun menjadi berfikir beribu kali untuk benar-benar melaksanakan eksekusi “proyek”-nya (QS Ghafir [40]: 28 – 44).
4. Advokasi yang dimaksudkan dalam point 3 di atas membawa hasil yang sangat positif, sebagaimana tersebut dalam QS Ghafir [40]: 45.
5. Seorang da’i hendaklah yakin seyakin-yakinnya terhadap kaidah yang Allah swt sebutkan dalam QS Ghafir [40]: 51, yaitu: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”.

Sebagai tambahan atas point 1 diatas, berikut saya kisahkan nabi Ibrahim –‘alaihis-salam.

Setelah semua orang marah terhadap nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam- merekapun mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyak-nya untuk membakar nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam- hidup-hidup. Saat api telah menyala besar, merekapun melontarkan nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam- dengan manjaniq (ketapel raksana) agar tercemplung ke tengah api yang sedang membara. Saat nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam- melayang di udara, datanglah malaikat Jibril –‘alahis-salam- menawarkan bantuannya. Atas tawaran ini nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam- menjawab: “Minta bantuan kepadamu?! Tidak, saya hanya meminta bantuan kepada Allah –Subhanahu wa ta’ala. Lalu nabiyullah Ibrahim –‘alaihis-salam-pun mengucapkan: Hasbunallah wani’mal wakil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).

Semoga bermanfaat, amin.

Sumber :
1. TVOne
2. Dialog Metro TV: Suara Anda
3. Taujihat Usbu�biyah
4. Dakwatuna.com

http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/172

Dikirim pada 10 Maret 2010 di Gambleh

Kadang kita sebel bila disuruh mengalah sama orang tua...apabila kita berkelahi atau berebut suatu barang dengan saudara kita...ada ungkapan "Sing gedhe ngalah karo adine.."

Mungkin ungkapan ungkapan itu membuat kita merasa bahwa saudara kita yang lain yang lebih disayangi orang tua...sayapun dahulu merasa begitu...

Tapi setelah saya pahami ternyata dibalik itu ada hikmah yaitu pendidikan dari orang tua akan pentingnya mendahulukan kepentingan saudara atau dalam islam disebut itsar....dan itsar adalah puncak tertinggi ukhuwah...




Ada kisah itsar yang sangat heroik terjadi pada saat perang Yarmuk. Seorang sahabat yang tidak setenar Abu Bakar Asshidiq atau Umar al Faruq, namanya Ikrimah. Tahukah siapa ayahnya ikrimah..ya ayahnya Abu Jahl...Jahl artinya bodoh..pemimpin mekah pada saat itu. Bodoh bukan dalam artian intelektual karena pada saat itu sastra arab lagi tinggi tingginya....dan Abu Jahl ahli diplomasi. Dijuluki Jahl karena dia bodoh dalam aqidah...menyembah berhala untuk mendekatkan diri pada Allah. Begitulah apabila pemimpin kita nantinya orang yang bodoh dalam aqidahnya jangan disalahkan karena merepresentasikan pemilihnya.

Kembali ke kisah Ikrimah...

Ikrimah bin Abu Jahl seorang mujahid bersama dua sahabat yang lain terbaring dengan luka-luka sangat parah. Ketika seorang sahabat hendak memberinya minum, ia menolak dan menyuruh air itu diberikan ke teman di sebelahnya. Ketika air itu akan diberikan kesebelahnya, orang tersebut juga menyuruh diberikan lagi ke sebelahnya pula. Ia memilih mengalah pula pada saat-saat yang penting tersebut. Namun orang ketiga yang dimaksud sudah meninggal, ketika kembali lagi si pemberi minum ke sahabat yang tengah, ternyata ia sudah syahid juga. Dan ketika beranjak ke Ikrimah, ia pun telah syahid. Subhanallah dalam detik-detik terakhir kehidupan atau di saat-saat kritis sekalipun mereka tetap menjaga itsar mereka.



Marilah kita dahulukan saudara muslim kita....



http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/19

Dikirim pada 10 Maret 2010 di Gambleh

Belum kering air mata, belum sirna duka merana. Kembali kita bersedih. Setelah berkali-kali digoyang gempa, kemudian diluluhlantakkan oleh banjir disusul tanah longsor. Disaat orang sedang tidak menduga...



“… dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya” (Al Ankabut 53)



Tidakkah, kita mengambil ibroh dari kaum-kaum yang dibinasakan oleh Allah karena maksiat. Bagaimana kaum Nabi Sholih menjadi mayat yang bergelimpangan di tempat tinggalnya karena gempa. Begitupula kaum Syu’aib yang mendustakan nabinya.



“Maka mereka mendustakan Syuaib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka” (Al Ankabut 37)



Apakah kita akan mengikuti para ahlul hawa yang mengatakan ini adalah perkara tabi’i (periistiwa alam biasa) ? Tidakkah kita lupa dengan ayat ini :



“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras” (Hud 102)



Sungguh kita yang dzolim bukan Allah yang mendzolimi kita. Ampuni hamba-Mu ini ya Allah. Tanda-tanda akhir jaman adalah semakin banyaknya gempa bumi.



Saudaraku

Dahulu, ketika Rasulullah saw masih hidup, bumi ini pernah bergetar dan bergerak. Rasulullah ketika itu dikelilingi para sahabatnya. Saat getaran dan gerakan itu dirasakan Rasulullah saw, ia segera meletakkan tanagnnya yang mulia di atas tanah, lalu berucap, “Diamlah..belum datang saatnya untukmu (bergerak)” lantas Rasulullah saw menoleh dan berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya Tuhan kalian meminta kerelaan kalian, maka relakanlah dia.” (Al Jawab Al Kafi Ibnul Qoyim)

Dijaman Umar bin Khatab ra, gempa bumi pernah terjadi 20H. Ketika itu Umar ra berkata, “Wahai manusia, getaran bumi ini tidak lain karena sesuatu (kemaksiatan) yang kalian lakukan. Demi Zat yang jiwaku di TanganNya, jika bumi ini bergerak kembali, aku tidak akan tinggal bersama kalian selamanya di tempat ini!”

Umar bin Abdul Aziz, pernah menulis surat kepada para gubernurnya, “Sesungguhnya bergeraknya bumi ini sesuatu teguran Allah SWT kepada hamba-Nya. …..Barangsiapa yang memiliki sesuatu untuk disedekahkan, maka sedekahkanlah. Katakanlah sebagaimana dikatakan Adam as, “Robbana dzolamna anfusana, wa in lam taghfirlana lana kunanna minal khosirin. Katakanlah seperti Nabiyullah Nuh as “Wa illa taghfirlii wa tarhamnii akun minal khosirin…”. Katakanlah sebagaimana perkataan Yunus as. “Laa ilaaha ill anta subhanaka inni kuntu minadz dzolimin.

Memang musibah kadang untuk menguji manusia.
http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/11

Dikirim pada 08 Maret 2010 di Gambleh

Seorang teman bertanya, tentang bagaimana menegakkan syariat islam,
sedangkan menggunakan tata cara yang bukan islam (baca: demokrasi).
Dia menganggap bahwa demokrasi, partai, politik bukan sistem islam,
sehingga tidak mungkin menegakkan islam bila menggunakan alat ini.
Sebenarnya islam mengenal kata siyasah (dalam kitab bahasa arab
artinya mengatur) atau juga disebut politik. Dalam kitab an nadhoil,
siyasah berarti mewujudkan kemaslahatan ummat.
Dalam pengertian as siyasah asy syari’ah (politik islam) adalah
mewujudkan kemaslahatan umum sesuai syariat islam.
Dalam hal peralihan kepemimpinan, umat islam terbagi dalam dua
pendapat :
1. Kelompok pertama, Kepemimpinan adalah hal tauqifi atau baku
tidak ada ruang ijtihad dalam hal ini. Diwakili oleh beberapa kelompok harokah. Dasarnya:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara
kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,
dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka
dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku
dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa
yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.
QS an nuur ayat 55

Kelompok ini berpendapat bahwa apabila kita menegakkan aqidah
dengan benar, beramal sholeh, maka kepemimpinan itu akan datang
sendiri. Tanpa diusahakan Allah akan menurunkan pemimpin yang baik.
Lalu muncullah sebagian golongan yang hanya menolak demorasi, dan
sebagian lagi dari mereka yang tidak mau mengikuti demokrasi,
hukum-hukum akibat sistem demokrasi (peraturan-peraturan) ,
dan mengkafirkan pelaku demokrasi serta hanya mementingkan
pengkajian beberapa masalah islam (aqidah, fiqih, dan semacamnya).
Anehnya mereka masih mempunyai SIM, KTP, NPWP, dan produk-produk
hukum (DPR dst) yang menurut mereka thagut bahkan banyak
diantaranya mereka masuk sendiri dalam lingkaran demokrasi (PNS dll).
Mereka berpendapat darurat, tetapi sekarang tidak ada darurat untuk
itu, misal ada sepeda listrik, naik taxi/bus dll yang tidak perlu SIM.
Keluar dari pegawai pajak bila mengharamkan UU pajak, tidak mendirikan
yayasan/organisasi karena harus mengikuti aturan uu yang menurut mereka thagut.

2. Kelompok kedua, mengatakan bahwa peralihan kepemimpinan adalah
hal ijtihadiyah (bukan baku, masih ada ruang untuk berijtihad).
Mereka menggunakan dalil :
• Hadits “Anda lebih mengetahui masalah duniamu”
Memang hadits ini berkaitan tentang masalah perawatan pohon
kurma, tetapi para ulama berpendapat bahwa al ibratu bi
ummumilladzi la bi khususi sabab, kaidah umum adalah yang berlaku.
Apabila kelompok pertama mengatakan bahwa hadits ini hanya khusus
kurma niscaya tidak berlaku hadits ini di Negara yang tidak ada
kurma, maka dalil yang mengatakan ini hadits khusus tentang kurma
adalah lemah.
• Rasulullah saw sewaktu meninggal dunia tidak memberikan
wasiat siapa pemimpin selanjutnya, coba buka kitab tarikh khulafa
karya imam suyuthi terbitan al kautsar hal 5-6, disini terdapat
hadits dari Hudzaifah berkata : “Para sahabat bertanya, “Wahai
Rasulullah, tidaklah engkau menunjuk pengganti yang memimpin kami
sepeninggalmu nanti?” Rasulullah berkata, “Sesungguhnya jika aku
menunjuk penggantiku, aku khawatir kalian akan menentang penggantiku
itu dan Allah akan menurunkan adzab atas kalian.” (HR al Hakim) dan
juga dikuatkan dari berbagai siroh dan ucapan Umar ra serta Ali Ra
tentang tidak ditunjuknya khalifah pengganti oleh Rasulullah saw.
Sehingga dalam siroh nabawiyah (sejarah nabi) dikatakan bahwa
pemakaman nabi saw tertunda tiga hari, menunggu khalifah selanjutnya,
karena yang berhak memimpin pemakaman adalah khalifah selanjutnya.
Jadi tidak ada kepastian (hal baku) dalam hal bagaimana cara pemilihan pemimpin.
• Peralihan kekuasan dari Rasulullah saw sampai ke khalifah selanjutnya
berbeda-beda sehingga ini menegaskan bahwa pemilihan pemimpin adalah hal ijtihadiyah;

a. Abu Bakar dipilih dengan pembai’atan tiba-tiba.
Setelah meninggalnya Rasulullah saw, kaum anshor telah
memilih pemimpin sendiri dari kaum anshor sendiri mereka
berpendapat bahwa kaum anshor di madinah adalah tuan rumah
sedangkan kaum muhajirin adalah tamu, sehingga layak pemimpin
dari golongan mereka, maka Abu Bakar ra dan Umar ra, mengajak
berdialog dan kaum anshor berkata “minna amir wa minkum amir
(dari kami pemimpin sendiri dan kalian punya pemimpin sendiri),
lalu Abu bakar ra menyebutkan hadits nabi tentang
pemimpin/kekuasaan di tangan Quraisy dan Hukum ditangan orang
Anshor, lalu Umar Ra berkata, “Wahai kaum Anshor tidaklah kalian
tahu bahwa Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi
imam shalat pada saat hidupnya (masalah akhirat), Lalu siapa
di antara kalian yang merasa dirinya berhak untuk maju mendahului
Abu Bakar (masalah dunia/menjadi pemimpin) ? Orang-orang Anshor
berkata “Kami berlindung kepada Allah untuk maju mendahului Abu
Bakar.” Lalu terjadilah pembaiatan Abu Bakar ra.
b. Umar ra dipilih menjadi pemimpin karena wasiat/penunjukan
Abu Bakar ra. Dalam kitab Dalaail an Nubuwwah HR Imam Ahmad dan
Imam Baihaqi (lengkapnya baca kitab tarikh khulafa hal 6)
c. Utsman ra dipilih dengan sistem mirip Pemilu,
yaitu penunjukan calon pemimpin (sebelumnya ada beberapa calon
lalu mengerucut 2 calon ustman ra dan ali ra), lalu voting dengan
suara terbanyak. Dan Abdurrahman bin Auf yang membaiat Utsman ra.
d. Ali ra dipilih karena paksaan pemberontak al khawarij dari
Kufah dan Bashrah. Sebelumnya Ali ra tidak mau karena bisa dikira
dia orang dibalik pemberontak, tetapi bila tidak mau dibaiat maka
para pemberontak akan membunuh para sahabat Rasulullah,
maka Ali ra mementingkan kemaslahatan umum.
(Kaidah fiqih menghilangkan mafsadat lebih baik mendatangkan maslahat).
e. Hasan ra juga berbeda melalui semacam DPR saat ini.
f. Muawiyah dipilih setelah hasan ra menyerahkan kekuasaan kepadanya.
g. Setelah ini sistem kerajaan (keturunan)

Konsekuensi dari pendapat ini maka kepemimpinan islam harus
diusahakan. Sesuai dengan al qur�an bahwa Allah tidak akan
merubah nasib suatu kaum bila kita tidak berusaha merubahnya.

Kita sebenarnya sepakat bahwa sistem politik belum sesuai
dengan syariah. Tetapi dalam menyikapi dalam merubah sistem
inipun bisa berbeda.

1. Konsep sistem dirubah secara frontal/revolusi/memberontak.
Apabila pemimpin muslim, masih sholat dan tidak melarang sholat
walaupun dholim dalam islam dilarang melakukan bughot/memberontak.
Banyak hadits tentang ini salah satunya HR Imam Ahmad.

2. Konsep sistem dirubah dengan bertahap.
Dasarnya

• Pengharaman Khamr (minuman keras) dengan bertahap
• Rasulullah pada waktu futuh mekah (penaklukan mekah)
tidak serta merta merubah ka’bah dan menghancurkan berhala.
• Kaidah menghilangkan mafsadat lebih baik mendatangkan maslahat,
apabila memberontak maka akan banyak kaum muslimin terbunuh akibat perang.

Meski prinsip demokrasi itu lahir di barat dan begitu juga dengan
trias politikanya, namun tidak selalu semua unsur dalam demokrasi
itu bertentangan dengan ajaran Islam. Bila kita jujur memilahnya,
sebenarnya ada beberapa hal yang masih sesuai dengan Islam.
Beberapa di antaranya yang dapat kami sebutkan antara lain adalah:

1. Prinsip syura (musyawarah) yang tetap ada dalam demokrasi meski
bila deadlock diadakan voting. Voting atau pengambilan suara itu
sendiri bukannya sama sekali tidak ada dalam syariat Islam.
2. Begitu juga dengan sistem pemilihan wakil rakyat yang secara
umum memang mirip dengan prinsip ahlus syuro.
3. Memberi suara dalam pemilu sama dengan memberi kesaksian atas
kelayakan calon.
4. Termasuk adanya pembatasan masa jabatan penguasa.
Sistem pertanggung-jawaban para penguasa itu di hadapan wakil-wakil rakyat.
5. Adanya banyak partai sama kedudukannya dengan banyak mazhab dalam fiqih.

Namun memang ada juga yang jelas-jelas bertentangan dengan
syariat Islam, yaitu bila pendapat mayoritas bertentangan dengan
hukum Allah. Juga praktek-praktek penipuan, pemalsuan dan
penyelewengan para penguasa serta kerjasama mereka dalam
kemungkaran bersama-sama dengan wakil rakyat. Dan yang paling
penting, tidak adanya ikrar bahwa hukum tertinggi yang digunakan
adalah hukum Allah SWT.

Jadi tidak mengapa kita sementara waktu meminjam istilah-isitlah
yang telanjur lebih akrab di telinga masyarakat awam,
asal di dalam pelaksanaannya tetap mengacu kepada aturan dan
koridor syariat Islam. Bahkan sebagian dari ulama pun tidak
ragu-ragu menggunakan istilah demokrasi, seperti
Ustaz Abbas Al-`Aqqad yang menulis buku Ad-Dimokratiyah fil Islam.
Begitu juga dengan ustaz Khalid Muhammad Khalid yang malah
terang-terangan mengatakan bahwa demokrasi itu tidak lain adalah
Islam itu sendiri.

Semua ini tidak lain merupakan bagian dari langkah-langkah
kongkrit menuju terbentuknya khilafah Islamiyah. Karena untuk
tiba-tiba melahirkan khilafah, tentu bukan perkara mudah.
Paling tidak, dibutuhkan sekian banyak proses mulai dari
penyiapan konsep, penyadaran umat, pola pergerakan dan yang
paling penting adalah munculnya orang-orang yang punya wawasan
dan ekspert di bidang ketata-negaraan, sistem pemerintahan dan
mengerti dunia perpolitikan.
Dengan menguasai sebuah parlemen di suatu negara yang mayoritas
muslim, paling tidak masih ada peluang untuk �mengIslamisasi�
wilayah kepemimpinan dan mengambil alihnya dari kelompok anti
Islam. Dan kalau untuk itu diperlukan sebuah kendaraan dalam
bentuk partai politk, juga tidak masalah, asal partai itu memang
tujuannya untuk memperjuangkan hukum Islam dan berbasis masyarakat
Islam. Partai harus ini menawarkan konsep hukum dan undang-undang
Islam yang selama ini sangat didambakan oleh mayoritas pemeluk
Islam. Dan di atas kertas, hampir dapat dipastikan bisa dimenangkan
oleh umat Islam karena mereka mayoritas. Dan bila kursi itu bisa
diraih, paling tidak, secara peraturan dan asas dasar sistem demokrasi,
yang mayoritas adalah yang berhak menentukan hukum dan pemerintahan.
Umat Islam sebenarnya mayoritas dan seharusnya adalah kelompok
yang paling berhak untuk berkuasa untuk menentukan hukum yang
berlaku dan memilih eksekutif (pemerintahan). Namun sayangnya,
kenyataan seperti itu tidak pernah disadari oleh umat Islam sendiri
Tanpa adanya unsur umat Islam dalam parlemen, yang terjadi justru
di negeri mayoritas Islam, umat Islammnya tidak bisa hidup dengan
baik. Karena selalu dipimpin oleh penguasa zalim anti Islam. Mereka
selalu menjadi penguasa dan umat Islam selalu jadi mangsa. Kesalahannya
antara lain karena persepsi sebagian muslimin bahwa partai politik dan
pemilu itu bid`ah. Sehingga yang terjadi, umat Islam justru ikut memilih
dan memberikan suara kepada partai-partai sekuler dan anti Islam.
Karena itu sebelum mengatakan mendirikan partai Islam dan masuk
parlemen untuk memperjuangkan hukum Islam itu bid`ah, seharusnya
dikeluarkan dulu fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila
memberikan suara kepada partai non Islam. Atau sekalian fatwa
yang membid`ahkan orang Islam bila hidup di negeri non-Islam.
Partai Islam dan Parlemen adalah peluang Dakwah: Karena itu
peluang untuk merebut kursi di parlemen adalah peluang yang penting
sebagai salah satu jalan untuk menjadikan hukum Islam diakui dan
terlaksana secara resmi dan sah. Dengan itu, umat Islam punya peluang
untuk menegakkan syariat Islam di negeri sendiri dan membentuk pemerintahan
Islam yang iltizam dengan Al-Quran dan Sunnah. Agar hukum yang berlaku adalah hukum Islam.
Selain itu dakwah lewat parlemen harus diimbangi dengan dakwah
lewat jalur lainnya, seperti pembinaan masyarakat, pengkaderan
para teknokrat dan ahli di bidang masing-masing, membangun SDM
serta menyiapkan kekuatan ekonomi. Semua itu adalah jalan dan
peluang untuk tegaknya Islam, bukan sekedar berbid`ah ria.
Bila tujuan kita adalah sama tegaknya Islam di bumi Allah maka
insyaallah walaupun kita berbeda dalam memandang hal ini maka
kita akan bertemu dalam tujuan kita amin.
Pilihlah pemimpin yang amanah, baik, bersih, jujur, peduli dan
profesional. Selamat memilih. Jangan golput, karena bila kita
golput bisa bisa pemenangnya adalah orang yang fasik, rusak
agamanya, rusak akhlaqnya. Maka kita bertanggung jawab atas pilihan
kita walaupun pilihan kita untuk tidak memilih.
http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/2


Dikirim pada 08 Maret 2010 di Gambleh

Wah, sebentar lagi sholat jum’at mau dimulai. Imam sudah memberi aba-aba, ayo jama’ah lurus dan rapatkan sholat. Para jama�ah sudah menata diri sesuai instruksi imam. Kaki ketemu kaki, lengan ketemu lengan. Kata pak ustadz klo ada yang longgar mengurangi pahala sholat dan bisa disisipi sentan....wah klo disamping kita ada pengganggu bagaimana bisa khusuk.

"Allohu Akbar", imam bertakbirotul ikrom, tanda sholat dimulai. Dengan usaha sekhusuk khusuknya, tangan diangkat ada setinggi pundak, ada yang setinggi telinga. Lalu imam membaca al fatihah dengan suara mirip Imam masjidil harom, itu tuh,,,,syaikh sudais. Mendayu-dayu, bikin hati bergetar. Lalu dilanjutkan surat al a�la.


Di rekaat kedua rupanya imam mengikuti sunah nabi dalam tata cara sholat jum�at sewaktu membaca surat pendek dengan membaca surat all ghosiyah. Baru sampai ayat pertama...eh dari belakang... terdengar lagu...."Ayo Goyang..Duyu. Ayo goyang..duyu".

Eih..sebel kenapa nggak dimatiin tuh ponsel tadi waktu mau sholat. Sedang enak enak berkhalwat dengat tuhan (baca khusuk), disuruh goyang.

Sampai sujudpun suara penyanyi ngocol project pop masih terdengar. Selesai sholat pada menatap tajam tuh jama�ah kepada empunya hp. Untung tadi bukan suara madura...bisa bisa ngakak tuh jama�ah pada waktu sholat.

Sebenarnya bagaimana hukum mematikan hp waktu Sholat....
Hukum me-nonaktifkan ponsel di saat shalat berjamaah adalah boleh dan tidak membatalkan shalat, dengan argumentasi sebagai berikut :

Pertama, Dalam kitab fikih yang berjudul Kitâb al-Fiqh ‘Alâ al-Mazâhib Al-Arba’ah, jilid I, karangan Abdurrahman bin Muhammad ‘Awadh Al-Jaziri, halaman 297 disebutkan bahwa pendapat ulama mazhab Syafi’iah tentang perbuatan yang banyak (al-‘amal al-katisr) itu dapat membatalkan shalat apabila dilakukan tanpa uzur (alasan yang dapat diterima). Dalam buku itu dicontohkan: orang sakit yang anggota tubuhnya tidak tahan diam dalam waktu lama, boleh menggerak-gerakkan badannya sekedar yang ia butuhkan. Berdasarkan ini, jika karena darurat, maka melakukan gerakan yang banyak dalam shalat tidak batal.

Kita memandang bahwa menghilangkan kebisingan yang muncul dari seseorang dengan suara ponsel atau apa saja yang ia bawa di saat shalat adalah sesuatu yang darurat (sangat penting). Oleh karenanya, maka seseorang boleh me-nonaktifkan ponselnya yang berdering di saat shalat, baik itu dengan mengambil terlebih dahulu dari sakunya atau dari dalam tas yang terletak di hadapannya, lalu kemudian me-nonaktifkannya, meskipun pekerjaan tersebut membutuhkan gerakan yang banyak atau tiga gerakan besar yang dilakukan secara berturut-turut.

Kedua, Dalam kitab Fiqh As-Sunnah, Jilid I, hal. 323, syekh Sayyid Sabiq, pengarang kitab tersebut, menukil pendapat imam Nawawi (salah satu pembesar ulama mazhab Syafi’iah) yang menyatakan bahwa, seperti “memberi isyarat untuk menjawab salam, melepaskan sandal, mengangkat serban lalu meletakkannya, memakai pakaian yang ringan dan membukanya, mengangkat benda kecil dan meletakkannya, menghalau orang yang melintas di hadapannya, menampung ludahnya dengan pakaiannya, dan yang semisal dengan yang hal-hal tersebut”, tidak membatalkan shalat, karena dianggap perbuatan ringan. Gerakan menonaktifkan ponsel, barangkali tidaklah terlalu jauh berbeda dengan gerakan-gerakan perbuatan yang dicontohkan oleh imam Nawawi. Berdasarkan ini, maka gerakan me-nonaktifkan ponsel tidak membatalkan salat.

Ketiga, Logika yang dibangun dalam kaedah hukum Islam (Fikih) ialah mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau menghindarkan mudharat yang akan menimpa orang banyak lebih diutamakan daripada mudharat yang akan menimpa perseorangan, atau dalam bahasa kaedah hukum: Yutahammalu Adh-Dhararu Al-Khâsshu Li Daf’i Dhararin ‘âmmin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa menjaga konsentrasi (kekhusu’an) orang banyak dalam salat lebih diutamakan ketimbang menjaga kemungkinan batal shalat si pemilik ponsel jika bergerak untuk me-nonaktifkan ponselnya.

Jika dalam kondisi terpaksa, jangankan bergerak untuk menonaktifkan ponsel, berlari pun dibolehkan, seperti dalam situasi perang. Oleh karena itu, prinsip utama harus dipegang bahwa menjaga konsentrasi orang banyak dalam salat dapat dianggap sesuatu yang darurat (sangat penting). Inilah alasan yang dapat diajukan sehubungan dengan solusi bagi orang yang terlanjur tidak me-nonaktifkan ponselnya sebelum salat berjamaah.


Makanya klo mau sholat tinggal aja hp dimeja kerja, atau disilent biar nggak di pelototi jama�ah...klo terlupa..ya pas sholat dimatikan aja



diambil dari http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/1

Dikirim pada 04 Maret 2010 di Gambleh

Hampir sebulan lebih kita disuguhi parodi politik di berbagai media TV dan koran. Aneh bin ajaib, ketika ada sidang terhormat sedang bermusyawarah tetapi kelakuannya tidak lebih dengan anak TK (kata Gus Dur). Padahal tingkat pendidikannya lumayan tinggi....bahkan ada yang mengaku-ngaku pakar telematika....

Ada yang berebut interupsi, menyela, bernyanyi, berceloteh tidak karuan, tidak mau mengalah, tidak mau menghormati, diktator, bahkan berkelahi. Walaupun ada juga yang santun, opininya cerdas walau kadang meledak...(fraksi apa tuh hehehe)..tidak apa karakter orang memang berbeda. Antara Ali bin Abi Thalib Ra dan Umar bin Khattab Ra juga berbeda.

Kelakuan orang sesuai dengan tingkat kepahamannya.....
Yang paling saya sesalkan ketika mereka dengan mudahnya menunda sholat dhuhur dan mengatakan dosa kita tanggung bersama...ketika ada ajakan untuk ishoma dahulu. Hiii....padahal dosa lalai sholat di surat al Maa�un dah jelas tuh...pendusta agama. Bagaimana mereka mau mengingat rakyat, mengingat Allah aja susah....

Biar ada ibrahnya, tidak ada salahnya kita belajar bagaimana adab kita bermusyawarah, siapa tahu kita jadi ketua RT...walaupun di keluargapun kita harus membiasakan bermusyawarah...Bahkan Rasulullah yang selalu dibimbing wahyupun selalu membiasakan musyawarah...dan rela terhadap keputusan musyawarah.


Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa:“Tidak ada seorangpun yang lebih rajin bermusyawarah, selain Rasulullah sendiri”


Ketika perang Badar, Rasulullah SAW membawa pasukannya ke mata air Badar agar bisa mendahului pasukan orang-orang Quraisy untuk menguasai mata air itu. Maka pada petang hari mereka sudah tiba di dekat mata air Badar. Di sinilah Al-Hubâb bin Al-Mundzir ra tampil layaknya seorang penasehat militer, seraya bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang keputusan berhenti di tempat ini ? Apakah ini tempat berhenti yang diturunkan Allah kepada engkau ? Jika begitu keadaannya, maka tidak ada pilihan bagi kami untuk maju atau mundur dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat, siasat dan taktik perang ?” Beliau menjawab : “ini adalah pendapatku, siasat dan taktik perang.”

Al-Hubâb berkata : “Wahai Rasulullah, menurutku tidak tepat jika kita berhenti di sini. Pindahkanlah orang-orang ke tempat yang lebih dekat lagi dengan mata air daripada mereka (orang-orang musyrik Makkah). Kita berhenti di tempat itu dan kita timbun kolam-kolam di belakang mereka, lalu kita buat kolam yang kita isi air hingga penuh. Setelah kita berperang menghadapi mereka. Kita bisa minum dan mereka tidak bisa”. Beliau bersabda : “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu” (Shafiyyur Rahmân al Mubârakfûry dalam ar-Rahîqul Makhtûm)

Madu dihasilkan oleh lebah, maka orang-orang yang bermusyawarah selayaknya bagaikan lebah sehingga dalam musyawarah akan didapatkan hasil yang optimal. Rasulullah mengumpamakan seorang mukmin dengan lebah, dimana lebah merupakan makhluk yang sangat disiplin, kerjasamanya mengagumkan, makanannya sari kembang, dan hasilnya madu. Di manapun hinggap ia tidak merusak dan ia tidak mengganggu kecuali diganggu, bahkan sengatannya dapat dijadikan obat. [HR. Ibnu Hibban, Ibnu �Asakir dan Bukhari dalam At-Tarikh Al Kabir yang dishahihkan Imam Al Al bani dalam kitab As Silsilah As Shahihah no:355 dan 2288]

Untuk mencapai hasil optimal maka adab bermusyawarah adalah:

Niat ikhlas Awal dari segalanya adalah niat. Pun demikian dalam bermusyawarah. Niatkan bahwa apa yang akan dilakukannya untuk kemaslahatan, dan karena Allah saja. "Tidaklah iman seseorang itu menjadi lurus hingga lurus hatinya. Tidaklah lurus hatinya hingga lurus lisannya." (HR Ahmad)


Mulai dari kanan. Pekerjaan sederhana yang sering terlewatkan adalah memohon izin dan bimbingan Allah dengan bacaan basmallah. Setelah itu, mulailah giliran mengemukakan pendapat yang dimulai dari sebelah kanan. Berikan kesempatan mengemukakan pendapat secara adil kepada masing-masing musyawirin (peserta musyawarah) sehingga tidak ada di antara mereka yang terkurangi hak-haknya.


Kendalikan Lisan Lidah tidak bertulang, demikian kata orang. Oleh sebab itu, sebelum bicara pikirkanlah secara matang, kendalikan lisan, apakah pendapat yang akan dikemukakan membawa manfaat atau justru melahirkan kemudharatan. Bila pendapat kita tidak diterima, ucapkanlah hamdallah. Sebaliknya, bila diterima, ucapkanlah istighfar `Astaghfirullah hal adzim�. Sebab, bila pun pendapat kita benar, berarti kita telah menunaikan kewajiban, dan bila salah kita terlepas dari bahaya. Bila didapati pembicara yang bicara keluar dari konteks bahasan, ingatkanlah dengan subhanallah. Dan apabila orang mengemukakan pendapat, dengarkanlah dengan penuh perhatian. Jangan sama sekali memotong pembicaraan orang lain sebelum habis. Berdoalah agar Allah menitiskan hidayahnya pada forum musyawarah itu dengan memperbanyak dzikir dan shalawat.(QS Al-Ahzab: 41-42 dan 56).


Jangan Berfatwa Tanpa Ilmu Allah Swt berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengetahuan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." ( QS Al-Isra�: 36)


Begitupun, jangan membantah pendapat orang lain tanpa mempelajari permasalahannya. Barangsiapa tidak tahu, tidak patut baginya memberi teguran kepada orang yang tahu. Janganlah bersikap fanatik terhadap suatu pendapat yang tanpa disadari pemahaman, petunjuk, dan bukti.
Imam Malik pernah ditanya, dan menjawab: "Saya tidak tahu." Ia menjauh dari berfatwa tanpa ilmu. Allah Maha Pengasih kepada siapa saja yang memahami kadar kemampuan dirinya. Jangan mendominan. Janganlah mendominan pembicaraan hanya karena ingin dikenal pandai bicara dan luas wawasan. Mendominan pembicaraan bukanlah tanda keluasan wawasan seseorang, tetapi ketamakan.
"Dan sesungguhnya orang yang paling Aku benci dan paling jauh majelisnya dari-Ku pada hari kiamat adalah orang-orang yang berlebihan dalam bicara, yang suka mengungguli orang lain dengan perkataannya dan yang menunjuk-nunjukkan mulut besarnya dengan kata-kata untuk menampakkan kelebihan di hadapan orang lain." (HR Ahmad dan Tirmidzi)


Rendah Hati Bila kita mengetahui ada orang yang lebih berkeutamaan dan lebih arif, lebih baik kita mendengar darinya daripada berbicara.
Ingat pesan Hasan bin Ali ra kepada anaknya: "Wahai anakku, jika engkau mengikuti pembicaraan ulama, hendaknya engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaimana engkau menjadi pembicara yang baik. Dan janganlah memotong pembicaraan meskipun panjang lebar, hingga ia menyelesaikannya sendiri."


Tidak (selalu) Suara Terbanyak. Kebenaran tidak selalu dapat diukur dari suara terbanyak. Apalagi bila hal itu menyangkut kearifan. Karena itu pendapat seorang yang arif tidak dapat dikalahkan oleh peserta lain yang banyak, yang sesungguhnya tidak berkepentingan terhadap hal itu. Ini bukan diskriminasi. Bukankah pendapat seorang dokter-dokter tentang hal ihwal penyakit seorang pesakit tidak dapat diendahkan oleh para jururawat atau seluruh pegawainya meskipun mereka semua tunjuk gigi tidak sependapat?
Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa bila urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.


Hindari Permusuhan. Terkadang suasana musyawarah memanas oleh perdebatan dan perbezaan faham. Bila sudah demikian, berhati-hatilah dengan tipu daya iblis yang membisikkan seolah-olah kita berbicara kebenaran, padahal sesungguhnya nafsu.
"Sesungguhnya, larangan yang pertama ditujukan kepadaku setelah penyembahan berhala adalah perdebatan (yang disertai dengan permusuhan)." (HR Imam Bazar dan Thabrani dengan sanad lemah).


Bukan `Pembantaian�. Tidak jarang musyawarah menjadi tempat `pembantaian� bagi orang lain. Seolah-olah musyawarah itu kesempatan membuka kelemahan orang lain, di hadapan orang banyak. Hal ini sangat tidak sesuai dengan akhlaq Islam. Hindarilah sikap melampaui batas; membuka aib dan merendahkan sesama Muslim (QS 49: 11-12).


Memahami perbedaan pendapat bukanlah persoalan yang membahayakan, jika didasari keikhlasan dan diterima dengan lapang dada, sikap toleran, dan kasih sayang. Imam Abu Hanifah berkata: "Pendapat kami benar, namun memiliki kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah namun memiliki kemungkinan benar." Tidak perlu khawatir, terimalah hasil musyawarah yang mungkin berbeza dengan pendapat kita, karena Rasulullah memberi jaminan: Bila ijtihad kita benar, kita akan dapat dua pahala. Sebaliknya, bila salah, (juga) tetap akan dapat satu pahala.


Tutup dengan Istighfar Setelah tahap-tahap musyawarah dianggap selesai, agar majlis kita tidak bernilai laghah (sia-sia), tutuplah kegiatan majlis tersebut dengan memohon ampun kepada Allah Swt dengan doa majlis, "Subhanakalahuhumma rabbana wabihamdika asyahadu alla ilaha illa anta ashtaghfiruka wa atuubu ilaik" mungkin ada keteledoran, kegegabahan, atau kealpaan yang dilakukan pada saat berlangsung musyawarah.
Sedangkan adab sesudah musyawarah
a. Menjalankan keputusan yang mengikat masing-masing anggota
b. Menjaga rahasia keputusan yang tidak boleh diumumkan
c. Menghindari rasa kecewa atas keputusan yang telah diambil.
d. Menjaga terciptanya suasana Ukhuwah Islamiyah, tetap akrab.

Yang perlu diketahui bahwa, dapun hal-hal yang harus dimusyawarahkan adalah hal-hal yang tidak qath’î dan belum ditentukan atau dirincikan oleh Allah SAW dan RasulNya.



Wallahua�lam bishshowab!

diambil dari blog mujitrisno

http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/350/Adab_Bermusyawarah_Berkaca_dari_DPR

Dikirim pada 04 Maret 2010 di Gambleh

Di Sebuah Taman Kota Metropolitan......

Para pekerja yang sibuk membersihkan kawasan taman rekreasi gempar. Raungan bunyi ambulan begitu mengejutkan ketika pagi yang masih terlalu awal ini. Kelihatan beberapa petugas kesehatan begitu sibuk memberi pertolongan kepada sepasang muda-mudi yang terperangkap di dalam sebuah Rel Kereta API di Kota tersebut. Naas bagi pasangan merpati dua sejoli itu, malaikat maut telah mencabut nyawa mereka dalam keadaan yang sungguh tragis dan memilukan.

Apa yang terjadi sebenarnya? Ternyata sepasang muda-mudi itu nekad membunuh diri dengan menutup Jalan Kereta API,pada saat itu mereka mengikat diri di rel tersebut. Akibatnya mereka mati dalam keadaan berpelukan dan saling berciuman dengan kondisi tubuh hancur di lindas Kereta api, sehingga begitu sukar pihak bertanggung jawab memisahkan antara dua jasad tersebut. Begitu mengharukan!. Didalam rel kereta tersebut ditemui selembar kertas yang telah mereka tanda tangani. Antara isi kandungannya; tolong jangan pisahkan mayat kami dan terus dikebumikan untuk membuktikan cinta abadi kami sehidup semati. Dan di bagian akhir surat tersebut tercatat bahwa mereka melakukan ini demi menyelamatkan cinta sejati yang suci ini karena orang tua mereka tidak merestui hubungan cinta mereka. Astaghfirullah…!

Di sebuah rumah di Jazirah Arab 1400 tahun yang lampau…

Abdullah bin Abu Bakar RA baru saja melangsungkan pernikahan dengan Atikah binti Zaid, seorang wanita cantik rupawan dan berbudi luhur. Dia seorang wanita berakhlak mulia, berfikiran cemerlang dan berkedudukan tinggi. Sudah tentu Abdullah amat mencintai istri yang sangat sempurna menurut pandangan manusia.

Pada suatu hari, ayahnya Abu Bakar RA lewat di rumah Abdullah untuk pergi bersama-sama untuk sholat berjamaah di masjid. Namun apabila beliau mendapati anaknya sedang bermesraan dengan Atikah dengan lembut dan romantis sekali, beliau membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan ke masjid.

Setelah selesai menunaikan sholat Abu Bakar RA sekali lagi melalui jalan di rumah anaknya. Alangkah kesalnya Abu Bakar RA apabila beliau mendapati anaknya masih bersenda gurau dengan istrinya sebagaimana sebelum beliau menunaikan sholat di masjid. Kemudian Abu Bakar RA segera memanggil Abdullah, seterusnya bertanya : " Wahai Abdullah, adakah kamu sholat berjemaah? " Tanpa berhujjah panjang Abu Bakar berkata : "Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup malah dia juga telah melupakan kamu dari sholat fardhu, ceraikanlah dia!" Demikianlah perintah Abu Bakar kepada Abdullah. Suatu perintah ketika Abu bakar mendapati anaknya melalaikan hak Allah. Ketika beliau mendapati Abdullah mulai sibuk dengan istrinya yang cantik. Ketika beliau melihat Abdullah terpesona keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya semakin luntur.

Lalu bagaimana tanggapan Abdullah? Tanpa membuat dalih apatah lagi mencoba membunuh diri, Abdullah terus mengikuti perintah ayahandanya dan menceraikan istri yang cantik dan amat dicintainya. Subhanallah!!!

Dari dua petikan kisah di atas, marilah kita sama-sama bertafakkur tentang hakikat dan bagaimana cinta sejati, tulus dan suci itu sebenarnya. Sesungguhnya perjalanan hidup manusia akan sentiasa dipenuhi dengan warna-warna cinta. Bahkan kita dapat ungkapkan bahwa kehadiran manusia di muka bumi ini disebabkan Allah SWT meletakkan sebuah perasaan di dalam jiwa manusia, dan dia adalah cinta.

Membicarakan tentang cinta ibarat menguras air lautan dalam yang kaya dengan pelbagai khazanah alam. Tak kan pernah habis dan kita akan sentiasa menemui berjuta macam benda. Dari sekecil-kecil ikan hingga ikan paus yang terbesar. Dari kerang sampai mutiara malah jika diizinkan Allah, kita mungkin menemui bangkai kapal dan bangkai manusia!!!

Usia sejarah cinta seumur dengan sejarah manusia itu sendiri. Jika di suatu tempat ada 1000 manusia maka di situ ada 1000 kisah cinta. Dan jika di muka bumi ini ada lebih 5 million manusia, maka sejumlah itu pulalah kisah cinta akan hadir.

Walau berapa banyak pun nuansa cinta yang menjelma menjadi sebuah syair, drama, film,Sinetron, lagu dan berbagai bentuk hasil seni lain, namun pada hakikatnya cinta itu hanya ada dua buah versi saja. Versi cinta nafsu (syahwat) dan cinta Rabbani.

Yang menjadi persoalan sekarang adalah mampukah kita membedakan yang mana cinta syahwat dan mana cinta Rabbani? Derasnya arus ghazwul fikr (serangan pemikiran) dalam kesenian terutamanya, telah mampu membungkus cinta syahwat sehingga ia tampil sebagai cinta "suci" yang mesti diperjuangkan, dimenangkan dan diraih seterusnya untuk dinikmati.

Manusia seakan lupa pada sejarah. Lupa pada kisah-kisah tragis yang berakhir di hujung pisau atau dalam segelas racun. Mereka semua rela diseret dan dijeremuskan ke dalam lubang neraka hanya untuk mengejar salah satu rasa dari sekian banyak rasa yang ada disudut hati manusia, itulah cinta.

Cinta memiliki kekuatan luar biasa. Dan kekuatan cinta (the power of love) mampu menjadikan manusia pribadi yang sangat nekad atau sangat taat. Nekad dalam konteks sangat berani dalam melanggar peraturan-peraturan Allah seperti berkhalwat (berdua-duaan dengan bukan mahram), berkasih-kasihan lelaki dan perempuan, berpegangan tangan, mempertontonkan adegan birahi percuma di khalayak ramai apatah lagi dalam sembunyi. Atau jika cinta tak mendapat restu dari orang tua, pasangan akan nekad, terus lari dari rumah atau berzina (naudzubillah min dzalik). Dan tidak sedikit pula yang begitu nekad sanggup melakukan perbuatan yang dilaknat Allah yaitu membunuh diri demi cinta.

Pribadi-pribadi nekad seperti ini menjadikan cinta sebagai tujuan bukan sebagai sarana mencapai tujuan. Oleh itu tidaklah mengherankan jika kita banyak menemui berbagai perilaku aneh para pencari cinta yang tak masuk akal. Sebab apa yang mereka tuju adalah suatu yang abstrak, tidak jelas dan bukan perkara yang pokok. Mereka sibuk mencari dan mengartikan makna cinta sementara lalai terhadap Dzat yang menganugerahkan cinta. Dzat yang menumbuh suburkan rasa cinta. Dzat yang memberikan kekuatan cinta. Dzat yang paling layak dicintai, kerana Dia juga Empunya nikmat cinta. Allah Rabbul Alamin.

Kisah tragis di awal tulisan ini memberikan gambaran jelas sikap manusia yang rela mengorbankan diri demi sepotong cinta. Muda-mudi yang nekad bunuh diri dengan berbagai cara ini pada dasarnya belum mengenali hakikat cinta. Cinta yang mereka kenal selama ini adalah cinta yang ditunggangi oleh nafsu syahwat. Dan joki penunggangnya adalah syaitan laknatulllah. Pada momen ini syaitan berteriak keriangan sambil mengibar-ngibarkan bendera kemenangan kerana berhasil menjerumuskan anak cucu Nabi Adam dalam neraka jahannam dengan dalih cinta yang begitu murah nilainya.

Cinta memang tak kenal warna. Cinta tak kenal baik-buruk. Cinta tak kenal rupa dan pertalian darah. Memang begitulah adanya. Kerana yang mampu mengenal warna dan baik-buruk adalah pelaku-pelaku cinta yang menggunakan akal fikirannya.

Sebaliknya cinta juga mampu melahirkan pribadi-pribadi yang mengagumkan. Pribadi yang tak takut kehilangan suatu apa pun walau ia amat cinta pada sesuatu. Namun kerena cinta yang hadir dipenuhi dengan nuansa keimanan, maka mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka amat cintai demi memperolehi keridhaan Dzat Pemberi cinta. Jiwa mereka tidak gundah gulana hanya kerena kehilangan cinta duniawi karena Allah sebagai Dzat pemberi ketenteraman Pribadi-pribadi taat ini amat menyadari bahawa cinta hanyalah sebagai sarana mencapai tujuan. Mereka yakin kenikmatan cinta tak ada artinya tanpa ada restu Allah sebagai Pemberi cinta. Maka yang mereka cari adalah ridha dan cinta kasih Allah, bukan cinta yang bersifat sementara.

Kisah Abdullah putera Abu Bakar RA menjadi contoh kematangan pemuda yang mengenal arti cinta. Bayangkan!! Dia memiliki isteri yang amat cantik, berakhlak mulia, berkedudukan tinggi dan berharta. Namun apabila ayahandanya memerintahkan untuk menceraikan isterinya, dengan alasan isterinya telah melalaikan Abdullah dalam menunaikan hak Allah seterusnya akan membuat Abdullah lalai dari berjihad di jalan Allah. Maka apa reaksi Abdullah? Tidak!! Abdullah tidak marah langsung pada ayahnya. Atau berusaha mengambil pedang dan ingin memenggal kepala si ayah yang berusaha memisahkan jalinan cinta yang memang sudah sah itu. Sekali lagi tidak!! Pemuda yang bernama Abdullah melihat perintah itu dengan kacamata cinta yang diberikan Allah. Ia rela menceraikan isteri yang dicintainya demi mempererat hubungan cinta dengan Allah. Subhanallah… Masih adakah pemuda-pemuda seperti peribadi Abdullah di zaman globalisasi kini?

Begitulah cinta. Ia mampu melambungkan manusia pada derajat kemuliaan yang tak terhingga. Manakala frekuensi atau gelombang cintanya juga sudah selaras dengan frekuensi atau gelombang cinta yang Allah kehendaki. Semuanya akan senada seirama. Tak ada dengung sumbang, tak ada nada ternoda. Demikian indah dan asli irama cinta sejati.Wallahu Alam


sumber : http://www.cintaislam.com/
BUTA CINTA : Sesat Di Dunia, Merana Di Akhirat
Oleh : Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhani

Dikirim pada 04 Maret 2010 di Gambleh

Pernahkah Anda melihat bagaimana seorang ayah/ibu membentak anak-anaknya? adakah yang dengan lemah lembut dan penuh senyuman? ternyata tidak. Kita juga dapa melihat, berapa banyak orang tua yang ingin dipatuhi dan dihargai anak-anaknya namun dengan metode ‘membentak’ ehm…ironi memang, padahal dari membentak itulah banyak efek negatif yang akan dialami sang anak.

Membentak, pada anak akan sangat berefek pada psikologisnya, dia akan merasa tertekan dan akan memendam rasa tertekannya itu. Membentak bisa berpengaruh buruk pada anak-anak, karena bisa membuat renggang ikatan batin dengan anak, selain itu bentakan tidak mengajarkan apa-apa untuk perkembangan si kecil. Saat usia anak masih di bawah 10 tahun, mereka tidak akan melawan atau balas membentak. Tetapi karena sikap pasif mereka itu, Anda jadi tidak bisa mengukur seberapa besar dampak psikologis yang ditimbulkan karena membentak.

Anak cenderung untuk meniru perilaku orangtuanya. Seorang anak yang selalu dibentak, diomeli, atau dimarahi, akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dia sah-sah saja berkomunikasi dengan menggunakan bentakan, omelan, atau kemarahan.

Nah, bagaimana me-manage kekesalan kita pada anak, supaya kita tak perlu ngomel (apalagi membentak atau memarahi)? Berikut ini tipsnya.

1. Berikan instruksi dengan jelas.

Sebagai contoh, Anda sudah capek berkali-kali menyuruh anak menaruh baju kotornya di tempat khusus, tapi mereka tetap saja menggeletakkan baju-baju itu di lantai. Nah, daripada ngomel, lebih baik kita teliti, jangan-jangan anak kita memang belum bisa membiasakan diri melakukan sesuatu atau tidak paham instruksi kita.

Anak usia di bawah 7 tahun butuh bantuan ortu dalam pembiasaan sesuatu. Jadi, jangan beri instruksi saja, melainkan ajak anak bersama-sama mengambil bajunya dari lantai lalu menaruhnya di ember cucian.

Jika anak sudah berusia belasan tahun, gunakan kata “saya”, bukan “kamu”, misalnya, “Mama lihat kamu masih meletakkan bajumu di lantai.” Jangan ngomel, “Kamu kenapa sih, kok naruh baju kotor di lantai melulu?!”. Hindari kata “melulu, selalu, terus-terusan, atau pasti” karena pelabelan semacam ini malah mendorong anak untuk terus melakukan kebiasaan buruknya.

2. Selalu introspeksi sumber kemarahan Anda.

Seringkali, kemarahan kita pada anak sesungguhnya bersumber dari problem yang ada dalam diri kita. Bila Anda capek pulang dari kantor atau capek seharian mempersiapkan makanan untuk arisan nanti sore, lalu Anda melihat anak Anda menumpahkan susu di karpet, sangat mungkin Anda segera meledak dan ngomel panjang lebar.

Karena itu, saat ada insiden yang membuat Anda marah, tahan sebentar dan introspeksi diri. Tanyalah pada diri sendiri, apakah perilaku anak Anda memang patut ditegur atau bisa dibiarkan saja.

Misalnya, saat Anda baru pulang (dan tadi di kantor sedang suntuk karena perilaku atasan), anak-anda Anda bertengkar dan salah satunya mengadu sambil menangis. Kalau Anda sedang tidak mood untuk menyelesaikan insiden yang terjadi, katakan pada anak Anda bahwa perasaan Anda sedang tidak enak dan Anda akan membicarakan masalah itu nanti. Kalau ada anggota keluarga yang bisa dimintai bantuan (misalnya suami), lebih baik serahkan urusan anak kepadanya sampai perasaan Anda membaik.

3. Identifikasi problem Anda.

Ngomel dan membentak tidak membuat problem Anda selesai. Anak remaja tidak tahu bahwa Anda sakit kepala saat mereka menghidupkan kaset keras-keras. Anak-anak butuh penjelasan dari orangtua apa yang dirasakan oleh orangtua supaya mereka memahami apa yang sedang terjadi. Jadi, daripada ngomel, “Hey, kecilin bunyi tape-nya! Mama pusing!” lebih baik jelaskan baik-baik bahwa Anda tidak tahan bunyi keras dan kepala Anda pusing bila mendengar bunyi keras.

Anak kecil juga tidak paham mengapa Anda harus marah saat dia menumpahkan sesuatu di karpet. Karena itu, daripada ngomel, “Tuh kan, tumpah lagi! Mama kan sudah bilang, hati-hati!” lebih baik Anda mengajak anak Anda mengelap karpet dan jelaskan bahwa kita harus menjaga kebersihan karpet.

4. Penuhi kebutuhan dasar Anda dulu.

Jika Anda berusaha menyelesaikan masalah dengan anak saat Anda lelah atau lapar, berarti saat itu kebutuhan dasar Anda belum terpenuhi dan hal ini akan menambah rasa frustasi. Karena itu, bila situasinya memungkinkan, Anda sebaiknya makan atau istrirahat dulu, baru selesaikan masalah dengan anak Anda.

5. Berikan respon, bukan reaksi.

Membentak dan mengomel adalah tindakan reaktif dan kadang malah membuat anak menggunakan cara ‘mengganggu’ untuk mencari perhatian dari Anda. Bila ada perilaku anak yang menurut Anda tak pantas, daripada bersikap reaktif (ngomel/membentak), lebih baik bersikap responsif.

Tataplah mata anak Anda dan ungkapkan maksud Anda dalam kalimat yang pendek. Contohnya, daripada ngomel, “Heh, Mama udah capek bilang sama kamu, naruh tas jangan di sini! Taruh di kamar sana!” pakailah kalimat pendek dan tegas (sambil menatap mata anak), “Nak, tolong taruh tasnya di kamar. Sekarang.”

Anak kita adalah masa depan kita, marilah kita didik dengan kata-kata yang bijak penuh cinta dan kasih saying, karena anak bagaikan cermin bagi kita, dia akan memantulkan apapun sesuai sumber benda yang dipantulkannya.

Moga Allah SWT memberi kita kekuatan dalam mendidik anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

Dikirim pada 03 Maret 2010 di Gambleh
03 Mar

Coba Anda pikir-pikir, sesungguhnya banyak sekali jalan untuk mengerjakan amal kebajikan tanpa memerlukan usaha yang berat. Amal kebajikan itu dapat Anda kerjakan saat berjalan dengan kedua kaki Anda, mengendarai kendaraan, sedang berdiri atau duduk.

Dalam waktu satu menit, sebenarnya Anda dapat membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 15 kali. Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang menguasai diriku, sesungguhnya nilai surat Al-Ikhlas serupa dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca surat Fatihah sebanyak lima kali. Rasulullah pernah berkata kepada Ibnu Ma’ali, “Aku hendak mengajarimu sebuah surat yang nilainya lebih utama di antara surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an.” Kemudian beliau melanjutkan, “(Yaitu) bacalah ‘alhamdulillahi rabbi alamîn’, yaitu surat Al-Fatihah, dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadaku.” (HR.Bukhari)

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca kalimat “subhanallah wa bihamdihi, subhanallah al-azhîm” sebanyak 50 kali. Rasulullah pernah bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lisan dan berat di timbangan, dan dua-duanya disenangi oleh Allah, yaitu kalimat ’subhanallah wa bihamdihi, subhanallah al-azhîm’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca kalimat “subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimâtihi” sebanyak 10 kali.


Dalam waktu satu menit, Anda bisa memohon ampunan kepada Allah lebih dari 70 kali.

Memohon ampun kepada Allah dapat menyebabkan terhapusnya dosa, masuk surga, menghilangkan malapetaka, memudahkan segala urusan, mendapat karunia baik berupa harta maupun anak-anak.

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca kalimat “lâ ilâha illa Allah wahdahu la syarîkalah lahu al-mulk wa lahu al-hamd wa huwa ala kulli syai qadir” sebanyak 20 kali. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membaca kalimat ‘lâ ilâh illa Allah wahdahu la syarîkalah lahu al-mulk wa lahu al-hamd wa huwa ala kulli syai qadir’ sebanyak 10 kali, maka dia seperti seseorang yang telah memerdekakan empat jiwa dari seorang anak seperti Nabi Ismail.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca kalimat “la haula wa la quwata illa billahi” sebanyak 40 kali. Diriwayatkan dari Abu Musa, bahwa Rasulullah pernah bersabda kepadanya,

“Tidakkah kamu ingin aku beritahukan tentang harta simpanan di antara harta simpanan yang terdapat di surga?” Abu Musa menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Bacalah kalimat ‘la haula wa la quwwata illa billahi’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca kalimat “subhanallah wa bihamdihi” sebanyak 100 kali. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membaca kalimat ’subhanallah wa bihamdihi’ sebanyak 100 kali dalam sehari, maka dosa-dosanya akan dilebur, walaupun dosa-dosanya seperti buih air laut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, dalam waktu satu menit pula, sebenarnya Anda bisa mencegah kemungkaran dengan hikmah dan tutur kata yang baik. Atau menganjurkan berbuat kebajikan, mementingkan arti sebuah nasehat untuk sahabat, turut berbelasungkawa atas seseorang yang ditimpa musibah,
menyingkirkan benda yang menghalang-halangi jalan umum… Semua ini termasuk jenis amal kebajikan.

Dalam waktu satu menit, bisa jadi Anda dapat menggapai ridha Allah. Maka Allah akan mengampuni dosa-dosa Anda, dan waktu satu menit itu merupakan bekal Anda saat hari kiamat tiba.

Dalam kitab al-Durar, sebuah kitab yang ditulis untuk menasehati anaknya, terutama dalam bab Melembutkan Hati; Upaya Menasehati Anak, Ibnu al-Jauzi berkata, “Ketahuilah wahai anakku, sesungguhnya hari mencakup jam, dan setiap jam mencakup hembusan nafas, dan setiap hembusan nafas adalah bekal. Maka dari itu, hati-hatilah jangan sampai saat menghembuskan nafas tidak melakukan hal-hal yang bermanfaat. Maka pada hari kiamat kamu akan menyaksikan dirimu hanya sebuah tempat yang kosong dan kamu akan menyesal.”

“Coba kamu perhatikan setiap waktu yang kamu lewati, apa saja yang telah kamu kerjakan. Jangan kamu menyia-nyiakan waktumu kecuali sebisa mungkin kamu berusaha berbuat kebajikan. Jangan biarkan dirimu tidak melakukan pekerjaan apa pun. Dan hendaklah kamu membiasakan diri beramal kebajikan dan terus-menerus memperbaikinya. Semoga saja amal kebajikan itu menjadi simpanan amalmu saat di kubur dan akan membahagiakanmu saat hari kiamat tiba.”


by ust fathur




Mujitrisno Music

Dikirim pada 03 Maret 2010 di Gambleh

Iman itu laut, cintalah ombaknya.
Iman itu api, cintalah panasnya.
Iman itu angin, cintalah badainya.
Iman itu salju, cintalah dinginnya.
Iman itu sungai, cintalah arusnya.

Seperti itulah cinta bekerja ketika kita harus memenangkan Allah atas diri kita sendiri. Cinta itu pula yang bekerja dalam diri pemuda ahli ibadah itu. Kejadiaanya diriwayatkan Al Mubarrid dari Abu Kamil, dari Ishak bin Ibrahim dari Raja bin Amr Al Nakhai. Seorang pemuda Kuffa yang terkenal ahli ibadah suatu saat jatuh cinta dan tergila-gila pada seorang gadis. Cintanya berbalas. Gadis itu sama gilanya dalam mencintainya. Bahkan ketika lamaran sang pemuda ditolak karena sang gadis telah dijodohkan dengan saudara sepupunya, mereka tetap nekat. Gadis itu bahkan menggoda kekasihnya, "Aku datang padamu, atau kuantar cara supaya kamu bisa menyelinap ke rumahku". Itu jelas jalan syahwat.

"Tidak! Aku menolak kedua pilihan itu. Aku takut pada neraka yang nyalanya tak pernah padam!" Itu jawaban sang pemuda yang menghentak sang gadis. Pemuda itu memenangkan iman atas syahwatnya dengan kekuatan cinta.
"Jadi dia masih takut pada Allah?" Gumam sang gadis. Seketika ia tersadar, dan dunia tiba-tiba jadi kerdil di matanya. Ia pun bertaubat dan kemudian mewakafkan dirinya untuk ibadah. Tapi cintanya pada sang pemuda tidak mati. Cintanya berubah jadi rindu yang menggelora dalam jiwa dan doa-doanya. Tubuhnya luluh lantak didera rindu. Ia mati, akhirnya.

Sang pemuda terhenyak. Itu mimpi buruk. Gadisnya telah pergi membawa semua cintanya. Maka kuburan sang gadislah tempat ia mencurahkan rindu dan doa-doanya. Sampai suatu saat ia tertidur di atas kuburan gadisnya. Tiba-tiba sang gadis hadir dalam tidurnya. Cantik. Sangat cantik.
"Apa kabar? Bagaimana keadaanmu setelah kepergianku," tanya sang gadis.
"Baik-baik saja. Kamu sendiri di sana bagaimana," jawabnya sambil balik bertanya.
"Aku disini, dalam surga abadi, dalam nikmat dan hidup tanpa akhir," jawab gadisnya.
"Doakan aku. Jangan pernah lupa padaku. Aku selalu ingat padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu," tanya sang pemuda lagi.
"Aku juga tidak pernah lupa padamu. Aku selalu berdoa kepada Allah menyatukan kita di surga. Teruslah beribadah. Sebentar lagi kamu akan menyusulku," jawab sang gadis.
Hanya tujuh malam setelah mimpi itu, sang pemuda pun menemui ajalnya.

Atas nama cinta ia memenangkan Allah atas dirinya sendiri, memenangkan iman atas syahwatnya sendiri. Atas nama cinta pula Allah mempertemukan mereka. Cinta selalu bekerja dengan cara itu.
(Diambil dari tulisan Ust. Anis Matta)

[Apa ada yang cinta sampai sedemikian rupa? Dirimukah?]

Dikirim pada 02 Maret 2010 di Gambleh
02 Mar

Oh… Akhwat

Wanita anggun pembasmi maksiat

Busananya rapi menutup aurat

Paling anti pake pakaian ketat

Katanya sich, ini salah satu ciri muslimah yang taat



Oh… Akhwat

Rajin mengaji dan tahajud dimalam yang pekat

Alasannya, biar selamat dunia dan akhirat

Ngga lupa dia doa dan munajat

Agar mendapat teman sejati dalam waktu cepat



Oh… Akhwat

Aktivitasnya begitu padat

Kuliah, organisasi sampe-sampe sehari 3 x ngikutin rapat

Ada juga yang ngajar TPA dan ngajar privat

Demi Allah, semua dilakukan dengan semangat



Oh… Akhwat

Tapi hari ini kok seperti kurang sehat?

Badan lesu dan muka keliatan pucat

Jalannya lunglai dibawah terikan matahari yang menyengat

Ooo.. ternyata dia, magh nya lagi kumat

(Abis… waktu sarapan cuma makan sepotong kue donat!)



Oh… Akhwat

Banyak juga yang berjerawat

Dari yang kecil-kecil sampe yang segede tomat

Padahal sudah nyobain semua sabun dan juga obat

( Sabar… sering wudhu lama2 juga ilang, Wat!)



Oh… Akhwat

Sering betul kirim SMS buat para sahabat

Isinya kalo ngga ngundang syuro, ya.. ngasih tausiyah atau nasihat

Walau kadang terasa bikin pulsa ngga’ bisa hemat



Oh… Akhwat

Seneng banget kalo makan coklat

Nggak sadar kalo gigi udah pada berkarat

Gara-gara sebulan sekali baru disikat

(Hiii… jorok nian kau, Wat!)



Oh… Akhwat

Paling seru waktu kumpul sesama akhwat

Ngobrolin dakwah sampe hal-hal yang kadang kurang manfaat

Apalagi kalau sudah pada saling curhat

Bisa-bisa air mata mengalir begitu lebat

( Wiih, curhat apaan tuh, Wat!)



Oh… Akhwat

Paling berani kalo di ajak debat

Siap bertahan sampe lawan bicaranya mulai sekarat

1 jam.. 2 jam.. 3 jam.. Wuiih dia masih kuat..!

4 jam….? Woy berenti…! waktunya sudah masuk sholat..!!



Oh… Akhwat

Sore-sore makan soto babat

Makannya rame-rame bareng temen satu liqo’at

Maklum, hari itu ada yang baru punya hajat

Baru wisuda… walaupun wisudanya bareng adek2 tingkat



Oh… Akhwat

Nonton konser Izzis sambil lompat-lompat

Tak terasa badan mulai capek dan mulai berkeringat

Sampai nggak sadar kalo ada copet yang mulai mendekat

( Tenang…. Si Ukhti kan sudah belajar silat..!!)



Akhwat… Akhwat…

Pergi kuliah di hari Jumat

Buru-buru karena takut datangnya telat

Padahal hawa kantuk masih terasa melekat

Gara-gara Facebookkan tengah malem sampe jam 1 lewat

( So.. What gitu Wat ?!)



Oh… Akhwat

Banyak yang nggak mau dimadu, apalagi jadi istri ke empat

( Waduh, kalau yang ini ane nggak berani nerusin, Wat!)



Oh… Akhwat

Mau lebaran bantuin ibu buat ketupat

Hati gembira karena mau ketemu sanak kerabat

Tapi kesel saat ditanya… Lebaran ini masih sendiri, Wat?



Oh… Akhwat

Berharap sang pengeran datang tidak terlambat

Untuk menjemput ke hidup baru yang penuh rahmat

Namun apa daya saat proses ta’aruf jadi tersendat

Gara-gara sang Ikhwan, malah akhirnya ngurungin niat

( Huuu.. reseh banget tuh Ikhwan, Wat!)



Oh… Akhwat

Masih Banyakkah yang seperti Fatimah Binti Muhammad?

Yang memilih pendamping bukan kerena harta, tahta dan martabat

Atau hanya tertarik pada gemerlap dunia yang sesaat

Tapi… Agama dan Akhlak itulah yang ia lihat

Wah.. kalau ada… ane pesen satu Wat!

( Please dong akh, Wat! )



Oh… Akhwat

Hidup memang tak selamanya nikmat

Kadang ringan kadang juga terasa berat

Tapi teruslah Istiqomah kau di setiap saat

Karena engkaulah…. Bidadari Harapan Ummat!



Maap ya.. Wat!

Kalau ada kata-kata salah yang didapat

Maklum, yang buat bukannya Akhwat

Udah dulu ya.. yang buat matanya udah 5 Watt!



Pergi Rihlah ke Amerika Serikat

Sampai disana ngelempar geranat

Di sana Akhwat di sini Akhwat

Berani bener tuh orang yang ngelempar geranat

HIDUP AKHWAT!!!





Dikirim pada 02 Maret 2010 di Gambleh
02 Mar

Oh.. Ikhwan

Apa bedanya dengan Si Marwan

Si Ali, Paijo atau Si Iwan

Oh ternyata Cuma beda sebutan



Oh.. Ikhwan

Walaupun tidak terlalu rupawan

Alias modal tampang pas-pasan

Tetep aja tebar senyuman



Oh.. Ikhwan

Gayanya sih bisa ketebak dan ketahuan

Jenggot melambai, baju koko & mata kaki keliatan

Kalo ngomong pake ane, antum, afwan-afwan



Oh.. Ikhwan

Sudah banyak yang bertebaran

Ada di masjid, kampus bahkan perkantoran

Sering kali ada yang getol nyari penghasilan

Ngga taunya nyari modal buat walimahan



Oh.. Ikhwan

Kalo lagi aksi, semangatnya nggak diragukan

Pekikan takbir selalu di kumandangkan

Ngomong2… kamar dikosan kok berantakan?

(Aduh.. pulang jangan lupa diberesin Wan!)



Oh.. Ikhwan

Sepekan sekali ikut kajian

Hujan dan badai nggak jadi halangan

Juga ngga ketinggalan tiap acara kepartaian

(Tapi.. cuci dulu tuh baju rendeman..!)



Oh.. Ikhwan

Pagi-pagi jarang sarapan

Alesannya males masak atau belum dapet kiriman

Akhirnya kena sakit magh sama panuan

( Kok yang terakhir nggak nyambung Wan!)



Oh.. Ikhwan

Jarang banget yang mata duitan

Demi dakwah, hati ikhlas tanpa harap imbalan

Walau kerasa, nih perut keroncongan

( Laporan aja Wan! Sama anggota dewan)



Oh.. Ikhwan

Anehnya kalau lagi jalan

Ngukurin tanah ape nyari duit jatoh sih wan?

Ooohh.. ternyata dia lagi jaga pandangan!!

Hati-hati Wan, awas nginjek gituan!!



Ikhwan… ikhwan….

Lucunya kalo ada akhwat berpapasan

Langsung minggir! Nunduk, acuh tak acuh kaya musuhan

( Gubrak..!! Suara apaan tuh Wan? )

Eh.. si ukhti jatuh, kagak ngeliat ada selokan



Ikhwan… ikhwan…

Uniknya kalo lagi rapat gabungan

Pake pembatas alias hijab biar nggak bisa lirik-lirikan

Sering juga rapatnya peke SMSan

Kadang SMSnya malem2 sambil bangunin tahajudan

Upppss.. Yang ini cuma sesama ikhwan kan..??



Oh.. Ikhwan

Badannya ade yang keker mirip binaragawan

Oh ternyata dia instruktur kepanduan

Biar di keroyok sama pereman

Kagak bakal panggil bantuan

( Abis.. udah ga bisa lari sih Wan! )



Oh.. Ikhwan

Jarang juga yang suka jajan

Mendingan nabung buat masa depan

Sekarang duitnya sudah banyak dalam celengan

(Eh, itu utang dibayar dulu Wan!)



Oh.. Ikhwan

Merasa sepi di tengah keramaian

Merindukan hadirnya bidadari penyemangat iman

Temen sekosan terasa sudah membosankan

Ditambah bisikan-bisikan setan yang kedengeran

Hemmm.. Istigfar Wan!



Oh.. Ikhwan

Pengen dapet istri yang wajahnya mirip artis di iklan

Yang nggak malu-maluin kalo diajak kondangan

Terus mulutnya yang nggak rame kaya petasan

Tiap 3 hari khatam Al Quran

Kelompok yang dibina udah lebih dar 20an

Setia sampe mati dan nggak mata duitan

Dan… setuju aja kalau suami mau cari istri tambahan



Oh.. Ikhwan



Tapi, seringnya harapan tidak sesuai kenyataan

Abis, nyari istri yang sempurna gitu kan kagak gampangan!

Apalagi kalo modalnya serba pas-pasan

Ya.. Murobbi juga nyariinnya bakal itung-itungan

Sabar deh Wan! Percaya aja sama yang Maha Rahman!



Oh.. Ikhwan

Nggak sengaja, liat ukhti minta bantuan

Jatoh dari motor masuk paretan

Hati berdebar mungkin ada harapan

Eeehh… taunya si Ukhti istrinya temen satu Liqo’an

(Gubrak..!! sungguh kasihan )



Huuhhh… Dasar Ikhwan!!!

Afwan ya Wan!! Cuma mainan

Yang nulis juga Ikhwan.







--------------------------


by Fathurrahman

Dikirim pada 02 Maret 2010 di Gambleh


connect with ABATASA